Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Keteguhan Hati Dika


__ADS_3

“Kenapa buru-buru sekali, Ken?”


“Masih ada banyak pekerjaan, Nyonya.” Ken bangun dari kursi lalu membungkuk sopan.


Kinara ikut bangkit dari kursi dan hendak mengantar Ken sampai ke mobil. Namun, Ken menolak. Hal ini semakin memperkuat dugaan Kinara.


"Anda tidak perlu repot-repot mengantar saya, Nyonya."


"Tidak masalah, Ken. Aku senang melakukannya."


Tapi aku tidak senang, Nyonya. Bagaimana jika keberadaan Tuan diketahui, aku juga yang kerepotan, batin Ken.


"Sungguh ... itu tidak perlu, Nyonya. Sepertinya matahari mulai naik, sebaiknya Nyonya segera masuk ke dalam."


"Kau terlihat seperti seseorang yang ketakutan, Ken. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"


Ken menggelengkan kepala.


Baiklah, jika kau tetap menutup rapat mulutmu. Aku tetap bisa membongkarnya. Ayo kita kerjai Ayahmu, Nak. Biarkan dia keluar dari persembunyiannya, batin Kinara.


“Arhhhg ...!”


Tiba-tiba Kinara mengerang sembari memegangi perutnya. Dia mendudukan tubuhnya pelan-pelan di lantai, bagaimanapun ini hanya pura-pura. Jangan sampai kepura-puraannya itu membawa petaka.


Kinara hanya ingin memancing seseorang agar keluar dari persembunyiannya.


Bibi Ane dan pak Budi yang mendengar teriakan Kinara segera keluar dari dalam rumah, berlari ke teras. Ken kebingungan. Tiba-tiba saja pintu mobil terbuka. Dika keluar dari dalam mobil, menghampiri Kinara dengan berlari nyaris terjatuh.


“Kenapa, Kinara? Apa perutmu sakit? Mana yang sakit? Tolong jangan membuatku takut. Ayo kita ke rumah sakit.” Dika bersiap meraih punggung dan kaki Kinara sampai tawa kecilnya keluar. Semua orang menatap heran, Kinara hanya jatuh. Kepalanya tidak terbentur, apa otaknya mengalami masalah? Pikir orang-orang itu.


“Kau, kenapa tertawa?” Dika semakin cemas melihat tingkah Kinara.


“Dasar," ucap Kinara sembari tersenyum ke arah Dika. Kinara bangkit dari duduknya, bertopang pada kedua tangannya dan dibantu bibi Ane.


Setelah menjelaskan jika dirinya baik-baik saja, Kinara meminta bibi Ane, pak budi, dan Ken untuk kembali ke tempat masing-masing. Dan hanya menyisakan dirinya dan Dika di teras rumah, di temani secangkir kopi, dan segelas susu ibu hamil.


“Sejak kapan?”


Uhuk ....


Dika terbatuk, pertanyaan itu datang ketika dia sedang menyeruput kopinya.


“Apanya yang sejak kapan?”


“Sejak kapan kau bersembunyi di dalam mobil?”


Dika menelan salivanya, menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. Kebohongannya sudah terbongkar. Dia harus mengakhirinya sekarang juga, jika terus ditutupi maka semakin banyak kebohongan yang akan dibuatnya.


"Sejak kau membenciku."


"Aku tidak membencimu, Dika."


"Lalu kenapa kau tidak mau kembali padaku, Kinara?"


"Tidak membenci bukan berarti mau kembali, kan? Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya agar kau mengerti." Kinara menundukan kepala.


"Apa aku begitu berdosa padamu?"


"Urusan dosa ...." Kinara menarik napas dalam. "Adalah urusanmu dan Tuhan, urusanku hanyalah memberimu maaf."


"Kau memberiku maaf, tapi tidak mau kembali padaku." Dika nampak sedih. Kepalanya menunduk sangat dalam. "Meskipun begitu aku tetap senang karena kau mau memaafkan aku."

