
Ken memacu mobil dan meninggalkan Mall itu, kembali menyusuri jalanan, melewati sudut-sudut kota. Berbelok dan melewati jalanan berpohon di kiri dan kanan, tidak ada lagi bangunan tinggi dan mewah yang belum lama Kinar lihat, tidak ada rumah. Hanya ada pepohonan di sepanjang jalan yang ia lewati.
Hutan?
Dari balik kaca depan Ken bisa melihat ekspresi wajah Kinar yang kebingungan. Ken masih fokus menyetir sampai ia berhenti di depan sebuah bangunan megah, sangat megah. Lebih megah dari rumah orang paling kaya di desanya. Pikir Kinar
Tin tin tin !!
Ken membunyikan klakson mobil, nampak dua orang laki-laki berlari tergopoh untuk membuka gerbang yang berukuran sangat besar. Setelah gerbang terbuka, Ken kembali memacu mobilnya dan berhenti tepat di depan sebuah rumah yang begitu besar. Beberapa pelayan sudah berbaris rapi untuk menyambut kedatangan Ken dan Kinar.
“Selamat datang Tuan Ken, selamat datang Nyonya” Sapa para pelayan serentak, terlihat mereka sedikit membungkukkan badan. Kinar merasa canggung, tidak enak hati. Bagaiamana ia tidak enak hati, para pelayan itu memberi hormat sampai harus membungkukkan badan.
“Mari ikuti saya Nyonya” Ken meminta Kinar mengikutinya, sembari menarik koper milik Kinar, sementara Kinar hanya mengekor dari belakang.
Ia terus memperhatikan sekeliling, sesekali mulutnya membentuk huruf o hanya karena melihat sebuah gucci besar, atau vas bunga berukuran besar, pun sekadar melihat lukisan yang berbaris rapi di dinding.
“Silahkan duduk Nyonya, saya akan memberi tahu Tuan kalau Nyonya sudah sampai” Ken meminta Kinar untuk duduk di ruang tamu, sementara Ken meninggalkan Kinar begitu saja.
Ini bukan rumah, ini istana. Sekaya apa orang yang menikahiku? Bahkan ruang tamu ini memiliki ukuran jauh lebih besar dari rumahku.
“Ehem..”
Mendengar suara yang datang dari arah belakang membuat Kinar bangkit dari tempat duduk dan melihat ke arah belakang untuk mencari sumber suara.
Kinar mendapati seorang laki-laki dengan tubuh tinggi, berkulit putih, alisnya tidak tipis juga tidak tebal, terlihat begitu pas di wajahnya, hidungnya mancung, bibirnya sedikit bervolume, sementara rambutnya berwarna hitam mengkilat. Beberap detik Kinar merasa tersihir oleh ketampanan laki-laki itu.
Laki-laki itu mulai menuruni satu persatu anak tangga, pakaian yang ia kenakan terlihat sangat mahal dan berkelas.
Jadi ini alasanmu memintaku memakai gaun yang mahal? Agar terlihat sepadan denganmu? Kau tahu, siput bisa berganti cangkang, tetapi ia tidak bisa mengganti isinya, siput tetap siput, tidak akan berubah menjadi kerang meski harus berganti cangkang ribuan kali.
__ADS_1
Kinar merasa kasihan dengan dirinya sendiri, ia berdiri di depan laki-laki yang arogan dan sombong.
“Siapa namamu?” Ken menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya di atas kursi. Ia tersenyum penuh kesombongan.
Siapa namaku? Kau bertanya siapa namaku? Lelucon macam apa ini? Apa kepalanya terbentur tembok sampai dia lupa siapa namaku?
Mendengar pertanyaan Dika membuat mata Kinar membulat sempurna “Bukankah kau menyebut namaku ketika menikahiku, tidak mungkin kau lupa bukan?” Kinar tersenyum getir
“Ken” Dika menggerakan jari seperti memberi isyarat agar Ken mendekat “Katakan padanya dengan jelas” Dika menaikkan salah satu alisnya.
“Baik Tuan” mendengar namanya di panggil, Ken segera menghampiri Kinar
“Maafkan atas kelancangan saya Nyonya. Tapi Nyonya harus memanggil Tuan dengan sopan, tidak boleh memanggil nama, tidak boleh memanggil istilah, Nyonya hanya boleh memanggil Tuan dengan sebutan Tuan Dika” Sebenarnya Ken tidak sampai hati menyampaikan hal ini pada Kinar, tetapi sekali lagi, ia hanya seorang Asisten dan harus mengikuti perintah tuannya.
Hahahaha.. kinar tak bisa menyembunyikan tawanya. Ia tertawa begitu mendengar penjelasan dari Ken.
Ayah, apa ini laki-laki baik, dan bertaggung jawab seperti yang ayah bilang?
