Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Perjuangan Agra (Part 2)


__ADS_3

Kinara : Cih ... aku tidak percaya.


Agra tersenyum malu-malu. “Aku yakin saat ini dia sedang melipat tangannya di dada dan memalingkan wajah dengan ekspresi menggemaskan. Aah ... lucunya ...,” gumamnya. Karena terlalu bahagia Agra sampai tidak sengaja membunyikan klakson.


Tiba-tiba dari dalam rumah Nathan berlari tergopoh menghampiri mobil Agra. “Ada ... yang ketinggal ... an, Tuan Muda?” tanya Nathan dengan napas tersengal.


“Tidak ada, aku tidak sengaja menekan tombol klakson.” Agra tersenyum lebar seperti orang tanpa dosa.


Nathan membuang napas kasar, dia berlari dari ruang kerja ke halaman rumah hanya karena bunyi klakson yang tidak sengaja.


Ya Tuhan, selama bekerja dengan Tuan Muda ini kali pertama dia melakukan hal bodoh, tetapi justru tersenyum lebar seperti itu, batin Nathan.


“Baiklah. Kalau begitu saya ke dalam dulu, Tuan Muda.” Nathan membungkuk setengah badan dan segera masuk ke dalam rumah begitu mendapat jawaban anggukan kepala dari Agra.


Agra tersenyum menatap layar handphone. Dia segera mengetik balasan pesan untuk Kinara.


Agra : Kau harus percaya padaku, tidak ada ruginya percaya pada lelakimu, Kinar.


Fantasi Agra sudah mengembara sangat jauh. Dia sudah membayangkan jika Kinara akan memaju mundurkan bibirnya ketika mendengar rayuan darinya. Agra sudah tidak sabar ingin mencubit hidung mungil Kinara, atau mengelus pipinya yang


mulai terlihat seperti bakpau. Sejak hamil napsu makan Kinara memang berubah, sebentar-sebentar lapar, itulah kenapa berat badan Kinara sedikit bertambah. Dan perubahan yang terlihat paling menonjol terjadi di area pipi.


Agra : Mau sarapan apa, ala Asia, Western, atau lokal?


Kinara : Aku mau diet, jika aku bertambah gemuk kau akan lari ke pelukan wanita lain.


Mendapati balasan dari Kinara itu Agra sampai terbahak.


Agra : Bukankah semakin berisi semakin seksi.


Kinara : Are you kidding?


Agra : No, i'am serious. Jadi mau makan ala apa untuk pagi ini?


Kinara : Ala kadarnya saja. Seadanya di rumah, bagaimana?


Agra : Apa yang ada di rumah?


Kinara : Mie rebus dong.


Membaca jawaban dari Kinara itu Agra sampai menaikan sudut alisnya karena tidak suka.


Agra : Mau aku bakar semua pabrik mie di Indonesia? Mie instans tidak baik untuk kau dan anak kita, Kinara.


Kinara sudah terbiasa dengan perlakuan manis Agra, bahkan sebutan ‘Anak Kita’ untuk anak yang ada di dalam perut Kinara pun sudah menjadi hal romantis yang sering Kinara dengar. Hubungan mereka hanya sebatas itu, mereka tahu perasaan masing-masing dan mereka tahu batasan masing-masing. Hubungan keduanya tidak pernah melampaui batas.


Kinara : Isssh ... sudahlah, aku tidak usah sarapan saja.


Dasar bumil, ngambek kok dijadikan hobby, batin Agra.


Agra : Bubur ayam di tempat biasa mau? Sekalian sate hati dan telur puyuh?


Kinara : Mau, dua porsi, yah?


Kalau sudah bicara soal bubur saja jawabannya secepat kilat, batin Agra.


Agra : Kau lapar apa doyan?


Kinara : Bukan untukku, untuk anak kita.


Sekali lagi Agra tertawa, setiap kali meminta sesuatu Kinara selalu berlindung dibalik alasan untuk anaknya.


Agra : Iya ... iya, aku percaya. Minum susu ibu hamilnya teratur, ‘kan?


Kinara : Iya.


Agra : Jangan coba-coba membohongi aku, Kinara.


Kinara : Sungguh, aku selalu minum susunya. Walaupun aku tidak suka bau dan rasanya.


Agra : Ini demi kebaikan anak kita, Kinara. Sebagai calon Ayah sambung dari anakmu aku tidak ingin berbuat lalai dan mengabaikan kesehatan anak kita.


Kinara : Hemm ...


Agra : Minta Bibi Ane mencatat semua kebutuhan yang kau perlukan. Jangan lupa cek lemari es, es krimnya masih ada?

__ADS_1


Kinara : Ah, aku sampai lupa. Es krim sudah habis dari kemarin, buah-buahan masih ada.


Agra : Catat apa pun yang kau dan anak kita butuhkan, ok. Dan jangan malas minum susu.


