
🍃Ruang tamu🍃
Dika, Kinara, dan Agra sudah duduk di ruang tamu. Bibi Ane juga sudah menyajikan minuman dan makanan ringan di atas meja. Namun, tak ada satu pun yang disentuh oleh ketiganya. Entahlah, suasananya memang sedang tidak menguntungkan untuk menikmati sajian. Jangankan bisa mengunyah makanan, seteguk air pun tidak bisa tertelan.
“Aku tahu mungkin aku lancang, tapi apa aku boleh bicara berdua saja dengan Kinara?” Agra menaikan kepalanya, pandangan matanya sejurus menatap Dika yang duduk tepat di samping Kinara.
Dika dan Kinara duduk di kursi yang sama, jarak mereka juga cukup dekat. Sedangkan Agra duduk di kursi yang lain.
“Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan?” tanya Dika.
Agra hanya mengangguk. Tatapannya masih belum teralihkan dari Dika. Dika terlihat gelisah, beberapa kali memainkan jemarinya. “Aku ....”
Apa aku berlebihan jika takut kehilangan dirimu lagi, Kinara? Bukan karena tidak percaya padamu, melainkan tidak percaya pada diriku sendiri. Bisakah aku tetap di hatimu setelah pertemuan kembali antara kau dan Agra? batin Dika.
“Sa ....” Dika menghentikan kalimatnya. Seharusnya kata ‘sayang’ keluar dari mulutnya, tetapi dia tidak ingin menyakiti hati Agra. “Kinar, apa kau ingin bicara berdua dengan Agra?” tanya Dika dengan suara lembut, dia tetap tersenyum. Kinara menoleh, keduanya beradu tatap. Tidak ada kemarahan dalam tatapan mata Dika, tetapi terlihat jelas ketakutan di sana.
“Aku ....” Kinara meraih pergelangan tangan Dika. Agra segera memalingkan wajahnya, tak kuasa melihat Kinara bersikap manja pada Dika. “Aku tidak bisa melakukannya di belakangmu, Mas. Aku istrimu, aku tidak mau membuatmu menduga-duga apa yang sedang aku lakukan dengan laki-laki lain.”
Aku juga takut kau akan bertindak diluar batas seperti dulu, ketika kau mengira aku bermain gila dengan Agra, batin Kinara.
Deg!
Agra menundukan kepalanya, tangannya sedikit bergetar. Rupanya memalingkan pandangan saja tidak cukup untuk menjaga hatinya agar tidak terluka. Mendengar Kinara berbicara lemah lembut pada Dika, kontan membuat hati Agra terluka.
“Jadi, tidak bisakah kau memberiku waktu meski sebentar saja?” tanya Agra dengan suara bergetar. Kali ini tatapan matanya beralih pada Kinara.
“Kinara ....” Dika berucap lirih sembari merem*s lembut jemari Kinara. “Aku percaya padamu, kau harus mengambil langkah, kau harus memutuskan apakah akan mengakhiri hubungan kalian atau memulai kembali. Aku tidak akan menghalangi semua keputusanmu, selama itu bisa membuatmu bahagia. Aku bisa terima."
Dika melihat ke arah Agra lalu tersenyum. “Aku bisa memberimu izin, tetapi aku minta maaf karena kalian tetap tidak boleh berduaan. Nanti bibi Ane akan menemani kalian. Bagaimana?”
Agra mengangguk. Setidaknya dia bisa bertanya panjang kali lebar pada Kinara tanpa harus ada Dika di antara mereka.
“Baiklah.” Dika bangun dari duduknya. Kinara meraih jemari Dika, mendongakan kepalanya dengan tatapan yang mengambang. Dika menganggukan kepalanya, membelai lembut jemari Kinara dan melepaskan perlahan. Dia segera berjalan menjauh. Tak berapa lama bibi Ane sudah datang dan berdiri di belakang Kinara.
“Ken, setelah urusan Kinara dan Agra selesai, kau harus segera memberitahuku. Kinara masih ngantuk dan sangat kelelahan, biarkan aku yang menggendongnya sampai ke atas,” titah Dika pada Ken sebelum dia masuk ke dalam kamar.
🍃Ruang tamu🍃
“Sebenarnya ... apa yang terjadi, Kinara? Kau dan Dika ....” Berhenti berbicara. “Apa kalian su-sudah rujuk?”
Kinara mengigit bibir bawahnya, dengan bibir gemetar dia berucap, “Iya, aku memutuskan untuk kembali padanya. Kami berdua sudah rujuk.”
Deg!
