
Kinar menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Belum sempat dirinya mengatur tarikan napas, Dika sudah menyambar tanpa basa-basi. “Ada apa?”
Selain arogan, laki-laki ini juga tidak sabaran. Apa tidak bisa membiarkan aku duduk lebih nyaman barang sebentar. Kinar menggerutu, tentu saja hanya dilakukannya di dalam hati.
“Sebenarnya apa tujuanmu memasukkan aku di kampus Royal, Dika? Bukankah itu kampus bergengsi yang dihuni anak-anak orang kaya, selebriti, anak pejabat, dan pewaris perusahaan?” Kinar melepas tas yang melingkar di pundaknya, meletakkannya di atas sofa di samping tubuhnya.
“Benar, itu adalah kampus termewah dan paling bergengsi di Negara ini. Aku tidak sejahat itu, Kinar. Aku memasukkanmu ke kampus itu bukan tanpa alasan. Setidaknya setelah lulus kuliah ada banyak perusahaan yang akan melirikmu untuk bergabung dengan mereka. Bukankah ini kebaikan hatiku yang harus kau syukuri, Kinar?” Dika menyeringai.
Kebaikkan hati apanya? Kau jelas memiliki niat terselubung, Dika. Kinar membatin.
“Kebaikan hati? Entahlah, apa aku harus bersyukur atas kebaikan hatimu atau justru merasa terhina karena ada alasan lain dari niat baikmu.” Kinar bersungut.
“Apa maksudmu, Kinar?!” Dika mulai berteriak.
“Kau memasukan aku ke kampus bergengsi dengan status beasiswa, bukan?” Kinar terpancing, dia ikut menaikkan volume suaranya.
“Benar, lalu apa masalahnya? Apa kau berharap aku mendaftarkanmu sebagai Nyonya muda keluarga Mahendra, begitu?” Dika menatap sinis.
Kinar mendengus. “Justru menjadi sebuah petaka jika kau mendaftarkan aku di kampus itu sebagai Nyonya muda keluargamu. Aku bahkan tidak pernah bermimpi, apa lagi sampai mengharapkannya. Yang aku persoalkan di sini adalah, aku yang hanya seorang mahasiswi yang mendapatkan beasiswa bagaimana mungkin diriku yang miskin ini bisa pulang pergi dengan mobil mewahmu itu? Apa kau pikir aku ini bodoh, Dika?”
__ADS_1
Dika tertawa. “Jadi ke mana arah pembicaraan kita, Kinar?”
Kinar menguatkan hatinya, membulatkan tekadnya untuk menyuarakan pendapat yang menurutnya adalah sebuah kebenaran. “Bukankah tujuan utama memasukkan aku di kampus itu hanya untuk membuka mataku lebar-lebar, memaksa diriku ini untuk melihat bahwa aku tidak sepadan denganmu, begitu? Kau pikir aku tidak bisa melihat niat burukmu? Seorang gadis desa yang menimba ilmu di kampus elit karena keberuntungan hidup sehingga bisa mendapatkan beasiswa. Tetapi pulang dan pergi dengan mobil mewah ditambah dengan seorang supir pribadi. Apakah ini masuk akal? Bukankah hal ini merupakan sesuatu yang patut dipertanyakan? Mereka akan menarik kesimpulan jika aku adalah istri simpanan pengusaha kaya raya, atau bahkan lebih buruk dari itu, aku adalah peliharan om-om misalnya. Benar bukan, Dika Mahendra?” Kinar menjatuhkan tatapan tajam ke arah Dika.
Prok..prok..prok.. hahaha..
Dika bertepuk tangan diiringi tawa yang menggema di ruangan itu. “Kau benar-benar pintar, Kinara Amalia. Aku cukup kagum dengan keberanian dan kepintaran yang kau miliki, lalu menurutmu apa tujuanku yang sebenarnya?”
Kinar menelan ludah. “Kau ingin memperlihatkan padaku di mana posisiku yang sebenarnya, di mana statusku yang sesungguhnya, kau hanya ingin membuat aku mengerti jika perbedaan kasta di antara kita adalah sebuah tebing tinggi yang tidak bisa aku daki meski aku berada di sekitar tebing itu. Benar bukan, Dika?” Kinar menghela napas, berat.
