
Dua hari berlalu sejak kejadian nahas itu. Kinara dirawat intensif di rumah sakit, Marta dan Dika memilih untuk berjaga 24 jam di rumah sakit. Dika sampai membawa pakaian dari rumah, makan dan tidurnya mulai tidak teratur. Semua dia lakukan demi menjaga Kinara.
Setelah mendapat perawatan beberapa hari akhirnya Kinara bangun. Dia membuka kelopak matanya perlahan, mengerjap untuk menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam matanya. Plafon di atas tidak sama dengan plafon di rumahnya, hanya berwarna putih polos, tidak bercorak dengan empat lampu di tiap sudutnya yang memiliki cahaya cukup terang. Jelas ini bukan kamarnya.
Kinara meraba permukaan kasur dan mengangkat tangannya yang terpasang jarum infus. Dia diam untuk beberapa saat dan mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya sampai dia harus berakhir di tempat asing ini.
“Errr ....” Kinara mengerang. Gerak tubuhnya masih belum sempurna, ada asa sakit di bagian perutnya. Kinara meraba permukaan perutnya, pikirannya mulai kacau ketika dia mengingat terakhir kali perutnya kontraksi. “Argggh ....” Kinara terisak dengan tubuh yang masih berbaring di atas ranjang pesakitan.
Dika terbangun karena mendengar suara tangisan Kinara. Sementara Marta baru pulang sekitar satu jam yang lalu, ada urusan penting yang harus dia selesaikan. Dika bingung harus berbuat apa, jika melihat wajahnya yang menyebalkan mungkin Kinara akan kembali histeris dan itu tidak baik untuk kesembuhannya. Walau bagaimanapun dialah yang menyebabkan Kinara harus berakhir di rumah sakit.
Dika menjatuhkan tubuhnya ke lantai, perlahan merangkak menjauh dan membuka pintu kamar lalu keluar. Beruntung ranjang Kinara tertutup tirai sehingga Kinara tidak melihat Dika yang bersusah payah melarikan diri darinya.
Selepas keluar dari dalam kamar, Dika melihat Agra sedang berjalan mendekat. Seperti biasanya, Agra selalu membawa makanan untuk Dika dan Marta.
“Apa yang sedang kau lakukan? Merangkak seperti sedang berlatih militer saja.” Agra mengernyitkan dahinya ketika melihat kelakuan Dika.
Dika bangun, mebersihkan celananya yang kotor lalu meletakan jari telunjuknya di bibir. Dika menarik Agra menjauh dari depan kamar Kinara. Dika takut jika suara Agra terdengar sampai ke dalam kamar.
“Apa? Ada apa?” tanya Agra penasaran begitu jarak keduanya dan kamar inap Kinara cukup jauh.
“Kinara sudah siuman, aku sengaja keluar diam-diam agar dia tidak melihatku. Jika dia melihatku mungkin dia akan ketakutan lagi.” Dika tersenyum getir menerima kenyataan pahit ini.
“Apa yang kau pikirkan, Dika? Seharusnya kau tidak melakukan hal ini! Melarikan diri bukanlah solusi yang tepat.”
“Aku sudah memilih jalanku, dan melarikan diri adalah bagian di dalamnya. Meskipun terlihat pengecut, tetapi aku tidak ingin melihatnya menderita. Asal kau tahu, memilih untuk menyerah jauh lebih menyakitkan daripada berjuang.”
“Jika cara yang kau gunakan benar, Kinara juga tidak akan menderita. Aku hanya merasa jalan yang kau pilih salah.”
Apa yang kau lakukan, Agra? Jika dia menyerah bukankah itu sudah bagus? Itu artinya kau tidak memiliki saingan lagi! Tidak! Aku tidak boleh memiliki pikiran sepicik itu, batin Agra.
“Cara apa pun yang aku gunakan untuk mendekatinya tidak ada yang benar di mata Kinara, Agra. Dan aku rasa ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan.” Dika tersenyum simpul. “Masuklah.” Mendorong tubuh Agra.
“Shit! Aku tidak bisa melakukan ini, kau suaminya, man. Kau yang harusnya ada di sampingnya.” Agra meletakan kotak makanan dan menatap tajam ke arah Dika. “Jika kalian sudah bercerai maka lain lagi ceritanya, tapi sekarang ini aku tidak bisa.”
Dika tertawa kecil. “Aku memang suaminya, tetapi yang dia butuhkan bukanlah aku. Sudahlah, kau temui dia. Dan jangan katakan jika aku yang menjaganya selama dua hari ini.”
“Are you crazy?!" Agra memutar tubuhnya dan menarik kerah baju Dika. “Jangan jadi pengecut, Dika! Kau harus menemui Kinara dan mengatakan yang sebenarnya!"
“Aku ...,” ucap Dika terputus.
__ADS_1
“Arhhhh ....”
Terdengar suara teriakan dari dalam ruangan Kinara. Agra segera berlari, membuka pintu kamar dan membiarkannya terbuka lebar. Dika panik dan segera mencari keberadaan dokter Amel.
“Kinara ....” Agra sudah berdiri di depan Kinara.
“Anakku ... apa anakku baik-baik saja?” Kinar meraba permukaan perutnya. Kinara tidak bisa membedakan apakah anaknya baik-baik saja atu tidak, karena kehamilannya baru masuk bulan ke empat dan perutnya belum membuncit.
“Kau harus tenang, Kinara. Tolong jangan banyak bergerak, tarik napas dan embuskan perlahan.”