__ADS_1


"Lain kali kau tidak perlu bersembunyi seperti itu."


Dika menoleh. "Apa aku boleh bertemu denganmu?"


Kinar mengangguk. "Boleh."


"Kapan pun?" Raut wajah Dika terlihat bahagia.


Sekali lagi Kinara mengangguk.


Kau yang mengijinkannya, itu artinya kau sedang membuka jalan untukku, Kinara. Sebelum kau memutuskan, aku tidak akan menyerah, batin Dika.


Dika menjawab semua pertanyaan Kinara dengan jujur. Tidak ada yang ditutup-tutupi sedikit pun. Dika tidak banyak bertanya. Setidaknya ini hal yang sangat Dika syukuri, bisa mengontrol kesehatan Kinara dan calon anaknya adalah berkat yang sangat berharga.


"Baiklah, aku harus kembali ke kantor."


Dika bangun diikuti Kinara.


"Kau tidak perlu mengantarku sampai ke mobil, cuaca cukup terik. Oh ya, kau harus membuka amplop dariku." Menunjuk amplop yang tergeletak di atas meja.


"Apa itu penting?" Kening Kinara berkerut.


Dika tidak menjawab. Dia hanya mengangguk diikuti senyum tipis.


***


Malam hari di rumah Agra.


Setelah pertemuannya dengan Dika tidak berjalan lancar. Roy yang tidak ingin kehilangan pundi-pundi uang tentu akan berpihak kepada pemberi kekuasaan. Yaitu Dika. Posisinya juga sudah terancam. Tidak mungkin bagi Roy melawan Dika.


Roy sudah membulatkan tekadnya untuk membatalkan pertunangan Agra dan Allen. Roy lebih memilih berselisih paham dengan keluarga Caitlin. Roy sudah mengambil langkah pertama dengan menghapus berita di forum kampus, lalu menghentikan iklan dan berita di televisi. Termasuk membatalkan undangan wawancara dari beberapa acara gosip.


"Pah, kudengar berita di kampus dan televisi dihentikan?" Lusi meletakan secangkir kopi.


"Apa terjadi sesuatu?"


Sekali lagi Roy tidak menjawab.


"Lalu bagaimana kita menjelaskan semuanya pada keluarga Caitlin? Lagi pula Allen dan Agra sudah berteman sejak dulu. Sebenarnya apa yang terjadi, Sayang?" Kali ini Lusi menambahkan kata sayang di akhir kalimat. Sepertinya mood Roy sedang tidak baik. Wajahnya kusut.


"Keluarga Caitlin biar menjadi urusanku. Aku melakukan ini demi kebaikan kita bersama."


Aku rasa bukan demi kebaikan kita, kau hanya akan berpihak pada uang, batin Lusi.


Roy menjelaskan semuanya pada Lusi, perihal pertemuannya dengan Dika. Juga tentang status Kinara. Ada embusan napas lega yang datang dari Lusi. Syukurlah, Agra tidak akan bernasib buruk dengan menikahi wanita yang tidak dicintainya. pikirnya.


Lusi tidak peduli tentang status Kinara. Baginya kebahagiaan putra semata wayangnya adalah hal yang paling utama. Sekalipun harus menikah dengan seorang janda dan membesarkan anak orang lain.


"Apa yang sedang dilakukan anak itu?"


Anak itu? Dia anakmu, Pah. Anak kita, kau bahkan tidak mau menyebut namanya, batin Lusi.


"Aku tidak tahu. Kau bahkan tidak memberiku ijin untuk menemuinya." Lusi sedikit menaikan sudut alisnya. Ada kekecewaan di sana.


"Sudahlah, berhenti bersikap seperti anak kecil, Mah. Berikan itu padanya." Melempar amplop ke atas meja. "Itu dari Tuan Muda Dika," lanjutnya sembari menyeruput kopi.


