
Sudah dua hari berlalu semenjak kedatangan Carissa di mansion Dika.
Yah, seperti yang sudah dijanjikan oleh Dika, Carissa menempati kamar utama. Kamar paling besar di antara semua kamar yang ada di mansion, bagian inti dari mansion itu.
Sama seperti kehadirannya sendiri, yang menjadi inti di hidup Dika.
Awalnya Kinara mengira Dika dan Carissa akan tidur dalam satu kamar, tetapi ternyata tidak seburuk itu karena Carissa juga termasuk wanita baik-baik yang masih memegang norma Agama.
Alih-alih tidur di kamar utama, Dika memilih tidur di kamar tamu, dan Kinara tetap tidur di kamar kecilnya. Itupun statusnya hanya sebagai mantan kekasih Ken dan tinggal di mansion pun karena belas kasih dari Ken. Sungguh ironis.
Tentu saja itu hanya alasan yang dibuat Ken dan atas persetujuan Dika, awalnya Dika bersikeras ingin Kinara mengontrak saja. Namun Ken tidak memiliki hati yang kejam seperti tuannya.
Akhirnya setelah acara bujuk membujuk itu jadilah Kinara tetap tinggal di mansion.
Sejak kedatangan Carissa di mansion Kinara selalu berangkat kuliah pagi-pagi buta dan pulang larut malam.
Tentang bukti yang Agra minta bukan berarti Kinara melupakan itu, dia hanya belum siap bertemu satu meja dengan Carissa dan Dika.
Namun, sepertinya pagi ini Kinara kurang beruntung karena dia bangun kesiangan. Mau tidak mau dia harus bertemu dengan Carissa dan Dika. Entah itu di ruang keluarga, ruang tamu, taman depan rumah, atau bahkan meja makan.
Mungkin Tuhan sudah bosan dengan pelarian Kinara, setidaknya Kinara harus siap menghadapi situasi seperti ini.
***
Meja makan.
“Jadi untuk sementara Kinara akan tinggal di mansionmu, sayang?” Carissa menuangkan susu ke dalam gelas dan menyodorkan pada Dika.
“Iya, karena dia sedang kuliah. Dan kebetulan kampusnya ada di dekat sini. Ken tidak tega jika Kinara harus mengontrak.” Dika menerima gelas itu diikuti senyuman.
“Mau roti, sayang?” tanya Carissa.
“Hmm ... boleh.”
Carissa meraih selembar roti dan mengoleskan selai kacang kesukaan Dika. “Nih, apa makanmu tidak teratur, sayang? Sepertinya kau kurusan.” Menyodorkan roti yang sudah diolesi selai.
“Entahlah ....” Dika mengangkat kedua bahunya membuat Carissa tersenyum lebar.
"Tapi kenapa Ken putus dengan Kinara?" Carissa meneguk jus mangga buatannya. "Bukankah Kinara sangat cantik? Dan lagi, Kinara juga sangat baik."
"Itu hanya dugaanmu, Rissa."
Rissa adalah panggilan sayang yang diberikan Dika untuk Carissa.
"Dugaanku?" Carissa mengernyitkan dahi.
"Iya, Kinara tidak sebaik yang kau kira."
"Itu tidak mungkin." Carissa bertopang dagu, tatapannya sejurus ke arah Dika. Carissa tidak mengerti kenapa Dika terkesan tidak suka dengan Kinara.
"Kenapa kau melihatku seperti itu." Dika mengubah posisi duduknya, sedikit bergerak tak beraturan untuk menghilangkan perasaan cemas. "Apa yang aku katakan adalah kenyataan, Rissa. Kau tidak bisa melihat seseorang hanya dari luarnya saja," imbuhnya.
"Tapi ... entah kenapa aku merasa Kinara adalah wanita yang baik, yah."
"Dia tidak sebaik itu, bisakah kau berhenti membahas orang lain ketika bersamaku?"
"Duh posesif." Carissa mencubit gemas pipi Dika. "Baiklah, aku akan berhenti membahas orang lain. Hanya tentang kita, hmm ... sayaaang ... kapan kita bicara soal pernikahan kita sama Papah dan Mamah?" tanya Carissa.
Kinara menelan salivanya, dia ada di sana. Di belakang mereka berdua yang sedang memadu romansa, melepas rindu yang sekian lama terpendam.
Kinara mendengar semuanya, bagaimana Dika sedang bersusah payah menjelekan dirinya di depan Carissa.
Tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk mata Kinara, bulir bening itu meluncur jatuh dan berakhir di punggung tangannya. Cepat-cepat Kinara menghapus kasar jejak kepedihan itu, dia tidak ingin siapa pun melihat dirinya yang lemah.
__ADS_1
Kinara meremas kuat mie instans yang manjadi menu andalan ketika Kinara belum gajian. Niat hati dia ingin memasak di dapur, namun urung dia memilih memasukan mie instans yang sudah setengah hancur itu ke dalam tas.
