
Kinara memperhatikan dengan seksama laki-laki yang berdiri di depannya itu, terdapat bekas kotor dan robekan di kedua lutut Dika.
Apa tadi dia jatuh? Batin Kinara.
Sesaat sebelum Kinara dan Alisa menghampiri, Dika memang sudah berdiri dibantu Ken. Sehingga kajadian memalukan itu tidak sempat dilihat Kinara dan yang lainnya.
“Bagaimana kabarmu, sa ....” Dika tersenyum getir, jika saja kalimat itu bisa dia lanjutkan, kata ‘sayang’ yang akan keluar dari mulutnya. Namun Dika tidak ingin membuat Kinara merasa tidak nyaman. “Apa kabar, Kinara?” Mengulurkan tangan.
Kinara memperhatikan lagi, ada luka gores di telapak tangan laki-laki yang sangat dia benci itu. Bahkan di ujung jari telunjuk dan jari tengahnya terdapat noda bekas darah akibat tertusuk duri mawar.
Ada apa denganmu, Dika? Kenapa kau memperlihatkan kelemahanmu sekarang? Aku sudah tidak bisa lagi melengkapinya, karena luka yang kau gores teramat dalam dan aku belum bisa menyembuhkan luka itu, batin Kinara.
“Aku baik, bagaimana denganmu?” Kinara tidak menyambut uluran tangan Dika.
Dengan sangat terpaksa Dika menarik kembali tangannya. Bersembunyi di dalam kantung celana yang sudah kotor.
"Aku, yah ... seperti yang kau lihat. Aku tidak sepenuhnya baik," ucap Dika. “Kenapa kau baru datang, Kinara?” lanjutnya.
Sepertinya pembicaraan antara Kinara dan Dika sudah menjurus ke ranah pribadi. Ken dan Alisa memilih untuk mundur. Jika Alisa mekilih kembali ke mobil bersama Bibi Ane dan Pak Budi.
Maka lain lagi dengan Ken. Dia memilih duduk di sudut kursi, diam-diam mengeluarkan handphone dan seperti biasanya memotret dan merekam kebersamaan Dika dan Kinara sudah seperti kebahagiaan tersendiri bagi Ken. Setelah itu dia akan mengirim hasil kerja kerasnya pada Marta, yang akan dibalas acungan jempol oleh Marta.
“Aku sibuk!” jawab Kinara asal.
“Hmm ... Ayo kita duduk dulu.” Dika mengulurkan tangannya lagi, dan sekali lagi Kinara tidak menyambut uluran tangan itu. Dika hanya tersenyum tipis. Keduanya sudah duduk di kursi yang berbaris memanjang. Seperti kursi di halte bus.
“Jadi kenapa akhirnya kau memutuskan untuk datang, Kinara?”
“Aku datang bukan untuk melakukan mediasi, Dika. Hanya saja ... sepertinya anakmu merindukan Ayahnya, sejak tadi dia gelisah.”
Dika tersenyum bahagia. Setidaknya Kinara masih mengakui Dika sebagai Ayah dari anaknya. “Itu ... bolehkah aku memegang perutmu?”
Seketika Kinara menoleh dan menatap tidak suka, dia bergeser dari tempat duduk semula. Jadilah jarak keduanya semakin jauh, terpisahkan oleh dua kursi kosong.
“Tidak, aku tidak akan melakukan itu jika kau tidak mengijinkannya. Aku ... aku minta maaf, jangan takut Kinara. Aku tidak akan menyakitimu walau seujung kuku pun.” Dika panik, tatapan matanya penuh kesedihan. Manik hitam yang biasanya penuh amarah itu seratus persen sudah menghilang, sejak kapan itu hilang? Hanya Tuhan dan Dika saja yang tahu pasti.
Ke mana perginya tatapan matamu yang hangat itu, Kinara? Ke mana hilangnya senyum manismu, Kinara? Bisakah aku yang berdosa ini mengembalikan semuanya seperti sedia kala? Batin Dika.
“Aku rasa pertemuan kita sudah cukup, setidaknya Anakmu sudah melihat Ayahnya.” Kinara berniat bangun dari kursi sampai Dika menghentikan itu.
“Aku mohon, Kinara. Tolong jangan pergi, setidaknya berilah sedikit waktu lagi untukku bisa bersamamu.”
“Apa waktu lima bulan yang aku berikan untukmu masih belum cukup, Dika?”
“Lima bulanmu sudah aku sia-siakan, Kinara. Dan aku sangat menyesal untuk itu, tolong beri aku lima menit saja, aku masih ingin bertanya banyak hal padamu.”