🍃Rumah Kinara🍃


Deg ... balasan pesan dari Agra itu kontan membuat degup jantung Kinara berpacu lebih cepat. Kinara sampai tersipu malu. Bukan sekali dua kali Kinara mendapat perhatian berlebih dari Agra, tapi selalu saja ada kalimat dan tindakan Agra yang membuat hatinya berbunga.


Aku balas apa, yah? Tidak usah dibalas saja, bagaimana? Tapi nanti dia nungguin. Ahhh ... kenapa aku jadi seperti anak 7 tahun yang sedang jatuh cinta, sih. Balas seadanya saja, batin Kinara.


Kinara : Hmmm ... Aku teratur kok minum susunya.


Agra : Berarti seharusnya hari ini tinggal satu kotak terakhir yah? Pulang ngampus kita mampir ke pusat perbelanjaan, kita beli susu lagi. Sekalian beli makanan yang lainnya.


Kinara keluar dari dalam kamar dan mencari Bibi Ane. Kinara penasaran apakah yang diucapkan Agra benar.


“Bi ...,” teriaknya sembari berjalan ke dapur.


“Iya, Nyah. Ada apa?” Bibi Ane sudah beridri di depan Kinara.


“Bi, susu ibu hamil tinggal berapa kotak, yah?” tanya Kinara.


“Astaga ....” Bibi Ane menepak dahinya sendiri. “Bibi sampai lupa bilang sama Nyonya, susu ibu hamilnya tinggal satu kotak, Nyah.”


Kinara mengembuskan napas kasar sembari menggaruk kepalanya karena tidak percaya.


“Kenapa, Nyah. Haruskan Bibi ke minimarket untuk membeli stok susu?” ucap Bibi Ane.


“Tidak perlu, Bi.” Kinara tertawa. “Ada orang yang lebih hafal jumlahlah, bahkan tahu jika hanya tersisa satu kotak.”


Kenapa dia sampai hafal soal kotak terakhir susu ibu hamil segala, apa dia catat? Yang benar saja, batin Kinara berbunga.


Bibi Ane diam lalu berucap, “Tuan Agra, yah?”


Kinara mengangguk.


“Bibi tahu dari mana?”


“Setiap pagi, siang, dan malam Tuan Agra selalu mengirimkan pesan pada Bibi untuk membuatkan susu, dan memastikan Nyonya meminumnya sampai habis.” Bibi Ane tersenyum.


“Sejak tahu Nyonya hamil. Tapi Tuan bilang supaya Bibi merahasiakan ini, sepertinya Tuan sangat tulus mencintai Nyonya,” ujar Bibi Ane.


Aku juga bisa merasakan itu, Bi. Sejak pertama, ketulusan hati Agralah yang membuatku berani mengambil langkah sampai sejauh ini, batin Kinara.


Tring ...


Agra : Aku otw, yah. Kalau ada makanan lain yang ingin kau makan, katakan saja, mumpung aku lagi di jalan. Ingat jangan pakai baju yang tipis. Sekarang sedang musim hujan, aku tidak mau kau dan anak kita sakit.


Kinara hanya bisa tersenyum ketika membaca pesan chat dari Agra yang menunjukan semua perhatian untuk dia dan anaknya.


“Bi, aku mau mandi dulu, yah. Nanti kalau Agra datang suruh tunggu sebentar.”


“Baik, Nyonya.”


***


30 menit kemudian.


Kinara sudah siap untuk berangkat kuliah, saat ini kehamilan Kinara memang belum diketahui banyak orang. Kinara juga tidak menampakan gejala orang hamil pada umumnya, sehingga tidak ada yang curiga.


Allen dan teman-temannya tidak berani berurusan dengan Kinara, karena hubungan asmara Kinara dan Agra sudah tersebar luas. Status Kinara di kampus masih beasiswa, belum ada yang tahu tentang pernikahannya dan Dika kecuali Agra dan Alisa.


Tin tin ....


“Sepertinya Tuan sudah datang, Nyah,” kata Bibi Ane sembari berjalan dan membuka pintu untuk Agra.


“Iya, Bi. Suruh masuk saja.”


“Pagi, Bibi Ane?” sapa Agra begitu pintu terbuka.


“Pagi juga, Tuan Muda,” jawab Bibi Ane diikuti gerakan membungkuk setengah badan.


“Tadi saya lewat tukang nasi uduk kesukaan, Bibi. Bibi belum makan, ‘kan?” tanya Agra sembari menyodorkan dua bungkus nasi. “Yang satu lagi nasi kuning kesukaan Pak Budi.”


“Terima kasih, Tuan Muda.”

__ADS_1


Bibi Ane dan Pak Budi sudah terbiasa diperlakukan istimewa oleh Agra, katanya karena Bibi Ane dan Pak Budi selalu menemani Kinara.


