Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Pasar Malam (Part 2)


__ADS_3

“Bagaimana? Apa sudah mendingan?” Masih memijat kaki Kinara. Dika mendekatkan tangannya ke wajah Kinara. “Jangan bergerak.” Dia menghapus keringat di kening Kinara dengan punggung tangannya. “Lain kali aku akan bawa sapu tangan. Jika sudah lelah, jangan dipaksakan.”


Kinara hanya tersenyum diikuti anggukan kepala.


“Keringatmu banyak sekali. Apa pengaruh hamil juga?” tanya Dika yang dijawab anggukan kepala oleh Kinara. Dika bangun, mendekatkan tubuhnya, saat Kinara duduk dan Dika berdiri Kepala Kinara hanya sampai di perut Dika. Dia langsung mengangkat ujung bajunya dan menggunakan untuk menyeka keringat di wajah Kinara. Siapa pun yang melihat pasangan ini pasti akan merasa iri. Kepala Kinara sedikit bergerak, tetapi berhasil ditangkap oleh tangan Dika. “Jangan banyak bergerak, aku harus menyeka keringatmu.”


Aku harus bergerak, jika tidak aroma tubuhmu akan terus tercium olehku, batin Kinara.


Saat Dika mengangkat baju dan membenamkan wajah Kinara di perutnya tentu saja Kinara cemas. Sekarang saja degup jantungnya sudah tidak beraturan. Roti sobek milik suaminya terpampang jelas di depan mata.


“Manda, tolong belikan kipas angin. Sepertinya Kak Kinar kegerahan. Uangnya ada di Ken.” Dika memberi perintah tanpa melihat ekspresi Amanda yang kebingungan. Kipas angin seperti apa yang Dika maksud.


Tidak mau berpikir terlalu lama, Amanda langsung keluar dan kembali dengan kipas mini di tangannya.


“Taraaaa, ini kipas anginnya Mas.” Amanda menyodorkan kipas mini berbentuk doraemon.


Dika melongo sembari menggaruk kepalanya. “Ki-kipas angin? Ini kipas angin?” dia sampai bertanya dua kali untuk memastikan.


“Emmm ....” Amanda mengangguk, dia lalu menunjukan cara menggunakannya. “Nah ada lampu led-nya juga, jadi nyala gitu. Lucu ‘kan?”


“Ha-ha-ha ... lucu, iya lucu.” Dika tertawa dramatis.


Kinara memalingkan wajahnya dan tersenyum lebar.


Dasar Tuan Muda, masa kipas angin mini saja tidak tahu. Ini ‘kan memang lebih praktis, batin Kinara.


“Setelah ini kita pulang saja, yah?”


Kinara menggeleng. “Bisakah aku tetap menikmati malam di sini? Aku rindu dengan suasana ini.”


“Aku gendong saja bagaimana? Aku tidak tega jika kau jalan kaki.”


Kinara terbahak. “Kau mau kita berdua jadi pusat perhatian?”


“Atau pakai kursi roda? Aku yang dorong, apa ada yang jual kursi roda di sekitar sini? Ken ke mana sih, beli sandal saja lama sekali.” Dika menggerutu, berkacak pinggang sembari mondar-mandir tidak jelas.


“Sudahlah. Tidak ada yang menjual kursi roda.” Jangan yang aneh-aneh, aku ‘kan bukan pesakitan. Aku hanya kelelahan.


Dika nampak memijat pelipisnya. “Lalu bagaimana?”


“Jalan kaki saja. Nanti di depan ada tempat istirahat, setidaknya tubuhku masih kuat untuk berjalan sampai ke tempat istirahat. Nanti sampai situ seluruh pemandangan pasar malam bisa dilihat.”


“Kau yakin?” Kening Dika berkerut.


“Tentu saja.” Kinara tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.


“Kalau kau kelelahan, aku tidak peduli apa pun atau siapa pun. Aku akan menggendongmu. Ok?!” Itu terdengar seperti permintaan, tetapi sebenarnya itu perintah.


Kinara mengangguk.


***


Keempatnya sudah sampai di pusat pasar malam, Kinara dan Dika memutuskan untuk istirahat. Sementara Amanda baru kembali setelah membeli gula kapas. Kakinya menghentak-hentak ke tanah begitu lembutnya gula kapas masuk ke dalam mulutnya


Apa bahagia untukmu sesimpel ini? Hanya dengan makan gula kapas senyum di wajahmu sampai lebar begitu, Ken membatin sembari sesekali mencuri pandang untuk melihat wajah Amanda.

__ADS_1


“Kakak mau tidak?” Menyodorkan gula kapas.


“Tunggu, Manda.” Alih-alih Kinara mengambil gula kapas, Dika justru merebutnya. “Apa ini aman untuk ibu hamil?” tanyanya.


“Emmm ... aku tidak tahu, Mas. Tapi ‘kan ini hanya gula.”


“Tapi kenapa warna warni begini?”


Kening Amanda berkerut. “Gula kapas ‘kan memang warna warni, kalau yang tidak berwarna ya gula pasir,” jawab Amanda polos membuat Ken dan Kinara terbahak. “Kenapa? Aku benar ‘kan?”


Kinara dan Ken mengacungkan jempol bersamaan.


Kenapa aku terkesan dibodohi bocah ini yah? Padahal maksudku bukan begitu. Dika mencoba memakan gula kapas. Baru satu suapan bola matanya berputar, ekspresi wajahnya tak tertebak.


Kinara, Amanda, dan Ken harap-harap cemas menunggu kalimat yang akan diucapkan Dika setelah mencoba gula kapasnya. Jika Dika tidak suka, maka dia tidak akan mengijinkan Kinara menyentuh gula kapas itu.


