Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Tes DNA


__ADS_3

Bukti yang dibawa Agra adalah video ketika Dika mempermalukan Kinara di pusat perbelanjaan miliknya.


Juga rekaman cctv dimana Kinara dipermalukan oleh Allen dan teman-teman kampusnya karena bekas yang ditinggalkan Dika di tubuh Kinara.


Tidak sulit bagi Agra untuk mendapatkan video itu, karena tempat kejadian itu adalah dua tempat milik keluarga Grissham.


Dika dan Marta melihat bukti itu bersama, kontan bukti yang diberikan Agra membuat Marta semakin marah dengan kelakuan anaknya.


***


Sejak pingsan sampai saat ini Carissa belum sadarkan diri, dia masih di rawat intensif di rumah sakit keluarga Mahendara. Semalam, Kinara bisa mendengar pertengkaran Marta dan Dika.


Sepertinya Marta melarang Dika untuk pergi ke rumah sakit, tapi Dika memaksa. Dan tampaknya pertengkaran itu dimenangkan oleh Dika, karena tak lama berselang mobil Dika sudah keluar dari halaman mansion.


Dika benar-benar tidak peduli dengan keberadaan istrinya, saat ini yang terpenting baginya hanya keselamatan Carissa. Padahal Kinara juga terluka, terlebih lagi kondisinya yang sedang hamil muda.


Malam terkutuk itu berlalu sangat lama, beberapa kali Kinara terjaga. Dia sudah tidak sabar ingin mengemasi barang-barangnya dan segera pergi dari neraka yang dibangun Dika untuknya.


,,🍃Pagi hari pukul 10 pagi di mansion🍃


Kinara menatap nanar rungan kecil yang menjadi saksi derita hidupnya selama lima bulan tinggal di mansion Dika.


Semua pakaian sudah masuk ke dalam koper termasuk beberapa bungkus mie instans dan makanan ringan yang tersisa.


Kinara tetap tidak boleh boros, dia tidak mau menerima bantuan dari Agra. Jika tidak, Dika akan semakin menyudutkannya.


Sebelum keluar, Kinara sempat meraba lembut ujung meja belajarnya. Matanya mulai berkaca-kaca, segera dia menyeka kasar air mata yang belum sempat menetes di kedua pipinya itu.


"Aku tidak boleh terlihat lemah, jika tidak manusia satu itu akan semakin menyiksaku," gumamnya sembari menutup pintu kamar.


"Nak, kita akan hidup berdua. Saling menguatkan dan saling melindungi, Ibu janji akan menjagamu dengan baik, sayang. Meskipun tanpa kehadiran Ayahmu, tapi Ibu yakin Ibu bisa melewati semuanya." Mengelus perutnya yang masih datar.


"Kau hebat, Nak. Sudah tiga bulan kau ada di dalam perut Ibu, tapi kau tidak pernah menyusahkan Ibu." Tersenyum lembut. "Ayo kita pergi dari rumah terkutuk ini dan mulai hidup baru yang lebih tenang."


🍃Ruang Keluarga🍃


Begitu Kinara tiba di ruang keluarga dia sudah disambut dengan pemandangan yang tidak biasa, Marta sudah duduk di salah satu sofa sembari menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya.


Di samping Marta, di sofa yang berbeda Dika terlihat sedang membaca koran harian ditemani secangkir kopi dan sepotong roti isi selai kacang. Sementara di depan Marta sudah duduk dokter Amel.


Kinara menyeret pelan langkahnya, tetapi sepelan apa pun langkahnya jika dia ingin keluar dari mansion itu tetap saja dirinya harus melewati ruang keluarga.


“Selamat pagi, menantu kesayangan Mamah.” Marta melambaikan tangannya meminta Kinara untuk mendekat.


Kinara menurut, dia menarik napas panjang lalu berjalan mendekati Marta. “Sepertinya pagi ini kita akan sarapan cacian dan makian dari Ayahmu lagi, Nak,” gumamnya sembari mengelus perut dan menelan saliva.


"Selamat pagi, Mah," sapa Kinara sembari tersenyum, dia sudah berdiri di depan Marta.


“Apa semalam tidurmu nyenyak, Nak?” Marta bangun, meraih pergelangan tangan Kinara dan menuntun untuk duduk di sampingnya.


