
Selepas kepergian Carissa dari bertamu hari itu, dan perasaan hancur Dika ketika membaca surat dari Kinara. Laki-laki itu sudah membulatkan tekadnya untuk merebut kembali hati Kinara.
Setelahnya Ken benar-benar dibuat sibuk, Dika meminta Ken memesan satu set perhiasan yang memiliki harga fantastis. Tak lupa sepasang cincin yang bertuliskan nama Dika dan Kinara. Setumpuk bungu mawar yang dirangkai beserta kata-kata indah di atasnya. Semua itu Dika persiapkan demi hari ini.
Marta sangat mendukung niat baik anaknya, dia tak segan membantu apa pun yang dibutuhkan Dika untuk mengambil kembali hati Kinara.
Termasuk sering berkunjung ke rumah Kinara dan memintanya untuk membatalkan perceraian.
Meskipun hati Kinara belum tergugah, tetapi Marta yakin selama Dika berusaha tidak menutup kemungkinan jalan untuk Dika dan Kinara kembali bersama terbuka lebar.
🍃Mansion🍃
“Semuanya sudah beres, Ken?” tanya Dika sembari melingkarkan dasi di lehernya.
“Beres, Tuan Muda.” Ken mengacungkan jempolnya, pertanda semuanya sudah siap.
Dika hanya tersenyum sembari menatap pantulan bayangannya sendiri di depan kaca.
Hari ini Dika berpakaian resmi, kemeja putih di padu jas berwarna biru muda dan dasi yang memiliki warna senada. Tak lupa jam tangan mahal yang bertengger di pergelangan tangan kirinya, rambutnya ditata rapi dengan sentuhan pomade. Dia lebih terlihat seperti laki-laki yang ingin melamar seorang gadis, daripada menghadiri acara mediasi di Pengadilan Agama.
“Bagaimana dengan perhiasannya, Ken?”
“Beres, Tuan Muda. Beruntung kita memiliki beberapa rekan bisnis yang bergerak dibidang perhiasan, dalam satu hari saja satu set perhiasan bertuliskan nama Tuan Muda dan Nyonya sudah siap.” Ken menjelaskan untuk mengurangi rasa khawatir Tuannya.
“Bagaimana dengan cincinnya, Ken?”
“Aman.” Mengacungkan jempol untuk yang kedua kalinya. “Sepasang cincin itu luar biasa indah, Tuan Muda.”
Ini bahkan jauh lebih mahal dan lebih indah daripada cincin yang pernah Tuan Muda berikan pada Nona Carissa, sepertinya Tuan benar-benar sudah jatuh hati pada Nyonya, batin Ken.
“Ah, bunganya?”
“Sudah, Tuan Muda. Semua persiapan sudah beres, pukul berapa mediasi dilakukan, Tuan?” tanya Ken sembari bolak-balik mempersiapkan semua yang diperlukan Tuannya.
“Pukul satu siang, Ken. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya, aku sangat merindukan senyum indahnya, Ken.”
Apa yang Dika katakan adalah sebuah kebenaran, belum bertemu dengan Kinara saja jantungnya sudah berdegup lebih kencang. Entah akan segugup apa nanti, ketika dia berhadapan langsung dengan Kinara.
“Ayo, Ken,” titah Dika yang dijawab anggukan kepala oleh Ken.
Mobil melaju membelah keramaian kota. Sesekali Ken melirik Dika yang duduk tepat di sampingnya, sepanjang perjalanan Dika sering tersenyum sendiri, terkadang melemparkan pandangan ke sisi jalan, bahkan sering melihat jarum jam di arlojinya. Duduk pun sering bergerak seperti sangat tidak sabar untuk cepat sampai di tempat tujuan.
“Berapa lama lagi, Ken?”
“Jalanan cukup padat, Tuan Muda. Aku rasa sekitar 15 menit lagi kita akan sampai di Pengadilan Agama,” ucap Ken yang tetap fokus memperhatikan jalan.
“Syukurlah ....” Dika menoleh ke belakang, dilihatnya seikat bunga mawar merah yang sudah siap untuk diberikan pada Kinara. Sementara satu set perhiasan itu dia pegang di tangannya.
“Tuan sudah tidak sabar?”
Astaga, pertanyaan bodoh macam apa itu, Ken? Memangnya kau tidak lihat seberapa semangatnya Tuanmu itu, Ken memaki dirinya sendiri di dalam hati.