“Waaah, ini enak sekali. Kenapa ada makanan seenak ini?” Satu suap, dua suap, entahlah sudah tak terhitung berapa kali Dika memakan gula kapasnya. “Beli di mana?” Bertanya tiba-tiba.


Amanda dan Ken menunjuk gerobak gula kapas. Terlihat gula kapas yang sudah menggantung.


“Kau mau Kinara?” Menyodorkan gula kapas yang hanya tersisa ujungnya saja.


Kinara langsung menggelengkan kepala. “Tidak, untukmu saja. Sepertinya ini kali pertama kau makan gula kapas. Wajahmu terlihat senang.”


“Ini kali pertama juga aku ke pasar malam. Sejak kecil aku tidak boleh makan sembarangan, aku tidak pernah tahu rasanya makanan di pinggir jalan.” Dika menundukan kepalanya. Masa kecilnya lebih kelam dari yang bibi Ane ceritakan pada Kinara.


Kinara menatap wajah Dika. “Baiklah.” Bangun dari duduknya. “Ayo kita makan makanan pinggir jalan, aku akan merekomendasikan beberapa makanan yang sangat enak.” Kinara mengulurkan tangannya.


Dika terperangah, tidak percaya dengan yang dilihatnya sekarang.


“Ayo,” ucap Kinara sembari menggoyangkan tangannya. Dika tersenyum lebar sembari meraih tangan Kinara.


“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Ken, kenapa rasanya seperti aku sedang kencan dengannya, yah?


Tempat wahana.


Ken menatap biang lala yang sedang bergerak di depannya. Amanda sudah ikut mengantre dengan pengunjung yang lain untuk menikmati wahana itu.


Apa aku harus naik ini? Yang benar saja, umurku sudah 25 tahun, haruskah aku bermain permainan bocah begini? batin Ken.


“Mas Ken, ayo.”


Ken terperanjat begitu namanya dipanggil. Ternyata dia harus segera naik karena biang lala sudah berhenti.


“Apa Mas Ken takut?” tanya Amanda. Keduanya sudah berada di dalam biang lala yang berputar.


“Tidak, ini ‘kan hanya biang lala.” Ken tersenyum sombong.


“Baguslah. Wah, lihat itu, wah yang itu juga, dari atas kelihatan kecil.” Amanda terus mengoceh, menyebutkan apa saja yang dia lihat.


Dasar, Bocah. Ken tidak terlalu mendengarkan apa yang diucapkan Amanda, dia hanya memperhatikan ekspresi Amanda, ketika tersenyum, berteriak, dan tertawa secara bergantian. Itu membuat hati Ken bahagia.


“Baiklah sekarang apa lagi?” tanya Ken. keduanya sudah turun dari biang lala.


Amanda langsung menunjuk wahana di sampingnya. “Sekarang giliran kora-kora.”

__ADS_1


Tidak masalah itu kan hanya perahu ayun, batin Ken.


Setelah di atas dan tempo kora-kora semakin cepat.


“Amandaaaa, kapan perahu ini akan berhenti berayuuuun?!” Ken berteriak, berpegangan erat pada besi bagian depan.


“Kapan-kapan, yuhuuuuu ....” Amanda mengangkat kedua tangannya ke atas sembari bersorak.


“Arrrgggg ....” Ken hanya bisa berteriak.


Sepersekian menit kemudian.


“Mas Ken baik-baik saja?” tanya Amanda sembari menyedot es sari tebu miliknya. “Nih minum dulu.” Menyodorkan es sari tebu.


Apa kau sungguh tidak mengerti? Aku nyaris muntah dan menghancurkan harga diriku hanya karena kora-kora sialan itu dan sekarang kau menawarkan minum? batin Ken menggerutu.


“Apa sekarang kita bisa pulang?”


Amanda menatap diikuti senyum licik.


Apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau mau apa lagi, Bocah? batin Ken.


“Kita lihat tong setan, yah. Tenang saja, kali ini kita hanya menonton. Mas Ken tahu tong setan ‘kan?”


Ken tidak menjawab, dia balik bertanya. “Tong, tong apa?”


“Tong setan, ayolah.” Amanda langsung berjalan dan Ken tidak punya pilihan lain selain mengekor di belakang.


Di dalam wahana tong setan.


“Arrghh ... itu bisa jatuh. Ahhh awas ... bagaimana ini bisa terjadi? Apa ini sulap. Hey jangan ngebut, arrrh ... ngeri sekali.” Ken berteriak sembari menutup matanya ketika melihat atraksi tong setan. Beberapa pasang mata sampai memperhatikan dan tertawa geli melihat ekspresi Ken.


“Mba, temennya, yah?” tanya salah seorang pengunjung.


“Bukan, bukan teman saya.” Amanda langsung menyilangkan tangan.


“Atau pacarnya?” tebak salah seorang lagi.


“Haaaiss, yang benar saja. Tentu saja bukan.” Mengibas-ngibaskan tangan.


Karena Ken terus berteriak, semua orang beralih menatap Ken dan Amanda.


“Bukan teman saya.”


“Saya tidak kenal.”


“Tadi ketemu di depan.”


“Sumpah.”


Ucap Amanda ketika semua orang melihat ke arahnya.


Bersambung .....


.

__ADS_1


.


Ok, sekarang waktunya kalian bayar emak pake jempol kalian. Klik LIKE, FAVORIT, TAMBAHAKAN KOMENTAR, DAN JANGAN LUPA VOTE. Bantu TCK masuk 10besar, ok.


__ADS_2