Seperti disambar petir di siang bolong, kenyataan yang tidak pernah Agra bayangkan nyatanya terjadi. Tiba-tiba dadanya terasa sakit, seperti ditusuk benda tajam ribuan kali.
__ADS_1
“Kenapa? Kenapa, Kinara? Kenapa di saat aku sedang berjuang untuk mengatasi semuanya, kenapa kau memilih pergi dan melarikan diri dariku? Bukankah kau yang menyambut uluran tanganku? Kenapa kau juga yang menepisnya? Bahkan ketika aku percaya dan mencoba menggenggam erat tanganmu? Kenapa Kinara?!”
“Aku ...,” ucap Kinara terputus. Ini kali pertama Kinara melihat Agra begitu emosional.
“Tidakkah kau terlalu kejam padaku?”
“A-aku min-minta maaf, Agra. Sungguh.”
“Maafmu tidak akan bisa mengembalikan hatiku yang sudah kau curi? Kau renggut seluruh cinta yang aku miliki, kau hempaskan cintaku setelah kau bersamanya.”
“Aku ....” Kinara terisak. “Aku tidak tahu harus meminta maaf atau apa darimu, aku rasa benar apa yang kau katakan. Maaf yang aku sampaikan tidak akan membuatmu lebih baik. Jadi aku tidak akan minta ma-maaf.” Semakin terisak.
“Aku ingin mengabarimu, jika pertunanganku dan Allen batal. Tapi tak ada satu pun pesanku yang kau balas, telfon dariku tak pernah kau angkat. Apakah kau harus sekejam itu membuangku?! Setidaknya kau berhutang penjelasan padaku.” Menundukan kepala. “Aku sudah menyelesaikan semuanya, Kinara. Dengan caraku sendiri, tetapi apa yang aku dapatkan? Kau memilih kembali padanya? Pada laki-laki yang kau bilang lebih kejam dari iblis?!”
Kinara semakin terisak mendengar semua kalimat Agra. Kau benar, semua ini salahku. Aku yang datang padamu, tetapi justru aku yang meninggalkanmu, batin Kinara.
“Berhenti menangis dan katakan kenapa kau memilihnya? Apa dia memaksamu?”
Kinara menggeleng cepat. “Tidak ada yang memaksaku untuk memilihnya. Aku juga tidak mengerti kenapa aku memilihnya. Semuanya terjadi begitu cepat. Perasaanku padanya datang begitu saja.”
Agra tersenyum getir. Datang begitu saja? “Jika perasaanmu padanya datang begitu saja, lalu perasaanmu padaku apa?”
Kinara diam. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana menjelaskan tentang perasaannya pada Agra.
“Aku ... demi Tuhan aku sungguh minta maaf, Agra. Tidakkah kau terlalu kejam menilaiku?”
“Kejam? Kau bilang aku kejam? Siapa yang lebih kejam di antara kita, Kinara?”
“Aku ... aku yang lebih kejam, semua memang salahku, tapi aku juga tidak ingin kita berakhir seperti ini.”
“Aku yakin dia memaksamu.”
“Tidak! Sudah kukatakan dia tidak memaksaku! Bukankah kau lihat sendiri aku tidak merasa tertekan berada di dekatnya.”
Agra menarik napas panjang. Memalingkan wajahnya, ketika kelopak matanya tertutup, ketika itu pula bulir bening jatuh melewati kedua pipinya dan bermuara di penggung tangannya yang gemetar.
“Apakah tidak ada kesempatan untukku? Kau bisa memintaku, katakan jika kau ingin melarikan diri darinya. Aku bersedia membawamu pergi.”
“Tidak! Tidak, Agra! Aku tidak ingin melarikan diri darinya ... aku.”
Agra menelan salivanya. Kali ini ternyata Kinara sendiri yang ingin berada di samping Dika. “Apa kau mencintainya?” tanya Agra.
Kinara mengangkat kepalanya. Manik hitam mereka bertemu, mata Agra basah. Penuh dengan air mata, begitu pula dengan Kinara. keduanya terisak, menghabisi kepedihan yang mereka ciptakan sendiri.
Sepersekian detik Kinara membuka mulutnya. “Aku sangat mencintainya. Aku ....” Kinara menghentikan kalimatnya. Sudahlah, kata maaf tida akan lagi berguna. Beribu maaf yang Kinara ucapkan sekali pun tidak akan membuat luka di hati Agra membaik. Pikir Kinara.
