Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Bukan Surat Cinta


__ADS_3

Ketika surat dari Kinara itu akan dibukanya, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Cepat-cepat Dika meletakan kembali surat dan foto Kinara di dalam laci.


Dika berjalan mendekati pintu, menekan handle dan mendapati Ken sudah berdiri dengan senyum canggung.


“Kenapa, Ken? Sepertinya hari ini aku tidak pergi ke kantor, aku ingin menghabiskan waktu di sini,” kata Dika dengan tatapan tidak senang karena momen untuk membaca surat dari Istrinya itu harus tertunda.


“Maaf jika saya mengganggu, Tuan. Diluar ada tamu, Tuan Muda,” ucap Ken sembari membungkuk sopan.


“Tamu? Sepagi ini? Memangnya siapa yang bertamu sepagi ini? Mengganggu saja!" Dika menaikan sudut alisnya karena tidak suka. “Jika itu tidak penting, seharusnya kau belum lupa cara mengusir orang!”


“Itu, Nona Carissa yang datang, Tuan Muda. Saya tidak punya alasan yang cukup untuk mengusirnya,” ucap Ken datar.


Lagipula Nona Carissa ‘kan pernah menjadi wanitamu, mana berani aku mengusirnya, batin Ken.


Biasanya Dika akan sangat bersemangat ketika mendengar nama Carissa disebut, perasaan seburuk apa pun akan berubah 80 derajat begitu melihat gadis yang sempat digilainya itu.


Namun kali ini Dika terlihat sangat berbeda, Dika hanya menganggukan kepala dengan ekspresi wajah datar. Tidak ada senyuman. Tidak ada gairah menggebu seperti biasanya. Ke mana perginya perasaan cinta yang begitu dalam itu? Sudah hilangkah bersamaan dengan perginya seorang Kinara?


🍃Ruang keluarga🍃


“Apa kabar, Dika?” Carissa mengulurkan tangannya. Gadis cantik berambut pendek itu terlihat baik-baik saja. Senyum tipis mengembang di bibirnya begitu keduanya saling berhadapan.


“Aku ... yah, seperti yang kau lihat. Aku tidak dalam keadaan baik-baik saja, Carissa.” Menyambut uluran tangan Carissa. “Bagaimana denganmu?” Dika memaksakan diri untuk tetap tersenyum.


“Aku ... mungkin aku juga tidak baik-baik saja, tapi aku harus berusaha agar tetap baik-baik saja, kan?” Carissa tersenyum, senyum itu juga sama seperti Dika. Terlihat dipaksakan. “Aku pikir kita berdua memang sedang menanggung sebuah dosa, mungkin sedang menjalani karma.” Carissa menundukan kepala.


“Kau ini bicara apa, Carissa!” seru Dika tidak suka mendengar kalimat yang diucapkan Carissa. “Duduklah.”


Dika dan Carissa sudah duduk, saling berhadapan. Tidak ada lagi kemesraan, tidak ada lagi panggilan sayang. Keduanya seperti sedang menerima hukuman dari Tuhan.


“Lain kali jangan bicara seperti itu, Carissa. Jika ada yang harus menebus sebuah dosa, maka akulah satu-satunya orang yang harus melakukan itu. Semua ini terjadi karena keegoisanku.”


“Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, Dika. Aku juga terlalu bodoh karena tidak bisa menyadari semuanya lebih awal.” Raut wajah Carissa terlihat penuh penyesalan, tangan Carissa mulai meremas tas slempang yang dipangkunya.


“Sudah, sudah. Kita tidak perlu saling menyalahkan, lagipula semuanya sudah terjadi. Kita hanya perlu memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.” Dika tersenyum, ketika keduanya tidak sengaja saling beradu tatap Carissa segera memalingkan wajahnya.


Bagi Carissa tidak ada yang berubah dengan perasaannya, dia tetap mencintai laki-laki yang duduk di depannya itu. Satu-satunya yang berubah hanyalah kenyataan untuk berlapang dada melepaskan cinta pertamanya. Benar ternyata, cinta tak harus memiliki. Mungkin Carissa sudah membuktikan kalimat itu.


“Jadi, ada perlu apa kau kemari?” tanya Dika, dia meraih secangkir kopi yang disiapkan Bibi lalu menyeuput pelan. “Aku sampai terkejut mendapat tamu kehormatan sepertimu.”


Carissa tertawa kecil, mungkin jika dia memili untuk tetap tinggal di mansion Dika selama satu hari lagi saja, tentu dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan kembali hati Dika.


Namun, sekeras apa pun Carissa berusaha, kenyataan jika hati Dika bukan miliknya lagi harus dia terima dengan lapang dada.


“Hey.” Dika mengibaskan tangannya di depan Carissa. “Kok malah melamun? Ada pa, Carissa? Aku masih sama seperti yang dulu, masih bisa membantumu.”


Tidak, Dika. Kau tidak sama lagi, kau mungkin bisa membantuku untuk urusan yang lain. Namun, untuk urusan hati kau tidak akan bisa membantuku, batin Carissa.


