Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Pasar Malam


__ADS_3

Malam ini langit terlihat sangat cerah, terhampar luas dihiasi gugusan bintang dan bulan yang membulat nyaris sempurna. Angin yang berembus juga tidak terlalu kencang, sepertinya malam ini tidak akan turun hujan. Percakapan barusan nyaris saja membuat Kinara mengorek luka di hatinya. Beruntung Dika mengerti dan memilih diam, Kinara pun tidak melanjutkan kalimatnya.


Sepanjang perjalanan Dika selalu tersenyum, sejak tadi Dika tak henti-hentinya menatap wajah cantik Kinara sembari mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa dirinya masih diberi kesempatan untuk merebut kembali hati Kinara. Meski dengan perjuangan yang cukup berat.


Apa aku bisa menyebut ini kencan kedua kita? Alangkah lebih baik jika aku bisa menggandeng tanganmu, menyembunyikan tubuh kecilmu di lenganku. Kinara, lupakan masa lalu kita. Berikan aku kesempatan untuk menata kembali masa depan denganmu dan putra kita. Kau harus percaya bahwa aku sangat mencintaimu, sungguh, batin Dika.


Saat ini Kinara dan Dika sedang jalan beriringin. Sementara Ken dan Amanda berjalan di belakang, mengekor. Nampaknya Ken sedang kelimpungan dengan tingkah Amanda. Semua orang tak lepas dari sapaannya. Bahkan anak kecil yang berlarian saja memanggil namanya. Sepertinya Amanda cukup terkenal dengan keramahannya.


“Amanda, Loh ini siapa?” tanya seorang tetangga yang sedang menggendong cucunya.


Ken hanya tersenyum tipis, biar Amanda saja yang menjawab. Pikirnya. Dia penasaran Amanda akan memperkenalkan dirinya sebagai apa. Belum juga dikenalkan, tetapi jantung Ken sudah berdegup kencang. Kira-kira Amanda bilang apa, yah? Duh kenapa jadi deg-degan begini, batin Ken.


“Oh, ini pembantunya Mas Dika, Bu. Suaminya Kak Kinar.” Amanda tersenyum sembari menunjuk Ken.


Hahaha ... pem-ban-tu? batin Ken.


Seperti ada guyuran semen yang menimpa tubuhnya, Ken hanya bisa diam dengan mulut terbuka lebar. Tunggu, boleh aku menolak itu? Aku lulusan terbaik kampusku, aku juga satu-satunya orang yang terpilih menjadi Asisten pribadi kakak iparmu, mengalahkan ribuan orang lainnya. Dan sekarang kau bilang aku pe-m-ban-tu? Hahaha ... yang benar saja


“Owalaaah, pembantunya aja ganteng begini, yah? Orang kaya memang beda, nyari pembantu aja mesti ganteng dan cantik.” Tetangga itu tertawa sembari menimang-nimang cucunya.


Sementara Ken hanya tersenyum lebar dengan tatapan tidak percaya. Kenapa dirinya harus disamakan dengan pembantu? Kenapa aku diam saja? Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun? Kenapa?


“Kenapa kamu bilang Mas adalah pembantu?” tanya Ken begitu keduanya sudah jauh dari ibu-ibu tadi.


Bukannya menjawab Amanda justru balik bertanya. “Mas Ken marah?”


Ken langsung menggelengkan kepala. “Tidak, Mas hanya penasaran. Kenapa kau tidak bilang jika mas adalah asisten pribadi Mas Dika?”


“Habis mau bagaimana lagi, Mas. Aku jawab Asisten pribadi pun mereka akan bertanya lagi apa itu asisten pribadi. Terus aku harus menjelaskan panjang kali lebar untuk mendefinisikan makna dari Asisten pribadi? Apa setelah itu masalahnya akan beres?”


Kening Ken berkerut.


“Tidak sesederhana itu, Mas. Pada akhirnya mereka tetap menarik kesimpulan sendiri dan akan bilang seperti ini ‘Aduh, kenapa dijelasin panjang lebar begitu. Bilang saja pembantu, kok ya muter-muter’. Nah kan, apa kita tidak terkesan sombong?” Amanda tersenyum sembari memperagakan reaksi ibu-ibu tadi. “Bakat dan kemampuan seseorang tidak akan hilang sekalipun orang itu tidak mengakuinya. Tawadhu itu perlu, Mas.”


Deg ...! Ken memalingkan wajahnya. Jangan sampai Amanda melihat senyumnya yang lebar dengan tatapan mata berbinar-binar. Harga dirinya sebagai laki-laki yang tidak pernah jatuh cinta bisa jatuh sampai ke dasar.

__ADS_1


Apa di tubuh kecilmu itu terdapat otak orang dewasa? Mungkin kau terlalu lama dikarbit sampai matang begitu, batin Ken gemas.


“Mas setuju ‘kan dengan penjelasanku?”


Ken hanya manggut-manggut. Tentu saja aku setuju, sangat setuju.


***


Setelah cukup lama keduanya berjalan, sampailah mereka di pasar malam. Hal pertama yang menarik perhatian Kinara adalah tempat duduk, dia ingin segera duduk. Namun, sangat disayangkan tidak ada tempat duduk yang dia jumpai. Sebelum hamil Kinara tidak pernah merasa selelah itu, dia bahkan bisa menempuh jarak yang lebih jauh dari pasar malam, dan dia baik-baik saja. Namun, sekarang tubuhnya mudah lelah. Saat ini dia perlu istirahat.