__ADS_1
Agra menarik napas dan mengembuskan kasar. Melakukan berulang sampai hatinya terasa sedikit tenang. “Baiklah. Karena aku mendengarnya langsung darimu, aku percaya jika kau memang mencintainya. Yah, aku sudah kalah. Dan sebagai laki-laki, aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Satu pertayaan terakhir, tolong lihat aku untuk terakhir kalinya Kinara. Berhenti menunduk dan tatap mataku!”
Perlahan Kinara mengangkat kepalanya. Dia berusaha menguatkan hatinya ketika kedua bola matanya menangkap sosok laki-laki yang pernah dia harapkan mengisi hari-harinya. Laki-laki yang sedang duduk dengan tubuh bergetar. Rambutnya sudah acak-acakan, kinara tidak tahu kapan Agra merusak tatanan rambutnya. Beberapa menit yang lalu dia masih terlihat tampan dengan rambut berpomade.
Agra mengusap kasar air matanya. Bertanya dengan suara tercekat. “Katakan padaku, apa kau pernah mencintaiku? Sedikit saja?” Air mata meluncur bebas dari bola matanya. Dadanya naik turun karena tarikan napas yang terasa berat. “Sedikit saja,” lirihnya. Agra menutup wajahnya dengan telapak tangan. Bahunya berguncang hebat, terdengar suara isakan yang keluar dari sela-sela tarikan napasnya. “Katakan, Kinara. Setidaknya aku harus tahu perasaanmu padaku.”
“Iya. Aku pernah mencintaimu, tetapi aku tidak tahu apakah itu cinta yang sesungguhnya atau cinta karena ke-keadaan,” ucap Kinara. Segera setelah mengatakan itu dia menundukan kepalanya.
“Keadaan?”
Kinara mengangguk pelan.
Agra tersenyum getir. Air mata menetes lagi. “Maksudmu karena aku yang selama ini selalu melindungimu dan berada di sisimu?”
“Mu-mungkin. Aku sendiri tidak bisa memastikan apakah aku benar-benar mencintaimu atau tidak, tetapi perasaan itu pernah ada untukmu. Aku pernah menggantungkan mimpi yang begitu tinggi agar bisa hidup denganmu. Siapa sangka mimpi itu terhempas begitu saja, sungguh aku juga tidak pernah berharap kita memiliki akhir yang seperti ini," ucap Kinara menyesal.
“Cukup, Kinara! Cukup! Setidaknya aku tahu jawabanmu. Aku, tidak kuat mendengar alasan lainnya.” Agra bangun dari duduknya lalu mengulurkan tangan. “Aku tahu tidak mungkin bagiku untuk memelukmu, meskipun itu adalah pelukan terakhir, tetapi bolehkan aku menjabat tanganmu. Untuk terakhir kalinya?”
Kinara bangun, menatap Agra dengan mata penuh permintaan maaf. “Aku tidak bisa. Maafkan aku. Aku tidak akan memberimu harapan apa pun lagi. Saat ini aku sudah menyerahkan hidupku untuk Dika.”
“Baiklah.” Agra menarik tangannya dengan sangat terpaksa. Pil pahit yang harus dia telan tidak bisa dia muntahkan. Suka tidak suka, Agra harus menerima keputusan Kinara. “Semoga kalian bahagia. Aku pamit Kinara.” Berbalik badan.
Sungguh aku berharap kau bisa hidup bahagia dengannya, terima kasih karena aku pernah ada di hatimu meskipun hanya karena balas budi. Apa pun bentuknya, setidaknya aku pernah merasakan kau mencintaiku, batin Agra.
“Agra, setelah semua ini bisakah kita tetap berteman?”
Kau memintaku menjadi temanmu setelah menyingkirkan aku dengan begitu kejam? Apa kau masih wanita yang aku kagumi dulu, kenapa kau kejam sekali, Kinara! batin Agra.
“Kita lihat saja. jika waktu bisa menyembuhkan lukaku, mungkin aku bisa memulai kembali dengan menjadi temanmu. Namun, jika waktu membuat lukaku semakin parah. Aku minta maaf, sepertinya jalinan pertemanan di antara kita tidak akan pernah ada.”
Agra meninggalkan Kinara begitu saja, setelah mengucapkan kalimat yang membuat Kinara terisak dengan napas yang memburu.
Bersambung....
.
.
Maafkan emak, Agra 😭😥 Emak janji deh bakal bikin kamu bahagia walaupun bukan sama Kinara.
.
.
Yuk bayar emak pake jempol kalian. Jangan lupa LIKE DI TIAP BAB, KOMENTAR POSITIF, DAN VOTE.
__ADS_1