Agra berusaha membuat Kinara tenang. Namun Kinara tidak bisa tenang, dia bahkan berniat turun dari ranjang sampai dokter Amel datang menghampiri dengan napas terengah.
“Anakmu ... baik-baik ... saja, Nyonya.”
Kinara baru tenang ketika mendengar ucapan dokter Amel, napasnya mulai stabil dan dia sudah berhenti menangis.
Dokter Amel menjelaskan semuanya pada Kinara. Berulang kali Kinara berucap syukur karena Tuhan masih melindungi anaknya.
Dika hanya bisa beridiri di ujung pintu kamar yang terbuka. Diam-diam mencuri dengar dan sesekali mencuri pandang untuk melihat senyum di wajah istrinya. Melihat senyum Kinara saja sudah bisa membuat Dika bahagia.
“Apa kau yang sudah menjagaku selama dua hari ini?” tanya Kinara begitu suasana hatinya mulai membaik.
Agra memutar bola matanya, dia melihat ke arah pintu dan Dika nampak menyatukan kedua tangannya di dada untuk memohon agar Agra tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Jadi setelah mengantarku ke rumah sakit kau bahkan tidak menjagaku, Dika? batin Kinara.
Kinara tersenyum, dia melemparkan pandangan matanya pada kantung plastik yang digenggam Agra. “Apa itu bubur ayam kesukaanku?”
Agra menggeleng. “Bukan, ini hanya bubur ayam biasa. Apa kau lapar? Aku mungkin bisa membeli bubur ayam kesukaanmu, tapi sebaiknya kau bertanya pada dokter Amel apakah kau boleh makan makanan dari luar rumah sakit.”
Kinara memutar kepalanya. Kali ini pandangan matanya beralih menatap dokter Amel. Sayangnya dokter Amel justru menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis. Kinara menghela napas pendek, isyarat yang diberikan dokter Amel cukup dia mengerti.
“Tapi, kenapa ada tiga kotak? Sejak kapan makanmu jadi sebanyak itu?” Kinara mengamati dengan lebih teliti. Dia tidak salah lihat, jumlahnya memang tiga kotak.
Agra gelagapan, dia tidak tahu harus beralasan apa. Serakus-rakusnya laki-laki tidak mungkin juga untuk menghabiskan tiga porsi bubur ayam dalam satu waktu.
“Itu karena ...,” ucap Agra terputus.
Dokter Amel hanya diam mengamati, dia tidak tahu permainan apa yang sedang dimainkan Agra dan Dika. Kenapa Dika memilih bersembunyi di balik pintu, kenapa Agra memilih berbohong jika dialah yang menjaga Kinara.
__ADS_1
Agra bukan tidak ingin menjaga Kinara. Agra hanya tidak ingin mengambil hak orang lain, Dikalah yang lebih berhak atas Kinara. Karena Dika masih suami sahnya.
“Apa ada orang lain yang ikut menjagaku?” tanya Kinara.
“Itu ....”
“Kinara ....” Alisa datang dari pintu.
Agra melenguh panjang melihat kedatangan Alisa. Ide gila bergelayut di kepalanya. “Ini untuk Alisa. Dia selalu datang setiap pagi, jadi aku membelikan sarapan untuknya.”
Alisa menatap heran ke arah Agra. Mata kecil yang dibalut kacamata tebal itu melotot seolah ingin keluar dari cangkangnya. Agra mengedipkan mata pelan dan Alisa hanya mencibir.
Akting apa lagi yang kalian lakukan? Yang satu mengendap-endap sedang mencuri dengar di balik pintu, yang satu lagi berbohong. Yang kalian lakukan ini hanya akan memperburuk keadaan, batin Alisa.
“Iya, aku selalu datang setiap pagi. Dan Agra yang membeli sarapan.” Alisa tersenyum lalu membelai lembut bahu Kinara.
“Lalu yang satu lagi?” tanya Kinara masih curiga.
Beginilah nasib pembohong, selalu berakhir dengan kebohongan yang lainnya. Kau membuatku harus menutupi satu kebohongan dengan kebohongan yang lainnya, Dika, batin Agra.
“Itu milik ... dokter Amel.” Agra menunjuk.
Dokter Amel tersenyum kaget. “Iya ... itu milikku. Kau tahu, makanan rumah sakit memang tidak enak.”
“Ooh ....” Kinara manggut-manggut, sepertinya kebohongan yang mereka lakukan berhasil.
Di sudut lain, di balik pintu kamar Dika sedang tertegun. Menatap wajah istrinya dengan tatapan nanar, bulir bening mengalir dari sudut matanya. segera Dika menyeka kasar sampai meninggalkan bekas kemerahan di wajahnya yang putih dan bersih.
Sesuai janjiku padamu, Kinara. Aku akan pergi, biarlah aku yang membawa semua cinta ini. Aku berjanji tidak akan beristrikan wanita lain lagi, karena mencintaimu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia. Cintamu yang akan menemaniku sepanjang waktu. Berbahagialah. Berbahagialah dengan pilihanmu, duhai permata hatiku, batin Dika.
Bersambung...
.
.
Jangan lupa VOTE yang kenceng. Yang keasikan baca dan lupa klik like, tolong balik lagi dan klik likenya. Ok.
.
__ADS_1
.
Follow ig emak @Roseelily16 dan Fb emak RoseeLily. Foto profil Ig dan Fb samaan yah. Karena ada beberapa hal yang di post di ig dan Fb. Untuk yang mau masuk gc nanti emak cek dulu yah.