Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Ikhlas (Part 3)


__ADS_3

“*Terkadang kita perlu mengulurkan tangan untuk meminta bantuan orang lain. Tidak selamanya kita kuat menghadapi masalah. Berbagilah, jika itu bisa meringankan dukamu.” (Emak Boss)


🍃🍃🍃*


Waktu terus berjalan, menit demi menit pun berlalu. Meskipun berpikir keras, Dika masih belum bisa menemukan solusinya. Bagaimana dia bisa memberikan kebahagiaan pada Kinara sekaligus menjaga kehormatan Allen.


Saat ini Dika sedang berada di ruang kerjanya. Keluarga Grissham dan Caitlin sedang menunggu, apa keputusan akhir yang Dika ambil. Sementara Agra masih belum bisa dihubungi. Ken memberi perintah ke beberapa orangnya untuk mencari keberadaan Agra. Ketika Ken ke hotel, tempat di mana Agra dan Kinara bertemu. Keduanya sudah tidak ada di sana. Mereka pergi tidak lama setelah Ken dan Dika meninggalkan hotel.


Dika terkesiap begitu mendengar ketukan di pintu. Dia tahu milik siapa suara itu, dia berlari untuk menggapai gagang pintu.


“Selamat sore, Dika.”


Agra sudah berdiri di depannya dengan senyum mengembang, tetapi tatapan matanya redup. Dia mengangkat tangannya untuk menyapa Dika.


“Kenapa kau ada di sini?”


“Kenapa? Apa aku tidak boleh ada di sini?”


“Masuklah.” Mempersilakan masuk.


“Apa aku perlu membuat janji terlebih dahulu?”


Keduanya sudah duduk di kursi, saling berhadapan.


“Seharusnya begitu. Aku kan orang orang penting, tidak semudah itu bertemu denganku.”


Keduanya tertawa.


Dua laki-laki itu saling menatap. Seolah ingin mengetahui keadaan masing-masing melalui tatapan mata. Sorot mata Dika penuh kecemasan sementara sorot mata Agra penuh kesedihan. Mereka berdua mengalami derita yang berbeda, tetapi disebabkan oleh orang yang sama. Kinara.


Dika merasa ada yang aneh. Seharusnya saat ini Agra sedang bahagia, tetapi matanya mengatakan hal yang lain.


“Bagiamana pertemuanmu dengan Kinara?”


“Lancar.” Agra tersenyum. “Berkatmu. Aku dan Kinara bisa bertemu, thank you, Bro!”


Lagi-lagi Dika tidak menemukan kebahagiaan dari kalimat yang diucapkan Agra. Seolah hatinya sedang mengalami kesedihan yang dalam.


“Apa kau dan Kinara ...,” Dika menggantung kalimatnya. Untuk apa dia bertanya sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Dika hanya bisa menelan salivanya dan mengatur tarikan napasnya.


“Kudengar kau menunda acara jumpa persnya?”


Dika mengangguk. “Iya, tetapi aku tidak bermaksud menghalangi jalanmu, Agra. Terjadi sesuatu diluar dugaanku. Aku hanya perlu waktu lebih lama untuk berpikir.”


“Apa semua ini berkaitan dengan harga diri Allen?” Agra menebak.


“Kua tahu? Apa kau mendengarnya dari Ken?”


“Bukan dari Ken.”


“Dari Carissa?”


Agra menggeleng. “Bukan dari keduanya. Aku tahu dari seseorang yang mengorbankan kebahagiaannya, demi melindungi harga diri orang lain. Dia bahkan tidak peduli bagaimana rasanya jadi aku.”


Kening Dika berkerut. Dia tidak tahu maksud kalimat Agra, tetapi jika bukan dari Ken ataupun Carissa. Lalu darimana Agra tahu alasannya menunda waktu jumpa pers.


“Jam berapa jumpa persnya?”


Dika melihat jam tangannya. “Sebentar lagi, satu jam dari sekarang. Aku masih belum memberi keputusan kepada Ayahmu.”

__ADS_1


Agra tersenyum getir. Ini semua karena Ayahku, tetapi aku yang harus menanggung dukanya. Aku yang harus menderita karena keegoisannya, batin Agra.


“Lalu apa keputusanmu?”


“Aku tidak tahu, Agra. Kepalaku hampir meledak memikirkan solusi untuk kalian.”


“Kau ingin Kinara bahagia, kan?”


Seketika Dika menatap wajah Agra. Kedua manik mereka saling beradu. Dika tersenyum tipis. “Tentu saja, untuk dialah aku melangkah sejauh ini.”


“Kalau begitu kau harus mengakhirinya. Teruslah melangkah.”


“Apa maksudmu?”


“Gantikan aku, kau bisa bertunangan dengan Allen. Dengan begitu masalah akan selesai, aku dan Kinara bisa bersama. Semua yang kau lakukan tidak akan sia-sia.”


Dika bangun dari kursi, matanya melotot dengan rahang mengeras. “Kau pikir ini main-main? Aku dan Allen tidak saling mencintai. Bagaiamana aku bisa hidup dengannya.”


Melihat reaksi Dika, Agra pun tertawa.


“Aku juga tidak mencintai, Allen. Aku tidak mungkin bertunangan dengannya.”


“Aku tahu itu, tapi menggantikanmu bukanlah solusi yang tepat!" Dika memukul lengan sofa.


“Kenapa? Kau kan yang mengatur semuanya, kalau begitu sekalian saja kau yang bertunangan.”