Kinara memutar tumpuan kakinya. "Untuk apa aku ada di sini? Menonton kemesraan mereka?" gumamnya.
Ketika Kinara bersiap pergi, bayangan Agra melintas begitu saja seperti angin yang membawa kesejukan ketika kemarau panjang. Dia tidak sendirian, ada Agra yang juga sedang berjuang.
Keduanya sama-sama berjuang, meskipun bukan di tempat yang sama, tetapi yang pasti tujuan mereka sama.
Kinara merogoh bagian depan tas dan meraih handphone yang diberikan Agra, sementara handphone miliknya masih disita Agra. Dia memutar tubuhnya, mengatur suara dan cahaya lalu mengarahkan Hp itu ke meja makan, tempat di mana Dika dan Carissa sedang memadu kasih.
Kinara mengabadikan beberapa foto dan video. Ketika Dika membelai pipi Carissa, pun ketika Carissa menggenggam tangan Dika. Dia menarik napas dalam, menyimpan kembali Hp itu ke dalam tas. Kinara berharap bukti kecil ini bisa membantu Agra.
Kinara melatih gerak bibirnya, wajahnya dibuat setenang mungkin. Dia berjalan mendekat, jarak dapur dan meja makan memang tidak terlalu jauh. Jika ingin ke dapur setidaknya Kinara harus melewati meja makan terlebih dahulu.
"Selamat pagi ...." Kinara berjalan mendekat, senyum mengembang di bibirnya.
“Selamat pagi, Kinara. Sudah dua hari aku tidak melihatmu, dan hari ini kau cantik sekali. Kemarilah.” Carissa melambaikan tangannya agar Kinara mendekat. “Kita sarapan sama-sama, kau belum makan bukan?”
“Ah, tidak perlu, Carissa. Aku ....” Kinara membuka tas slempangnya dan melihat mie instan itu teronggok di dalam tas. “Aku sarapan di kampus saja.”
Nanti beli nasi uduk aja, deh, batin Kinara.
“Apa-apaan sih, Kinara.” Carissa bangun dari kursi dan berjalan mendekati Kinara. “Kenapa masih canggung begitu, ayolah. Anggap aku sebagai temanmu, berapa umurmu?” Menarik tangan Kinara.
“21 tahun,” jawab Kinara.
“Bagus, aku juga baru 22 tahun. Umur kita tidak berbeda jauh, seharusnya kita bisa menjadi teman baik.” Carissa menarik salah satu kursi dan menganggukan kepalanya. “Duduklah.”
“Tidak, sungguh aku sarapan di kampus saja. Sepertinya aku sudah terlambat.” Kinara mengangkat tangannya seolah dia benar-benar akan terlambat.
“Jangan berbohong padaku, Kinara. Kau pikir aku bisa dibohongi dengan mudah?” Carissa menarik tangan Kinara dan memastikan agar Kinara duduk, barulah setelah itu dia duduk di samping Kinara.
“Kau suka roti?” tanya Carissa sembari menunjuk beberapa potong roti tawar.
Dika tersenyum tipis mendengar jawaban Kinara, semenjak menikah ini kali pertama Dika dan Kinara duduk bersama dalam satu meja makan.
Tak banyak yang Dika tahu tentang Kinara, apa makanan kesukaannya? Seberapa banyak makannya?Atau, jam berapa biasanya Kinara makan.
Dika tidak tahu itu, kecuali tentang telur mata sapi yang Kinara benci. Itupun Dika tidak sengaja mendengarnya ketika Kinara berbincang dengan Bibi Ane.
Selebihnya, dia tidak tahu apa pun. Dia benar-benar buta tentang Kinara. Mereka seperti suami istri yang tinggal dalam satu atap, tapi tidak memiliki ketertarikan untuk saling mengenal.
“Kau benar, aku juga tidak suka roti. Aku heran kenapa Dika sangat menyukai roti dengan selai kacang.”
Itulah kenapa aku tidak suka roti, aku tidak suka apa yang disukai kekasihmu. Kecuali dirimu, Carissa. Setidaknya aku suka kebaikan hatimu, batin Kinara.
“Mau nasi goreng?” Carissa meraih salah satu piring kosong.
“Tidak perlu repot-repot, Carissa. Aku ... biar aku saja yang ambil.” Kinara mengulurkan tangannya meminta Carissa untuk berhenti menyendok nasi goreng.
“Tidak apa-apa, Kinara.” Carissa tersenyum tipis. “Makan yang banyak.” Dia meletakan sepiring penuh nasi goreng termasuk telur mata sapi di atasnya.
“Ini terlalu banyak.” Kinara mengurangi porsi nasi goreng yang diambilkan Carissa, juga meletakan kembali telur mata sapinya.
“Loh, kenapa telurnya dikembalikan lagi? Kau alergi telur?” Carissa mengernyitkan dahinya.
"Itu ... aku."
Bagaimana aku mengatakannya? Lucu sekali jika aku bilang aku tidak suka telur mata sapi, batin Kinara.
