Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Pasar Malam (Part 3)


__ADS_3

Sementara itu di tempat Kinara dan Dika.


“Sebanyak ini hanya 400 ribu?” Dika tercengang sembari menenteng beberapa kantung belanjaan. “Apa mereka tidak rugi?”


“Tentu saja tidak, kalau rugi mereka tidak akan jualan. Di pasar malam kan harganya memang murah-murah, tetapi bukan berarti murahan. Mahal atau tidaknya pakaian bukan dilihat dari harga atau brand-nya ‘kan? Selam kita nyaman memakainnya, aku rasa pakaian itu akan tetap terlihat mahal di tubuh kita.”


“Kau benar, tetapi ....” Dika kembali memandangi kantung belanjaannya, dia masih tidak percaya hanya dengan mengeluarakan uang sebanyak 400 ribu saja Dika sudah bisa membeli dua daster, celana kolor, dan beberapa kaus. “Yang benar saja,” ucapnya lagi. Kali ini diikuti gelengan kepala.


“Enak ‘kan hidup di desa? Suasananya juga lebih tenang, terlebih lagi harga sembako dan yang lainnya lebih murah.”


“Iya, seandainya saja aku bisa hidup di desa.” Terdengar lenguhan panjang dari mulut Dika. “Tapi sayangnya perusahaanku tidak bisa pindah.” Masih sibuk melihat isi di dalam kantung belanjaan.


Kinara tertawa mendengar alasan Dika. Perusahaan raksasa begitu mana bisa pindah.


“Eh, kau mau makan bakso bakar?” tanya Kinara begitu asap bakso bakar menyeruak masuk ke lubang hidungnya.


“Ba-bakso bakar?”


Kinara mengangguk.


“Bakso mana ada yang dibakar?” Kening Dika berkerut.


Belum tahu dia, “Kau mau tidak?”


“Bolehlah.”


“Ayo.” Refleks Kinara menarik lengan Dika. “Maaf, aku ....” Langsung melepaskan genggaman tangannya.


Dika tersenyum. “Ayo.” Sekarang giliran Dika yang menggengam tangan Kinara. “Lain kali kau tidak perlu minta maaf ketika memegang bagian tubuhku.”


“Ke-kenapa?”


Kenapa? Kau tanya kenapa? Dasar bodoh! “Tentu saja karena tubuhku ini dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah milikmu, kau boleh memegang, memukul, atau mungkin merem*s jika ....”


Bug ...!


Sebuah pukulan mendarat di lengan Dika. “Jangan bicara ngelantur!”


“Aku ‘kan memang milikmu, Kinara, tetapi kau bukan milikku. Seandainya saja kita bisa saling memiliki. Bukankah dunia akan terlihat lebih menyenangkan?” Dika merem*s jemari Kinara.

__ADS_1


“Jangan lakukan itu.” Menaik tangan. “Kita ‘kan bukan suami istri lagi.” Berlalu pergi.


Dika mengejar. “Kinara, ayo kita rujuk.” Sudah berdiri di depan Kinara dan menghalangi jalannya. “Apa kau tidak ingin melihat wajah tampanku setiap pagi? Setiap kali kau membuka mata?”


Kinara maju satu langkah lalu meletakan telapak tangan di kening Dika. “Hmmm ... sepertinya kau sedang sakit.” Memutar tubuh. Dika langsung menarik pergelangan tangan Kinara sampai Kinara kembali menghadapnya.


“Aku serius. Ayo kita rujuk. Biarkan kita saling melihat setiap kali kita membuka dan menutup mata. Biarkan tubuhku bisa memelukmu, menyembunyikan tubuh kecilmu di sini.” Memukul dadanya.


“Dika ... aku ....” Mengigit bibir bawahnya. “Bisakah kita jangan membahas soal ini? bisakah kita nikamati saja malam ini?”


Dika tersenyum getir. “Baiklah, tapi sekarang coba kau lihat mataku dan dengarkan baik-baik yang akan aku katakan.” Kinara menurut, dia menatap mata Dika. Dua manik hitam itu saling beradu, seolah ingin mencari jawaban dari sorot mata masing-masing.


“A-apa?” Suara Kinara mulai melemah, tetapi degup jantungnya semakin cepat.


“Kau tidak menerima permintaan rujukku, tetapi juga tidak menolak. Aku rasa kau hanya perlu waktu untuk menjawabnya. Baiklah, aku akan memberimu waktu sebanyak yang kau mau, karena kapan pun kau kembali padaku. Aku akan membuka lebar kedua tanganku.” Meletakan tangan di kepala Kinra. “Ingat itu Kinara.”


Deg ...! Degup jantung Kinara sudah seperti genderang perang yang saling beradu, tidak bisa dikendalikan.


