
Pagi hari ketika musim hujan datang rasanya selalu sama, dingin dan lembab. Itu akan berganti ketika matahari berangsur-angsur datang untuk membagi hangatnya. Namun, nampaknya hari ini hujan rintik itu akan bertahan lama. Terbukti sejak subuh tadi rintiknya belum juga berkurang, justru semakin deras.
Kinara berdiri mematung di depan jendela kamarnya, dia melipat kedua tangannya di dada sembari menatap rintik hujan yang menimpa rumput dan dedaunan.
Kamarnya terletak di bagian depan rumah, menghadap langsung area taman. Tetesan air hujan itu membuat sebagian bunga mawar layu, beberapa kelopak bahkan jatuh karena dihantam air hujan yang terus menerus.
Terkadang sesuatu yang berlebihan juga tidak terlalu baik, seperti pernikahannya dengan Dika yang dia nilai terlalu tinggi. Kinara yang hanya wanita biasa, tidak begitu cantik juga. Beraninya berharap bisa menaklukan gunung es seperti Dika. Sebelum berhasil menaklukan Dika, nyatanya dia sudah menyerah karena terlalu lelah.
Setiap wanita selalu mendamba pernikahan yang bahagia. Menikah satu kali seumur hidup. Jatuh cinta pada orang yang sama setiap harinya. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa pernikahan pertama selalu berakhir bahagia?
Ketika bersuamikan seorang Dika Mahendra yang memiliki segalanya, Kinara pikir dia akan diperlakukan layaknya seorang ratu. Dilimpahi cinta dan kasih sayang, diberkahi kehidupan yang nyaman dan terteram. Ternyata dia salah, yang dia dapatkan justru sisi kelam di dalam sebuah pernikahan.
Setiap mengenang pernikahannya dengan Dika tidak ada satu hal pun yang bisa membuat Kinara tersenyum bahagia. Kinara justru tenggelam dalam perasaan takut dan rasa sakit yang mendalam. Seperti pagi ini, tanpa sadar air mata menetes begitu saja manakala Kinara mengingat perlakuan kasar Dika padanya.
Kinara terperanjat begitu mendegar suara pintu kamarnya diketuk diikuti suara Bibi Ane yang memanggil namanya. Kinara berlari kecil untuk menggapai handle pintu.
“Iya, Bi. Kenapa?”
“Bibi sudah buatkan bubur untuk sarapan, Nyah.”
“Oh, jam berapa sekarang?” Kinara memutar tubuhnya untuk melihat pukul berapa saat ini. Alih-alih mendapati jam yang tergantung di dinding kamarnya. Kinara justru menemukan jaket milik Dika yang teronggok di atas tempat tidurnya. Ketika dia membuka mata pagi tadi, jaket itu memang sudah ada di atas tubuhnya.
“Baik, Bi. Sebentar lagi saya ke meja makan,” ucap Kinara diikuti senyuman.
Bibi Ane mangangguk dan segera undur diri.
***
Setelah membersihkan tubuhnya, Kinara keluar untuk sarapan. Dia tidak mungkin berdiam diri di dalam kamar hanya untuk menikmati rintik hujan dari jendela. Bibi Ane bahkan rela kerepotan membuat bubur untuknya, tentu dia harus menghargai itu. Kinara mendekati meja makan sembari menenteng jaket milik Dika di tangannya.
🍃Meja Makan🍃
Bibi Ane sudah mempersiapkan semuanya di atas meja, satu mangkuk bubur dengan ekstra ayam goreng yang dipotong kecil-kecil di atasnya dan segelas susu coklat hangat siap berpindah tempat ke perut Kinara.
__ADS_1
“Ada tambahin lagi, Nyonya?”
“Tidak ada, Bi. Cukup.” Kinara tersenyum. Dia mulai menyendok bubur ayam buatan bibi Ane. Satu suap, dua suap. Tiba-tiba dia teringat ingin bertanya sesuatu pada bibi Ane. “Bi, duduklah. Ada yang ingin aku tanyakan.”
“Itu ... biar Bibi berdiri saja, Nyah.” Bibi Ane menolak sopan. Bagaimana mungkin seorang pelayan sepertinya bisa duduk dalam satu meja dengan tuannya.
“Bi, aku tidak pernah menganggap Bibi Ane sebagai seorang pelayan.” Kinara tersenyum. “Duduk dan jawab pertanyaanku.” Kinara menepuk salah satu kursi kosong di sampingnya.
Deg. Bibi Ane terkesiap, ternyata Kinara tahu isi hatinya.
“Duduklah, Bi. Aku mohon.”
“Ya Allah, jangan bicara seperti itu, Nyonya. Kau tidak perlu sampai memohon begitu.” Akhirnya bibi Ane mengalah dan duduk di meja makan yang sama dengan Kinara. Keduanya hanya dipisahkan jarak dua kursi kosong.
“Semalam siapa yang mengantarku masuk ke dalam rumah, Bi?”
Bibi Ane menunduk, sesaat kemudian bibi Ane mendongakan kepala dan tersenyum. “Tuan Muda yang menggendong Nyonya sampai ke dalam kamar,” katanya.
Pagi ini Kinara tidak ingat apa pun, selain kegiatannya berbelanja kebutuhan sehari-hari di pusat perbelanjaan dan terakhir kali dia menangis tersedu lalu tertidur di dalam mobil Dika.
