Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Nostalgila


__ADS_3

“Sayang? Kau di mana?”


Ketika pulang kerja Dika tidak mendapati Kinara di dalam kamar dan tidak terdengar jawaban. Biasanya jika berada di sekitar mansion, Kinara akan langsung menjawab dan menghampirinya. Menawarkan mau mandi atau makan lebih dulu.


Setelah meletakan tas dan melepas jasnya, Dika langsung menyusuri mansionnya. Memeriksa satu per satu ruangan. Dari kamar mandi, ruang keluarga, sampai taman belakang. Tempat favorit istrinya semenjak mansion dirubah. Berkat Amanda pula, taman belakang terasa lebih hidup.


“Sayang, kau sedang apa?” Benar saja Kinara ada di taman. Memeluk Kinara dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya di perut Kinara yang sedang berdiri menghadap kolam bunga teratai.


“Eh, Mas sudah pulang? Kok tidak memanggilku?” Kinara meletakan buku bacaan di atas meja dan berjalan mendekati kursi panjang.


“Tadi Mas sudah panggil, tapi istri Mas sepertinya tidak dengar.” Ikut duduk di samping Kinara.


“Maaf, Mas.” Tersenyum tanpa dosa. “Aku buatkan minum dulu, yah.” Berniat bangun.


“Tidak usah, Sayang. Tadi Mas sudah minta Bibi Ane untuk membuatnya.” Berjongkok lalu mencium perut Kinara. “Apa kabar jagoan, Ayah?”


“Kabar baik, Ayah,” jawab Kinara sembari membuat suara selucu mungkin. Seolah mewakili anak yang ada di dalam perutnya.


“Kapan mau belanja persiapan untuk anak kita, Sayang? Usia kehamilanmu sudah masuk 8 bulan, loh.” Meraba permukaan perut Kinara yang semakin membesar. “Jangan sampai nanti terburu-buru. Kalau minta orang lain yang beli, takut tidak sesuai seleramu.”


Kinara diam. Berpikir sejenak. “Tidak terasa, yah, Mas. Ternyata sebentar lagi kita akan melihatnya. Putra kita.” Meletakan tangannya di atas tangan Dika. “Meskipun harus melalui banyak cobaan, akhirnya kita bisa bersama lagi.”


Dika mengangguk, tersenyum sambil mendekatkan kepalanya dan mendaratkan ciuman di perut Kinara. Tangan Kinara langsung berpindah meraba kepala Dika. “Ini ayahmu, Nak. Kelak ketika besar kau harus menjadi laki-laki yang tangguh seperti ayahmu.”


“Aamiin.” Dika mengaamiinkan.


Duduk lagi. “Sini, Sayang.” Menepuk kedua pahanya.


“Mas mau aku duduk di situ?” Menunjuk.


“Iya.” Mengangguk mantap. “Memangnya kenapa, Sayang?”


“Mas tidak lihat perutku?” Menunjuk perutnya sendiri. “Dengan perut sebesar ini, Mas yakin kuat menopang tubuhku? Aku bukan hanya berat Mas, tapi kerepotan.”


Dika kesal. Dia ingin sekali memangku Kinara, tetapi benar apa yang dikatakan Kinara. Perutnya semakin besar, tidak seperti masih berusia lima bulan. Saat itu Dika kerap kali meminta Kinara untuk duduk di pangkuannya.


“Kalau begitu begini saja.” Dika meluruskan kakinya lalu membuka lebar. “Sekarang kau duduk di sini.” Menepuk ruang kosong di depannya. Di tengah antara kedua kakinya yang terbuka.


Kinara melenguh panjang. Jika punya keinginan, akal suaminya akan bekerja dua kali lipat dari biasanya. Ada saja caranya untuk memuaskan keinginannya. Kinara tidak bisa menolak, dia sudah duduk di depan Dika. Bersandar di dada bidang suaminya.


