Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Tikung Sepertiga Malam


__ADS_3

Dika terbangun ketika getaran alarm dari posel mengusik lengannya. Rupanya benda tipis persegi panjang yang dia letakan di samping kepalanya sebelum tidur itu meluncur bebas sampai tertindih tubuhnya.


Setelah berpisah dari Kinara, Dika memang tidak bisa jauh dari handphonenya. Di Hp itulah wajah Kinara terpajang, Dika baru bisa memejamkan mata setelah memandangi wajah mantan istrinya.


Dia menggeliat, meraih Hp dan melihat pukul berapa sekarang ini. Sesuai arahan Ken, sekarang jam empat lewat sepuluh pagi. Keributan di dapur masih terdengar sangat jelas. Sesekali terdengar bunyi piring yang saling beradu, terkadang terdengar suara tawa di sela-sela obrolan yang


tidak jelas. Namun, yang paling membuat Dika tidak tahan adalah aroma masakan yang menerobos masuk ke dalam lubang hidungnya. Sampai aroma itu direspon oleh perutnya yang sudah memberi sinyal ingin segera makan. “Pisang goreng,” gumamnya sembari meraba permukaan perut.


Beberapa kali Dika memanggil nama Ken, tetapi yang dipanggil masih asik dengan alam bawah sadarnya. “Ken!” kali ini Dika sedikit memberi geraman disuaranya. Meskipun begitu Ken tetap tidak merespon. Dia malah memutar tubuhnya sehingga memunggungi Dika.


“Kau itu tidur atau mati suri, sih?” Dika memukul bahu Ken dengan bantal guling. Ken melonjak terkejut, dia sampai langsung bangun.


“Ah, kenapa lagi sih Tuan Muda?” Mengelus bahunya.


“Lihat, jam berapa sekarang.” Menunjuk jam dinding. Ken melihat dengan malas. Waktu sudah menunjukan pukul 04.13 WIB. Artinya sudah tiga menit Dika berusaha membangunkan Ken.


“Aku pikir kau mati, nyaris saja aku berlari ke masjid dan memberi pengumuman tentang berita kamatianmu.”


“Astaghfirullah.” Ken mengurut dadanya.


“Jika kau mati di sini, aku tidak akan repot-repot membawa tubuhmu ke kampungmu yang jauh itu.”


“Lalu, ke mana Tuan akan membawa tubuhku?”


“Di seberang sana ‘kan ada sungai. Buang saja, nanti juga jadi makanan buaya.”


Ken menatap tidak percaya ke arah Dika. Tatapan mata Ken seolah menggambarkan perasaan sedih yang dalam. Ken memutar tubunya lalu mengetuk-ngetuk meja nakas dengan jarinya sambil komat-kamit “Amit-amit ... amit-amit.”


Ya Tuhan, malang sekali nasibku bisa memiliki majikan yang tidak punya hati, batin Ken.


“Ayo kita keluar.”


“Tuan, saya masih ngantuk. Tidur lima menit lagi saja, yah?” Ken merengek seperti anak kecil yang malas dibangunkan untuk sekolah. Bagaimanapun malam tadi tidunya tidak nyenyak, seperti tidur ayam yang sebentar-sebentar terbangun. Itu semua karena Dika tidak mau membagi kipas angin dengan Ken. Ken sampai bermandikan keringat karena gerah.


Kau menguasai semuanya, kasur, kipas angin, dan selimut. Ken menggerutu di dalam hati.


“Jangankan lima menit, satu jam pun tidak masalah. Tidurlah.”


Ken mengerutkan dahinya. Dika tidak pernah sebaik itu sebelumnya, pasti ada sesuatu yang tidak beres.


“Biar aku keluar, lalu aku bilang pada Amanda jika kau masih tidur dan mimpi indah. Setelah itu kita lihat bagaimana Amanda menilai laki-laki pemalas sepertimu.”


Ken langsung berjalan mendekati Dika. Menyatukan kedua tangannya seraya memohon. “Tiba-tiba rasa ngantukku hilang begitu saja, Tuan Muda. Hahaha ... ayo kita keluar, mandi dan bersiap ke masjid.”


“Cih, dasar. Apa kau sesuka itu dengan Amanda?”


Ken menggelengkan kepalanya, tetapi sorot matanya mengatakan hal berbeda. “Aku tidak suka dengan Amanda.”


