Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Andai Aku Rahwana & Kau Dewi Sinta


__ADS_3

Siapkan Tisu 😭😭


Kinara hanya bisa menangis, menumpahkan segala lara yang dia pendam sendirian.


Sebelum Agra datang dia masih bisa menahannya, berpura-pura kuat dengan tidak mengeluarkan satu tetes air mata pun.


Namun semuanya sia-sia begitu Agra menghampirinya, laki-laki yang saat ini tidak ingin dilihatnya sudah berdiri tepat di depannya. Wajar jika pertahanan itu tidak berarti lagi.


Mungkin pertolongan Tuhan untuknya datang melalui tangan orang lain, tetapi mengapa orang itu harus Agra Grissham? Kenapa harus laki-laki yang membuat Kinara tidak berani mendongakkan kepala dan menatap kedua bola matanya.


Saat ini Kinara hanya bisa menangis, bibirnya terasa keluh bahkan sekadar mengucapkan ‘Hay.’ pada Agra pun dia tidak mampu.


Kinara mencengkeram kuat ujung kausnya, membuatnya nampak kusut tak berbentuk. Air mata mulai bergulir tajam melewati kedua pipi tirusnya dan bermuara di punggung tangan Kinara.


Pundaknya terlihat bergerak naik turun karena napasnya yang mulai tersengal tak beraturan dengan tubuh yang sedikit bergetar.


Ya Tuhan, kenapa harus, Agra? Apakah dari sekian banyak makhluk-Mu di tempat ini hanya Agra yang bisa menolongku? Tidak adakah yang lainnya? batin Kinara.


***


Agra menatap lekat wanita yang sedang menunduk di depannya, wanita yang membuatnya tahu seperti apa rasanya jatuh cinta.


Rambut hitamnya tergerai, sementara pelipisnya sedikit berkeringat. Wajahnya basah karena air mata yang terus mengalir tanpa permisi.


Laki-laki sekejam apa yang tega menyakiti makhluk Tuhan sebaik dirinya, pikir Agra.


Kinaraku ... wanitaku, batin Agra.


“Kau baik-baik saja, Kinar?” suara Agra terdengar sangat lembut di telinga Kinara, hal ini membuat Kinara semakin terisak. Suara Agra tak ubahnya seperti tetesan air jeruk nipis di atas hatinya yang terluka.


Kinara tidak bisa mengendalikan gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya, hatinya perih ... perih sekali.


“Are you ok, baby?” karena tidak juga mendapat jawaban dari Kinara. Agra sampai bertanya untuk yang kedua kalinya.


Agra menepuk lembut lengan Kinara untuk mengembalikan kesadaranya.


"Kinara ...," lirihnya.


Kinara tidak mengangguk kali ini dia berani untuk menggelengkan kepalanya. Cukup, itu artinya dia tidak baik-baik saja. “Naikkan kepalamu, Kinara," titah Agra yang kembali disambut gelengan kepala.


Tidak, aku tidak mau, aku tidak bisa melihat wajahmu. Lebih baik kau pergi saja, biarkan aku yang hina ini menghadapi semuanya sendirian, hiks.... batin Kinara.


“Kinara Amalia,” ucap Agra lembut.


Kinara menggeleng cepat.


Aku terlalu malu untuk menatap wajahmu, Agra. Melihat kebaikan di matamu seperti membunuhku pelan-pelan. Pergilah, Agra, pergi, batin Kinara.


"Kenapa, Kinara? Kau malu padaku?" tanya Agra yang dijawab anggukan kepala oleh Kinara.


"Kau tidak perlu malu, Kinara." Agra berjalan, semakin dekat dengan Kinara. Saat ini jarak keduanya hanya beberapa centi saja.


“Kau wanita terbaik yang pernah aku temui, Kinar. Jangan merasa dirimu hina dan kotor, di mataku kau tetap bersih, istimewa, dan tiada duanya.” Agra membuka lebar kedua tangannya.


Agra belum berani memeluk gadis di depannya tanpa persetujuan Kinara.


"Peluk aku," Agra berucap ragu. Dia tidak tahu seperti apa reaksi Kinara ketika mendengar ucapannya. Namun, dia juga tidak bisa melihat Kinara ketakutan sendirian. Setidaknya Kinara harus membagi derita dengannya.

__ADS_1


Hiks ....!!


Kinara berhambur ke dalam pelukan Agra, menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam dada bidang Agra.


"Haaah ...." Agra mengembuskan napas lega, untunglah tindakannya tidak menyulut kemarahan Kinara.