“Dia tidak suka telur mata sapi, kecuali telur dadar.” Tanpa sadar Dika menjawab pertanyaan Carissa yang membuat Carissa menoleh dan menatap penuh tanya.
Menangkap ekspresi Carissa yang mulai curiga Kinara segera berpikir utuk menyudahi ketegangan ini. “Ken ...," ucap Kinara tiba-tiba, Carissa mengalihkan tatapan matanya pada Kinara.
__ADS_1
"Ken?" Carissa mengernyitkan dahinya.
"Iya, Ken yang mengatakan itu pada Dika. Itulah kenapa Dika bisa tahu kalau aku tidak suka telur mata sapi.”
“Oh ....” Carissa manggut-manggut, dia kembali menyendok nasi goreng yang ada di depannya.
Syukurlah, lagipula dari mana dia tahu tentang telur mata sapi itu? Mungkinkah dari bibi Ane? batin Kinara.
“Nona, ini obatnya.” Bibi Ane berjalan mendekat sembari menyerahkan beberapa botol obat pada Carissa.
“Terima kasih bibi Ane.” Carissa meraih botol obat itu dan meletakkan satu per satu di atas meja.
Kinara melirik sembari membatin, satu, dua, tiga, dia menghitung ada berapa botol obat yang harus diminum Carissa. Jika tidak salah lihat setidaknya ada enam botol berbeda.
“Ah, aku bosan meminum obat.”Carissa memajukan bibirnya. “Bisakah aku berhenti satu hari saja, sayang. Aku tidak ingin minum obat.” Carissa membelai lembut punggung tangan Dika.
Uhuk ... uhuk ...
Melihat pemandangan itu Kinara sampai tersedak. Tenggorokannya seperti tidak bisa dikompromi, susah sekali untuk menelan nasi goreng yang tertahan itu.
Tergesa Carissa menuang air putih ke dalam gelas dan menyodorkan pada Kinara. “Minumlah, kenapa sampai tersedak begitu? Kau tidak perlu terburu-buru, pelan-pelan saja makannya.”
Kinara hanya tersenyum sembari meraih gelas yang diberikan Carissa, meneguk perlahan sampai nasi goreng itu tertelan sepenuhnya.
“Apa kau terkejut melihat botol-botol terkutuk ini.” Carissa mengangkat beberapa botol obat, Kinara menggeleng cepat.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya terburu-buru sampai tersedak. Sungguh ini tidak ada hubungannya dengan botol obat itu," ucap Kinara.
"Apa kau tahu, Kinara? Obat-obat ini sudah berkurang setengahnya.”
Kinara membulatkan matanya mendengar kalimat yang diucapkan Carissa.
“Sebelum aku berobat ke Inggris, obat yang aku minum bisa dua kali lipat dari ini.” Carissa tersenyum getir sembari menatap nanar botol obat itu. “Aku dan obat sudah seperti saudara, Kinara.”
“Maafkan aku, Carissa. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Kinara menundukan kepalanya.
“Tidak apa-apa, Kinara. Ini bagian dari takdir Tuhan, aku harus menerimanya dengan lapang dada. Dan perlu kau ingat, aku tidak suka dikasihani.” Carissa tertawa kecil.
"Kau beruntung, Kinara. Hidupmu terlihat lebih sempurna dariku." Carissa menundukkan kepalanya.
Aku sama tidak beruntungnya seperti dirimu, Carissa. Terpenjara dalam rumah yang seperti neraka, dibenci oleh suamiku sendiri, dikhianati, dipukul, dihinakan, bahkan untuk lepas darinya saja aku harus meminta bantuan otang lain, batin Kinara.
"Hidupku juga sama tidak beruntungnya, Carissa." Kinara melirik Dika. "Takdir setiap orang memang berbeda, dukanya pun tidak sama. Tetapi percayalah, duka itulah yang akan membuat kita semakin kuat." Kinara menggenggam erat tangan Carissa. "Tuhan tidak tidur, bersabarlah, Carissa. Ulat bulu pun harus melewati masa yang sangat sulit dan membutuhkan waktu lama untuk berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Yang bisa terbang bebas dan melihat bahwa dunia sangat indah." Kinara tersenyum.
Carissa memalingkan wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. Napasnya mulai tersengal. Kinara memutar tubuhnya, merengkuh tubuh Carissa dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa, Carissa." Kinara menepuk-nepuk lembut punggung Carissa. "Adakalanya kita perlu menangis, menangislah jika bisa membuatmu lebih tenang."
Carissa semakin terisak, bukan dipelukan Dika melainkan dipelukan Kinara.
\=\=\=>Bersambung....
.
.
Jangan lupa like dan vote,
.
Itu yg suka nagih up tapi nggak mau like sama vote, tolong tenggelamkan 🤣😂
Jangn yah nakanak, nananak emak pasti pada ngerti tanp harus emak minta kalian pasti Like dan Vote 😘
__ADS_1