“Ayo kita makan bakso bakar.” Tersenyum. Kinara hanya menganggukan kepala.


Di tukang bakso bakar.


“Bang bakso bakarnya sepuluh ribu, yah.” Menyodorkan uang.


Dika melongo mendengar ucapan penjual baksonya. Penampilannya cukup gaul, sepertinya penjual bakso itu baru berusia 25 tahunan.


“Lain kali, aku saja yang beli. Aku yang bayar. Sini duduk.” Menepuk kursi di sampingnya.


“Memangnya kenapa?” Sudah duduk. “Tadi juga di penjual baju aku yang beli.”


“Penjual bajunya ‘kan ibu-ibu, sudah tua lagi.”


Kinara nampak berpikir keras. Lalu apa hubungannya dengan penjual bakso bakar?


“Pokoknya jangan bicara dengan penjual yang berjenis kelamin laki-laki, aku saja yang pesan.” Dika langsung menjelaskan, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Kinara.


Apa ini mode cemburu ala Tuan Muda? Sok berkuasa? Bukankah itu terdengar dia terlalu posesif? Sejak kapan dia jadi berubah begini? batin Kinara.


“Sekalipun penjualnya sudah tua?”

__ADS_1


“Sudah tua pun jika jenis kelaminnya laki-laki. Tidak boleh. Titik.”


“Tunggu, sejak kapan kau jadi posesif begini? Lima bulan yang lalu kau tidak seperti ini. Kau tidak peduli aku berteman dengan laki-laki.”


“Lupakan soal lima bulan yang lalu, dia bukan diriku, dia hanya laki-laki bodoh yang sekarang hidupnya dipenuhi penyesalan. Sekarang aku yang sesungguhnya sedang duduk di depanmu, jadi kau harus menurut.”


Kinara nampak memutar bola matanya. Apa sikapnya seperti ini juga terhadap Carissa?


“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak pernah bersikap seperti ini pada wanita mana pun. Termasuk Carissa, aku bahkan tidak pernah merayunya. Kau bisa bertanya langsung padanya jika tidak percaya.”


Wah, dia benar-benar tahu isi otakku. “Yah, aku percaya.”


“Baksonya, Neng!” Penjual bakso itu menyodorkan lima tusuk bakso pada Kinara. Dika langsung mengambilnya disertai tatapan tajam. “Berikan padaku.”


Penjual itu hanya mesam-mesem melihat kelakuan Dika. Wong saya juga sudah punya anak bini, kok, batinnya.


“Kau membuatku malu.” Kinara berbisik tepat di telinga Dika.


“Kenapa? Penjual baksonya cari-cari kesempatan, tadi lirik-lirik begitu.”


Kinara dan tukang bakso bakar itu hanya menggelengkan kepala bersamaan.


Lima tusuk bakso bakar ternyata tidak cukup untuk Dika. Dia sudah menghabiskan 0 tusuk, bahkan membungkus 20 tusuk untuk dibawa pulang. Ada banyak makanan yang tidak pernah tersentuh oleh lidah si Tuan Muda, setiap kali mencoba makanan baru yang menurutnya enak. Ekspresi wajah Dika terlihat sangat menggemaskan. Lalu dia akan minta nambah sampai rasa penasarannya hilang.


“Apa kau sudah kenyang?” tanya Kinara. Keduanya sudah berjalan kaki menuju tempat pertemuan dengan Ken dan Amanda. Sudah waktunya pulang.


“Kenyang sekali.” Memutari perutnya dengan telapak tangan. “Setelah ini aku harus olahraga malam. Jika tidak roti sobekku akan berubah menjadi roti bantal.”


“Ke-kenapa kau mengatakan hal seperti itu di depanku?” Kinara teringat dengan beberapa jam yang lalu, di mana ketika dia melihat roti sobek milik Dika. Pipinya jadi merona.


“Ayolah, kau sudah melihat roti sobek milikku ‘kan? kenapa harus malu-malu begitu? kau bahkan sudah melihat aku yang ....”


Belum sempat Dika melanjutkan kalimatnya, Kinara sudah berjingjit dan membekap mulut Dika. “Jangan bicara yang aneh-aneh.” Berlalu pergi karena malu.


Kau itu malu-malu tapi mau, yah? Awas saja jika kau jatuh ke dalam pelukanku lagi. Setiap hari akan kutunjukan roti sobek milikku. “Tunggu aku.” Mengejar Kinara.


Bersambung....


.

__ADS_1


.


Jangan lupa untuk bayar emak dengan jempol kalian. LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE. Ingat yah, jangan jadi tim hore doang. Minta up nggak mau VOTE.


__ADS_2