Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Derita Gadis Desa


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul empat sore, sebuah mobil mewah membunyikan klakson berkali-kali. Tak berapa lama dua orang laki-laki berlarian membuka gerbang, lalu menundukkan badan seraya memberi hormat sang empunya mobil.


Para pelayan berbaris rapi tak terkecuali Ken yang tergopoh berlari untuk membuka pintu mobil.


“Selamat datang Tuan Dika.”


Menyambut kepulangan Dika Mahendra adalah salah satu aturan yang diberlakukan di mansion ini.


Dika hanya menganggukkan kepala, tidak ada ekspresi apa pun. Wajah dinginnya benar-benar terlihat menakutkan.


Dika memperhatikan semua pelayan yang sedang berdiri dan berbaris rapi.


Dia tidak ada, di mana gadis kampung itu? batin Dika


Perasaan marah tiba-tiba menyeruak ke dalam dada Dika ketika mendapati Kinar tidak ada di antara orang-orang yang sedang berdiri menyambut kedatangannya. Padahal jelas sekali tertera dalam point peraturan jika Kinar harus menyambut kedatangannya selagi Kinar ada di rumah.


Dika menyerahkan tas kerja, lalu membuka jas yang segera diterima sopan oleh salah satu pelayan, ia memulai langkahnya memasuki Mansion yang sangat besar. Membuka dasi yang sedari tadi melekat di lehernya, melemparkannya sembarang. Melepas dua sampai tiga buah kancing kemeja berwarna abu-abu itu. membuka kancing lengan kemeja dan menggulungnya sampai siku tangan. Ia memacu langkahnya, mengayun kaki cepat-cepat seolah tidak sabar untuk sampai ke temat tujuan. Sementara Ken masih mengekor dari belakang, meski dengan jarak yang cukup jauh.


Dika masih mengayun langkahnya sampai ia tiba di bagian ujung mansion.


Brakkkk....!!


Dika mendobrak pintu kamar Kinar, memasukkan sebagian tubuhnya dan memperhatikan sekeliling. Tidak ada, Dika tidak mendapati apa pun di sana kecuali kasur, lemari, nakas dan meja belajar. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di kamar itu.


“Keeeen!” Dika berteriak, suaranya menggema di dalam ruangan kecil itu.


Ken yang berada tidak jauh dari Dika langsung berhambur mendekati Tuannya. “Iya Tuan.”


“Di mana Kinar? Apa dia belum membaca peraturan mansion ini, berani sekali dia mengabaikan peraturan yang aku buat.” Dika menaikkan volume suaranya beberapa oktaf lebih rendah dari teriakan sebelumnya.


“Itu, tadi Nyonya sedang menikmati udara segar di taman belakang. Mungkin Nyonya ketiduran Tuan. Biar aku periksa.” belum sempat Ken mengayun langkahnya, Dika sudah melemparkan tatapan tajam.


“Aku saja,” Dika kembali mengayun langkahnya, memacu cepat menuju taman belakang. “Segera bawakan sebotol air untukku.”


Ken hanya mengangguk, dalam benaknya pikiran buruk berkecamuk. Ia hanya berdoa semoga Dika tidak melakukan hal buruk pada Kinar.


Dika terus mengayun kaki jenjangnya, tidak sabar ingin segera sampai di taman belakang. Sesampainya di depan pintu penghubung antara mansion dan taman belakang, Dika mendorong kasar pintu itu. melangkah dengan perasaan marah melewati centi demi centi tanah berumput. Matanya terus berkeliling, mengamati dengan seksama. Setelah cukup lama memutar kedua bola matanya, Dika mendapati Kinar sedang duduk di dekat kolam ikan.


Apa kau pikir ini tempat wisata. Dika menggerutu


Tak berapa lama Ken sudah kembali dengan sebotol air di tangannya, Dika meraih kasar botol itu. berjalan mendekati tubuh Kinar.


Dika memandang Kinar yang sedang terlelap dengan tatapan penuh kebencian, wanita tangguh yang dibanggakan ayahnya hanya sebatas ini saja.

__ADS_1


Wanita tangguh apanya, kita lihat seberapa tangguhnya dia.


