
🍃🍃🍃
Satu bulan berlalu
Dika terlalu sibuk mengurus perusahaan, akhir-akhir ini perusahannya berkembang semakin pesat.
Hal ini tentu saja berpengaruh pada pekerjaan yang menumpuk sampai menyita waktunya. Tetapi Dika tidak melepaskan Kinara begitu saja, setiap hari Ken selalu melaporkan kegiatan Kinara secara terperinci.
Pergi ke mana, dengan siapa, dan apa yang dilakukan Kinara.
Untuk apa?
Bahkan Ken sendiri selalu bertanya-tanya alasan di balik semua ini. Jika memang Dika tidak memiliki rasa cinta, mengapa Dika harus repot-repot mengurusi kegiatan istrinya.
Setiap kali Ken melaporkan kegiatan Kinara dan selalu menyebut satu nama yaitu Agra Grissham, raut wajah Dika berubah, jelas terlihat gurat kemarahan di sana.
Tetapi Ken tidak berani terlalu dalam ikut campur.
Sepertinya Dika sedang berusaha mengumpulkan bukti kedekatan Kinara dan Agra, sebanyak yang dia bisa. Tujuan Dika jelas, untuk menghancurkan Agra dan Kinara sampai ke dasar di waktu yang bersamaan. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Kehidupan rumah tangga keduanya datar-datar saja. Tidak ada warna, tidak ada cinta, tidak ada gairah.
Dika dan Kinara hanya terjebak dalam sebuah status yang keduanya ingkari, kehidupan yang bertolak belakang seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Yang saling berkasih dan saling merindu.
Keduanya jarang terlibat percakapan, seperti kehidupan orang asing yang hanya bertemu dalam suatu persimpangan. Sekadar berkata ‘hay’ kemudian berlalu begitu saja, seperti tidak ada ikatan suci yang mengikat keduanya.
Kinara pergi dan pulang kuliah dengan motor maticnya, sibuk dengan pekerjaan paruh waktunya di mini market. Sementara Dika, selain sibuk dengan pekerjaannya dia juga disibukkan dengan perincian tentang perusahaan keluarga Grissham.
Terkadang Dika heran mengapa dirinya harus berbuat sejauh ini, menghancurkan relasi yang baik seperti keluarga Grissham merupakan tindakan bodoh, tetapi setiap kali mengingat kedekatan istrinya dengan Agra jelas menjadi salah satu penyebabnya, tetapi mengapa? Apa karena Dika cemburu? Entahlah, Dika bahkan tidak pernah mengakuinya, sedikit pun. Bagi Dika hanya ada satu nama di hatinya, tersemat dan tidak akan terganti yaitu Carissa Kaylee.
🌷Kantor Dika🌷
“Ken, periksa tagihan kartu milik Nyonya dan Ibunya.” Dika tidak menoleh, masih sibuk dengan keyboard laptop di depannya.
“Baik, tuan.” Ken pergi.
Beberapa saat kemudian.
“Berapa, Ken?” Dika masih fokus dengan layar laptopnya.
“Itu.” Ken tertunduk.
Dika menoleh. “Cih, sebanyak apa? Memang pada dasarnya tidak ada wanita yang bisa menahan godaan kemewahan hidup, termasuk wanita sok suci itu.” Dika melepaskan kacamatanya dan meletakkan di atas meja.
“Tidak ada, tuan. Nyonya dan Ibunya tidak menggunakan kartu itu sepeserpun.” Ken mendekati Dika.
Dika terkesiap, terkejut bukan main. “Jangan bercanda, Ken.” Dika jelas tidak percaya dengan apa yang diucapkan asisten pribadinya, dia menatap tajam ke arah Ken.
“Saya tidak mungkin bercanda, tuan. Saya sudah memastikan berkali-kali dan tidak mungkin salah.” Ken membungkukan badannya, menyerahkan lembaran kertas. “Silakan, tuan.”
Dika menerima lembaran kertas itu, membacanya teliti.
__ADS_1
Tidak ada tagihan? Apa yang sebenarnya terjadi? Kartu tanpa limit ini tidak disentuh sama sekali, hahaha... lelucon macam apa ini?
“Apa kau membelikan nyonya pakaian, buku, atau apa pun, diluar sepengetahuanku, Ken?” Dika menebak, tatapan matanya menelisik tajam.
“Tidak, tuan.
Buku dan uang jajan nyonya sepertinya didapat dari gajinya sebagai pekerja paruh waktu di salah satu mini market. Sementara untuk baju, nyonya hampir tidak pernah membeli baju baru dalam satu bulan ini. Baju yang dikenakan nyonya adalah baju yang sama, baju milik nyonya sebelum menikah dengan anda.” Ken menjelaskan rinci.
Kenapa? Kenapa, Kinar? Tidak mungkin ada wanita yang tidak silau dengan gelimang harta. Apa kau mendapatkannya dari laki-laki lain? Apa Agra memberimu uang? Kau benar-benar mengecewakan aku Kinar.
Pikiran Dika berkecamuk, segala prasangka buruk tentang istrinya menggelayuti hatinya.
