
Cih, apa yang baru saja aku katakan? batin Dika.
Deg ....
Kinara menutup mulutnya, mendengar kalimat yang diucapkan Dika tentu saja seperti Dika sedang menyayat-nyayat tubuhnya dengan sebilah pedang.
Kenapa kau harus menyiksaku perlahan-lahan, Dika? Tidak kau bunuh saja aku supaya puas, kau pikir aku piala bergilir? Bisa kau lempar ke mana saja sesuka hatimu, batin Kinara.
Kinara semakin terisak, dia tidak kuat lagi untuk menahannya. Bibirnya keluh, bahunya mulai berguncang, dan tubuhnya bergetar hebat.
Sementara Ken hanya bisa menahan napas sembari memijat tengkuk lehernya. Baiklah, tidak masalah jika dia terlibat dalam sebuah drama tragis antara Dika dan Kinara. Namun apakah harus sejauh itu keterlibatannya?
Apakah sampai harus menjadi kekasih dari istri tuannya sendiri? Sungguh Ken tidak mengerti, apa yang sebenarnya ingin Tuhan tunjukan dengan drama semacam ini?
Berat sekali menjadi dirimu, Nyonya. Sungguh kau wanita luar biasa yang pernah aku temui sepanjang hidupku, batin Ken.
“Ken?” Carissa menunjuk Ken dan Dika mengangguk untuk memastikan. “Kau jahat sekali, Ken. Kau bahkan tidak mengakui Kinara sebagai kekasihmu ketika kita bertemu di minimarket.” Carissa memukul lengan Ken.
Jadi Kinara sudah bertemu dengan Carissa di manimarket? Kenapa dia tidak menceritakannya padaku? Untunglah, sepertinya Kinara tidak mengatakan tentang statusnya, batin Dika.
“Lalu kenapa sekarang Kinara menangis? Apa yang kau lakukan padanya, Ken?” Carissa meraih tubuh Kinara dan memeluknya erat, tangannya membelai lembut punggung Kinara. “Sabar, Kinara. Aku akan bicara dengan Ken.” Tangannya berpindah mengelus kepala Kinara.
Hal ini membuat Kinara semakin terisak dalam pelukan Carissa. Hatinya sakit tak terperih, akan lebih baik jika Carissa adalah wanita jahat, dia bisa berterus terang jika dirinya adalah istri sah kekasihnya.
Lalu sekarang Kinara harus bagaimana? Hati Carissa juga sama baiknya dengan Kinara, sama lembutnya seperti Kinara. Bukankah dalam hal ini Dika adalah manusia paling egois? pikir Kinara.
“Aku ....” Ken menarik napas panjang dan mengembuskan kasar.
Aku harus bagaimana, Tuhan? Apa yang harus aku katakan? batin Ken.
“Aku apa, Ken? Kau ini kenapa jahat sekali," kata Carissa yang membuat Ken semakin menundukan kepalanya.
"Apa kau tidak bisa belajar dari Dika, lihatlah Dika tetap setia menungguku bertahun-tahun lamanya. Tidak pernah berpaling, padahal di luar sana ada banyak wanita yang mengejar dan jatuh hati padanya.”
Lucu sekali. Benar, dia memang setia padamu, Carissa. Karena terlalu setia dia sampai menyingkirkan aku sekejam ini. Tidak, kau tidak bersalah. Aku yang merebutnya darimu, batin Kinara.
“Aku ....” Ken menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal. Sudut matanya terangkat mencuri pandang untuk melihat Dika, Ken berharap Dika bisa membantunya.
Namun Dika justru membulatkan matanya, memberi isyarat agar Ken segera mencari solusi dan mengakhiri situasi yang tidak menguntungkan ini.
“Apa sih, Ken? Kau lihat ke mana? Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Carissa.
"Sebenarnya ... aku ...." Ken memijat pangkal hidungnya.
"Kenapa dari tadi aku ... aku ... aku kenapa?" Carissa menghentakan kakinya ke atas lantai. "Apa kau sedang menguji sampai di mana batas kesabaranku, Ken?" Carissa mendengus kesal mendengar ucapan Ken yang terputus-putus.
“Kau juga kenapa diam saja, bukankah tadi kau yang sedang bersama Kinara? Kinara menangis ketika bersamamu, 'kan?” Carissa mencubit lengan Dika. “Kenapa kau diam saja, seharusnya kau menenangkan dia. Tapi kenapa Kinara menangis ketika bicara denganmu, sayang?”
“Itu karena, yah aku sudah melarangnya untuk menemui Ken tapi dia tetap memaksa sampai menangis seperti itu. Jadi ada sedikit pertengkaran di antara kita, perangainya memang tidak bagus Carissa, dia suka marah-marah tidak jelas,” kata Dika.
Perangaiku atau perangaimu yang bururk, Dika? Jadi kau mau melakukan permainan lempar batu sembunyi tangan? Baiklah, batin Kinara.
