
Sore ini cuaca terasa sangat syahdu. Sejak pagi tadi matahari enggan keluar untuk membagi sinarnya, langit seutuhnya tertelan awan hitam yang beriringan. Cuaca sore ini terlalu bagus jika hanya dihabiskan di dalam kamar.
Karena cuaca yang tidak pasti antara hujan atau tidak membuat Kinara dan Alisa harus membatalkan janji mereka untuk makan di luar dan menghabiskan waktu bersama. Dan di sinilah dia berakhir, di depan rumahnya di sebuah kursi kayu dengan pemandangan menghadap langsung ke taman.
Sejak kejadian pendarahan itu akhirnya Kinara memutuskan untuk berhenti bekerja. bahkan dia juga mengambil cuti kuliah padahal rencananya cuti itu baru dia ambil ketika usia kandungan memasuki 7 atau 8 bulan. Namun Kinara tidak boleh egois hanya karena keinginananya untuk bekerja atau kuliah sampai harus mempertaruhkan keselamatan anaknya.
Sudah satu minggu berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Dika. Nampaknya Dika benar-benar ingin menghilang dari hidup Kinara, dia tidak pernah datang walau hanya sekali. Tidak pernah bertanya bagaimana kabar Kinara, baik secara langsung atau melalui sambungan telepon. Namun siapa yang tahu jika sebenarnya Dika selalu mengikuti perkembangan calon anaknya melalui dokter Amel. Pada dasarnya dia jauh lebih peduli dari siapa pun.
“Nyonya, udara diluar semakin dingin. Nampaknya sebentar lagi akan turun hujan.” Bibi Anne datang dari dalam rumah sembari membawa segelas susu ibu hamil dan semangkuk sup ayam.
“Aku rasa juga begitu, Bi. Yah, sebenarnya mendung tidak berarti hujan, Bi.”
“Apa tidak lebih baik jika Nyonya kembali ke dalam? Bibi takut nanti Nyonya sakit.”
“Aku tidak selemah itu, Bi.” Kinara tertawa kecil.
“Tapi, Nyah.”
“Sebentar lagi, Bi. Aku masih ingin duduk dan menikmati pemandangan langka ini,” ucap Kinara sembari menerima segelas susu hangat dan sup ayam buatan bibi Ane.
“Nyonya sudah duduk sejak dua jam yang lalu. Setelah menghabiskan susu dan sup ini sebaiknya Nyonya masuk ke dalam dan istirahat.” Wajah bibi Ane jelas terlihat cemas.
“Sudah dua jam?” Kinara memutar bola matanya, berlama-lama di teras rumahnya sudah menjadi hal favorit sejak kegiatannya dibatasi.
“Iya, Nyonya. Sekarang sudah jam empat sore.”
“Jam empat sore, yah?” Kinara mendongakan kepala dan menatap langit. “Tetapi langit terlihat seperti sudah jam tujuh malam. Gelap. Ternyata segala sesuatu tidak bisa dilihat dari tampilan luarnya saja. Sama seperti perasaan manusia, tidak bisa dipastikan apa yang ada di dalam hati.” Kinara meneguk susu coklat itu sembari menatap dedaunan yang mulai bergoyang karena tertiup angin.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang sedang Nyonya bicarakan? Langit, gelap, hati manusia. Aku sungguh tidak mengerti. Selama ini aku hanya tahu soal resep dan resep, batin bibi Ane tertawa geli.
“Haaah ....” Kinara mengembuskan napas panjang sampai uap dari mulutnya terlihat. “Bibi masuk saja dulu. Aku masih ingin menikmati udara di sini. Nanti aku menyusul.”
Bibi Ane menatap ragu lalu berucap pelan, “Apakah Nyonya sedang menunggu seseorang?”
Apa nyonya sedang menunggu tuan muda Dika atau mungkin tuan muda Agra, yah? batin bibi Ane.
“Ah ....” Kinara terkejut sampai gelas di tangannya bergoyang. “Tidak ada, Bi. Aku hanya bosan, setiap hari di dalam rumah dan tidak bisa menikmati waktu seperti wanita hamil pada umumnya.”
Kinara memang dilarang melakukan pekerjaan. Bahkan sekalipun pekerjaan ringan seperti membereskan tempat tidurnya sendiri. Kondisi kandungannya yang sangat lemah menjadi alasan utama dokter Amel mengambil keputusan ini.
Bibi Ane menunduk dalam, dia seperti ikut merasakan perasaan kesepian yang dialami Kinara. Seandainya saja ada suami atau mertuanya yang menemani, mungkin ceritanya akan berbeda.