“Sayangnya aku tidak memiliki banyak jawaban untukmu, Dika!”
“Aku ... aku tidak perlu jawaban darimu, Kinara. Aku mohon, cukup berikan aku sedikit waktu untuk duduk di sampingmu sekadar menatap langit sore yang mulai menghitam itu bersamamu.”
“Apa kau sedang sakit, Dika?”
“Tidak, aku baik-baik saja. Apa aku terlihat seperti orang sakit?” Dika balik bertanya.
“Tidak, hanya saja cara bicaramu tidak seperti Dika Mahendra yang kukenal dulu,” ucap Kinara.
Kinara nampak menoleh ke kiri dan kanan sembari memegangi tenggorokannya.
Dika segera melambaikan tangan pada Ken, begitu Ken mendekat dia berbisik. Ken mengangguk dan berjalan mendekati mobil. Tak berapa lama Ken kembali dengan sebotol air mineral dan kantung merah muda yang berisi perhiasan.
“Kau haus, Kinara?” Dika hampir jatuh ketika mengulurkan botol air kepada Kinara, beruntung tangannya segera bertumpu pada kursi kosong. Jarak keduanya memang cukup jauh, sehingga menyulitkan Dika untuk menyodorkan air minum itu. “Mendekatlah, Kinara. Sungguh, aku berjanji tidak akan menyentuhmu.”
Kinara menatap tidak suka, tapi dia tetap menggeser tubuhnya. Kini jarak keduanya hanya terpisahkan oleh satu kursi kosong.
Dika mengembuskan napas lega sampai melakukan gerakan mengurut dadanya. “Minumlah.”
“Tidak, aku tidak haus!” ucap Kinara ketus.
“Kau mungkin tidak haus, tapi anak kita yang kehausan. Aku tidak membawa susu ibu hamil karena aku tidak tahu kau minum yang merk apa.” Dika menundukkan kepala. “Maaf atas kelalaianku.”
Kinara tidak sejahat itu, dia masih memiliki hati nurani. Jika dia juga bertindak keterlaluan, lalu apa bedanya dia dan Dika yang dulu.
“Sini.” Kinara mengulurkan tangan tanpa menelehkan kepala.
Dika tersenyum lebar. Dia segera membuka tutup air mineral itu dan menyerahkan pada Kinara. Kinara menerima meskipun dengan raut wajah tidak suka, dia segera meneguk air mineral itu.
__ADS_1
Satu tegukan.
Dua tegukan.
Tiga tegukan, dan tiba-tiba perutnya bereaksi. Kinara meletakan botol air mineral itu di samping, lalu menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangan sementara tangan yang satu lagi dia gunakan untuk mengelus perutnya.
Dika memberanikan diri berjalan mendekat lalu berjongkok tepat di depan Kinara. “Nak, jangan nakal. Kau tidak boleh seperti itu, sayang. Lihat, Ibumu hampir muntah,” lirihnya sembari menatap nanar perut Kinara. Dia tidak berani memegang perut Kinara, melakukan lebih dari itu mungkin akan membuat Kinara bereaksi berlebihan lagi.
Anehnya, perasaan mual yang dirasakan Kinara itu berangsur-angsur mereda begitu Dika berada di depannya.
Kau sedang mempermainkan Ibumu, Nak? Seberapa rindu kau dengan Ayahmu? Kua ingin dia berada di dekatmu, begitu? batin Kinara.
Kinara menatap lekat wajah suaminya itu, sebelum pengadilan ketuk palu mereka masih terikat dalam hubungan suci.
Wajah tampan yang biasanya terlihat garang dan penuh amarah ketika berhadapan dengan Kinara sudah berubah selembut salju,
bola matanya seteduh gugusan awan, tatapan itu bahkan lebih lembut daripada tatapan Dika terhadap Carissa. Rambutnya yang hitam pekat sedikit berantakan di bagian depan, hidungnya yang
mancung, dan bibirnya yang sedikit bervolume. Baru kali ini Kinara bisa melihat sesuatu yang berbeda di wajah suaminya.
“Rahangmu terlihat semakin tegas, apa kau kehilangan berat badanmu?” tanya Kinara.
Mendengar pertanyaan Kinara barusan sampai membuat Dika tersenyum bahagia, setidaknya Kinara masih memperhatikan dirinya. Dika mendongakan kepala sampai keduanya beradu tatap. “Aku tidak yakin, beberapa hari ini nafsu makanku memang berkurang. Terlebih lagi aku juga sering begadang. Apa itu bisa menurunkan berat badan?”
“Kenapa? Kau banyak pekerjaan sampai harus begadang?”