“Kau pikir aku bodoh?! Lalu kenapa kau setakut itu jika Amanda berpikir buruk tentangmu?”


“Itu karena ... sebagai laki-laki yang memiliki image baik, aku harus mempertahankan itu, kan?”


Jawaban macam apa itu? Ken bahkan mengumpati dirinya sendiri.


Dika tersenyum sarkas. “Apa Amanda tahu tentang perasaanmu? Atau jangan-jangan ini cinta sepihak?”

__ADS_1


Ken diam. Dia juga belum tahu pasti apakah dia benar-benar jatuh hati pada Amanda atau hanya sekadar perasaan kagum semata. Terlebih lagi, sepertinya Amanda tidak tertarik padanya. Dia masih terlalu kecil, nampaknya Amanda belum ingin mengenal urusan cinta.


“Aih, kau bahkan tidak tahu apakah dia juga punya perasaan atau tidak? Sudahlah, ayo kita keluar.”


Ken mengangguk.


Baru saja Dika dan Ken hendak keluar, tangan Dika bahkan sudah berada di atas gagang pintu. Dia urungkan karena terdengar suara Kinara yang berteriak.


“Mandaaaa, kau di toilet bertapa atau bagaimana? Lama sekali!" Itu suara Kinara. Dia berteriak dari balik pintu kamar mandi.


“Sebentar lagi, Kak. Lagi tanggung ini, sekalian mandi.” Dan itu suara Amanda.


“Dari tadi bilangnya sebentar-sebentar terus, tapi sudah 0 menit kau di dalam, kena varises baru tahu rasa.”


“Kakak mau apa, sih?”


Seketika Dika menutupi kedua telinga Ken dengan kedua telapak tangannya. Jangan sampai Ken mendengar urusan pribadi Kinara, hanya dia yang berhak. Itu hanya miliknya. Ken nampak mengerucutkan bibirnya, dia juga ingin tahu apa yang dilakukan Amanda di dalam toilet. Pikiran dua orang ini benar-benar perlu dibersihkan.


Anda benar-benar manusia egois yang posesif, Tuan Muda, batin Ken.


Rumah Mirna memang tidak terlalu besar, bahkan terkesan kecil jika dibandingkan dengan ruang tamu di mansion Dika. Di rumah itu hanya ada satu kamar mandi, artinya jika ingin mandi ya harus bergantian.


Kebetulan kamar tamu yang Dika tempati dan dapur yang terhubung dengan kamar mandi jaraknya tidak terlalu jauh. Jadi ketika Kinara dan Amanda saling berteriak, Dika bisa mendengarnya dengan jelas.


Setelah tidak terdengar lagi suara keributan Dika dan Ken memutuskan untuk keluar. Begitu keluar pintu, Ken langsung berpapasan dengan Amanda yang masih mengenakan piyama panjang dengan kerudung instans yang miring-miring tidak jelas.


Dada Ken berdesir, dia tidak berkedip, bahkan tanpa sadar membuka mulutnya karena perasaan kagum. Sejak kapan Amanda berhijab? Kenapa dia terlihat semakin cantik? Ah, rasanya Ken ingin membungkus Amanda dan membawanya pulang ke rumah orang tuanya.


“Arrrggghh ...!" teriaknya begitu melihat Ken.


“Me ... mereka kenapa ada di sini, Bu? Ah, maaf maksudku kenapa Mas Dika dan Mas Ken ada di sini?”


“Aduh, Manda, Ibu kira ada apa. Tadi malam Masmu itu datang, tadinya Ibu mau bangunin kamu tapi kamu sudah tidur lelap. Padahal sudah ada yang kangen singkong goreng buatanmu, loh.” Mirna melengos kembali ke dapur untuk bergulat dengan beberapa menu yang belum matang.


Dahi Amanda berkerut. “Singkong goreng? Siapa, Bu?”


Tidak ada jawaban dari Mirna, tetapi Ken malah bertingkah aneh. Dia tersipu malu berdiri di belakang Dika. Tanpa polesan apa pun, wajah alami Amanda bisa membangkitkan jiwa lelaki yang ada di dalam diri Ken.


Ini jelas cinta sepihak, Amanda bahkan tidak tahu jika Ken begitu menggilai singkong goreng buatannya, batin Dika menarik kesimpulan.


