Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Duka Kinara


__ADS_3

"Kau kuat, kau wanita yang luar biasa. Cara Tuhan untuk mendewasakan hamba-Nya tidak pernah salah, ujian yang diberikan Tuhan untukmu sudah sesuai kapasitasmu sebagai manusia pilihan," ucap Kinara.


"Jika aku yang menanggungnya, mengalami duka yang sama sepertimu. Belum tentu aku bisa sekuat dirimu, Carissa. Mungkin aku tidak akan bisa bertahan sampai sejauh ini." Kinara berbisik lembut di telinga Carissa yang dijawab anggukan pelan. Carissa mencoba percaya bahwa apa yang dikatakan Kinara adalah kebenaran.


Tidak ada tanggapan apa pun kecuali anggukan kepala, tidak keluar sepatah kata pun dari mulut Carissa. Hanya suara tangisnya yang semakin kencang, bahunya sampai berguncang dengan tarikan napas yang tak beraturan.


"Sabar, Carissa." Kinara mengelus kepala Carissa. "Aku percaya kau bisa melewati semuanya."


Saat ini posisi Kinara dan Dika saling berhadapan, mengapit Carissa yang sedang memeluk Kinara. Dika melempar pandangan ke arah Kinara, ditatapnya lekat istrinya itu.


Kau sendiri memiliki duka yang berat, tetapi kau bisa memberi semangat kepada orang lain. Kau! Memangnya setangguh apa dirimu? Apa kita bertemu di waktu yang salah, Kinara? batin Dika.


Berangsung-angsur suara tangis itu mulai menghilang, napas Carissa pun lebih teratur. Carissa melepaskan pelukannya dan memilih untuk menggenggam tangan Kinara.


"Terima kasih, Kinara. Selama ini aku tidak bisa membagi dukaku dengan orang lain selain Dika," ucap Carissa diikuti senyum tipis.


"Aku tidak melakukan apa pun, hanya menjadi pendengar yang baik untukmu." Kinara tersenyum. "Baiklah, sekarang minum obatmu." Kinara menggerakan kepalanya menunjuk botol obat di atas meja.


"Kenapa aku merasa sikapmu lebih dewasa daripada aku, hey aku lebih tua satu tahun darimu."


"Haruskah aku memanggilmu, Kakak?" Kinara meledek, Carissa tertawa sampai deretan gigi putih itu terlihat.


"Ken akan menyesal karena melepaskan wanita sepertimu, Kinara." Carissa menyendok nasi goreng milik Kinara. "Nah, sekarang buka mulutmu, karena mendengar curahan hatiku kau bahkan belum menghabiskan sarapanmu."


"Tidak, aku bisa makan sendiri." Kinara berusaha meraih sendok yang disodorkan Carissa. Namun Carissa memundurkan tubuhnya. "Tidak, jika kau tidak mau makan aku tidak akan mengijinkanmu pergi kuliah."


"Berat sekali ancamanmu, Carissa." Kinara tersenyum. "Baiklah." Membuka mulutnya dan satu sendok nasi goreng itu sudah mendarat di mulut Kinara. "Kau puas?"


"Tentu saja."


"Sudah cukup. Sekarang minum obatmu, Carissa," ucap Dika tiba-tiba yang membuat senyum di bibir Kinara seketika lenyap.


"Bisakah aku libur minum obat, sayang?" Carissa merengkuh lengan Dika dan bergelayut manja.


Kinara mengalihkan pandangan, fokusnya sudah berpindah pada piring nasi goreng yang isinya sudah berkurang.


"Libur?" Dika meraih dagu Carissa dan mendongakkan wajahnya. Keduanya saling tatap. "Kau pikir sekolah ada liburnya?" Tangannya berpindah mengelus puncak kepala Carissa.


"Kau pelit sekali! Masa libur sehari saja tidak boleh." Carissa memajukan bibirnya.


"Kau harus minum obat, sayang." Dika meletakan ibu jari di wajah Carissa dan mengelusnya lembut.


"Aku mohon, yah, aku tidak usah minum obat. Hari ini saja.” Carissa meraih lengan Dika lagi dan menggoyangkannya.


“Bicara apa sih.” Dika meletakan ibu jarinya di bibir Carissa dan membelai lembut di sana. kinara hanya menunduk.


“Jangan membantah lagi. Cepat minum obatmu, Rissa. Kau ‘kan tahu kesehatanmu itu sangat penting untukku.” Dika mengambil botol obat itu satu per satu, mengeluarkan isinya dan meletakan di piring kecil.


“Nah, sekarang minum.” Dika menyodorkan piring berisi obat-obatan itu pada Carissa yang disambut senyum terpaksa di wajahnya.


“Kau memang pandai merayu, sayang.”


Untuk apa aku masih di sini? Apa aku sedang menonton adegan romantis dalam drama? batin Kinara.


