
"Aku memberimu kesempatan untuk terakhir kalinya, Tuan." Ken ikut menekan bahu Agra. "Anj*ng yang selalu disakiti oleh tuannya pun tidak akan pernah menggigit tuannya!"
Agra tertawa kecil. "Sungguh kesetiaan yang luar biasa. Baiklah, Ken, ain kali aku akan menguji kesetiaanmu lagi." Agra menepuk-nepuk lengan Ken diikuti senyum simpul di wajahnya.
"Nyonya, saya tidak akan pulang dan tidak akan memberi laporan apa pun pada Tuan. Jika urusanmu dan Tuan Agra sudah selesai, mohon segera hubungi saya."
Dengan begitu Tuan tidak akan curiga, kecurigaan Tuan hanya akan membuatmu semakin menderita. Aku selalu berada dipihakmu, Nyonya. Percayalah, batin Ken.
Kinara menganggukka kepala.
"Kalau bisa matikan handphone anda, Nyonya." Ken berjalan mendekti mobil dan segera meninggalkan minimarket.
Peringatan dari Ken jelas memiliki maksud tertentu. Akhirnya Agra menyita Hp Kinara untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.
"Mau naik mobil atau motor?" tanya Agra, "Aku bisa meminta Asistenku mengantar mobil kemari. Mungkin memerlukan waktu cukup lama karena ini jam macet." Agra sudah duduk di teras toko.
"Motor saja. Tidak apa-apa, Agra," jawab Kinara.
"Baiklah." Agra bangun dari duduknya, melepas jaket yang dia kenakan dan menyodorkan pada Kinara. "Pakai ini, hari sudah semakin gelap dan cuaca semakin dingin."
Kinara menggeleng. "Tidak, kau saja."
"Menurutlah, Kinar. Aku tidak ingin kau sakit."
"Hmmm ...." Kinara meraih jaket itu dan segera mengenakannya. "Kita mau ke mana?"
"Klinik," jawab Agra singkat. "Obati memar di leher dan pipimu terlebih dahulu, setelah itu kita cari makan."
Kinara menurut, kali ini dia tidak banyak protes.
Motor sudah melaju menembus jalanan kota, benar apa yang Agra katakan. Sekarang adalah jam macet, mungkin karena bertepatan dengan waktu pulang kerja karyawan.
Beruntung pilihan keduanya jatuh pada motor sehingga mereka tidak ikut terjebak macet.
Setelah dari klinik dan Kinara mendapat beberapa obat dan vitamin, Agra membawa Kinara ke sebuah restoran mewah.
Tempatnya lebih private dan tenang, tidak terdengar suara musik yang mengalun seperti di cafe ataupun bunyi kendaraan yang saling bersautan seperti ketika mereka makan di warteg.
Bukan tanpa alasan Agra membawa Kinara ke tempat ini. Suasana tenang dan nyaman diharapkan bisa membut Kinara lebih santai dan bisa bercerita tanpa takut diketahui orang lain.
"Mau makan apa?" Agra dan Kinara sudah duduk, saling berhadapan. Keduanya hanya terpisah oleh meja persegi panjang.
"Terserah, aku tidak berselera makan apa pun. Setidaknya pilihkan makanan yang enak untukku," ucap Kinara.
"Baiklah, setelah aku memilihkan makanan untukmu. Kau harus menghabiskannya, deal?" Agra mengulurkan tangannya sembari tersenyum.
Kinara mengernyitkan dahi, dia sedikit berpikir sepertinya Agra sedang nerencanakan sesuatu. Dan rencana itu pasti merugikan dirinya.
"Ayolah, ini hanya makanan. Jangan berpikir terlalu keras, otakmu bisa meledak." Agra menggoyangkan tangannya.
"Hanya makan." Kinara manggut-mnggut meyakinkan dirinya jika itu hanya makanan, tidak ada yang perlu ditakutkan. "Baiklah." Kinara menyambut uluran tangan Agra.
Keduanya sudah mencapai kesepakatan, sampai Kinara harus menarik kata-katanya sendiri karena menyesal telah menjabat ulurab tangab Agra.
"Apa ini, Agra?" Kinara menunjuk makanan yang sudah tersaji di atas meja.
"Makanan," kata Agra, "Hanya makanan." Agr tertawa kecil melihat raut wajah Kinara.
"Ini banyak sekali?" Kinara mengacak-acak rambutnya. "Apa kau ingin membuatku mati karena kekenyangan?" dengusnya.
"Ini 'kan hanya makanan." Agra tertawa puas. "Ingat, kau harus menghabiskannya. Kita sudah sepakat, loh."