“Emmm ... Iya, cukup nyenyak, Mah.” Tersenyum simpul.


Bagaimana mungkin tidurku bisa nyenyak? Sementara suamiku meragukan anak siapa yang ada di dalam perutku, dan dia lebih memilih menghabiskan malam panjangnya untuk menjaga kekasihnya daripada peduli dengan aku istri yang sedang mengandung anaknya. Wajar saja, karena dia sangat membenci aku, batin Kinara.


“Sebelum pergi sebaiknya kau sarapan dulu, Nak.”


Kkinara menggeleng. “Tidak perlu, Mah. Nanti aku makan di kampus saja.”


“Jangan seperti itu, sayang, kau juga harus memikirkan tentang anakmu, kan? Kau tetap harus menjaga asupan gizi demi tumbuh kembang anakmu.” Mengelus punggung Kinara.


“Tapi, Mah ...,” ucap Kinara terputus.


“Tapi apa lagi? Sudah, Mamah tidak mau mendengar alasan apa pun darimu. Pokoknya sebelum pergi kau harus makan dulu.”


Kinara tidak punya pilihan lain, akhirnya dia menganggukan kepala pertanda dia setuju dengan perintah Marta.

__ADS_1


“Dika, apa kau harus bersikap sedingin itu kepada istrimu sendiri.” Marta menaikan volume suaranya.


“Memangnya aku harus bersikap seperti apa lagi, Mah?” Dika menjawab tanpa melihat Marta sedikitpun.


“Kau ini benar-benar, yah. Apa tidak ada yang mau kau sampaikan? Sekadar minta maaf atas sikap kasarmu itu, Dika!” Marta menaikan sudut alisnya, tapi percuma karena Dika tidak bisa melihat itu. Dia sedang sibuk membaca deretan huruf di koran.


“Dika!” seruan Marta terdengar marah, hal ini berhasil membuat Dika menurunkan koran yang menutupi wajahnya.


“Memangnya apa lagi yang ingin aku katakan, Mah? Sebelum semuanya jelas dan terbukti itu adalah anakku, aku tidak akan peduli padanya.” Melipat koran dan melepar ke atas meja. “Aku tidak sudi merawat anak orang lain yang bukan darah dagingku.”


Sabar, Nak. Kau tidak boleh marah, Ayahmu hanya belum mengenalmu. Kelak jika kau terbukti adalah anaknya, dia juga akan mencintaimu, batin Kinara.


Marta terlihat memijat pelipisnya sembari menghela napas panjang.


“Lagipula aku juga tidak akan memintamu merawatnya.” Mengelus perut. “Aku bisa merawatnya sendiri meskipun tanpa bantuan darimu,” ucap Kinara.


“Bagus! Itu yang aku harapkan,” desisnya.


Dasar manusia tidak memiliki hati nurani, bisa-bisanya kau meragukan anakmu sendiri. Sudah jelas malam itu kau melakukannya, batin Kinara.


Marta menggeser tubuhnya. “Baik, sudahi pertengkaran kalian. Apa pertengkaran semalam masih belum cukup?! Sekarang kita cari solusinya, sebenarnya apa yang kalian berdua inginkan?”


“Aku hanya ingin berpisah dari Dika, Mah.” Meremas tas slempang yang ada di pangkuannya. “Cukup tanda tangani surat cerai itu dan semuanya beres. Aku tidak akan meminta harta gono gini atau apa pun, juga untuk biaya hidupku. Aku bisa mencarinya sendiri, tidak akan meminta sepeser pun darimu.”


“Tidakkah keputusan itu terlalu terburu-buru, sayang?”


“Tidak, Mah.” Menoleh, menatap Marta dengan penuh keyakinan. “Justru ini sangat terlambat, seharusnya aku sudah mengajukan perceraian itu satu bulan sejak aku resmi menjadi istrinya.” Menundukkan kepala. “Aku sangat menyesali keterlambatan itu.” Kinara mulai terisak.


Kan sudah Ibu bilang, pagi ini kita akan sarapan cacian dan makian. Kita berdua tidak akan kenyang dengan ini. Apa kau tidak bosan, Nak? Ibu sendiri sudah bosan mendengarnya, batin Kinara.