“Anu, maaf tapi sepertinya aku harus segera pergi.” Kinara bangkit dari kursi dan memasang tas slempangnya.


“Ah, maaf, Kinara. Kau jadi melihat tingkah manjaku yang kekanakan,” ucap Carissa.


"Oh, itu tidak masalah." Kinara mengibaskan tangannya.


"Apa tingkahku terlihat berlebihan?" tanya Carissa.


"Tidak, mana mungkin. Itu sudah sewajarnya, sepasang kekasih saling memanjakan satu sama lain. Seharusnya kalian bisa lebih mesra dari ini." Kinara terlihat bersemangat mengatakannya.

__ADS_1


Hal ini sontak membuat Dika marah, dia menaikan sudut alisnya. Dika semakin ingin tahu sampai di mana Kinara bisa berpura-pura kuat.


"Aku pergi dulu, yah." Kinara mengelus pundak Carissa. "Minum obatnya." Kinara tersenyum.


"Tunggu dulu, Kinara." Carissa meletakan piring berisi obat itu di atas meja. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu." Carissa menggengam tangan Kinara dan membimbingnya untuk duduk.


"Apa?" Kinara sudah duduk di samping Carissa.


Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Carissa? Sudah bagus dia pergi, jangan halangi lagi, batin Dika.


Dika meraih gelas berisi air putih dan meneguknya perlahan.


"Aku akan menikah dengan, Dika," ucap Carissa.


Uhuk ...! Dika tersedak mendengar kalimat yang diucapkan Carissa adalah perihal rencana pernikahan mereka.


Kinara diam, cukup lama. Dika menatap tajam, Dika penasaran reaksi apa yang akan diperlihatkan Kinara.


"Baguslah, memang lebih baik menikah daripada terlalu lama berpacaran," ucap Kinara.


Dika membulatkan matanya, menatap tidak suka ke arah Kinara.


Kenapa kau menatapku seperti itu? Inikan inginmu? Menikah dengan Carissa, menyingkirkan aku secepatnya, dan menguji batas kekuatanku, batin Kinara.


"Semoga semuanya berjalan lancar, aku berdo'a semoga Tuhan merestui cinta kalian." Kinara menelan salivanya. "Kebaikan hatimu akan membawamu pada kebahagiaan sesungguhnya. Percayalah," ucap Kinara sembari menganggukan kepala.


Kinara menggeser tubuhnya, memalingkan wajah untuk beberapa detik. Sekuat apa pun seorang wanita, jauh di dasar hatinya ada perasaan tidak rela ketika harus membagi suaminya dengan orang lain.


Meskipun tidak ada cinta di dalam pernikahan mereka, tapi ikatan yang mengikat keduanya bukanlah ikatan yang bisa dilepaskan semudah itu.


Jika memang ingin memilih Carissa, maka kau harus melepasku, kau tidak bisa memiliki keduanya, batin Kinara.


"Bisakah kau membantuku mempersiapkan semuanya, Kinara? Apa kau bisa menjadi pendampingku ketika acara pernikahan nanti, biar Ken yang menjadi pendamping laki-laki." Carissa membelai bahu Kinara.


Kinara menggigit bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Kinara.


"Hmmm ... kapan, sayang?" Carissa beralih menggoyang lengan Dika.


"Secepatnya, tapi biar aku yang mengurus semuanya, ok! Jangan bicara apa pun dengan Mamah," titah Dika yang terdengar sangat serius.


Carissa mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"


"Itu karena."


Itu karena Mamah tidak akan mengijinkannya, kau tidak ingin orang lain tahu betapa jahatnya dirimu, Dika. Egois sekali! batin Kinara.


"Itu karena ...," ucap Dika terputus.


"Itu karena masih ada hal yang harus dia urus, Carissa. Hanya sekadar memberi saran, kau jangan serakah Dika!" seruan Kinara terdengar marah, Carissa bingung. Terlihat jelas di wajahnya. "Kau tidak bisa memiliki keduanya, kau harus melepaskan salah satu dari mereka!"


Kinara hampir kehilangan kendali, sedikit saja Dika menyulut api yang sudah padam di hati Kinara, maka api itu akan berkobar menghancurkan apa saja. Terutama Dika.


"Tu ... tunggu, Kinara. A ... apa maksudmu?" tanya Carissa.


"Kenapa? Kenapa bicaramu terbata, Carissa?" Kinara balik bertanya.


Dika ikut panik. Dia bangun dari kursi dan memeluk Carissa, saat ini kepala Carissa bersandar di perut Dika.


"Tenang, sayang. Kinara hanya bercanda." Dika mengelus puncak kepala Carissa. "Dia hanya bercanda." Dika menatap marah ke arah Kinara.


Kenapa? Kenapa harus selalu aku yang salah? Bukankah ini semua salahmu?! Kenapa kau jahat sekali, Dika?! batin Kinara.