Tak berapa lama Agra sudah duduk di ruang tamu di depan Kinara. Dia membawa dua kotak bubur ayam kesukaan Kinara dan meletakannya di atas meja.


“Sibuk apa?” tanya Agra.


“Tidak ada, hanya nonton tv,” jawab Kinara.


“Sarapan dulu, yah. Mumpung buburnya masih panas, kalau sudah dingin rasanya tidak enak.”


Kinara mengangguk.


Agra berjalan ke dapur untuk menyiapakan semuanya, beberapa saat kemudian dia sudah kembali dengan semangkuk bubur ayam dan segelas air hangat di tangannya.


“Kalau bisa dihabiskan buburnya.” Meletakan mangkuk bubur di depan Kinara.


Mencium baunya saja sudah membuat Kinara kelaparan, tanpa ba bi bu Kinara segera mendaratkan bubur itu ke mulutnya. Bubur itu hampir habis sampai tiba-tiba perut Kinara bereaksi. Kinara meletakan kasar mangkuk bubur itu dan berlari ke dalam kamar mandi diikuti Agra yang ikut berlari di belakangnya.


“Hoeek ... ” Kinara memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.


Agra berjalan mendekati Kinara, karena pintu kamar mandi memnag terbuka. “Jangan masuk, aku mohon.”


Kinara malu jika Agra melihat muntahannya, tapi Agra tidak peduli. Nyatanya dia sudah berdiri di belakang Kinara.


“Jangan pernah melarangku untuk melihat kesusahan yang kau alami, sekalipun hanya sebatas sakit perut atau sakit kepala. Kau harus mengatakannya padaku.”


“Tapi, ini muntahan, Agra.”


“Hey, aku harus terbiasa dengan semua ini, Kinara.” Agra memijat tengkuk leher Kinara. sesekali menepuk bahunya. “Muntahkan saja semuanya, nanti kalau sudah mendingan baru makan lagi.”


Kinara terisak, perlakuan Agra benar-benar diluar dugaannya. Kinara mengelap bekas muntahan di mulutnya dengan punggung tangan sampai sisa muntahan itu berpindah di tangannya.


“Kemarikan tanganmu.” Agra meraih tisu dan mengelap lembut tangan Kinara. “Cuci pakai sabun, yah.” Memapah tubuh Kinara menuju bak bandi dan segera mencuci tangan Kinara dengan sabun.


“Seharusnya kau tidak usah masuk.” Kinara terisak. “Lantainya kotor terkena muntahanku.” Kinara menunduk.


“Jangan menangis, Kinara. Perhatianku saat ini belum ada apa-apanya dengan nanti, ketika kau sudah resmi emnjadi istriku.” Mengusap kedua pipi Kinara dengan ibu jarinya. “Aku harus siap dengan semua risikonya. Percayalah padaku.” Agra melirik bagian lantai, benar apa yang dikatakan Kinara, beberapa muntahan bercecer di lantai bahkan ada yang mengenai kaki Kinara. Beruntung Kinara mengenakan gaun sebatas lutu.


Agra meraih tangan Kinara dan menuntun Kinara untuk lebih dekat dengan bak mandi. Dia meraih segayung air, berjongkok dan segera membersihkan bekas muntahan di kaki Kinara. “Jangan bergerak.” Agra meraih sabun dan menggosoknya di kaki Kinara.


Kinara tertegun, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Matanya sudah basah dengan bulir-bulir yang meluncur melewati pipinya dan berakhir di rambut hitam Agra. “Maafkan aku.” Kinara kembali terisak. “Aku tidak bermaksud menyusahkanmu, sungguh ....”


“Sstt ... jangan bicara lagi, aku jadi tidak konsen membersihkan bekas muntahanmu.” Agra mendongakan kepala dan mengedipkan mata menggoda Kinara. “It’s ok.” Tersenyum lebar.


Setelah membersihkan semua muntahan Kinara, termasuk yang bercecer di lantai. Agra segera menuntun tubuh Kinara dan membantunya duduk di sofa ruang tamu.


“Masih bisa kuliah?” tanya Agra begitu keduanya sampai di ruang tamu.


Kinara hanya mengangguk, tak terlukiskan dengan kata-kata semua kebaikan yang dilakukan Agra untuknya. Ucapan terima kasih saja tidak akan pernah cukup.


Agra masih sibuk mengelap kaki Kinara yang basah dan memijat lembut kaki Kinara.


“Kenapa kau terus menatapku? Aku bisa mati jika kau melihatku dengan tatapan seperti itu.”


“Terima kasih, Agra,” ucap Kinara lirih.


“Sudah kewajibanku untuk melindungimu, Kinara.”


Kinara hanya tersenyum.


.


.


Bersambung...


.


.


Ciee yang galon, yang galon 😅🤣


.


.

__ADS_1


Kapal oleng kaka 🤣


__ADS_2