“Jangan seperti anak kecil! Aku tidak bisa, Agra. Di hatiku hanya ada Kinara.”


“Tapi Kinara hanya mencintaiku. Apa salahnya kau berkorban sedikit lagi untuk kami berdua.”


Dika mendekati Agra, mencengkeram kerah kemejanya. “Sudah kubuka jalan untukmu! Aku sudah merelakan Kinara untukmu? Apa aku harus berkorban lagi? Bertunangan dengan Allen, cih ... kau pikir itu solusi terbaik?”


Dika mendorong tubuh Agra sampai tersungkur di atas sofa. “Pulanglah, aku yang akan mengurus semuanya. Aku tidak akan menghalangi jalanmu dan Kinara untuk bersama.” Menundukan kepala. “Jika memang aku harus menggantikan posisimu, aku akan mencobanya. Apa pun akan aku lakukan demi Kinara.”


Agra tertawa kecil. “Ada kalanya kau perlu meminta tolong, Dika. Tidak semua masalah bisa kau selesaikan sendiri, ulurkan tanganmu. Maka kali ini aku yang akan menolongmu.”


“Apa maksudmu?!"


“Aku yang akan mengurus semuanya. Kau hanya perlu diam, duduk manis dan menunggu hasil.” Ada binar kesedihan yang teramat dalam di mata Agra.


“Kau akan membatalkan pertunangan itu?”


Agra hanya tersenyum getir.


Bangun dari kursi. “Apa pun keputusanku. Aku melakukannya demi Kinara.” Agra memalingkan wajahnya. Mengusap kasar wajahnya, ada genangan air di matanya. “Aku perlu sedikit bantuanmu. Jangan biarkan orang tuaku dan orang tua Allen datang ke jumpa pers itu. Apa kau bisa melakukannya?”


Sekali lagi kening Dika berkerut.


“Biarkan aku dan Allen yang mengatur sisanya.”Agra tersenyum sebelum pamit.


Apa yang akan kau lakukan, Agra? batin Dika.


***


Dika masih duduk di kursi kerjanya dengan kepala yang ditopang tangannya. Seharian ini dia belum makan, hanya beberapa teguk air yang mengisi perutnya. Masalah Agra, Kinara, dan Allen membuatnya pusing setengah mati. Jalan apa pun yang dia ambil akan membuat salah satu di antara mereka terluka. Saat ini Dika hanya bisa mengikuti instruksi Agra.


Ken masuk dengan terburu-buru. Napasnya tidak teratur, di tangannya terdapat beberapa lembar kertas.


“Tuan Muda, apa Anda sudah mendengar hasil jumpa pers itu?”

__ADS_1


Dika membenamakan wajahnya di meja. “Aku tidak mau tahu, Ken. Aku tidak peduli apakah harga diri Allen akan hancur atau tidak! Bukan urusanku!" Dika yakin pertunangan Agra dan Allen dibatalkan. Dengan begitu Agra bisa bersama Kinara.


“Tidak, Tuan Muda. Sebenarnya, ini diluar dugaan kita.” Meletakan kertas itu.


Mendongakan kepala. “Apa maksudmu?”


“Ini berita terbaru." Menunjuk tumpukan kertas. "Pertunangan Agra dan Allen tetap berjalan, Tuan Muda. Mereka berdua hanya menunda waktunya sampai bulan depan.”


Dika bangun dari kursi. “Kau sedang bercanda, Ken?”


Ken menggeleng.


“Lalu bagaimana dengan Kinara?”


Ken menggeleng lagi. “Aku tidak tahu, Tuan Muda.”


“Jika Agra dan Allen tetap bertunangan. Apa artinya Kinara tidak memilih Agra.” Dika mengambil jas yang tergantung dan segera mengenakannya. “Kita harus ke rumah Kinara.”


“Baik, Tuan Muda.”


Mobil sudah keluar dari area kantor. Saat ini jam macet. Sudah setengah jam Dika terjebak macet. Duduknya pun tidak tenang, seolah ingin segera sampai di rumah Kinara.


“Aku naik ojek saja, Ken.”


Begitu paniknya Dika nyaris tertabrak motor ketika keluar dari mobil. Saat ini yang ada dalam benaknya hanya ingin tahu keberadaan Kinara.


🍃Rumah Kinara🍃


Dika menunggu pintu terbuka dengan perasaan berdebar.


“Di mana Kinara, Bi?” pertanyaan itu Dika lontrakan dengan napas memburu.


“Nyonya pulang kampung, Tuan Muda.”


“Sial!” Memukul tembok. “Apa sesuatu terjadi padanya Nyonya?”


“Bibi tidak tahu pasti, Tuan Muda.”


“Bagaimana keadaannya sebelum pergi?”


Dika harus memastikan itu.


Bibi Ane menundukan kepalanya. “Nyonya terus menangis, Tuan Muda. Berkali-kali Bibi bertanya ada apa, tetapi Nyonya tidak menjawab.”


Ya Tuhan, apa masih belum cukup hukuman yang aku terima? Kenapa jadi begini? batin Dika.


“Sudah berapa lama mereka pergi?”


“Sekitar tiga jam yang lalu, Tuan Muda.”


“Baik, Bi. Terima kasih.”


Dika memutuskan untuk menunggu Ken sampai, lalu mereka akan menyusul Kinara ke kampung.


Bersambung....


.


.

__ADS_1


Like, komentar, sama votenya masih ditunggu. Hari minggu masih tetep dihitung. Bantu tck msuk 10besar. ok.


__ADS_2