Seingatku kau jarang begadang, kaukan Boss! Kau tinggal tunjuk, tinggal suruh dan semua pekerjaanmu beres, batin Kinara.
“Mungkin.” Dika tersenyum. Tidak mungkin baginya untuk berkata jujur tentang alasan utama dia begadang adalah berlama-lama menatap foto Kinara.
Kinara menggaruk kepalanya, jawaban mungkin yang diberikan Dika itu seperti berarti ‘iya’ dan ‘tidak’. terserah, Kinara tidak peduli.
“Sudahlah, kau tidak perlu duduk di situ. Bangun dan menjauhlah dariku!”
“Baiklah.” Dika bangun, baru satu langkah Dika menjauh perut Kinara kembali bereaksi. Kali ini lebih hebat karena disertai suara ‘Hoek’ khas ibu hamil.
“Kenapa?” Spontan Dika berbalik dan memegang tangan Kinara. “Kau baik-baik saja, Kinara? Perlukah kita ke dokter?”
Kinara menggeleng.
Setelah berinteraksi batin dengan calon anaknya itu kondisi Kinara bukannya membaik justru semakin parah. Perutnya semakin mual dan perasaan ingin muntah itu tidak tertahankan lagi.
Nak, kau ini kenapa? Sebelumnya kau tidak pernah serewel ini, muntah di pagi hari saja bisa Ibu hitung pakai jari, batin Kinara.
“Kita ke dokter saja. Jangan membuatku panik, Kinara,” bujuk Dika. Kedua tangan Kinara bertumpu pada lengan Dika.
“Tidak, tidak perlu.”
“Apa memang seperti ini kondisimu? Kau sering muntah?”
Kinara menggeleng. “Tidak, memang pernah muntah, tapi tidak seperti ini.”
“Lalu kenapa sekarang reaksimu seperti ini? Apa air mineral yang aku berikan tidak cocok?”
Kinara menggeleng lagi. “Bukan. Aku juga tidak mengerti, lagipula air mineral itu sama seperti yang biasanya aku minum.”
Dika mengembuskan napas lega, setidaknya bukan air mineral itu penyebab Kinara muntah.
“Ayo kita ke dokter,” ajak Dika sedikit memaksa.
“Tidak usah. Mungkin sebentar lagi akan lebih baik.”
Setelah membaik Kinara melihat tangannya yang bertumpu di lengan Dika. Segera dia mengangkat tangan dan memundurkan tubuhnya. “Maaf, aku tidak sengaja.”
Astaga ... bagaimana jika Carissa melihatnya, aku tidak ingin di cap sebagai wanita plin plan, batin Kinara.
Kinara masih belum tahu jika Carissa sudah pergi dari mansion Dika, juga tentang hubungan keduanya yang sudah berakhir. Dia hanya mendengar kabar Carissa membatalkan kepergiannya ke Inggris.
“Itu tidak jadi masalah untukku, Kinara.” Dika tersenyum. “Bahkan ribuan kali ketidak sengajaan itu kau lakukan pun, aku tidak akan keberatan,” gumamnya.
Ketika Dika bersiap bangun, lagi dan lagi perut Kinara bereaksi.
Ya Tuhan, kau mau terus dekat dengan Ayahmu? Kau tidak kasihan dengan Ibu, Nak? Apa perlu Ibu bawa pulang Ayahmu? batin Kinara.
“Hoek ....” Refleks Kinara menutup mulutnya ketika perasaan mual itu kembali datang.
__ADS_1
Dika kalang kabut kembali memutar tubuhnya dan berjongkok lagi di depan Kinara.
“Aku mohon, Kinara. Bolehkah aku mengelus perutmu, sepertinya ini permintaan anak kita. Mungkin saja setelah aku memegangnya dia tidak akan bereaksi seperti ini lagi,” ucapnya ragu. Dika tidak yakin Kinara akan mengijinkan.
Sekitar satu menit Kinara diam, lalu menganggukkan kepala. “Baiklah.”
Secepat kilat tangan Dika sudah memegang perut Kinara. “Apa kabar, Nak? Apa kau ingin bertemu dengan Ayah? Kau rindu Ayah ‘kan?”
Ketika posisi Dika tepat di bawah Kinara dan tangannya sedang memegang perut Kinara. Tiba-tiba Kinara memajukan tubuhnya, kepalanya bergerak maju melewati pundak Dika, tangannya menarik jas dan kemeja suaminya, dan terjadilah drama yang sejak tadi menyiksa Kinara.
“Hoeeek ....”
Kinara memuntahkan semua isi makanan yang baru masuk ke dalam perutnya beberapa menit yang lalu. Ketika dalam perjalanan ke Pengadilan Agama Kinara memang makan di dalam mobil.