Setelah beberapa jenis makanan berpindah ke dalam perut mereka, tentu saja tidak semuanya. Kinara sampai merengek ketika Agra memaksanya untuk makan.
Sekarang saatnya pembicaraan dari hati ke hati itu dimulai.
__ADS_1
"Jadi kenapa dia memukulmu, Kinara?"
Satu pertanyaan yang dilayangkan Agra membuat Kinara harus menceritakan semuanya. Kinara menumpahkan segala kesakitan yang diberikan Dika padanya, mencoba membagi derita yang dia pendam sendiri. Semuanya tanpa terkecuali. Bahkan tindakan pemerkosa*n yang dilakukan suaminya pun dia ceritakan.
Kinara merasa perlu membaginya, jika tidak mungkin kewarasan di dalam dirinya akan berangsur-angsur menghilang. Bisa saja setelah memendam semua beban berat itu sendirian, dia akan mengalami depresi atau lebih dari itu kegilaan yang sudah terlihat jelas di depan matanya.
Dan entah kenapa Kinara berpikir jika Agra adalah satu-satunya pilihan untuk Kinara membagi dukanya.
Semoga saja dengan bercerita kepada Agra duka di hatinya sedikit berkurang.
Selama Kinara bercerita, Agra tak banyak berkomentar. Dia hanya menjadi pendengr yang baik, hanya ada beberapa gerakan kecil seperti mengusap air mata Kinara yang jatuh. Karena sepanjang bercerita Kinara terus terisak.
Atau sesekali menepuk pundak Kinara yang berguncang karena napasnya yang mulai tersengal, dan juga menggenggam erat tangan Kinara yang bergetar.
Bahkan meja makan yang berbahan dasar kayu itu berbunyi ketika tangan Kinara bergetar.
Jelas sekali tubuh Kinara mengalami trauma yang mendalam, bahkan hanya dengan bercerita saja tubuhnya bisa bergetar hebat. Agra tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kinara saat kekerasan itu terjadi. Dan dia menghadapi semuanya sendiri.
Jika saja otaknya tidak bisa diajak bekerja sama, saat ini mungkin Agra sudah menenggelamkan tubuh Kinara dalam pelukannya.
Memberikan kehangatan dan perasaan nyaman yang tidak dia dapatkan dari seorang Dika, suaminya sendiri.
Setelah selesai bercerita Kinara menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan, melakukannya berulang sampai tubuhnya sedikit tenang.
Agra menyodorkan segelas teh hangat yang segera diterima Kinara.
"Tolong aku ...."
Belum sempat Kinara menyelesaikan kalimatnya, Agra sudah meletkan jari telunjuknya di bibir Kinara.
"Kau ingin lepas darinya, bukan?" tanya Agra.
Kinara mengangguk pelan. "Bawa aku lari, Agra. Aku tidak kuat lagi, aku mo ... hon," ucap Kinara terbata.
"Kenapa Agra? Kau bilang jika kau adalah Rahwana dan aku Dewi Sinta, kau tidak akan ragu untuk menculikku."
"Apa pada akhirnya Rahwana dan Sinta bersatu, Kinara?"
"Tidak, keduanya tidak pernah bersatu." Kinara menundukkan kepalanya.
"Kau mengerti maksudku?"
Kinara menggeleng, bagaimana Kinara bisa mengerti maksud tersembunyi yang ingin di sampaikan Agra.
Saat ini hanya ada kepedihan dan ketakutan di dalam dirinya, tidak ada waktu untuk berpikir dan menebak apa maksud dan tujuan Agra.
"Haaah ...." Agra mengembuskan napas panjang. "Sekarang kau pulang dulu ke rumahmu."
Kinara menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak akan pulang ke tempat terkutuk itu! Itu bukan rumah, Agra, itu neraka." Kinara terisak lagi. "A ... apa kau jijik padaku, Agra?"
"Kinara!" Agra membentak Kinara. "Jangan pernah mengatakan itu lagi, jangan berpikir yang tidak-tidak. Perasaanku padamu, tidak pernah berkurang sedikit pun."
"Lalu kenapa kau memintaku untuk pulang?! Kembali ke dalam cengkraman manusia tidak berhati itu!" Kinara ikut meninggikan suaranya, tetapi diikuti air mata yang meluncur bebas melewati pipinya dan berakhir pada permukaan meja makan.
"Karena pernikahanmu dan Dika dilakukan dengan cara baik-baik, bahkan disaksikan oleh orang tua kalian." Agra menatap lekat manik hitam yang basah karena air mata itu, manik hitam yang memperlihatkan derita yang dalam.