Kinara melepaskan pelukan Carissa. Dia mengusap kasar air mata yang masih menggenang di kedua matanya. Pandangannya jatuh sejurus manik hitam milik Ken.
Kinara menarik napas pendek lalu mengangguk pelan. Cukup, Ken mengerti isyarat itu. Bukankah artinya Kinara setuju dengan apa pun yang akan di katakan oleh Ken.
“Aku minta maaf, Ki ... Kinara,” ucap Ken terbata dengan suara sedikit bergetar. Dia tidak terbiasa dan tidak akan pernah terbiasa menyebut nama Kinara tanpa menambahakn kata Nyonya di depannya.
__ADS_1
Akhirnya ketakutan Ken terjadi. Mau tidak mau dirinya harus terlibat dengan permainan ini, permainan yang entah sampai kapan akan berakhir.
“Kau tahu aku sudah tidak mencintaimu lagi.” Ken berjalan mendekati Kinara. “Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, sudah tidak ada lagi perasaan cinta di hatiku untukmu, Kinara.” Ken mengusap kasar wajahnya. Untuk bagian itu Ken tidak sedang berakting. Dia sungguh-sungguh merasa bersalah karena ikut dalam kebohongan ini.
Permainan yang Dika mulai hanya akan menyakiti Kinara.
Bukan tanpa alasan Ken melakukannya, dengan begini Ken tidak harus selalu berada di sisi Kinara karena hubungan mereka sebagai kekasih palsu sudah berakhir.
Hanya ini satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya, Ken tidak tahu apakah Kinara akan setuju atau tidak. Dan untuk Dika, dia tidak peduli apakah Dika setuju atau tidak dengan tindakannya.
Sungguh Ken tidak mengerti kenapa Dika harus sekejam itu kepada Kinara, istri sah yang dia nikahi secara baik-baik. Haruskah diperlakukan sedemikian rupa?
“Keeen!” Carissa maninggikan suaranya. “Kau jangan keterlaluan, Ken. Semua masalah ada jalan keluarnya, kau tidak harus sekejam ini, ‘kan?”
“Aku minta maaf, Nona. Tapi di antara aku dan Kinara memang tidak bisa diperbaiki lagi, sudah tidak bisa lagi. Tidak ada yang perlu dipertahankan lagi." Ken menundukan kepalanya. Semoga ini yang terbaik, harapan Ken menggantung tinggi semoga Kinara kuat dan bisa mengerti tindakannya.
“Aku tidak mau tahu, sekarang kalian selesaikan dulu dengan baik-baik. Bicara dari hati ke hati 'kan bisa.” Carissa menarik pergelangan tangan Kinara dan menatap dalam wajahnya.
“Apa kau gila, Ken? Wanita secantik Kinara mau kau sia-siakan begitu saja? Kau cari di mana lagi wanita sebaik dirinya?” Carissa meletakan kedua ibu jarinya di pipi Kinara dan mengusap lembut sisa air mata di wajah Kinara.
“Terima kasih, Carissa. Kau juga wanita yang sangat luar biasa, tetapi perlu kau tahu." Kinara menarik napas dalam.
"Sebuah hubungan yang sudah hancur pada dasarnya memang tidak bisa diperbaiki lagi, hancur ya hancur saja. Tidak perlu bersusah payah untuk memperbaikinya.” Kinara melirik Dika, yang dilirik hanya menundukan kepalanya. Entah karena merasa bersalah atau karena takut kebohongannya akan terbongkar.
Jika sampai kebohongan ini terbongkar, maka semuanya akan berantakan. Dialah yang paling di rugikan. pikirnya.
Tidak! Kenyataannya dalam hal ini justru Kinara dan Carissa lah yang paling dirugikan.
“Omong kosong! Selalu ada kesempatan kedua, Kinara,” ucap Carissa yakin.
“Bisa ... pasti bisa jika kalian berdua mau berusaha,” desisnya.
“Mungkin masih bisa diperbaiki, tetapi tetap saja cacat dan meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang untuk selamanya.” Kinara memutar tubuhnya mendekati Ken, kali ini posisi Kinara dan Dika saling berhadapan. “Begitu pula dengan sebuah hubungan, sekali hubungan itu rusak. Selamanya akan tetap rusak.”
“Kau tidak boleh menyerah, Kinara. Ken pasti bisa mencintaimu lagi,” ucap Carissa.
“Sepertinya kau masih belum mengerti, Carissa. Kau tahu jika sebuah hubungan itu seperti sebuah gelas kaca, jika awalnya gelas kaca itu terisi penuh dengan perasaan cinta lalu gelas kaca itu jatuh sampai hancur dan isi di dalamnya hilang tak berjejak. Menurutmu apa yang perlu dipertahankan lagi? Tidak ada, carissa. Tidak ada.” Kinara menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak menyerah, Carissa. Aku hanya mencoba melihat kenyataan, menutup mata dan berpura-pura kuat itu ternyata sangat menyakitkan.”