“Itu.” Carissa membuka tas dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari sana lalu menyodorkan pada Dika. “Aku datang karena ingin mengembalikan ini, Dika.”


“Apa ini?” Dika menerima kotak itu. “Sepertinya ini bukan milikku.”

__ADS_1


“Itu milikmu, dulu kau memberikan cincin itu padaku ... sebelum ... aku pergi ke Inggris,” ucap Carissa terbata.


Dika diam, dia mencoba mengingat kembali kenangan yang sudah berlalu cukup lama itu. kurang lebih sekitar tiga menit Dika baru mengangkat jari telunjuknya.


“Ah, iya aku baru ingat.” Dika membuka kotak berbahan dasar kaca itu. Di dalamnya ada sebuah cincin yang bertahtakan batu permata. Dika ingat, cincin itu dia pesan khusus di perusahaan perhiasan ternama. “Untuk apa kau mengembalikan ini, Carissa?” Menyodorkan kembali kotak itu. “Ini sudah menjadi milikmu.”


“Tidak.” Carissa mendorong kotak itu. “Aku tidak berhak lagi atas cincin itu, Dika. Kau ingat apa yang kau katakan saat memberikan cincin itu padaku?”


Dika kembali diam.


Tak berjejakkah aku di hatimu, Dika? Sampai kau tidak ingat pernah melamarku dengan cincin itu, haruskah rasa kecewanya sesakit ini, Tuhan? Batin Carissa.


“Kau ... kau melamarku di bandara dengan cincin itu, aku terima lamaranmu dan semua orang yang melihat bersorak dan bertepuk tangan,” ucap Carissa pelan.


Mungkin kau sudah lupa, Dika. Namun momen manis itu tidak akan pernah bisa aku lupakan, bahkan seumur hidupku, batin Carissa.


“Ah ... aku minta ....”


Carissa segera memotong kalimat Dika.


“Jangan minta maaf padaku, aku hanya merasa sudah tidak pantas menyimpan cincin itu.”


“Carissa, tidak bisakah kau menyimpannya saja? Simpanlah sebagai kenang-kenangan,” pinta Dika.


“Aku tidak mau, Dika. Menyimpan cincin itu sama seperti memberiku harapan untuk terus mencintaimu. Mendatangkan perasaan serakah ingin tetap memilikimu, ingin mendapatkan lebih dari apa yang tidak bisa aku dapatkan.”


“Tapi ....” Dika mengeratkan kedua jemarinya.


“Tidak ada tapi, Dika. Kau simpan saja, mungkin cincin itu tidak cukup layak untuk diberikan pada Kinara karena sudah pernah aku kenakan, tapi kau bisa menyimpannya. Kau bisa menjualnya, atau dibuang sekalipun tidak masalah untukku.” Carissa menggigit bibirnya yang mulai bergetar.


“Hmm ... belum terpikirkan, aku masih mencari tahu kampus terbaik di sini.”


“Itu ... mungkin kampus Royal bisa menjadi salah satu pertimbangan untukmu.”


“Kampus Royal? Bukankah kampus itu milik keluarga Grissham?” Dahi Carissa berkerut.


Mengapa harus kampus Royal? Memangnya tidak ada kampus lain? Bukankah itu kampus di mana Kinara dan Agra kuliah? Batin Carissa.


“Sekalipun aku tidak suka dengan Agra, tapi aku harus tetap mengakuinya. Kampus itu memang salah satu kampus terbaik di sini, Carissa..” Dika tersenyum getir.


“Baiklah ... mungkin akan aku pertimbangkan.” Carissa tersenyum tipis.


“Oh, iya. Aku sampai lupa. Bagaimana dengan perkembangan hubunganmu dan Kinara?”


“Tidak ada pekembangan yang berarti, kecuali surat gugatan cerai dari Kinara yang sudah sampai di tanganku.” Dika tersenyum getir, tatapan matanya dalam penuh penyesalan.


“Apa sudah tidak bisa dibicarakan baik-baik?”


“Sepertinya tidak bisa, jangankan untuk bertatap muka denganku. Nomor teleponku saja sudah dia blokir. Ketika Ken menghubunginya, Kinara bahkan tidak suka mendengar namaku disebut.” Dika mengendurkan dasinya. “Tidak ada tempat lagi di hati Kinara untukku, Carissa.”


“Berjuanglah, Dika.” Carissa mencoba menyemangati. “Kau belum kalah, jika belum ketuk palu artinya kau masih memeiliki kesempatan, ‘kan?” imbuhnya.

__ADS_1


“Dua hari lagi adalah jadwal mediasi, aku akan berusaha sebaik mungkin agar perceraian itu dibatalkan.”


“Syukurlah. Kau harus tetap bejuang, Dika, sebagaimana Kinara dulu bejuang untuk tetap mendampingimu walaupun terus kau sakiti,” tukas Carissa.


Dika tersenyum sedih sembari menganggukan kepala.