"Kau wanita yang baik ... kau yang terbaik," Agra berbisik lirih sembari menepuk lembut punggung Kinara. Kalimat dan tindakan Agra kontan membuat Kinara semakin terisak di dalam pelukan Agra.


Kaus rajut yang dikenakan Agra sampai basah karena air mata Kinara yang menggenang di sana tak terhitung jumlahnya.


Aku tahu ini salah, Tuhan, tetapi aku tidak kuat menanggung beban ini sendirian. Aku butuh sandaran, aku butuh orang lain untuk sekadar membagi duka ini meski untuk beberapa menit saja.


Maafkan aku, Tuhan, maafkan aku. Aku yang lemah dan hina ini benar-benar hampir kehilangan kewarasanku, aku tidak sanggup memikul semua beban ini sendiri, batinnya Kinara.


***


Setelah semua orang yang berkerumun itu berangsung-angsur pergi termasuk Allen dan gengnya. Agra menuntun Kinara untuk duduk di salah satu kursi panjang di dekat parkiran.


“Naikan kepalamu, jangan menunduk terus. Apa aku terlihat begitu menakutkan bagimu?” tanya Agra, tetapi Kinara hanya menggelengkan kepala. Masih belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Kinara.


“Haah ....” Agra mengembuskan napas kasar. “Aku masih sama seperti yang dulu, Kinara. Masih jatuh cinta padamu, tetap terpukau dengan sikapmu, tidak berubah meskipun aku tahu kau sudah bersuami.”


Deg ...!!


Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Agra seketika membuat dada Kinara berdesir, degup jantungnya kembali berpacu lebih cepat.


Agra membuka tas ransel yang sedari tadi dipangkunya dan mengeluarkan botol minuman. “Minumlah.” Menyodorkan air mineral. “Seharusnya dari awal kau bicara jujur padaku, Kinar.”


“Aku minta maaf, Agra. A-aku," ucap Kinara terbata.


“Kau tidak perlu menjelaskan apa pun lagi, karena aku sudah mengetahui semuanya.”


“Berhenti menatapku seperti itu, aku bisa kehilangan kewarasanku. Menculik dan membawamu lari sejauh mungkin darinya.” Agra mengacak-acak rambutnya, tatanan rambut yang memang tidak terlalu rapi karena jarang tersentuh pomade itu kini terlihat semakin berantakan.


“Aku tidak bisa mundur lagi, Kinara.” Agra memangku kakinya. "Jika saja kisah kita seperti Rahwana dan Dewi Sinta. Anggaplah aku sebagai Rahwana yang bertemu denganmu ketika kau sudah bersuamikan Rama.


Biarpun sejarah menyebutku sebagai laki-laki yang kejam." Agra menundukan kepalanya lalu tersenyum getir.


"Aku rela, Kinara. Menculik dirimu dari tangan suamimu, meskipun semua orang menganggap Rahwana bersalah, tetapi cintanya kepada Dewi Sinta tidak pernah salah.


Cinta Rahwana untuk Dewi Sinta sangat suci, sama sucinya seperti cintaku padamu, Kinara. Masih terjaga, tetap utuh meski aku tahu kau sudah menjadi kepunyaan orang lain." Agra melenguh panjang, dia hampir kehabisan napas ketika mengatakan kalimat itu.


"Agra ... aku," ucap Kinara. Dia tidak tahu harus mengatakan apa selain air mata yang kembali menetes di kedua pipinya.


"Tidak ada jalan lain selain bertahan dengan perasaan ini, bolehkah aku membawamu kabur?


Merebutmu dari sisinya yang jahat. Meskipun akhirnya seluruh dunia akan mengecapku sebagai lelaki perebut istri orang, menghina dan menjatuhkan hukuman moral padaku, apakah itu sepadan?


Jika sepadan, apa pun bisa aku lakukan untukmu, Kinara.” Agra meletakan kedua telapak tangannya di wajah lalu menggosok kasar wajahnya.


“Tapi aku su....“


“Sudah menikah?” tanya Agra.


Kinara menunduk.


“Sudah tidak perawan?” Agra menoleh, Kinara menunduk semakin dalam kali ini diikuti gigitan kecil di bibirnya. Kalimat itu seperti air panas yang disiramkan bertubi-tubi ke tubuhnya.

__ADS_1


Perih dan menyakitkan, tapi itulah kenyataannya, dia tidak bisa mengingkari statusnya sebagai Nyonya Mahendra dan menutupi bekas Dika di tubuhnya.


“Aku tahu itu, Kinara. Lalu apa kau pikir aku peduli? Tidak, Kinara! Bahkan jika kau memiliki anak dari suamimu sekalipun, aku tidak keberatan untuk hidup bersamamu. Selama kau juga mencintai aku.”