Kinara memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Dika. Dia memegang pundak Dika sembari berseru, "Semoga hubunganmu dan Dika tidak seperti hubunganku dan Ken. Semoga kalian bisa saling menghargai satu sama lain sebelum salah satu di antara kalian menyesal karena merasa kehilangan."
Deg ....
Dika terkejut, kalimat yang Kinara ucapkan lebih seperti peringatan untuknya.
"Aku pergi dulu, Ken. Semoga kau bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku." Kinara mengayun langkahnya diiringi air mata yang jatuh seperti hujan.
“Kenapa kau jahat sekali, Ken. Sekarang kejar dia.” Carissa memukul lengan Ken. “Kau juga punya ibu ‘kan? Bagaimana jika ibumu yang diperlakukan seperti itu? Aku tidak suka yah dengan kelakuanmu, Ken,” gerutunya.
“Mungkin inilah takdir, nona. Kejam dan menyakitkan.” Ken membungkukan setengah badan dan berlari mengikuti langkah Kinara.
Minimarket.
"Saya tidak bisa membiarkan Nyonya sendirian di sin!" ucap Ken tegas.
Selepas drama menyakitkan itu Kinara meminta Ken untuk mengantarnya ke minimarket.
__ADS_1
Kinara tidak punya tempat lain, hanya ada dua tempat yang mungkin bisa dia datangi minimarket dan rumah Alisa.
Namun tidak mungkin Kinara ke rumah Alisa, dia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk datang ke rumah sahabat baiknya itu. Akhirnya minimarket adalah pilihan terbaik.
"Tidak apa-apa, Ken. Kau pulang saja." Kinara duduk di depan mini market.
"Tidak, Nyonya. Biar saya temani Nyonya, sekalipun saya harus tidur di sini." Ken menunjuk lantai parkiran. "Apa di sini aman?" Ken tertawa kecil.
Sontak pertanyaan bodoh dari Ken itu membuat Kinara ikut tertawa.
"Aku butuh waktu untuk menyendiri, Ken."
"Saya minta maaf, Nyonya. Tapi saya tidak bisa meninggalkan, Nyonya." Ken bersikeras, tindakan tadi saja sudah membuat Ken merasa bersalah. Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan Kinara sendirian.
Hidup Kinara memang seperti sebuah takdir yang memiliki banyak kejutan. Di saat bersamaan laki-laki yang selalu ada ketika Kinara berada dalam kesusahan datang seperti pangeran berkuda putih yang membebaskan sang putri dari tangan iblis.
"Agra?" Kinara bangun dari duduknya diikuti Ken.
Setelah melepas helm Agra segera mendekati Kinara. Ken maju, tetapi Kinara menggeleng. Dengan sangat terpaksa Ken hanya bisa berdiri di samping Kinara.
Agra menatap lekat, menyapukan pandangan matanya pada tubuh Kinara dari atas sampai bawah.
"Apa suamimu menyakiti dirimu lagi, Kinara?!" pertanyaan itu Agra layangkan setelah melihat memar di leher Kinara dan bekas kemerahan di kedua pipi Kinara.
Kinara mengangguk, dia mulai terisak.
"Pulanglah, Ken!" seruan Agra terdengar marah.
Ken terkejut, dari mana Agra tahu namanya. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, Ken hanya tahu tentang Agra dari informasi yang dia cari.
"Tidak bisa! Saya harus melindungi, Nyonya!" Ken menggeram kesal.
"Ini yang kau sebut melindungi? Seperti ini hasilnya, hah?!"
"Ini diluar kemampuanku!"
"Jadi biarkan aku yang melakukannya. Aku yakin kau sudah tahu tentang diriku, jangan membuatku mengatakannya lagi, Kenendra!"
Deg ....
Ken tidak mau mengalah. Dia tetap harus menjaga Kinara. Ken mengepalkan tangannya, sekalipun harus adu otot Ken rela melakukan itu.
"Ken, pulanglah. Ada yang perlu aku bicarakan dengan Agra." Kinara menatap dalam mata Ken, tatapan mata itu seperti sebuah permohonan.
Ken tidak punya pilihan lain, akhirnya dia mengalah dan memberikan waktu untuk Kinara menenangkan diri. Mungkin Agra adalah orang yang tepat untuk berbagi cerita.
"Jika Dika bertanya tentang Kinara, katakan dia aman bersamaku." Agra menekan kuat bahu Ken.
\=\=\=\=> Bersambung....
.
.
.
Semoga tensi darah kalian nggak naik yah 🤣 Besok hari senen loh, pokoknya besok emak harap kalian mau VOTE tanpa emak minta. ok 😍❤️
__ADS_1