“Aku sudah mengecewakan Kinara selama lima bulan, Ken. Dan hari ini adalah kesempatan untukku membuktikan jika aku sangat menyesal,” ucap Dika lirih. Bola matanya tertuju pada kotak perhiasan yang dia pilih sebagai media untuk membuktikan kesungguhan niatnya.
“Semoga semuanya berjalan lancar, Tuan Muda.”
Kalimat Ken menutup pembicaraan keduanya di dalam mobil, karena saat ini mobil sudah memasuki area parkir di Pengadilan Agama. Sebelum turun Dika sempat merapikan diri, bahkan merapikan ujung rambutnya yang mencuat keluar. Hari ini dia harus tampil sempurna, tak kurang satu apa pun.
🍃Pengadilan Agama🍃
Lima menit lagi jadwal mediasi antara Dika dan Kinara akan dimulai. Namun sampai lima menit itu berlalu, tak nampak kehadiran Kinara. Dika meremas jemarinya, kakinya bergerak naik turun sampai sepatu mahal yang di kenakannya itu menimbulkan bunyi decitan ketika beradu dengan lantai.
“Tuan ....” Ken duduk di samping Dika. “Minumlah, Tuan Muda.” Menyodorkan sebotol air mineral. “Dari tadi Tuan belum minum barang seteguk pun, aku rasa Nyonya tidak akan datang, Tuan Muda.” Ken menundukan kepala.
Dika nampak menarik napas panjang, dia yang sedang duduk di ruang tunggu masih tetap memiliki harapan, jika sosok wanita yang dicintainya itu akan datang. Meskipun beberapa kali namanya dan Kinara dipanggil, kenyataan jika sampai pukul empat sore Kinara tak kunjung datang harus dia terima dengan berat hati.
“Tidak perlu, Ken.” Suara Dika terdengar serak, ada perasaan sedih yang tertahan. Mungkin saja jika dirinya berada di ruangan tertutup, sendirian, tanpa seorang pund di sampingnya. Dia lebih bisa mengekspresikan perasaannnya.
“Tuan, saya mohon. Saya rasa Nyonya memang berniat untuk tidak datang, berkali-kali saya menghubunginya. Namun tak ada satu pun pangggilan telepon dari saya yang Nyonya jawab.” Menyodorkan kembali air mineral itu.
__ADS_1
“Waktunya masih panjang, Ken. Lihatlah.” Menunjukan jam di tangannya kepada Ken. “Sekarang baru jam empat ‘kan? Masih ada 30 menit lagi.” Dika memaksakan diri untuk tersenyum.
“Tapi, Tuan ...,” ucap Ken datar.
Kau sudah menunggu selama tiga jam, mau berapa lama lagi kau menunggu? Batin Ken.
🍃Sementara itu di rumah Kinara🍃
“Hari ini jadwalnya?” Alisa menyerahkan sepotong kue untuk Kinara.
“Iya, tapi aku tidak akan datang?” Kinara menerima kue itu.
“Kau sudah yakin dengan keputusanmu, Kinara?”
“Seratus persen!"
“Tapi, kenapa kau terlihat gelisah?” Alisa menoleh, menggenggam pergelangan tangan Kinara dengan tatapan menyelidik.
“Aku ... aku tidak gelisah!” rutuknya kesal karena Alisa terus memancingnya.
“Aku bisa melihatnya, Kinara. Itu terlihat jelas di matamu.”
“Aku tidak tahu, Lisa. Demi Tuhan aku tidak ingin datang untuk mediasi dan tekadku sangat kuat, tidak berubah sedikitpun. Tapi ...,” ucap Kinara terputus. Dia menoleh menatap Alisa, dan Alisa menganggukkan kepala.
“Tapi apa? Katakanlah, bukankah aku ini sahabatmu.”
“Rasanya aku ingin sekali bertemu dengannya, ketika mengingat wajahnya air mataku tiba-tiba menetes. Aku tidak mengerti Lisa,” sambungnya.
“Apa mungkin anakmu rindu dengan Ayahnya? Mungkin dia ingin melihat Ayahnya, Kinar.”
“Bicara apa. Tidak ada hal seperti itu, Lisa.” Memasukan sepotong kue ke mulutnya dan mengunyah kasar. “Aku bisa hidup tanpa laki-laki egois itu.”