Dika mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan Gps dan melacak keberadaan Kinara.
“Apa jadwalku setelah ini, Ken?” Dika bangkit dari tempat duduknya.
"Setengah jam lagi anda ada rapat dengan perusahaan Andara Grup.” Ken membungkuk.
“Batalkan rapatnya, Ken.” Dika meraih jas yang tergantung di punggung kursi. Mengenakan dan merapikannya.
🌷Di dalam mobil🌷
“Di mana anak itu? Bukan di kampus dan juga bukan di mini market.” Dika bergumam di sela-sela konsentrasi menyetir mobil.
“Pusat perbelanjaan?” menaikkan alisnya. “Apa yang dia lakukan di sini? Kencan?”
Dika membuka laci mobil, mengeluarkan masker dan topi lalu mengenakannya. Hal ini dia lakukan tentu saja untuk menutupi wajahnya.
Akan sangat merepotkan jika Kinara mengetahui, Dika diam-diam sedang membuntutinya.
Itu dia.
“Cih, tempat makan?” Dika mencibir, masuk ke dalam salah satu tempat makan, duduk di meja yang berjarak cukup dekat dengan Kinara.
“Apa di mansion makanan yang disajikan pelayanku tidak cukup mewah dan mengenyangkanmu, Kinara?” Dika menggeram, kesal bukan main. Hampir saja dirinya kehilangan kewarasan, menghampiri Kinara dan melayangkan tinjunya di wajah Agra yang terus menatap wajah istrinya.
Dia istriku, ada hak ap kau menatapnya seperti itu. Kau belum tahu sedang berurusan dengan siapa, nak.
“Lamanya....” Kinara mendengus.
“Maaf, maaf, jalanan macet.” Seorang perempuan duduk di antara Agra dan Kinara.
Entah mengapa Dika justru merasa lega ketika mendapati Kinara tidak hanya jalan berdua dengan Agra.
“Alasan klasik, Lis.” Kinara mencibir.
“Serius.” Alisa menaikkan kacamatanya . “Kalian sudah pesan makanan? Aku juga lapar.”
"Belum lah, nunggu dirimu kan."
“Hahaha.. jadi seperti itu.”
"Serius."
__ADS_1
"Tahu tidak tadi di jalan....."
"Hahahaha... Yang benar saja."
Percakapan yang terdengar tidak terlalu jelas cukup mengganggu hati Dika, terlebih ketika melihat Kinara tersenyum dan tertawa secara bergantian.
Dika jelas tidak suka itu.
Di depanku kau tidak pernah tertawa seperti itu, tetapi di depan laki-laki lain kau bisa tertawa lepas. Kau benar-benar wanita yang luar biasa Kinara.
Dika sudah tidak bisa menahan amarahnya, Dika lebih memilih pergi sesegera mungkin.
🍃🍃
Dika memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, jelas sekali Agra sedang berusaha mendekati Kinara.
Berkali-kali Agra memperlihatkan perhatiannya.
Sial... berani bermain di belakangku. Kau belum tahu siapa aku Kinara.
Dika memukulkan tangan ke setir mobil. “Kinara....!!”. melakukannya berkali-kali, mengumpati dan memaki Kinara.
🌷Mansion🌷
Waktu menunjukkan pukul lima sore.
“Selamat datang, Nyonya.” Beberapa pelayan menyambut kedatangan Kinara.
Kinara hanya mengangguk dan tersenyum sopan. Dia melangkah melewati beberapa ruangan di mansion itu sampai suara Dika menghentikan langkahnya.
“Berhenti.”
“Duduk.” Dika memerintah.
Kinara mendekat, melepas tas dan meletakan di samping tubuhnya.
“Kenapa pulang terlambat?” Dika tidak mengubah posisinya, masih bersandar di punggung sofa dengan majalah di tanganya.
“Sebenarnya tadi pagi aku sudah bilang akan pulang terlambat, tetapi kau sibuk di depan laptopmu. Sepertinya kau tidak mendengar apa yang aku sampaikan, sepulang kuliah tadi aku mampir ke Mall cari buku sekalian cari makan.” Kinara menjelaskan.
“Cari makan? Kau pikir di mansion ini tidak cukup banyak makanan?” Dika melirik, melayagkan tatapan tajam.
Dia kenapa, sih? Biasanya tidak pernah peduli aku mau pulang terlambat atau pulang cepat, kenapa sekarang tiba-tiba marah.
“Bukan begitu, hanya kebetulan sedang ada tugas kuliah dan sekalian cari makan.” Kinara memberanikan diri mencuri pandang.
Raut wajahnya mengapa menyeramkan seperti itu? aku buat salah apa?
\=\=\=\=> Bersambung......
Jangan lupa Mampir di novel Romance Fantasi..
REINKARNASI DUA BINTANG... DIJAMIN SERU.... ❤️❤️
__ADS_1
Plis klik Like, Favorit, Vote, Rate bintang5....🙏🙏❤️❤️
Kalian minta up tapi gak mau like dan vote.. tolonglah.. jangan cuma minta tapi gak ngasih apa2 😪😪