“Jadi kapan mau berangkat belanjanya?” Memainkan rambut Kinara. Mengepang segala.


“Mas, kalau ada Ken bagaimana?”


“Tidak ada yang berani masuk ke taman, Sayang. Bahkan jika kita melakukan lebih.”


Kinara langsung menggeliat.


“Tidak-tidak. Aku tidak akan melakukannya.”

__ADS_1


Tanang kembali.


“Sekarang saja, deh, Mas. Aku juga bosan di rumah terus.” Memutar kepalanya sampai wajah mereka berhadapan.


Dika menatap lekat wajah Kinara. “Kalau kau kelelahan bagaimana? Apa Mas perlu bawa kursi roda?”


“Aku hamil, Mas. Bukan sakit. Astaga! Ingat pesan dokter Amel, Mas, aku harus banyak bergerak. Supaya persalinannya lancar.”


Mendengar kata persalinan lancar Dika tersipu malu. Wajahnya berubah merah mengingat kejadian semalam. “Bukankah selain berjalan-jalan, dokter Amel juga menyarankan hal yang lain.” Jemarinya bermain di lengan Kinara. Seolah sedang menyusuri tiap inci tubuh istrinya.


“Jangan lagi deh, Mas. ‘Kan tidak harus setiap hari juga.”


Dika meraih dagu Kinara dan mencium lembut bibirnya. “Iya, deh. Kalau begitu yuk kita belanja. Biar nanti Mas yang bawa mobilnya.”


“Memangnya Ken ke mana?”


“Suamimu itu, Mas. Bukan Ken! Jadi Mas yang harus mengantarmu. Mengerti?!” Menyentil dahi Kinara.


Lalu apa gunananya supir? Kinara mengangguk. Tidak mau mendebat suaminya.


“Jangan bergerak. Diam di tempat,” titah Dika membuat kening Kinara berkerut. Jika tidak bergerak, bagaimana dia bisa bangun dari kursi.


Perlahan Dika menarik tubuhnya dan turun dari kursi. Tiba-tiba Dika berjongkok, memasangkan sandal di kaki Kinara.


Kinara tersenyum malu. Hanya karena ingin memasangkan sandal di kakinya Dika harus susah payah begitu.


“Sini Mas Bantu.” Memegang tangan Kinara.


“Mas sampai kapan kau mau memilih baju? Aku sudah kedinginan.” Kinara menggerutu. Sudah lebih dari 10 menit Dika memilih pakaian. Sementara dirinya hanya dibalut handuk.


“Apa kau tidak punya baju yang lebih besar dari ini?” Melempar baju yang entah sudah keberapa kali. Ada yang berhambur di atas kasur, beberapa lagi tergeletak di lantai. Teronggok begitu saja seolah tidak berarti. Dan kondisi perut Kinara yang semakin besar sedikit menyusahkannya untuk berjongkok dan memungut pakaian yang tercecer.


Merebahkan diri karena lelah. “Semua baju yang Mas lempar itu sudah besar. Mau sebesar apa lagi? Yang ada nanti aku terlihat seperti ondel-ondel.”


Tidak peduli. Masih sibuk mengacak-acak lemari. “Wanita hamil itu terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Mas tidak mau, yah, kalau ada yang memperhatikan istri, Mas,” ucap Dika sambil membolak-balik sisa gamis yang tergantung di lemari. “Kau itu hanya milik Mas.”


“Aku tahu aku milikmu, Mas, tapi mau sampai kapan? Tokonya keburu tutup, nanti milihnya tidak santai. Kalau terburu-buru ‘kan tidak enak juga.” Memiringkan tubuhnya. Menarik bantal untuk diletakan di kaki. Mencari posisi nyaman.


“Cih, setelah ini Mas akan meminta Ken untuk mendirikan pusat perbelanjaan khusus untuk perlengkapan bayi.”