“Oh, sepertinya itu milik tuan muda, Nyonya. Sejak turun dari mobil jaket itu sudah melekat ditubuh Nyonya.” Bibi Ane menunduk malu. “Bibi merasa tuan muda terlihat sangat berbeda, Nyonya.”
“Maksud, Bibi?” Kinara meletakan sendok di atas mangkuk dan menatap bibi Ane dengan seksama.
“Semalam tuan muda sangat lembut dan hangat pada Nyonya. Tuan menggendong Nyonya sembari memeluk erat tubuh Nyonya, lalu menurunkan tubuh Nyonya dengan sangat hati-hati dan menyelimuti tubuh Nyonya dengan jaket terlebih dahulu baru dengan selimut di atasnya,” ucap bibi Ane.
Apa itu? Metode memeluk jarak jauh? Dia gunakan jaketnya untuk memelukku? batin Kinara.
Kinara tidak banyak menanggapi apa yang disampaikan oleh bibi Ane, dia lebih sering tersenyum untuk menghargai bibi Ane yang sedang bercerita membanggakan Dika. Kinara lebih memilih menikmati semangkuk bubur di depannya. Entahlah, tidak ada yang bisa mengetuk hati Kinara. Bahkan dengan cerita manis yang disampaikan bibi Ane.
“Oh iya, Bi. Semua belanjaan sudah diperiksa?”
“Sudah, Nyonya.”
__ADS_1
“Bagaimana? Ada yang belum terbeli? Catatan yang Bibi Ane tulis dibawa Agra. Jadi aku hanya mengira-ngira.”
“Ada beberapa, Nyonya. Tapi biar Bibi saja yang beli.”
“Terima kasih, Bi.”
Bibi Ane hanya tersenyum, bangun dari kursi dan pamit undur diri untuk kembali ke dapur.
Setelah bibi Ane pergi barulah terasa betapa tidak enaknya makan sendirian di meja makan yang besar. Tiba-tiba terbersit betapa bahagianya jika ada keluarga yang mendampingi. Duduk bersama dalam satu meja, melahap makanan dengan senyum yang mengembang di wajah masing-masing. Kinara meletakan sendok itu di atas piring, tiba-tiba napsu makannya menghilang. Kinara bangun dari kursi dan memilih kembali ke kamarnya untuk menikmati titik-titik hujan dari balik jendela kamarnya.
***
Sudah tiga hari berlalu sejak Dika menememaninya berbelanja. Tidak ada perubahan yang berarti, telepon dari Dika tak ada satu pun yang Kinara angkat. Pun pesan dari suaminya itu tak pernah dia balas. Jaket milik Dika juga masih tergeletak dia atas meja belajarnya, teronggok tanpa arti. Seperti pernikahannya yang sudah tidak memiliki arti lagi.
Kinara belum sempat mencuci jaket Dika. Beruntung langit sudah kembali cerah dengan matahari di atas sana, setelah dua hari sebelumnya rintik hujan terus datang. Kinara beranjak dari kamarnya untuk mencuci jaket milik Dika lalu mengembalikan jaket itu secepatnya.
🍃Malam hari di rumah Kinara🍃
Kinara sudah berdiri di depan lemari baju. Jaket milik Dika yang dia cuci sudah kering sempurna. Dia sudah melipatnya dan hendak menyimpan di dalam lemari. Mungkin besok pagi Kinara akan meminta pak Budi untuk mengembalikan jaket itu. Ketika membuka lemari tanpa sengaja kantung merah muda pemberian Dika terjatuh.
“Aku sampai melupakan ini. Kenapa perhiasan ini terus saja jatuh, untung tidak ada yang rusak.” Kinara mengurut dadanya. “Ini terlalu mahal untuk kau berikan padaku, Dika.” Kinara membuka satu set perhiasan pemberian Dika. “Aku juga tidak tertarik mengenakan ini, semuanya sudah terlambat, Dika. Kita berdua sudah berjalan di sisi yang berbeda. Hatiku sudah sedingin air hujan.”
Kinara menutup rapat perhiasan itu dan memasukan ke dalam kantung merah muda. Tanpa sengaja jemari Kinara menyentuh kertas. “Ah, ini surat dari Dika. Apa aku perlu membacanya?” Kinara meletakan perhiasan itu di atas meja, dia berjalan mendekati jendela sembari menarik kursi belajarnya.
Kinara sudah duduk di depan jendela kamar yang terbuka sepenuhnya. Udara malam mulai menyapu permukaan kulitnya. Kinara memejamkan mata lalu tersenyum. Dia meremas surat dari Dika lalu berucap lirih, “Bismillah.” Kinara sudah memutuskan, membaca surat dari Dika adalah bentuk menghargai laki-laki yang pernah ada di hatinya.
Sebelum membaca surat itu, Kinara menatap lampu taman yang terkesan redup. Perlahan Kinara membuka surat itu dan membacanya.
Dear Kinara, permata hatiku ❤️
Bersambung...
.
__ADS_1
.
Bonus buat kalian, hari minggu emak up. Mood emak lagi bagus nih, jangan ditoel2... malam ini kalian bisa tidur sambil mikirin isi surat dari Dika 🤣😅 Besok pagi2 langsung vote yah, biar rank nya nggak terlalu jauh.