“Itu kau, tapi anakmu? Mungkin tidak. Kinara, ada istilah bekas istri dan bekas suami. Namun tidak ada istilah bekas anak, darah kalian berdua mengalir di tubuh anakmu, kau tidak bisa memungkirinya. Kau tidak perlu kembali dengannya, tapi bukan berarti menutup pintu maaf. Kau yang bilang kan, memaafkan bukan berarti kembali. Mulailah dengan memenuhi hak anakmu.”
“Aku tidak mau.” Kinara bangun, meletakan kasar piring kue itu di atas meja.
Kinara nampak meremas hordeng, dan sesekali mengelus perutnya. “Aku tidak ingin melakukan mediasi dengannya.”
“Aku tidak memintamu melakukan itu, hanya datang untuk menemuinya. Aku yakin anakmu rindu dengan Ayahnya.”
“Sebenarnya kau memihak siapa, Alisa?” Kinara menaikan volume suaranya.
Alisa terperanjat, sesaat kemudian dia tersenyum. “Aku selalu berada dipihakmu, Kinara. Demi kebaikan anakmu, percayalah Kinara. Jika kau sudah melihat Dika lalu perasaanmu lebih baik, artinya benar anakmu ingin bertemu ayahnya.”
Kinara diam, dia masih mematung di depan jendela yang menghadap langsung ke teras rumah.
“Nyonya.” Tiba-tiba Bibi Ane berjalan mendekat. “Maafkan saya, Nyonya. Saya sudah lancang karena tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dan Nona Alisa.”
“Ah, tidak apa-apa, Bi.” Kinara tersenyum. “Ayo duduk, Bi. Sepertinya ada yang ingin Bibi katakan.” Kinara mengapit lengan Bibi Ane dan keduanya sudah duduk saling berhadapan. “Katakan, Bi. Tidak perlu sungkan.”
“Anu, Nyonya.” Bibi Ane nampak ragu untuk memulai kalimatnya. “Apa saya boleh berpendapat.”
Kinara mengangguk. “Tentu saja, Bi.” Tersenyum tipis.
“Menurut saya yang sudah kenyang asam garam dalam menjalani rumah tangga,” ucap Bibi Ane terputus. Kinara mengangguk lagi untuk meyakinkan bibi Ane. “Apa yang dikatakan Nona Alisa ada benarnya, mungkin anak Nyonya sedang merindukan Ayahnya.”
Kinara diam untuk waktu yang cukup lama, hal ini membuat bibi Ane sedikit ketakutana kalau-kalau ucapannya menyakiti perasaan Kinara.
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Bi?” Akhirnya Kinara bertanya setelah tiga menit ketiga orang itu hanya saling tatap satu sama lain.
“Temuilah Tuan, Nyonya. Bukan untuk dirimu, bukan untuk Tuan Muda, melainkan untuk anakmu.”
Kali ini diamnya Kinara semakin lama, Kinara nampak berpikir untuk menimbang baik buruknya. Sekitar lima menit barulah dia membuka mulutnya. “Baiklah, ini demi anakku,” ucapnya meyakinkan diri sendiri.
Bibi Ane dan Alisa bertatapan dan saling melempar senyum.
Pak Budi sudah siap untuk mengantar Kinara ke Pengadilan Agama, waktu menunjukan pukul lima sore. Kinara yakin pengadilan Agama sudah tutup, dia hanya mencoba adu peruntungan dengan Tuhan. Jika memang keduannya ditakdirkan untuk bertemu, setelat apa pun masanya mereka pasti akan bertemu.
🍃Parkiran Pengadilan Agama🍃
__ADS_1
“Tuan, ayo kita pulang.” Ken membuka pintu mobil mempersilakan Dika dengan sopan.
Dika memegang ujung badan mobil, pandangan matanya masih berkeliling mencari keberadaan Kinara. Dia kembali menunduk, terlihat pasrah.
Sebenci apa kau padaku, Kinara. Tidakkah kau memiliki sedikit belas kasih untuk datang sekadar mengucapkan ‘hay’ padaku, laki-laki penuh dosa ini, batin Dika.
“Tuan, Nyonya tidak akan datang. Pengadilan Agama pun sudah tutup,” ucap Ken sedih.
“Bisakah kita tunggu sampai petang, Ken.” Dika berjalan menjauh dari mobil, dia memilih duduk di kursi dekat parkiran.
Bunga mawar merah yang dia bawa itu sudah layu, tapi dia tetap memegangnya. Kotak perhiasan sudah dia masukan ke dalam kantung berwarna merah muda yang masih di genggamnya erat.