“Hahaha.. Kau benar sekali, Kinara.” Dika kembali tertawa.
“Apa?” Dika bertanya dengan ekspresi wajah tak terbaca.
Kinar tersenyum, inilah saatnya aku menyerang balik, pikirnya. “Semakin aku menjadi pusat perhatian, maka akan semakin banyak orang yang ingin mengetahui kehidupan pribadiku lebih jelas lagi. Dan konsekuensi terberatnya adalah, orang-orang itu akan mencari tahu milik siapa mobil mewah yang mengantar dan menjemput diriku yang miskin ini...”
“Kau...” Dika memotong kalimat yang sedang diucapkan Kinar, namun kalah cepat dari mulut Kinar yang seperti petir, terus menyambar apa pun yang ada di depannya.
“Aku tahu kau memiliki kekuasaan yang cukup untuk membungkam mulut orang-orang yang ingin mengorek informasi tentang hubungan kita, tetapi sampai kapan kau akan menyimpan bangkai di dalam rumahmu? Pada akhirnya bau busuk akan tercium, dan ketika orang-orang mulai mengetahui tentang hubungan kita. Maka pihak yang amat sangat dirugikan adalah dirimu.” Kinar menegaskan kalimat ‘amat sangat’ seolah memberi peringatan untuk Dika.
__ADS_1
Dika terdiam, mencoba mencerna semua kalimat yang diucapkan Kinara. Hampir 80 % kalimat yang diucapkan Kinar ada benarnya.
“Kau mau tahu, Dika? Ada akibat yang lebih buruk dari teman-teman kampusku yang akan mengetahui hubungan kita, yaitu kekasihmu, si pemain piano itu akan mengetahui bahwa lelaki yang dicintainya sudah beristri. Bukankah dia akan merasa sangat terpukul ketika mengetahui hal ini?” Kinar tersenyum sinis.
“Kinara, cukup!! Jangan menguji kesabaranku.” Suara Dika melengking, meski sebentar Kinar merasa nyalinya menciut.
“Jadi hanya kau yang boleh menguji kesabaranku? Sementara aku tidak boleh menguji kesabaranmu, begitu? Hahahaha.. Aku baru pertama kali bertemu dengan laki-laki se-apatis dirimu, Dika.” Kinar tertawa terbahak.
Dika menghela napas panjang, setiap kali berdebat dengan Kinar emosinya selalu meluap-luap. “Jangan menciptakan scandal di antara kita, Kinara.”
Kinar melongo mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Dika. “Scandal? Kau bilang apa tadi? Scandal? Waaah.. kau benar-benar luar biasa, Dika.” Kinar melenguh panjang. “Tidak ada scandal di antara kita, Dika. Pernikahan kita sah di mata negara dan agama, tidak ada scandal untuk hubungan yang begitu suci. Kau hanya sedang menodai kesucian hubungan kita dengan egomu, perlu kau tahu, Dika. Aku tidak pernah berharap bisa menjadi istrimu, menikah dengan laki-laki sepertimu rasanya di dalam mimpi sekali pun aku tidak mau! Tetapi sebagai manusia yang berada dalam genggaman tangan Tuhan, tidak ada yang bisa aku lakukan selain pasrah menerima takdir yang sudah di gariskan Tuhan.”
Kinar terisak, hancur sudah pertahanan yang sudah dibangun olehnya. “Apa kau pikir aku yang mengatur pertemuan Ayahku dan Ayahmu? Lalu mereka bersahabat, sampai kesepakatan perjodohan terjadi di antara mereka. Atau aku yang bersalah karena menjadi putri ayahku yang harus menjalankan amanat terakhirnya dan menikah denganmu? Kau pikir pertemuan kita adalah salahku? Mungkin satu-satunya yang bersalah di sini adalah takdir, takdir yang begitu kejam mempertemukan aku dengan manusia berhati batu seperti dirimu.” Kinar menyapu bersih air mata yang mengalir tanpa ampun.
Dika terdiam, merasa bersalah karena harus berlaku sedemikian kejam.
\=\=\=>Bersambung 💕💕
🌹Jangan lupa klik Like 🖒 Klik Favorit ❤ Tinggalkan Komentar 💬 Beri Rate Bintang5, Dan beri Vote sebanyak2nya. Makasih 😍🤗
__ADS_1