Dika membuka tutup botol itu dan perlahan-lahan menuangkan air di atas kepala Kinar, membasahi kepalanya melewati bagian wajah Kinar dan menembus bajunya.


Hujan? Batin Kinar.


Perlahan Kinar membuka matanya, alangkah terkejutnya Kinar ketika mendapati Dika sudah berdiri di depannya dengan raut wajah merah padam. Di tangannya nampak botol air yang sudah kosong.


Kinar berjingkat, bangun dari tempat duduknya. Seluruh wajahnya basah kuyup, tak terkecuali dengan bajunya yang ikut terguyur air. Kinar memutar bola matanya, melihat apakah rumput-rumput di sekitarnya juga basah tersiram air hujan. Kering, tidak ada setetes air pun di sana. Kecuali di bagian bawah tempat Kinar berdiri.


Kinar terdiam sesaat, dadanya terasa sakit. Seandainya ada lorong waktu, dia akan datang ke rumah ibunya. Mengetuk pintu rumah dan berhambur memeluk tubuh ibunya, agar perasaan dingin yang meresapi tubuhnya bisa hilang karena kehangatan pelukan Mirna.


Kinar menggigit bibirnya, mengepalkan tangan. Ia ingat betul peraturan yang diberlakukan di Mansion ini, Kinar harus menyambut kedatangan Dika dan menyiapkan segala keperluannya. Namun dirinya yang bodoh ini justru terdampar di taman belakang, terhanyut dengan keindahan bunga teratai yang bermekaran sampai membuatnya terlelap tidur.


Kinar menarik napas, berat. Ia menyatukan kedua tangannya di bagian perut lalu menundukkan kepala. Dari bibirnya yang mulai membeku karena udara dingin membuat tubuhnya yang tersiram air seperti mati rasa.


“Ma-ma-maafkan aku Tuan, aku tidak menyambut kedatanganmu.” Kinar mengucapkannnya dengan bibir bergetar, ia menggosokkan kedua tangannya berharap rasa dingin yang menjalari tubuhnya segera menghilang.


“Lain kali tidak ada kejadian seperti ini lagi, paham?! Jika kau ada di rumah, kau harus menyambutku. Jika tidak ada di rumah, itu terserah dirimu. Aku tidak memaksa!!” Dika membentak Kinar, suaranya melengking seperti petir yang menyambar apa pun yang dilihatnya.


Kinar menganggukkan kepala. “Baik Tuan, aku pastikan hal ini adalah pertama dan terakhir kalinya.”


Kinar berjalan mundur dua langkah. Mencoba menjauh dari Dika. “Akan ku siapkan air hangat untukmu Tuan.” Kinar membungkukkan tubuh dan berbalik, melangkah meninggalkan Dika yang masih mematung sembari memegang botol kosong. Entah karena menyesal telah menyiramkan sebotol air kepada Kinar atau karena belum puas memaki Kinar.


“Ken, tunjukkan kamar Tuan. Aku akan menyiapkan air hangat untuk Tuan. Dia pasti lelah karena seharian bekerja dan mungkin ingin berendam dalam air hangat.” Kinar berjalan melewati Ken tanpa menoleh sedikit pun.


“Nyonya, sebaiknya anda berganti pakaian dulu. Saya takut Nyonya akan sakit” Ken mengingatkan, dia mengekor dari belakang mengikuti Kinar.


“Bukankah itu lebih baik Ken, lebih baik lagi kalau langsung mati saja. Tidak perlu sakit.” Kinar meracau di tengah-tengah keputusasaannya.


“Nyonya, ingatlah jika Nyonya masih punya seorang ibu dan seorang adik yang akan merasa khawatir ika terjadi sesuatu pada nyonya.” Ken berusaha membujuk, berharap Kinar mau mendengarkannya.


“Hahahaha...” Kinar terkekeh, entah hal apa yang lucu sampai dia bisa tertawa.


“Di mana kamar Tuan?”


“Oh.” Ken tersadar dari lamunanya. “Mari ikuti saya Nyonya.” Ken kemballi memimpin jalan diikuti Kinar.


Keduanya menaikki satu-persatu anak tangga, tempat di mana Kinar sempat terpesona oleh ketampanan Dika.


