
Kinara merobek secarik kertas dari Dika. “Sudah terlambat, Dika!” pekiknya, “Semua yang kau lakukan tidak sepadan dengan rasa sakit yang aku alami karena dirimu.”
Kinara membuka map dan mengeluarkan lembar gugatan cerai dari Dika. cekatan tangannya meraih pulpen. “Bismillah,” lirihnya, begitu pulpen berada di atas kertas bertuliskan namanya. Satu goresan saja sudah bisa mengubah statusnya dari seorang istri menjadi seorang janda. Gelar bekas istri Tuan Muda keluarga Mahendra akan melekat dalam dirinya.
Namun, tiba-tiba perutnya bereaksi. “Ahhh ... sakit.” Pulpen itu lepas dari genggaman tangannya, bergulir entah ke sisi mana. Sementara beberapa berkas ikut jatuh bersamaan dengan jatuhnya tubuh Kinara. berkas itu berserakan di lantai. “Ahhhh ...!” pekiknya.
“Nyonya, Anda baik-baik saja?” Bibi Ane menerobos masuk ke dalam kamar.
“Perutku, Bi. Perutku sakit,” ucap Kinara sembari memegangi perutnya. Dia terduduk, bersandar di badan meja belajarnya.
Pak Budi segera menghubungi dokter Amel, sementara bibi Ane membantu Kinara berdiri dan merebahkan diri di atas kasur.
Bibi Ane sempat melihat lembar perceraian yang tergeletak di atas meja, bibi Ane pun memberanikan diri untuk bertanya pada Kinara setelah kondisi Kinara membaik.
“Nyonya, apa semua berkas yang ada di atas meja itu milik Nyonya?” tanya bibi Ane ragu.
Kinara mengangguk pelan seraya mengatur tarikan napasnya yang sempat tersengal.
“Apa boleh saya bereskan?” tanya bibi Ane, “Saya takut terinjak, atau terselip jauh. Saya pikir itu berkas-berkas yang sangat berharga.”
Kinara tersenyum. “Silakan, Bi. Itu bukan berkas penting, kecuali lembar yang ada di atas meja.”
Bagi Kinara, peralihan aset keluarga Mahendra tidaklah penting. Saat ini yang terpenting hanya satu, selembar surat gugatan cerai dari suaminya yang harus segera dia tanda tangani.
Setelah memberi air hangat dan menyelimuti Kinara, bibi Ane segera membereskan semua berkas yang tercecer dan memasukan kembali ke dalam map. Tidak banyak yang bibi Ane mengerti kecuali satu lembar gugatan perceraian. Bibi Ane tahu betul tentang isinya karena bibi Ane pernah mengalaminya sendiri.
“Nyonya, anu ...,” ucap bibi Ane terbata.
“Kenapa, Bi? Apa ada yang ingin Bibi sampaiakn padaku?”
“Itu ... apakah Nyonya benar-benar akan berpisah dengan Tuan?”
Kinara mengangguk diikuti senyum tipis.
“Apa tidak ada jalan lagi untuk Nyonya dan Tuan bersatu lagi? Biar bagaimanapun hubungan pernikahan tidak semudah itu untuk diakhiri.”
Kali ini Kinara menggelengkan kepala, wajahnya tetap tersenyum. “Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi, Bi. Keputusanku sudah bulat, aku tahu pernikahan adalah ikatan yang suci. Namun aku juga harus memikirkan perasaanku. Aku sudah lelah, Bi. Sangat lelah,” ucap Kinara. suaranya terdengar seperti orang yang benar-benar putus asa. Terdengar lelah dan hanya ingin menyerah.
“Sebenarnya Tuan Muda bukanlah orang yang jahat, Nyonya.”
__ADS_1
“Tentu saja, Dika bukan orang jahat bagi Bibi, Pak Budi, ataupun bagi Ken, tetapi bagiku dia tetap orang yang jahat. Tidak berperasaan dan sangat kasar.” Kinara mencoba mengingat kembali semua kelakuan jahat Dika padanya selama lima bulan terakhir. Tanpa sadar bulir bening menetes dari matanya. “Menampar, memukul, menyiram, mempermalukan aku di depan banyak orang, bahkan dia membawa wanita lain ke dalam rumah yang yang sama denganku. Wanita lain diperlakukan begitu istimewa, sementara aku yang istri sahnya dia sembunyikan. Dika bahkan tega mengatakan jika aku adalah kekasih Ken.” Kinara terisak. Tangannya meremas kuat selimut yang menutup sampai bagian pinggang.
“Saya ...,” ucap bibi Ane terputus.
“Apa menurut Bibi dia laki-laki yang baik? Jawab Bi, jika Bibi berada dalam posisiku masihkah Bibi beranggapan dia laki-laki yang baik?”
Bibi Ane menundukan kepala.
“Bibi tidak akan bisa menjawabnya, karena hanya aku yang merasakan duka ini. Orang lain hanya bisa melihat dan memberi nasihat, tetapi derita ini tetap dipikul oleh diriku sendiri.”
“Sebenarnya ... Tuan Muda hanya kesepian, Nyonya.”
“Kesepian? Maksud Bibi?” Kinara mengernyitkan dahinya.
“Tidak, tidak ada.” Bibi Anne bersiap bangun dari kursi sampai Kinara meraih pergelangan tangannya.
“Aku tidak suka kalimat yang menggantung, Bi. Katakanlah apa yang ingin Bibi katakan.”
Bibi Ane duduk lagi. Dia nampak berpikir keras.
“Kenapa?” tanya Kinara.
“Kelemahan? Laki-laki sombong sepertinya memiliki kelemahan? Jangan bercanda denganku, Bi.”