"Baik." Memasukan amplop ke dalam kantung daster tanpa banyak bertanya.


Jangankan Agra, Lusi sendiri pun takut dengan sikap mendominasi suaminya. Itulah alasan lusi tidak ingin Agra bernasib sepertinya, hidup dalam satu rumah dengan orang yang tidak diinginkan. Karena dia dan Roy pun korban keserakahan keluarga mereka.


"Apa Agra sudah boleh keluar kamar?" tanya Lusi ragu-ragu.

__ADS_1


Menganggukan kepala. "Berikan itu padanya." Melempar setumpuk berkas. "Pekerjaan ini harus dikerjakan langsung oleh Agra! Sialan!" rutuknya sembari mengibaskan tangan.


Lusi tidak mau membuang waktu, dia segera meraih kunci kamar dan menghampiri Agra dengan amplop dan berkas.


🍃Kamar Agra🍃


"Mah." Agra langsung berhambur ke dalam pelukan Lusi begitu pintu kamar terbuka. "Keluarkan aku dari neraka ini, Mah." Tangisnya pun pecah.


Lusi membelai puncak kepala Agra dan menepuk-nepuk bahunya. Setelah dirasa tenang, keduanya duduk di atas kasur.


"Tolong bantu aku, Mah."


"Sudah ada yang membantumu untuk keluar, Nak."


"Apa maksud Mamah?"


Lusi menjelaskan semuanya pada Agra. Seperti apa yang dijelaskan Roy padanya.


"Jadi maksud Mamah aku bebas?" tanya Agra meyakinkan.


Lusi mengangguk diikuti senyuman. "Ini yang paling penting, Nak. Amplop ini dari Dika. Kau harus segera membukanya." Menyodorkan amplom.


Amplop?


"Lalu bagaimana soal pertunanganku dan Allen?"


"Mamah tidak tahu banyak, Sayang. Papahmu tidak mau menjawab pertanyaan Mamah. Yang pasti, berita pertunanganmu dan Allen sudah menghilang dari televisi dan surat kabar."


Menghilang? Apa maksudnya pertunanganku dan Allen dibatalkan? Apa yang Dika lakukan sampai Papah tunduk padanya? batin Agra.


"Sebaiknya kau tanya langsung pada Papahmu, tapi nanti jika suasana hatinya sudah membaik."


Agra mengangguk.


"Mamah keluar dulu, yah. Setelah membaca amplopnya, turunlah. Kau belum makan sejak kemarin." Menggenggam jemari Agra.


Setelah Lusi keluar, Agra memutuskan untuk segera membuka amplop pemberian Dika.


Ada sepucuk surat di dalamnya, juga sebuah alamat, lengkap dengan tanggal dan waktu. Agra segera membaca surat dari Dika.


"Agra, sesuai janjiku padamu. Aku akan membantu jalanmu. Biarkan aku yang menyingkirkan semua penghalang hubunganmu dan Kinara. Naiklah ke puncak tertinggi, kau harus menjadi laki-laki hebat untuk melindungi Kinaraku. Jika tidak keberatan, aku ingin mengajukan dua permintaan padamu. Pertama, bahagiakan Kinara, berikan seluruh cintamu untuknya. Kedua, berikan aku waktu untuk menemui anakku, jangan pisahkan aku dari darah dagingku sendiri. Aku titipkan Kinara padamu. Tolong bahagiakan dia, karena aku belum sempat memberinya kebahagiaan."


Agra menggenggam erat surat itu.


Bersambung.....


.


.


Isi amplop Dika buat Agra aja sudah menyayat hati, gimana lagi isi amplop Dika buat Kinara 😭


.


.


Penasaran? 😅 Vote yang banyak, masuk rank 20 besar emak update lagi 🤣 (Sore ya 😅)


.


.

__ADS_1


Like sama komennya juga jangan lupa yah, nakanak.


__ADS_2