Dika memang memiliki banyak bisnis, termasuk pusat perbelanjaan, tetapi dia tidak memiliki yang satu itu. Hal itu membuatnya jengkel karena harus bergegas. Bisa saja Dika menggunakan kekuasaanya, tetapi Kinara tidak akan suka.


“Baiklah, yang ini saja.”


Akhirnya setelah semua isi lemari keluar dan berantakan di lantai, dia menemukannya juga, batin Kinara.


Dia bangun dari tidurnya dan melihat Dika sedang berdiri memegang gamis sambil sesekali menyeka keringat di keningnya.


“Sekalian kita beli baju yang lebih besar dari ini.” Menyodorkan baju.

__ADS_1


“Tidak usah, loh, Mas. Sebentar lagi aku lahiran, mubadzir, ah.” Menerima gamis.


Dika tersenyum licik melihat Kinara yang hanya mengenakan handuk. “Sejak kapan kau pakai handuk?”


“Sejak tadi.” Memegang kuat lilitan handuknya. “Jangan macam-macam. Lihat sudah jam berapa sekarang.”


“Baiklah, baiklah. Cih, menyebalkan.”


Kinara segera menggunakan gamisnya. “Bantu aku, Mas. Kenapa pilih yang ini, sih? Aku tidak suka baju yang ada retsleting belakangnya.”


“Aku tahu.” Tersenyum licik. Aku ‘kan sengaja memilih gamis ini, selain besar juga kerena ada retsleting belakangnya.


Dika menyibak rambut panjang Kinara ke depan. Punggung mulusnya terekspos. Seperti yang pernah dia lakukan dulu. Bibirnya mendekat, mendaratkan beberapa ciuman di punggung istrinya. Bahkan sempat mengecup kasar di tengkuk leher Kinara sehingga meninggalkan jejak kepemilikan.


***


Toko perlengkapan bayi.


“Mas yakin kita belanja sebanyak ini?” Kinara melongo melihat tumpukan barang di depannya.


“Tentu saja.” Bangga. “Mas rasa masih kurang banyak, kapan-kapan kita kembali lagi untuk belanja barang tambahan.”


“Maaaas, yang benar saja. Ini sudah lebih dari cukup.”


“Stttt ....” Meletakan jari di bibirnya. “Mas akan memberikan yang terbaik untuk putra kita!”


Ada penekanan suara di akhir kalimat. Ok, itu perintah mutlak yang tidak bisa di bantah.


Sejak masuk ke toko Kinara hanya berkeliling sebentar, sisanya dia duduk dan Dika yang ke sana kemari menunjukan barang yang dibutuhkan. Kinara hanya harus mengganggukan kepala atau menggeleng.


Ketika sedang asik memilih, tiba-tiba seorang wanita berwajah cantik dengan rambut pirang mendekati Dika. Pakaiannya masih tergolong sopan, dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah muda, dipadu rok sebatas lutut yang tidak memiliki belahan. Sepatu hak tingginya membuat dia terlihat memesona. Riasan di wajahnya juga tergolong ringan, tidak menor.


“Dika?” Wanita itu semakin mendekat. “Dika ‘kan?”


Dika diam, nampak berpikir keras. Mencoba mengingat siapa yang sedang berdiri di depannya.


“Aku Niki. Masa lupa, sih.” Memukul lengan Dika. “Adik kelasmu, loh.”


Sepersekian detik. Setelah berpikir keras. “Oh, astaga, Niki? Kamu Niki? Niki yang dulu rambutnya sering dikuncir itu ‘kan? Yang sering kasih bekal makanan ke aku?”


“Iya, akhirnya kamu ingat juga.”


Keduanya tertawa riang.


Cih, jadi aku sedang melihat romansa masa-masa sekolah? Jadi kalian sedang nostalgila di depanku, begitu? batin Kinara.


Bersambung.....


.

__ADS_1


.


Jangan lupa, like, komentar, dan votenya yah. bantu tck masuk 20 besar.


__ADS_2