"Karena itu, kau harus pulang, Kinara." Agra menggenggam kuat tangan Kinara.
"Aku tidak mau, Agra ...." Kinara mencengkram kuat ujung bajunya. "Bawa aku pergi, Agra. Aku mohon."
"Kau istri orang lain, Kinara. Haram hukumnya untukku membawamu pergi, bahkan tindakanku saat ini saja sudah diluar batas."
"Tapi, Agra ...." Suara Kinara semakin melemah.
"Sekarang kau pulang, bantu aku," kata Agra.
__ADS_1
Kinara mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti, bukankah pihak yang harus dibantu adalah dirinya? Kenapa Agra justru meminta bantuan padanya.
"A ... apa makaudmu?"
"Pulanglah ke rumag, kumpulkan bukti sebanyak mungkin, setelah itu kita temui Ibumu. Katakan yang sebenarnya pada Ibumu."
Kinara menggeleng lagi. "Tidak untuk yang itu, Agra. Aku takut Ibuku terluka, aku tidak ingin membuat Ibuku menderita."
"Hey." Agra mengelus lembut punggung tangan Kinara. "Lihat aku, dengan berkata jujur kau sudah membantu Ibumu. Jika kau terus memendamnya, ketika Ibumu tahu kebenarannya dari mulut orang lain atau melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ibumu akan terluka semakin dalam."
Tangan Agra berpindah di bahu Kinara. "Tidak ada seorang Ibu yang tega melihat anak perempuannya disakiti, jujurlah Kinara. Adakalanya jujur lebih baik meskipun menyakitkan. Aku yakin Ibumu akan mengerti."
Kinara diam, ada interval waktu yang cukup lama sampai mata keduanya saling bertaut. Agra tersenyum sembari menganggukan kepala.
"Lalu bukti apa yang harus aku kumpulkan? Apakah kekerasan fisik yang dilakukan Dika belum cukup?" Kinara menunduk.
Ada keragun di hati Agra untuk mengatakan yang sebenarnya. Bagi seorang Dika Mahendra, mengubah hitam menjadi putih adalah perkara yang sangat mudah.
Tidak terkecuali dengan memutar balikan fakta tentang Kinara.
Agra harus mencari cara yang tepat untuk menyerang titik lemah laki-laki itu, tetapi dia tidak mungkin mengatakan itu pada Kinara.
"Apa karena kekuasaan yang dia miliki?" Kinara menebak, "Dika bilang, dia bisa memutar balikan keadaan. Dia sering menggunkan kata-kata itu untuk mengancamku."
"Kurang lebih seperti itu, tapi aku juga bukan orang yang lemah, Kinara. Aku sama berkuasanya seperti suamimu, tetapi untuk menyeretnya ke pengadilan kita harus memikirkan cara yang tepat. Termsuk mengumpulkan bukti sebanyak mungkin."
"Apa Ibuku akan baik-baik saja? Aku takut Dika berbuat jahat pada Ibuku.'
"Aku akan menjaminnya, keselamatan Ibumu. Tapi aku yakin Dik tidak akan tega melukai Ibumu, jangan berpikir terlalu jauh."
"Lalu bukti apa yang harus aku kumpulkan?" tanya Kinara.
"Kau wanita yang cerdas, Kinara. Kau pasti tahu bukti apa yang perlu kau kumpulkan." Agra tersenyum.
"Baiklah."
"Setelah ini kita ke rumah sakit, kita ambil visum untuk luka di leher dan pipimu. Seharusnya sidik jari Dika msih ada," ucap Agra.
Kinara mengangguk mengerti.
Setelah makan malam itu Kinara dan Agra pergi ke rumah sakit, hasil visum akan disimpan oleh Agra.
Agra membeli handphone yang sama persis dengan miliki Kinara sampai Nathan selesai memeriksa hanphone Kinara yang diyakini diretas oleh Dika.
Ken menepati janjinya, dia benar-benar tidak pulang ke mansion sampai urusan Kinara dan Agra selesai.
Ken dan Kinara pun sudah mencapai kesepakatan. Kinara akan tetap tinggal di mansion Dika sebagai bentuk tanggung jawab Ken kepada Kinara.
\=\=\=\=> Bersambung...
.
.
Jangan lupa LIKE dan VOTE yah, VOTE yang kenceng biar emak semangat up lagi. Kalau vote kalian keneng nanti sore emak up lagi ❤️
.
.
Ig : @roseelily16
Fb : RoseeLily
Akun Wp : RoseeLily
__ADS_1