Agra menarik pergelangan tangan Kinara, merem*s kuat jemarinya. “Katakan padaku, apa aku sudah gila? Apakah aku sudah tidak memiliki harga diri lagi di matamu, Kinara?”


Kinara menggeleng.


“Aku ....”


Kinara mendongakan kepala sampai keduanya kembali beradu tatap. “Akulah yang tidak memiliki harga diri, aku yang hina, aku kotor, Agra. Bukan dirimu!" Kinara memukulkan tangan ke dadanya sendiri. Dia ingin menunjukan betapi dirinya tidak pantas untuk Agra.


“Di mataku kau tetap sama. Wanita terbaik yang bisa membuatku jatuh cinta,” ucap Agra sembari menarik tubuh Kinara ke dalam pelukannya. “Menangislah, menangis sepuas hatimu jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” imbuhnya sembari mengelus puncak kepala Kinara.


“A ... aku tidak pantas untukmu, hiks...,” ucap Kinara terbata membuat laki-laki yang sedang memeluknya itu semakin mengeratkan tangan di punggung kecil Kinara.


“Kau pantas untuk laki-laki yang baik, Kinara. Kau pantas bahagia, satu-satunya ketidak pantasanmu adalah menjadikan laki-laki itu sebagai suami.”


“Jauhi aku, Agra.” Kinara mendorong kuat tubuh Agra sampai dirinya terlepas dari pelukan Agra. “Kau tidak tahu bagaimana dia, aku ... aku tidak ingin menyeretmu dalam lubang hitam ini.” Kinara mundur menjauhi Agra, kepalanya menggeleng kuat.


“Hey ... tenang, Kinara.” Agra mencoba mendekat. “Dengarkan aku, tarik napas dan keluarkan perlahan,” titahnya sembari mengelus pundak Kinara. “Ya, bagus, lakukan lagi.”


Setelah Kinara cukup tenang Agra memberanikan diri untuk memegang wajah Kinara. “Lihat aku, Kinara.” Agra memegang erat dagu Kinara. “Jangan berpikir yang tidak-tidak, suamimu tidak akan bisa menyentuhku.


Yah, kecuali dia juga ingin merasakan hal yang sama.”


Jika dia menghancurkan aku, maka dia juga akan hancur. Saat ini kita berdua sedang berada di perahu yang sama, batin Agra.


“A ... apa maksudmu, Agra?” tanya Kinara sesenggukan.


“Kau tidak akan mengerti, ini urusan kekuasaan yang tidak bisa diceritakan. Namun yang harus kau ketahui, Dika Mahendra tidak akan berbuat jahat padaku. Percayalah, Kinara,” ucap Agra menyakinkan diikuti senyum tipis di wajahnya.


“Dari mana kau tahu tentang suamiku? Bagaimana kau tahu namanya? Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menutupi pernikahan ini, bagaimana ka ....”


Kinara belum menyelesaikan kalimatnya, tetapi Agra sudah meletakan jari telunjuknya di bibir Kinara.


“Sttt ....” Agra menggelengkan kepala. “Jangan mengatkan apa pun lagi, aku mengetahui semuanya, Kinara. Aku tahu siapa suamimu dan bagaimana pernikahan kalian bisa terjadi.”


Agra menghela napas panjang.


"Aku tahu lebih banyak dari yang kau pikirkan, jadi berhenti memikirkan hal-hal seperti itu. it’s ok, tidak akan terjadi apa pun padaku.” Agra membelai lembut pipi Kinara.


“Jangan lakukan ini, Agra.” Kinara memundurkan tubuhnya. “Kau tahu aku istri orang lain, aku wanita bersuami. Kita tidak sepantasnya melakukan ini,” ucapnya ditutup dengan bulir air mata yang melintas dikedua pipinya.


Menyesal?


Iya, Kinara menyesal kenapa takdir begitu kejam mempertemukan dia dengan Agra sesudah dirinya bertemu dengan manusia jahat seperti Dika Mahendra.


“Argghh ....” Agra mengusap kasar wajahnya, menarik kasar rambunya sampai berantakan. Bahkan wajahnya yang selalu secerah mentari ketika berada di dekat Kinara sudah berubah seperti badai berpetir, gelap dan menakutkan.


Mungkin kenyataan tentang status Kinara adalah hal terpahit yang pernah dia rasakan.


\=\=\=\=> Bersambung.....


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa Vote dan Like yah nakanak ❤️😍 kalau kalian suka ceritanya kalian harus vote, berapapun vote dari kalian emak sangat berterima kasih ❤️


__ADS_2