
Kinara sedang berjalan-jalan kecil di taman belakang. Usia kandungannya sudah mendekati waktu kelahiran. Dia harus sering bergerak. Sesekali pandangan matanya menerawang jauh, mengingat kejadian di toko peralatan bayi beberapa hari lalu.
Setelah kejadian itu Dika mengundang banyak orang dari media massa. Mengumumkan tentang status Kinara sebagai istri sahnya. Tidak ada yang di tutupi, semuanya diceritakan dengan jelas. Asal usul Kinara, siapa ayah dan ibunya, pendidikan, status keluarga. Dika bahkan menunjukan bukti surat nikah mereka dengan percaya diri. Tidak ada keraguan di matanya.
Akhirnya media heboh, berita tentang pernikahan mereka dimuat dalam berbagai berita. Sekarang seluruh dunia tahu tentang status Kinara. Sebagai istri seorang pengusaha kaya raya, Dika Mahendra.
“Sayang.” Sebuah pelukan mendarat di pinggang besar Kinara. Dia sampai terkejut. “Masih belum lelah?” Kepalanya bersandar di pundak Kinara. Mengendus aroma tubuh istrinya yang berkeringat.
“Eh, kau tidak kerja?” memutar tubuhnya. Kini keduanya saling berhadapan. “Mas ‘kan tadi pamit mau ke kantor? Kok balik lagi?”
“Aku takut tiba-tiba kau kontraksi.” Dika meletakan tas kerjanya di kursi taman.
“Loh, kan dokter Amel bilang HPL-nya semingguan lagi.”
“Lalu semalam apa?” Dika memajukan bibirnya. “Aku hampir mati jantungan karena kau mengerang kesakitan.”
“Itu ‘kan hanya kontraksi palsu, Mas. Sudah Mas berangkat ke kantor lagi, yah?” Berusaha membujuk.
“Tidak mau! Pokoknya aku mau diam di rumah saja, menjaga dan mengawasimu jauh lebih penting dari segalanya.”
“Lalu kantor bagaimana?”
“Ada Ken dan karyawan lain. Percuma aku menggaji mereka, jika mengurus perusahaan saja tidak bisa! Kau tidak perlu khawatir soal kantor.”
“Tapi ... Mas ....”
Dika mengendurkan ikatan dasi di lehernya. Dia berjalan menunju kursi panjang dan merebahkan diri di sana. “Kemari.” Menepuk bangku di sebelahnya.
Sembari memegangi perutnya yang semakin membesar Kinara berjalan mendekati Dika.
Sudah duduk di kursi sebelah. “Aku baik-baik saja, Mas. Lagian ada Bibi Ane dan Pak Budi yang selalu memeriksa kondisiku. Kau tidak perlu cemas.” Membelai punggung tangan Dika yang bersandar di lengan kursi.
“Aku tidak mau!” seru Dika sembari memejamkan matanya.
Ok itu keputusan akhir. Dika tidak akan berubah pikiran. Kinara tahu perasaan khawatir yang dirasakan suaminya, karena dia pun merasakan hal yang sama. Menyambut anak pertama itu membuat keduanya berdebar. Sesekali ada perasaan takut dan cemas.
“Baiklah, kau boleh terus mengawasiku.” Kinara mengalah. “Apa aku harus duduk di pangkuanmu?”
Keduanya menoleh dan bersitatap. “Hahaha ....” Tawa keduanya pecah.
“Tunggu. Jari kakimu kenapa?” tanya Dika. Semua hal yang berkaitan dengan Kinara memang membuatnya penasaran. Bahkan soal jari kaki pun dia pertanyakan.
“Apanya yang kenapa, Mas?” Kinara balik bertanya. “Jangan bilang jari kakiku jempol semua?” Menatap tajam.
Dika tertawa. “Bukan begitu, Sayang. Kukumu panjang-panjang begitu.” Dika memajukan tubuhnya, menunduk untuk memeriksa jari kaki Kinara.
“Oh. Memang panjang, Mas. Perutku semakin besar, jadi aku tidak bisa menjangkau kakiku. Mau minta tolong Bibi Ane tidak enak. Kesannya tidak sopan.”
__ADS_1
“Kenapa tidak minta tolong sama Mas?” Gantian Dika yang mendelik tajam.
“Aku lupa.” Tersenyum tanpa dosa.
“Ini bahaya, Sayang. bagaimana jika kau tersandung. Lain kali, jika tidak bisa melakukan sesuatu sendiri kau bisa minta Mas melakukannya.”
“Enthalah. Aku bahkan tidak ingat jika kuku jariku panjang-panjang.” Berusaha mengelak dengan santai. Padahal laki-laki yang duduk di sampingnya cemas bukan main.
“Kau tunggu di sini. Mas mau ambil gunting kuku dulu.” Bangun dari kursi.
“Mas.” Meraih tangan Dika.
“Kenapa?”
“Sekalian bawakan cemilan. Aku lapar.” Tersenyum manja.
Dika membungkukkan tubuhnya. “Iya, Sayang.” Mengelus pipi Kinara sembari mengecup bibirnya dengan mesra.
Beberapa saat kemudian Dika kembali dengan diikuti bibi Ane di belakangnya. Kinara tersenyum tipis, dia tahu jika suaminya akan melakukan hal seperti itu. Sekali pun Kinara minta dibawakan beberapa makanan ringan. Yang datang justru begitu banyak makanan dan minuman.