Bibi Ane menarik napas dalam lalu berucap, “Berikan saya sedikit waktu untuk bercerita tentang masa kecil Tuan Muda, Nyonya.”
Kinara mengangguk.
“Sejak berumur 8 tahun Tuan Muda sudah kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Beruntung Tuan Muda masih sempat merasakan belaian tangan Bu Boss ketika dia masih bayi sampai berusia 7 tahun. Namun, selepas itu tepat ketika Tuan Muda berumur 8 tahun. Tuan Besar dan Bu boss lebih sibuk dengan bisnis mereka di luar negeri dan tidak peduli dengan tumbuh kembang Tuan Muda.”
“Lalu siapa yang membesarkan dan merawatnya?”
“Kami, pembantu dan para pengawalnya.” Bibi Ane tersenyum getir.
Kinara tertegun, tiba-tiba perasaannya terasa sakit. Kinara dan Amanda mungkin hidup dalam kekurangan karena ekonomi keluarganya yang pas-pasan, tetapi mereka berdua tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orang tua mereka. Bahkan bisa kelebihan cinta.
“Meskipun demikian, Tuan Muda tidak pernah menyerah. Dia tetap berusaha menjadi anak yang baik, berprestasi di semua mata pelajaran. Tuan Muda tidak menjadi pribadi yang tertutup, tetapi dia tetap keras kepala dan tidak mengerti dengan hatinya sendiri.”
Dahi Kinara berkerut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan bibi Ane.
__ADS_1
“Iya, Tuan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya hatinya inginkan. Ketika masuk masa SMA Tuan Muda mulai sering bolos sekolah, berkelahi dengan teman-temannya. Tuan sengaja melakukan itu semua, membuat masalah di sekolah agar pihak sekolah memanggil Tuan Besar dan Bu Boss untuk datang. Dengan begitu Tuan Muda bisa melihat wajah orang tua yang sangat dia rindukan.”
“Kenapa harus seperti itu? Dia bisa saja menghubungi Papah dan Mamahnya untuk pulang.” Kinara berpendapat sendiri.
“Benar, seharusnya seperti itu sudah bisa membuat orang tua pulang ke rumah untuk melihat anaknya. Namun, sudah ratusan, atau bahkan ribuan kali Tuan Muda menangis di sambungan telepon. Merengek ingin bertemu dengan Tuan Besar dan Bu Boss. Tak ada satu pun permintaannya yang dikabulkan.”
Kinara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca, dadanya berdesir hebat.
“Tuan Besar dan Bu Boss baru datang ketika mengetahui kepala sekolah menyerah menghadapi Tuan Muda.”
“Jadi? Maksudku, Dika tumbuh dengan ....” Kinara tidak bisa melanjutkan kalimatnya, cerita tentang suaminya yang sedang disuguhkan bibi Ane membuat perasaan Kinara tidak karuan. Kinara hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari meremas kuat jemarinya.
Bibi Ane tersenyum bahagia. Ada rona kesedihan yang dalam datang dari mata Kinara. Itu artinya Kinara pun bisa merasakan kepedihan yang dialami Dika.
“Bertahun-tahun Tuan Muda melewati masa kecilnya hanya bertemankan kesepian. Tuan Muda hanya berteman dengan Nona Carissa, mereka saling melengkapi. Saling mengisi kekosongan satu sama lain, Tuan Muda yang kesepian dan Nona Muda yang penyakitan. Karena kebersamaan itulah yang akhirnya membuat Tuan Muda tidak mengerti arti cinta. Itulah mengapa dia tidak bisa membedakan perasaannya sendiri.”
“Cukup, Bi.” Kinara menyeka sudut matanya agar bibi Ane tidak melihat jika dia menangis.
“Ada satu hal yang harus Nyonya tahu. Seumur hidupnya baru satu kali Tuan Muda merayakan ulang tahun dengan Tuan Besar dan Bu Boss. Selebihnya dia lalui setiap tahun dengan meniup lilin sendiri, hanya ditemani para pelayan.”
Bibi Ane berhenti sejenak untuk mengambil napas. “Tuan Muda hanyalah seorang laki-laki kesepian yang tidak mengerti arti dari cinta sejati, Nyonya.”
Kinara tertawa. “Kenapa semua orang memintaku untuk memberinya kesempatan? Belum lama Ken bilang Dika adalah laki-laki bodoh, dan sekarang Bibi Ane bilang dia adalah laki-laki kesepian.” Kinara tertawa semakin kencang. “Apa aku hanya akan bahagia jika hidup dengan laki-laki sepertinya? Tidak bisakah satu saja dari kalian mengerti bagaimana sakitnya jadi aku?” Kinara menggigit bibir bawahnya. “Tidak adakah yang berdiri dan memihakku?"
Sepertinya kalimat apa pun tidak akan membuat Nyonya luluh. Biarlah Tuhan yang akan menentukan nasib kalian, batin bibi Ane.
“Baiklah, Nyonya.” Bibi Ane tersenyum getir. “Semua keputusan ada di tangan Nyonya, saya hanya memberi tahu apa yang seharusnya Nyonya tahu.” Membelai bahu Kinara. “Semoga apa pun keputusan yang Nyonya ambil, adalah keputusan terbaik untuk Nyonya dan anak Nyonya.”
Bersambunggg...
.
.
Votenya mana? Masa kendor sih, mau dapat bonus nggak. Besok emak up deh, asal vote kalian kenceng.
.
.
__ADS_1
Yang mau masuk gc wajib follow akun emak yang ini. Kalian tinggak klik profil emak bos dan klik ikuti. ok.