Kau terlalu bodoh, Dika. Kau tidak bisa membedakan perasaan kasihan dan cinta, akhirnya kau kehilangan wanita yang benar-benar kau cintai, batin Carissa.


“Baiklah, karena barang yang ingin aku kembalikan sudah diterima. Aku pulang, yah.” Carissa bangun, merapikan pakaian dan mengulurkan tangan.


“Kenapa buru-buru sekali?” Menyambut uluran tangan Carissa. “Kesannya aku tidak menyambutmu dengan baik.”


“Eh, apa sih. Aku masih banyak kerjaan. Dah ....” Carissa melambaikan tangan, memutar tubuhnya dan menjauh dari Dika.


🍃Kamar Kinara🍃


Selepas Carissa pergi, Dika kembali ke kamar Kinara. Isi surat dari istrinya itulah yang memacu rasa penasaran Dika.


Dika duduk di tepi ranjang dan menarik napas dalam sebelum membuka surat itu, dia yakin itu bukan surat cinta sehingga dirinya akan berbunga-bunga. Mungkin saja setelah membaca surat itu dia akan terluka semakin dalam, tapi dia tetap harus membacanya.


Kepada Dika Mahendra.


Surat ini aku tulis dengan berurai air mata dan tangan bergetar hebat. Jika surat ini sudah kau baca, itu artinya aku sudah tidak ada lagi di sisimu. Kau tahu kenapa? Karena berada di sisimu sangat menyakitkan untukku.


Sebelum memutuskan untuk menyerah, aku pernah memilih sakitnya bertahan. Tapi kau hinakan aku, kau caci aku, kau sakiti tubuhku, bahkan kau asingkan aku selayaknya aku ini musuhmu yang menjijikan untuk kau dekati.


Dika ... tidakah kau ingat aku ini gadis baik-baik sebelum kau nikahi, kau minta aku dari orang tuaku, kau bawa aku ke istanamu. Lalu ... kau perlakukan aku layaknya pembantu. Tidak! pembantu di rumahmu bahkan diperlakukan lebih baik dari diriku.


Dika ... apa kau pernah berpikir jika aku ini tulang rusuk yang harusnya kau luruskan perlahan. Bukan kau patahkan dengan keegoisanmu dan sikap aroganmu itu. Kau siksa aku, tidak hanya batinku tapi juga lahirku. Kau tampar aku, kau pukul, kau cekik. Apa kau menikahiku untuk dijadikan tempat berlatih ototmu?


Dengan kejamnya kau tuduh aku selingkuh, kau renggut paksa kesucianku. Padahal kau tahu itu tidak dibenarkan, kau mengerti adab menggauli istrimu, tapi kau kesampingkan itu karena di matamu aku hanya gadis murahan yang bersedia naik ke ranjang siapa pun demi uang.


Setelah kau puas, kau lempar aku ke sana kemari seperti bola. Aku tetap sabar, Dika. Aku masih berharap hatimu terbuka, walau bagaimanapun hubungan kita bukan sesederhana itu. Ikatan yang kita miliki adalah ikatan suci. Aku berharap kesuciannya masih tetap sama, terjaga seperti janjimu dulu kepada Ayahku.


Ingatkah ketika dengan napas tersengal Ayahku memintamu untuk melindungiku, mengasihi, dan mencintai aku yang lemah ini? Kau terima permintaan Ayahku, lalu sesudah Ayahku tiada kau lupa dengan semua janjimu. Aku tetap bertahan, demi diriku, demi dirimu, demi orang tua kita, dan demi ikatan suci ini.


Sampai semua kesabaranku terkikis habis, perasaan kepadamu sudah berubah seutuhnya menjadi perasaan benci. Kau bilang ini bukan anakmu?! Kau pikir dengan siapa aku tidur?! Dengan tidak berperasaan kau menghinaku selayaknya wanita murahan yang bisa menerima benih dari laki-laki lain!


Dan sekarang, bagaimana rasanya setelah aku pergi? Istri yang ingin sekali kau singkirkan sekarang sudah tidak ada di sampingmu. Apa kau bahagia? Kau merasa hidupmu lebih damai?


Jika kau tidak bahagia dan hidupmu terasa semakin berantakan, mungkin saja karma dari Tuhan sedang berjalan.


Selamat menikmati, ku do’akan kau sekuat diriku dalam menghadapi karmamu.


Dika memegang surat itu dengan tangan bergetar, air mata mulai menetes. Perlahan dia melipat kembali surat itu, memandangi foto Kinara dengan perasaan hancur lebur.


Tuhan, aku mohon ampunilah segala dosaku. Ampunilah segala khilafku kepada istriku, aku tidak pernah semenyesal ini selama hidupku. Tolong ... tolong berikan aku kesempatan Tuhan, untuk menjadi Suami yang baik dan Ayah teladan bagi anakku, aku mohon ... aku mohon ... batin Dika.


\=\=\=> Bersambung....


.

__ADS_1


.


Cuuus di like, vote, dan komen yang kenceng... kalau like, komen dan votenya kenceng, maleman emak up lagi ❤️


__ADS_2