Setelah meletakan berbagai jenis makanan di meja bibi Ane pamit undur diri. Meja bulat itu penuh sesak dengan camilan dan buah-buahan. Kinara tidak akan bertanya ‘kenapa makanannya banyak sekali?’ karena percuma. Dika adalah tipe suami yang melakukan lima hal ketika Kinara hanya minta dua hal.
“Nih.” Menyodorkan piring yang berisi buah-buahan yang sudah dia kupas. “Ada lagi?”
“Tidak ini saja.”
“Ok.” Mengacungkan jempolnya.
Hati-hati sekali Dika memotong kuku di jari-jari kaki Kinara. “Kalau sakit bilang, yah. Mas juga takut kalau salah potong.” Tangannya gemetaran.
“Santai saja, Mas. Kau ‘kan hanya memotong kuku, kenapa sampai gemetar begitu.”
“Kau ini senang sekali meledek Mas.” Mencibir. Tidak melihat sama sekali, tatapan matanya 100 persen fokus pada jari kaki Kinara.
Kerjain ah, “Aduuuh, sakit, Mas.”
“Apa? Kenapa? Di mana yang sakit?” tanya Dika memberondong. Dia langsung menghentikan kegiatan potong memotongnya. “Tapi tidak ada yang berdarah.” Diperhatikan lagi.
“Yah, sakit saja.” Dengan santainya Kinara menjawab seperti itu sembari memasukan potongan apel ke mulutnya.
Oh, mau mengerjai Masmu rupanya. Dika tersenyum licik. Perlahan tangannya bergerilya, masuk ke dalam daster istrinya. sekarang sudah sampai paha Kinara.
“Mas, singkirkan tanganmu. Jika tidak aku tidak mau bicara denganmu lagi. Selama satu minggu.”
Dika mengembuskan napas kasar. “Apa hanya kau yang bisa mengerjai Mas?”
“Jadi Mas mau balas dendam padaku? Hanya karena aku mengerjai Mas?” tanya Kinara dengan mata berkaca-kaca. Dia meletakan piring buah di sampingnya. “Hikkks ... aku nangis, nih.”
__ADS_1
Lah, mulai akting lagi. “Iya, iya. Sudah berhenti berakting.” Tersenyum terpaksa. Sejak kapan dia pandai berakting? Aku yakin jika ikut casting pencarian aktris film dia akan terpilih sebagai peran teraniaya.
Akhir-ahir ini Kinara memang suka berakting. Mengerjai suaminya seperti menjadi candu untuk Kinara. Bahkan dia bis apura-pura menangis hanya karena permen.
“Oh iya, Mas. Kapan Mas mau jemput ibu dan Manda?”
“Besok, Sayang. Nanti Ken yang jemput. Sore ini kau harus bertemu dokter Amel ‘kan?” Bertanya tanpa melihat karena sibuk memotong kuku.
“Iya.” Sibuk makan buah.
Keduanya tertawa dan tersenyum bergantian.
***
Prancis.
Pintu ruang kerja diketuk. Nathan sudah membawa kopi di tangan kananya.
“Masuk.”
Begitu ada perintah dia langsung mendorong pintu. Berjalan penuh kehati-hatian untuk meletakan kopi di atas meja.
“Kopinya, Tuan.”
Kursi berputar. Agra nampak tersenyum tipis. “Terima kasih, Nath.” Dia meletakan majalan yang baru dibaca di atas meja.
“Tuan, maaf jika saya lancang, tetapi kenapa Tuan masih peduli dengan mereka?” Nathan menundukkan kepalanya. Dia tidak mengerti, padahal jarak mereka sudah jauh. Namun, Agra tetap tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu.
“Entahlah. Aku hanya berharap Kinara tidak bahagia bersama Dika. Jadi aku bisa merebutnya, tetapi lihatlah senyumnya yang begitu mengembang.” Meraba permukaan majalah. Di mana ada gambar Kinara dan Dika sebagai sampul majalah.
“Tuan, tolong berhenti memikirkan Nona. Kau juga berhak bahagia. Cobalah untuk membuka hati. Ada banyak wanita yang rela melakukan apa pun untukmu.” ucap Nathan dengan suara tertahan.
Agra tersenyum getir. Meraih cangkir kopi dan menyesap perlahan. “Apakah di antara mereka ada yang seperti Kinara? Jika tidak ada, maka apa aku masih bisa bahagia, Nath? Aku sudah memberikan semua kebahagiaanku untuk Kinara, tidak ada sisa lagi, bahkan untuk diriku sendiri.” Tangannya mengepal di atas majalah.
Berita heboh tentang pengakuan Dika dan pernikahan tersembunyinya membuat Agra sedih. Selama ini Agra tetap mengawasi apakah Kinara baik-baik saja atau tidak. Gila! Mungkin dia memang gila, tetapi itulah Agra yang tetap mencintai Kinara meskipun keduanya terpisah jarak dan keadaan yang tidak memungkinkan.
“Tinggalkan aku, Nath.” Memutar lagi kursinya. Sudah membelakangi Nathan. “Tetap laporkan semua kabar tentang Kinara padaku.”
Nathan nampak melenguh panjang. “Baik, Tuan.”
Bersambung.....
.
.
Saatnya kalian vote. Kalau bisa tembus 20 besar. Besok pagi emak up lagi, ok. Oh iya, buat yang sering nanya kapan up. Kalian bisa follow IG ku : @roseelily16 atau Fb ku RoseeLily. Sering aku infokan di sana yah.
__ADS_1