“Aku akan menanda tangani surat cerai, tetapi tunggu sampai anak itu lahir.” Dika menyeruput kopi hitamnya.


“Tidak! Aku mau sekarang juga kau tanda tangani surat cerai itu!”


“Kau sedang hamil, Kinara! Meskipun aku laki-laki kurang ajar, tapi setidaknya aku sedikit tahu hukum agama. Haram hukumnya bagiku untuk menceraikanmu dalam keadaan hamil!” Meletakan kasar cangkir kopi itu sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras.


“Apa kau sangat tidak sabar untuk hidup bersama selingkuhanmu itu, Kinara?*”


“Demi Tuhan dia bukan selingkuhanku, seharusnya kau malu. Bukankah kau sendiri yang berselingkuh, kau tidak mengakui aku sebagai istrimu! Kau berniat menikah dengan wanita lain, bahkan kau mengatakan itu di depan istrimu! Kau bermesraan, memeluk, memegang, dan membelai wanita lain di depanku. Kau pikir itu bukan perselingkuhan?”


“Setidaknya aku melakukan itu di depanmu, bukan di belakangmu seperti yang kau lakukan padaku.”


Kinara tertawa kecil. “Apa bedanya? Lagipula siapa yang tahu, bisa saja kau berselingkuh dibelakangku.”


“Apa kau sedang menuduhku tanpa bukti?”


“Iya, aku sedang menuduhmu. Bagaimana rasanya dituduh sesuatu yang tidak kau lakukan? Sakit? Aku juga merasakan itu ketika kau maragukan siapa Ayah dari anak ini, Dika!”


“Cukup, Kinara! Aku sedang tidak ingin bermain lempar batu sembunyi tangan.”


“Apa karena pelukan yang aku dan Agra lakukan hari itu? Apa belum cukup kau lihat bagaimana penderitaan yang aku peroleh karena kelakuanmu?!"


“Terserah kau saja, berdebat denganmu tidak akan ada habisnya. Sebelum aku tahu anak siapa itu.” Menunjuk perut Kinara. “Aku tidak akan menceraikanmu!”


Kinara menarik napas panjang. “Baiklah, mari kita membuat taruhan.”


“Taruhan? Apa maksud ucapanmu, Kinara?” Dika melotot. “Kau pikir pernikahan kita lelucon?”


Kinara terbahak. “Pernikahan kita memang lelucon, Dika. Jangan lupa kau ingin aku menanda tangani surat perceraian seminggu setelah kita menikah. Dan bodohnya aku kenapa aku menolak ketika itu! Itu sudah menjadi penyesalan terbesarku!”


Dika diam, Marta pun tidak tahu harus berbuat apa ketika anak dan menantunya sedang bertengkar. Dilerai sekalipun keduanya tidak akan mau mendengarkan nasihat Marta.


Sementara doter Amel hanya menundukan kepala, sebenarnya dokter Amel ada di situ untuk memberi vitamin pada Kinara untuk menguatkan kandungannya, dia tidak menyangka jika dirinya harus mendengar pertengkaran sepasang suami istri itu.


“Ayo kita taruhan, Dika.”

__ADS_1


“Apa maumu, Kinara?!" seruan Dika melengking mengisi tiap sudut ruangan itu.


“Aku mau berpisah darimu!" Mengangkat kepala. “Jika anak ini terbukti adalah anakmu, kau harus setuju untuk menanda tangani surat perceraian itu, dan jika anak ini terbukti bukan anakmu ... kau boleh melakukan apa pun padaku, membuatku membusuk di penjara, atau mengurungku tetap berada dalam kekuasaanmu.”


“Baik, itu artinya aku harus menunggu selama enam bulan ke depan. Cih, itu sangat lama.” Meraih koran dan membukanya.


“Apa kau sudah tidak tahan berpisah dariku, Dika?”


“Tentu saja, kau pikir apa lagi.”


Kinara hanya bisa mendengar jawaban dari Dika tanpa tahu ekspresi wajahnya, karena saat ini wajah Dika tertutup sepenuhnya oleh lembar koran yang besar itu.


“Baiklah, aku akan segera mengabulkannya.” Tersenyum licik. “Turunkan koran itu dan dengarkan ucapanku baik-baik.”