***


“Mas Dika ke sini buat nyusul Kak Kinar, ya?” tanya Amanda yang dijawab anggukan kepala oleh Dika.


Ketiganya sudah duduk di ruang tamu.


“Tapi Kak Kinar kok tidak cerita apa-apa, yah? Maksud Manda, tidak cerita kalau Mas Dika datang.”


“Kan Mas datangnya malam. Kak Kinar ‘kan sudah tidur.”


“Loh memangnya kenapa kalau Kak Kinar sudah tidur? Kalian ‘kan tidur satu kamar.”


Deg ...!


Kalimat yang diucapkan Amanda ini seperti buah simalakama untuk Dika, dijawab takut salah, tidak dijawab juga takut membuat Amanda curiga. Bagaimana dia harus menjelaskan kondisinya dengan Kinara. Menjelaskan tentang perceraiannya dengan Kinara pada Amanda, sepertinya bukan solusi yang baik. Namun, diam juga tidak akan menyelesaikan masalah.

__ADS_1


“Sebenarnya Mas dan Kak Kinar sudah bercerai, Manda.” Dengan berat hati kalimat itu lolos juga dari mulut Dika.


“Apa?! Cerai? Bagaimana bisa?” Amanda sampai berteriak karena terkejut. “Kak Kinar buat salah, yah?”


“Kenapa Manda bertanya seperti itu?”


“Soalnya Kak Kinar tuh keras kepala, dari dulu. Lagi pula laki-laki pilihan Bapak pasti laki-laki yang baik. Mas Dika ‘kan suami yang langsung dipilihkan oleh Bapak.”


Mendengar kalimat Amanda Dika hanya bisa menundukan kepalanya. Aku tidak sebaik itu, Amanda.


“Bukan Kak Kinar yang salah, tapi Mas yang salah.”


“Memangnya Mas salah apa?”


“Mas tidak bisa menjelaskan semuanya, intinya Mas sudah menyakiti hati Kak Kinar. Manda hanya perlu tahu jika Mas yang salah.” Suara Dika terdengar serak. Kedua jemarinya saling meremas.


“Lalu kenapa Mas datang? Kalian sudah cerai ‘kan?”


“Mas ingin memperbaiki semuanya, Manda. Mulai dari awal lagi. Mas ingin membahagiakan Kakakmu. Mas masih sangat mencintai Kak Kinar.”


“Kak Kinar sendiri bagaiamna?”


Dika tersenyum getir. “Sayangnya Kak Kinar benci sama Mas. Mas tidak tahu apakah masih bisa mendapatkan hati Kakakmu lagi atau tidak.”


“Mas Dika percaya ‘kan kalau hati manusia itu ada dalam genggam Tuhan?”


Dka mengangguk. “Iya Mas percaya.”


Tidak ada yang perlu diragukan dari Dzat Yang Maha membolak balikan hati manusia.


“Kalau Mas mau Kak Kinar kembali ke sisi Mas Dika. Mas hanya perlu melakukan satu hal.”


“Apa?”


“Mas harus merayu Tuhan. Biar Tuhan sendiri yang memberikan hati kak Kinar untuk Mas Dika.”


“Caranya?”


Amanda nampak mengerutkan keningnya. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa dia yang masih kecil justru menasihati orang dewasa.


“Caranya bagaimana?”


Amanda tersenyum lebar. “Tikung sepertiga malam, lah.” Amanda bangun dari kursi. Kerutan di kening Dika nampak semakin rapat. “Shalat tahajud, Mas. Minta sama Allah agar hati Kak Kinar tersentuh dan mau menerima Mas Dika lagi. Insya Allah berhasil.” Amanda berjalan meninggalkan Dika yang sedang termenung, Ken juga di sana. Kagum bukan main dengan Amanda. “Loh Kakak, sejak kapan Kakak berdiri di sini?”


Dika bangun dan mendekati Kinara yang ternyata sudah berdiri di balik gorden, mendengarkan percakapan Amanda dan Dika.


“Kinara ... aku ...,”


Bersambung....


.


.


Saatnya bayar emak pake jempol kalian. Jangan lupa klik Like, Komentar yang baik, sama VOTE nya yang banyak. Yang punya koin lebihan bisalah bagi emak, yang belum klik favorit. Bisa klik tanda love itu loh, biar kalau novel ini up kalian dapat notif.

__ADS_1


__ADS_2