“Apa tidak ada tempat duduk?” Dika mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia tahu apa yang dirasakan Kinara.


“Tidak ada, kalau mau duduk kita harus pesan makanan. Ada mushola, tapi jaraknya lumayan jauh. A-aku sudah tidak kuat jalan.” Napas Kinara terdengar sedikit memburu.


Dika melambaikan tangan, Ken dan Amanda mendekat. “Kenapa, Mas?” tanya Amanda.


“Kalian mau makan tidak? Kinara kelelahan, dia harus istirahat.”


Amanda dan Ken saling tatap. Sebelum berangkat mereka sempat makan gorengan pisang dan singkong buatan Amanda, rasanya tidak sanggup jika makan-makanan berat. Tampungan perut mereka tidak sebesar itu.


“Ah, aku lelah.” Kinara berjongkok.


“Diamlah, jangan banyak bergerak. Kau bisa jatuh.” Dika langsung masuk ke dalam warung bakso sembari menggendong Kinara. Mendudukan tubuhnya dengan sangat hati-hati. Beberapa pasang mata mulai menatap mereka.


“Loh, Nak Kinara kenapa?” tanya seorang tetangga yang kebetulan sedang makan bakso.


“Kelelahan, Bu. Mungkin karena sedang hamil, jadi mudah lelah.” Amanda menimpali.


“Lah iya. Kenapa tidak pakai motor saja, kalau jalan kaki ya pasti cape. Jangan disamakan dengan sebelum hamil dulu. Sekarang kan ada yang digondol, jadi pasti cepat lelah,” kata ibu itu.


“Iya, Bu. Baru jalan segitu saja napasku sudah engap.” Kinara tertawa ringan.


“Beruntung suaminya pengertian, jarang-jarang loh ada suami yang pengertian begitu. Tanpa diminta langsung gendong. Yang seperti itu mah jangan sampai lepas Nak Kinar.”


Dika hanya tersenyum. Tidak tahu harus menanggapi apa, sementara Kinara hanya menganggukan kepala.

__ADS_1


Kinara nampak memijat betis kakinya.


“Sini, biar aku bantu.” Dika langsung berjongkok di depan Kinara, meraih kaki Kinara dan memijatnya pelan. “Sepatumu kekecilan, yah?” Melepas sepatu Kinara.


“Ini sudah sepatu paling besar yang aku punya. Yang lainnya sudah tidak muat.”


“Pakai sandal saja, yah? Biar lebih enak.” Beralih memijat telapak kaki Kinara.


Kinara mengangguk. Dika langsung melirik Ken. Ken mengerti dan menganggukan kapala, dia bergegas keluar untuk membeli sandal. Beruntung Ken ingat ukuran kaki Kinara, jadi dia hanya perlu membeli ukuran yang lebih besar.


“Amanda, kau mau makan bakso?” tanya Dika. Amanda sudah duduk di samping Kinara.


“Aku masih kenyang, Mas.” Amanda merasa tidak enak hati, mereka sudah berhenti dan duduk di tukang bakso. Masa iya tidak memesan bakso, tapi jika dipaksakan untuk makan yang ada perut mereka akan sakit. Dengan berat hati Amanda menggelengkan kepala.


Dika berjalan mendekati tetangga Kinara. “Bu, Ibu ke sini sama siapa?”


“Sama dua cucu saya, Nak.” Menunjuk dua anak kecil yang sedang asik makan bakso. “Kenapa?”


Dika tersenyum. “Apa tidak keberatan jika saya yang bayar semua pesanan baksonya? Sebelum berangkat ke sini kami semua sudah makan, tapi istri saya kelelahan jadi kami butuh tempat duduk. Dan tukang bakso inilah yang paling dekat. Saya tidak enak karena tidak pesan makanan.”


“Owalaaah.” Menepuk keras lengan Dika sembari tertawa.“Iya tentu Ibu tidak keberatan. Siapa juga yang mau nolak rejeki. Ibu malah seneng.”


Syukurlah, Dika nampak mengembuskan napas lega.


“Anu, boleh sekalian dibungkus? Buat Bapak di rumah,” tanya ibu itu dengan senyum malu-malu.


“Tentu saja, sekalian buat tetangga juga boleh, Bu.”


“Eaaaalaah, Nak Kinar ini beruntung sekali, loh. Suaminya dermawan.” Ibu itu mengacungkan dua jempol sembari mengedip-ngedipkan mata. Dika hanya menggaruk kepalanya.


Setelah berdiskusi dengan pemilik warung bakso akhirnya mereka bisa duduk meskipun tidak memesan makanan. Dika bahkan membayar beberapa orang lain yang juga ada di warung bakso. Apa pun akan dia lakukan demi melindungi Kinara.


Bersambung....


.

__ADS_1


.


Ingat yah, jangan jadi tim hore doang. Cuma baca tapi males LIKE, KOMEN, DAN VOTE. Kalian baca cerita Cuma bayar pake jempol kok.


__ADS_2