__ADS_1


Kinara menggigit kuat bibirnya. Bulir bening menetes dari sudut matanya. Dia mengusap kasar wajahnya dan menatap penuh kebencian pada Dika.


Carissa tidak bisa melihat apa yang dilakukan dua orang itu, karena saat ini kepalanya tenggelam dalam perut Dika. Sayang sekali Carissa tidak bisa menyaksikan perang tatapan yang dilakukan Dika dan Kinara, perang yang memiliki banyak arti tersembunyi.


Kau berutang banyak padaku, Dika. Kelak kau harus membayarnya berlipat-lipat, batin Kinara.


Kinara menggenggam tangan Carissa, membelai lembut di sana. "Maafkan aku, Carissa," ucapnya lirih.


Sudah melepaskan diri dari pelukan Dika. "Apa yang kau katakan, Kinara? Serakah? Melepaskan salah satunya, apa maksudmu? Apa Dika memiliki ke ... kasih la ... in?" Carissa terengah-engah, napasnya mulai terputus-putus. Ada gerakan dimana Carissa menekan dada sebelah kiri. Wajahnya pucat dan pelipisnya mulai berkeringat.


"Tidak, Carissa. Tidak! Tidak ada, Dika hanya mencintaimu. Kau ... kau satu-satunya wanita yang Dika miliki. Aku mohon tenangkan dirimu." Kinara mengelus kepala Carissa.


Dika menuang segelas air putih dengan tangan bergetar. "Minumlah, sayang." Dika menyodorkan gelas itu. Carissa mencoba meraihnya, tapi tangannya bergetar hebat.


"Berikan padaku!" Kinara mengambil paksa gelas itu dan mendekatkan ke bibir Carissa.


"Minumlah, Carissa. Setelah kau tenang aku akan menjelaskan semuanya," bujuk Kinara.


Sedikit demi sedikit Carissa meneguk air yang disodorkan Kinara.


"Bagus, tarik napas dan buang perlahan," titah Kinara, dan Carissa benar-benar mengikutinya.


"Good. Lakukan lagi."


Sepersekian menit ritme napasnya mulai normal dan getaran di tubuhnya berangsur-angsur menghilang.


Maafkan aku, Carissa, sungguh maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti dirimu, Tuhan apakah aku jahat? Aku hanya ingin lepas darinya, dari laki-laki iblis itu, kenapa harus sesusah ini? batin Kinara.


"Sekarang jelaskan padaku? Apa kau tahu sesuatu? Apa Dika berselingkuh?" Carissa langsung mencecar pertanyaan pada Kinara begitu kondisinya membaik.


Kinara menarik napas panjang sebelum membuka mulutnya. "Tidak ada! Dika tidak pernah selingkuh darimu, dia hanya setia padamu, Carissa."


"Jangan bohong, Kinara!" Ada kemarahan dari ucapan Carissa. "Jika Dika tidak memiliki kekasih lain, untuk apa kau mengatakan itu padanya."


"Itu karena Ken, dia memiliki kekasih lain tapi tidak mau melepaskan aku. Dia mencintai wanita lain tapi tetap mengikatku. Ken, Ken tidak pernah mencintaiku, tapi terus mengurungku agar bersamanya." Kinara terisak, itu adalah kebenaran yang menyakitkan. Hanya saja, nama yang keluar dari mulut Kinara seharusnya bukan Ken, melainkan Dika.


Glek ...! Dika terdiam, tidak ada gerakan apa pun.


"Ya Tuhan, kenapa Ken sejahat itu?!"


"Maafkan aku karena tidak bisa mengendalikan perasaan sampai melibatkanmu dan Dika, aku hanya ingin memberi nasihat kepada Dika agar tidak berlaku jahat seperti Ken." Kinara menyeka kasar air mata yang jatuh di pipinya.


"Maafkan aku, Kinara." Carissa membelai lembut bahu Kinara.


"Tidak, ini bukan salahmu. Ini salahku karena terbawa suasana." Kinara tersenyum, dia merogoh tas dan mengeluarkan kaca kecil. "Aku harus kuliah." Kinara menatap bayangan wajahnya dari pantulan kaca itu dan membersihkan sisa-sisa air mata.


"Kau yakin mau berangkat kuliah?" tanya Carissa memastikan.


"Tentu saja." Kinara tersenyum.


Daripada harus berada di dalam sini yang seperti penjara terkutuk! batin Kinara.


"Aku pergi dulu, yah." Kinara bangkit dari kursi, merapikan penampilannya. "Lekas sembuh, Carissa. Percayalah Dika hanya mencintaimu.” Tersenyum lebar.


“hati-hati, Kinara.”


“Sip.” Kinara mengacungkan jempolnya.


\=\=\=\=> Bersambung...


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan Vote, bantu naikin rank novel ini yah. Berapa pun vote dari kalian, emak sangat berterima kasih ❤️😘


__ADS_2