Kinar, menarik nafas panjang. Meremas ujung gaun yang ia kenakan. Kinar berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. seorang gadis yang selalu di manjakan Ayah dan Ibunya, seorang gadis yang hari-harinya selalu di penuhi tawa, kini terdampar di sebuah istana yang mengharuskannya mengikuti perintah sang raja. Bahkan untuk sekadar tertawa sekalipun ia harus meminta ijin dari Dika.
Haaahhh.. “Baiklah” Kinar menarik nafas panjang dan mmebuangnya perlahan, sepersekian detik ia kembali berbicara.
“Baiklah Tuan, lalu peraturan apa saja yang harus saya jalani dan taati?” Kinar mencoba mengalah, mencoba menerima kenyataan hidup yang harus ia jalani.
“Silahkan di lihat Nyonya” Ken menyerahkan selembar kertas berisi beberapa point yang tidak masuk akal. Mata Kinar membulat melihat point-point itu, tangannya bergetar sampai kertas yang ia genggam ikut bergoyang.
“Apa aku boleh mengajukan keberatan dengan peraturan ini?” Kinar meletakkan kertas itu di atas meja, matanya terpaku dengan satu lagi tumpukkan kertas yang entah apa isinya. Dika meraih lembaran kertas itu, melihatnya sejenak lalu tersenyum dan melemparkan kembali kertas itu di depan Kinar. “Tidak boleh. Ini semua syarat yang harus kau penuhi”
Aku ingin sekali mengutukmu. Batin Kinar.
__ADS_1
“Baiklah” Kinar mengangguk, ia sedang berusaha menampilkan bakat berakting yang cukup baik. Ia bangkit dari tempat duduknya.
Dia menerima begitu saja? Hah, aku terlalu tinggi menilai pribadimu. Batin Dika.
“Baiklah Tuan Dika, perkenalkan nama saya Kinara Amalia, Tuan bisa memanggil saya Kinar. Umur saya baru 21 Tahun, dan saya seorang pekerja keras. Tuan bisa meminta saya melakukan apa pun yang Tuan butuhkan” Kinar memperkenalkan diri seperti seorang pelayan yang sedang mengikuti tes interview, ia tersenyum sembari membungkukkan badan.
Hahaha
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Kinar tentu membuat Dika tertawa terbahak-bahak.
Aku penasaran, sekuat apa perempuan yang dibanggakan oleh Ayah. Batin Dika
Dika menggerakan tangan, memberi isyarat agar Kinar kembali duduk. Kinar mengerti, ia merapikan gaun dan kembali duduk.
“Baiklah, selama tinggal di mansion ini kamu harus mematuhi perintahku. Apapun yang aku katakan harus kamu ikuti, aku tidak suka di bantah, aku tidak suka wanita yang banyak bertanya dan merepotkan” Dika tersenyum licik.
Apa kau pikir aku ini boneka? Bisa kau atur semaumu? Batin Kinar.
Dika kembali melanjutkan kalimatnya. “Peraturan yang paling penting adalah, Aku berhak ikut campur semua hal tentang hidupmu dan termasuk urusan pribadimu. Tetapi kau tidak berhak mencampuri hidupku sedikit pun apalagi urusan pribadiku. Mengerti?” Dika tersenyum puas, mendengar kalimat yang di ucapkan Dika membuat mata Kinar kembali membulat.
“Maafkan saya Tuan, tapi bukankah ini terdengar tidak adil? Peraturan yang baru saja Tuan katakan bukankah hanya menguntungkan Tuan dan memberatkan saya!” Kinar sedikit menaikkan volume suaranya.
“hahahaha, memberatkanmu atau tidak itu bukan urusanku. Dan aku tidak suka kau menaikkan volume suaramu ketika berbicara denganku, paham?!” Dika menatap tajam ke arah Kinar diiringi suara yang melengking.
“Hahaha, ijinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada Tuan, apa boleh?” Kinar kembali mengatur tarikan nafasnya.
“Katakan” Dika menjawab dengan singkat.
“Jika Tuan tidak ingin menikah denganku, mengapa dari awal Tuan tidak menolak perjodohan ini? Ini terlihat seperti Tuan terpaksa menikah denganku. Jika pada akhirnya kita hanya saling menyakiti, untuk apa Tuan tetap menerima perjodohan ini dan menikahiku” Kinar meraih gelas berisi air putih yang terletak di atas meja lalu meneguknya perlahan.
__ADS_1
“Hahaha, aku menikahimu karena permintaan Ayahku, jika bukan karena ini permintaan terakhirnya, aku tidak akan mau menikah denganmu. Bukankah kau sendiri terpaksa menikah denganku?” Dika balik bertanya.
\=\=\=\=>Bersambung 💕💕