Ternyata benar, terkadang manusia lebih kejam dari iblis. Dika adalah contoh paling nyata. Batin Kinar.


Gontai, ia terus menaikki anak tangga. Wajah yang beberapa menit lalu basah kuyup sudah mengering karena tersapu angin.

__ADS_1


“Silakan Nyonya, kamar mandi Tuan ada di sebelah kiri.” Ken membuka pintu dan mempersilakan Kinar untuk masuk.


“Kau tidak masuk Ken?” Tanya Kinar.


“Mohon maaf Nyonya, ini adalah salah satu tempat pribadi Tuan yang tidak boleh dimasuki siapa pun termasuk saya.” Ken menjelaskan sopan.


“Bagaimana denganku? Jika Dika, maksudku jika Tuan Dika marah karena aku masuk ke dalam kamarnya bagaimana?” Kinar takut, Dika bukanlah lawannya. Kinar benar-benar tidak ingin berurusan dengan manusia satu itu.


“Itu, Tuan sudah mengijinkan Nyonya untuk keluar masuk ke dalam kamarnya untuk menyiapkan semua kebutuhan Tuan.” Lagi, Ken menjelaskan.


“Oh, baiklah. Terima kasih Ken.” Kinar tersenyum getir. Segera ia memegang handle pintu, mendorongnya pelan dan menghilang di balik pintu kamar.


Haaah.. Kinar menghela napas panjang. Lenguhan napasnya benar-benar terdengar berat, seperti sedang memikul beban hidup yang teramat berat. Matanya berkeliling mencari kamar mandi, ia tidak ingin memperhatikan kamar Dika. Benda apa saja yang ada di dalam kamar Dika, ia benar-benar tidak peduli. Kamar Dika lebih besar berkali-kali lipat dari kemarnya.


Kinar tersenyum lega ketika matanya menangkap ruangan kamar mandi di sudut kiri, seperti yang sudah dijelaskan Ken. Kinar berjalan cepat, masuk ke dalam kamar mandi. Mengisi air ke dalam bak mandi, mengatur kehangatan suhunya. Setelah dirasa cukup, cepat-cepat ia bangkit dan meninggalkan kamar Dika.


Kinar kembali menuruni anak tangga, melewati beberapa ruangan dan kembali ke taman belakang dengan sedikit berlari.


Matanya berkeliling, ia mendapati Dika sedang berdiri di depan kolam ikan.


“Tuan, air hangatnya sudah siap.” Kinar melapor dengan membelakangi tubuh Dika. Tak ada kalimat terima kasih, tak ada kalimat apa pun yang keluar dari mulut Dika. Ia berlalu begitu saja melewati Kinar, sementara Kinar mengekor dari belakang. Jarak keduanya cukup jauh.


Setelah sampai di depan kamar Kinar, Dika berhenti. “Ikuti aku!” Dika memerintah, sepertinya Dika tahu jika Kinar ingin segera melarikan diri, masuk ke dalam kamarnya seperti seekor siput yang ketakutan dan bersembunyi di balik cangkangnya.


“Baik Tuan.” Kinar membungkuk.


Dika kembali memacu langkahnya, masih sama dengan diikuti Kinar di belakangnya. Keduanya kembali menaikki anak tangga, sesampainya di depan pintu kamar Dika menekan handle pintu dan mendorong pintu. Setengah terbuka, ia memutar sedikit tubuhnya. “Kau tetap berdiri di depan pintu, jangan pergi sampai aku selesai membersihkan tubuhku. Jika aku memanggil namamu, datanglah secepat mungkin.” Dika kembali mendorong pintu kamar dan menghilang. Sementara Kinar hanya tertunduk, menahan sakitnya perasaan tidak dihargai.


Seperti inilah deritaku, derita gadis desa yang mencoba naik ke atas permadani yang mahal. Belum sempat meraih permadani itu, aku sudah jatuh tersungkur. Hancur....


\=\=\=> Bersambung 💕💕


Jangan lupa klik Like 🖒


Tinggalkan komentar 💬


Klik Favorit ❤


Klik beri Tip dan Vote


Beri bintang 5


Fan Follow author

__ADS_1


__ADS_2