“Katakan saja, kau tidak perlu banyak mengaturku!"


Kinara menarik napas panjang, entah sudah berapa kali dia melakukan ini sejak dirinya duduk di ruang keluarga. “Dokter Amel, bukankah tes DNA bisa dilakukan meskipun bayi belum lahir? Bukankah penentuan profil DNA dalam kandungan bisa diambil dari cairan amnion atau dari villi chorialis pada saat usia kandungan memasuki usia 10 sampai 12 minggu?”


“Eh?” Dokter Amel terperanjat, bukan untuk hal ini dia ada di sini.


Darimana Nyonya bisa tahu hal ini? Aku tahu dia pintar, tapi dia bukan kuliah di fakultas kedokteran, kan? batin dokter Amel.


“Jawablah, dokter Amel.” Kinara mendesak, Dika segera menurunkan koran itu dan menatap tajam dokter Amel.


Dokter Amel hanya membalas dengan tatapan dalam. “Iya, kau benar, Nyonya. Saat ini teknologi sudah semakin berkembang. Tentu saja kita bisa melakukan tes DNA untuk mengetahui siapa Ayah dari bayi tanpa perlu menunggu bayi itu lahir,” jawab dokter Amel.


Dika terperanjat, dia tidak tahu ada hal seperti ini.


“Menurut perhitunganmu, bukankah usia kandunganku sudah jalan 3 bulan, bahkan tiga bulan lebih satu minggu. Itu artinya aku sudah bisa melakukan tes DNA, bukan?”


“Iya, Nyonya.”


“Berapa lama waktu yang di butuhkan sampai hasil tes DNA itu keluar?”


“Kurang lebih sekitar dua minggu, Nyonya.”


“Bagus, ayo kita lakukan tes DNA itu sekarang juga Dika! setelah itu persiapkan pulpen yang bisa kau gunakan untuk menanda tangani surat perceraian kita*”


“Kinara!” Dika menggebrak meja. “Jangan keterlaluan!”


“Kenapa, Dika?” Senyum sarkas tersungging di bibir Kinara.


“Kau ingin mencari alasan apalagi? Aku perhatikan kau selalu mencari cara untuk menghindari perceraian kita! Aku tidak ingin mendengar kata maaf dan penyesalan darimu, sudah sangat terlambat untukmu melakukan itu.”


Bangun dari sofa.


“Ayo dokter Amel, kita lakukan tes DNA. Jika laki-laki di sebelahmu tidak mau melakukannya, seret paksa saja dia. Bukankah dari awal dia yang bersikeras ingin tahu siapa Ayah dari anakku!"


“Kinara, tunggu, Nak. Apakah kau harus bertibdak sejauh ini?” Marta ikut bangun.


“Harus, Mah. Bukankah Mamah juga ingin tahu apakah ini cucu Mamah atau bukan? Jadi ayo kita buktikan bersama.” Tersenyum. “Ini juga agar Mamah tidak meragukan aku, dan Mamah bisa mencintai anakku sepenuhnya.”


“Baiklah.” Menoleh menatap Dika. “Jangan jadi pengecut, Dika, kau harus bertanggung jawab dari awal sampai akhir. Ini kan maumu?”


Dika bangkit dari duduknya dengan sangat terpaksa. “Baiklah, jika terbukti itu bukan anakku. Tamat riwayatmu, Kinara!” ancamnya.


“Kau tidak perlu khawatir untuk itu, Dika. Dan jika terbukti ini anakmu, kau harus mempersiapkan diri untuk belajar hidup tanpa aku.


Aku beri tahu, perasaan kehilangan itu sebuah seperti mimpi buruk yang terus menghantuimu sepanjang malam. Jika aku sudah pergi dari sisimu, aku harap kau tidak menangis sembari menatap fotoku karena merindukan aku.


Oh,


aku tinggalkan selembar fotoku di laci meja belajar. Kau bisa melihatnya ketika kau menyesal nanti.” Memutar tubuhnya, berjalan menjauh diikuti Marta di sampingnya yang merangkul Kinara. sementara Dika dan dokter Amel mengekor di belakang.


Keempat orang itu akan pergi ke rumah sakit pribadi keluarga Mahendra guna melakukan tes DNA.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2