Dika tertegun, tangan kanannya masih menempel di perut Kinara. Sementara tangan kirinya reflek menepuk lembut punggung Kinara. Dan punggungnya sendiri mulai terasa hangat karena muntahan Kinara sampai masuk melalui cela kerah baju. Dia menelan salivanya pelan. Lalu tertawa.
Kinara memundurkan tubuhnya berniat mengelap mulutnya dengan punggung tangan sampai Dika menangkap tangan Kinara dan menggeleng. Dika merogoh kantung jas dan mengeluarkan sapu tangan lalu mengelap lembut bibir Kinara, membersihkan sisa muntahan di sana.
Kinara menatap bingung. Pundak dan bagian belakang jas Dika dipenuhi muntahannya. Namun Dika justru tertawa sampai bahunya berguncang.
Kinara memijat pangkal hidungnya lalu membatin, apa karena muntahan itu otaknya sampai bermasalah. Aku yakin sebentar lagi dia akan marah, itu baju mahal ‘kan? Setelan yang dibuat khusus, batin Kinara.
“Apa kau tidak mengerti, Kinara?” tanya Dika tiba-tiba.
“Tidak, mengerti apa maksudmu?”
“Inilah alasan kenapa aku tidak boleh jauh darimu, sepertinya anakmu juga marah padaku sampai harus mengerjai Ayahnya seperti ini.” Menunjuk bekas muntahan Kinara.
Kinara diam sejenak, mencoba mencerna ucapan Dika, dan Kinara baru mengerti setelah Dika berjalan menjauh.
“Lihat, apa kau masih merasa mual?”
“Ajaib, aku tidak merasa mual lagi. Perasaanku juga jadi lebih baik.” Kali ini justru Kinara yang tertawa terbahak.
Jadi ini maksudmu, Nak? Kau hebat, seharusnya kita adu tos, yah. Ini belum seberapa dibandingkan kejahatan yang dilakukan Ayahmu pada Ibu, batin Kinara.
Kinara tertawa sembari mengelus perutnya.
Dika melepaskan jas dan kemeja yang terkena muntahan Kinara. Dia meminta Ken menyiram punggungnya dengan air.
Saat ini Dika berdiri di depan Kinara dengan bagian dada yang terbuka sepenuhnya. Seluruh ototnya terekspos, roti sobek itu sedikit membuat Kinara menelan salivanya.
Dika sudah menggunakan kaus oblong, sangat tidak pas jika dipadu dengan celana resminya itu. namun hanya itu yang ada di mobilnya.
“Apa masih tercium bau muntahannya? Apa itu tidak nyaman untukmu, jika iya aku akan berdiri saja,” ucap Dika.
“Tidak, kau duduk saja.”
“Baiklah.”
Dika sudah duduk di samping Kinara, masih dengan berjarak satu kursi.
“Mungkin jika besar nanti dia akan meninjuku jika menyakitimu, masih kecil saja sudah berani muntah di tubuh Ayahnya,” ledek Dika.
“Tidak, aku tetap akan membuatnya berbakti padamu. Biar bagaimanapun kaukan Ayahnya, meskipun kau tidak akan ikut andil merawat anak kita. Tapi aku tetap akan mengenalkanmu sebagai Ayah kandungnya,” ujar Kinara.
Dika terdiam, matanya berkaca-kaca. Hampir saja bulir bening itu menetes ketika membayangkan Kinara dan anaknya akan hidup bersama laki-laki lain. Namun Dika harus berbesar hati, dia hanya bisa berusaha dan selebihnya biarkan Tuhan yang mengatur jalan hidupnya.
“Baiklah, karena hari sudah petang kau boleh pulang.” Dika tersenyum. “Sesuai janjiku, aku hanya ingin dekat denganmu walau sebentar. Dan tolong terima ini.” Menyodorkan kantung berwarna merah muda pada Kinara.
“Apa ini?” Menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak mau menerima apa pun lagi darimu.”
“Terima dulu,Kinara. Nanti begitu sampai di rumah, kau bisa lihat isinya. Jika kau tidak bersedia menerima itu, kau bisa mengembalikannya melalui Pak Budi,” ucap Dika lembut.
“Baiklah.”
Hari itu keduanya bertemu seperti takdir Tuhan, bahkan di sela kecanggungan keduanya Tuhan masih memberi jalan untuk mereka tertawa melalui ulah calon anak mereka.
Bersambung...
.
.
Adakah yang baper, emak adalah korban baper dari novel emak sendiri.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote yang kenceng biar emak semangat, ok.