“Baiklah, Bibi masuk duluan. Jika Nyonya membutuhkan sesuatu Nyonya tidak perlu sungkan untuk memanggil Bibi.” Bibi Ane membungkuk setengah badan dan pamit undur diri. Masih banyak pekerjaan yang belum bibi Ane selesaikan.
Selepas bibi Ane pergi Kinara mengedarkan pandangan matanya ke atas, menatap langit yang tidak memperlihatkan cahaya matahari sedikit pun kecuali kilatan-kilatan kecil yang memanjang dan saling menyambar satu sama lain. Belum ada suara gemuruh petir, setidaknya Kinara masih bisa menikmati waktu sorenya barang beberapa menit lagi.
Dika sedang menatap pelataran taman di bagian belakang mansionnya. Ruang kerja Dika yang terletak di lantai atas dengan posisi jendela yang menghadap langsung ke area taman membuatnya leluasa menikmati tiap sudut tanah yang ditumbuhi rerumputan.
Taman itu mengalami banyak perubahan. Dika menambahkan sentuhan beberapa jenis bunga mawar di sekeliling kolam ikan dengan tidak menghilangkan bunga teratai yang berada di atas permukaan air kolam.
Semenjak Ken memberi tahu kepada Dika tentang kesukaan Kinara terhadap bunga mawar dan kalimat Kinara yang mengatakan jika bunga teratai di atas kolam ikanlah satu-satunya yang indah dari taman belakang itu.
“Kita mungkin sedang menatap langit yang sama, memijak bumi yang sama, dan menghirup udara yang sama. Namun, aku tetap tidak bisa memilikimu karena ada satu hal yang berbeda. Perbedaan itu ialah, hati kita yang tidak lagi sama.” Dika bergumam lirih, tangannya meraba permukaan kaca yang dingin karena terkena air hujan.
Jika di tempat Kinara langit belum menurunkan air hujan, maka di tempat Dika hujan sudah turun sejak pagi tadi dan masih belum berhenti hingga menjelang petang. Bahkan hujan mulai turun semakin lebat, mungkin akan berpuncak dimalam hari nanti.
__ADS_1
Beberapa waktu lalu Dika memang disibukan dengan suatu hal yang harus dia persiapkan, dan sepertinya hari ini semua persiapan itu sudah selesai. Dika terperanjat begitu mendengar suara Ken dari luar ruangan. Tegesa Dika menghampiri pintu dan segera menekan handlenya.
“Bagaimana?” tanya Dika begitu pintu ruang kerjanya terbuka. "Semuanya sudah beres, 'kan?"
Ken tidak menjawab, tetapi menunduk sangat dalam. Lebih dalam dari mengheningkan cipta. Tangannya bergetar sembari memegang map coklat yang cukup tebal.
“Apa ada masalah, Ken?”
Ken menggeleng, entah mengapa bibirnya terasa berat untuk berucap.
“Ayolah, kenapa kau terlihat begitu putus asa. Ikuti aku.” Dika tersenyum sembari berjalan mendekati meja kerjanya. Sementara Ken mengikuti dari belakang. “Duduklah, Ken,” titah Dika mempersilakan Ken untuk duduk.
“Kenapa kau terlihat seperti orang yang kehilangan segalanya, Ken?” Dika tertawa kecil. “Berikan berkas itu padaku.”
Ken menatap nanar map coklat yang ada di pangkuannya, rasanya tidak rela untuk memberikan itu pada Dika. Untuk kali ini Ken merasa sangat menyesal, mengapa tidak dia bakar saja semua isi yang ada di dalam map coklat itu.
“Ken ....” Dika menekankan intonasi suaranya. “Aku tidak ingin mengulanginya lagi, ini untuk yang terakhir kali. Berikan map itu padaku.” Dika mengulurkan tangannya.
Ken menelan salivanya lalu menatap potret besar yang tergantung di dinding ruang kerja Dika. Potret itu berada tepat di belakang kursi kerja Dika.
“Apakah Tuan Muda yakin bisa hidup hanya dengan bertemankan potret besar itu?” Ken menunjuk.
Dika tersenyum getir. Dia bangun dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati bingkai foto yang berukuran besar. Dia meraba pembatasnya, menatap ke dalam bola mata gambar wanita yang ada di depannya. “Ini saja sudah lebih dari cukup untukku, Ken,” lirihnya.
Bersambung....
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungan kalian, Vote, Like, Komentar, Rate bintang Lima, dan tips dari kalian sangat berarti buat emak. Itu kayak semangat buat emak biar tetep update.