Dia meletakan bunga mawar itu di sampingnya dengan sangat hati-hati, lalu membuka kotak perhiasan. Senyum simpul muncul di wajahnya ketika membayangkan betapa cantiknya Kinara ketika mengenakan satu set perhiasan yang dia pesan khusus itu.
“Tuan, mari kita pulang.” Ken duduk di dekat Dika. “Sudah cukup lama Tuan menunggu.”
“Tidak, Ken.” Dika menunduk. “Ini belum cukup lama jika dibandingkan Kinara yang bertahan dengan manusia sepertiku selama lima bulan.”
“Tapi, Tuan, mau sampai kapan kita menunggu?”
“Sampai petang, Ken.”
“Mau sepetang apa lagi, Tuan Muda? Sebentar lagi adzan magrib berkumandang, bukankah itu artinya petang hampir datang?” ucap Ken.
“Baiklah, Ken. Ayo kita pulang.” Dika berdiri, meggenggam erat bunga mawar itu.
Ketika Dika dan Ken hampir masuk ke dalam mobil, sebuah mobil lain datang. Ken memicingkan matanya, Ken yakin yang menyetir mobil itu adalah Pak Budi, supir pribadi Kinara.
“Tuan, lihat itu.” Ken menunjuk mobil berwarna merah terang yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Bukankah itu, Nyonya.”
Dika segera menoleh. Deg ... degup jantungnya benar-benar berpacu lebih keras. “Iya, itu Kinara.”
Dika berlari tidak tahu arah, seperti orang yang tidak sadarkan diri sampai kakinya tersandung batu. Dia terjatuh di tanah beraspal dengan kedua lututnya bertumpu di aspal dan kedua tangannya menyangga tubuhnya agar wajahnya tidak menyentuh aspal.
“Tuan, tolong jangan seperti ini.” Ken berjongkok dan mengapit lengan Dika, memapahnya untuk bangun. Mata Ken sampai berkaca-kaca ketika melihat itu.
Dika sudah berdiri, tangannya bergerak cepat mengusap pakaiannya yang kotor. “Jangan terlihat kotor, Ken. Apa ini sudah lebih baik?”
Ken mengangguk seraya tersenyum getir.
“Bunganya ken, bunganya rusak.”
Bunga mawar itu rusak ketika ikut menyentuh aspal. Tergesa Dika membersihkan dan tidak sengaja jarinya tertusuk salah satu duri. Dia tidak peduli, dia tetap membersihkan bunga mawar itu. Sampai beberapa tetes darah terjatuh di kelopak bunga.
“Tuan, tolong jangan seperti ini. Lihat tanganmu berdarah, aku mohon berhenti, Tuan. Aku ... aku yang akan membersihkannya.” Ken berusaha merebut bunga mawar itu.
“Tidak Ken, biar aku saja.” Menepis tangan Ken.
Kinara berjalan mendekat, dari kejauhan dia sudah tahu yang sedang berdiri tidak jauh dari posisinya saat ini adalah Dika.
Kinara mengenakan gaun berwarna kuning yang memiliki panjang selutut, berlengan panjang, rambutnya diikat ala ekor kuda. Sungguh terlihat sangat anggun sampai membuat Dika menelan salivanya berkali-kali.
“Kinara, akhirnya kau ... datang.” Dika menyodorkan bunga mawar itu.
“Iya, tapi bukan untuk mediasi!” jawab Kinara tegas, “Dan maaf, aku tidak bisa menerima bunga darimu.” Memalingkan wajahnya.
Dika menurunkan tangannya, menyerahkan bunga mawar itu pada Ken. “Tidak apa-apa, aku mengerti.” Dika tetap tersenyum. “A ... apa kabar, Kinara?”
“Aku baik,” ucap Kinara singkat.
“Syukurlah.” Dika mengedarkan pandangannya, menatap Kinara dari atas sampai berhenti di perut Kinara. Refleks tngannya bergerak maju, sampai kesadarannya kembali.
Tidak, jangan menyentuhnya, Dika. jika tidak Kinara akan marah, batin Dika.
Dia menarik kembali tangannya.
Sayang, apa kabar? Ini Ayah, Nak. Ayah sangat merindukanmu, semoga kau selalu dalam lindungan Tuhan, Ayah tidak pernah lelah berdo’a agar kau dan Ibumu selalu dalam kedaan baik. Maafkan Ayah karena tidak bisa menyentuhmu, tapi kau harus tahu jika Ayah sangat mencintaimu, annakku, batin Dika.
Bersambung...
__ADS_1