
“Lepaskan tanganku, Dika.” Kinara menggoyangkan tangannya agar cengkraman Dika mengendur.
“Kinara.” Agra berjalan mendekat. “Jangan seperti ini. Kau boleh membencinya, tidak suka pada sikap Dika adalah hakmu. Terlebih Dika pernah memberimu luka yang sangat dalam, tetapi dia tetap Ayah dari anakmu.”
“Agraaaa! Kau ini kenapa?” Kinara menatap tidak suka. “Bukankah seharusnya di adalah sainganmu? Kenapa aku merasa kau sedang memberinya kesempatan untuk mendekati aku!"
“Itu benar, Dika memang sainganku. Aku bisa saja egois jika itu tentang dirimu seorang. Namun jika itu tentang anakmu, bisakah kita berdua berlaku keras kepala?”
“Lalu apa maumu? Kenapa aku seperti bola yang kalian lempar ke sana kemari!”
Agra memijat keningnya lalu berucap, “Melemparmu pada Dika berarti harus siap melepaskan. Sementara aku tidak akan pernah siap untuk melepaskanmu, jika bukan karena kau yang memintanya. Aku hanya ingin kau memberi Dika kesempatan, Kinara.”
“Kesempatan untuk apa? Untuk kembali padanya? Pada laki-laki ini?” Kinara melirik Dika dan Agra bergantian.
Dika bersiap membuka mulutnya sampai Agra menggelengkan kepala.
“Bukan! Bukan untuk kembali padanya.” Agra tersenyum lembut.
Kau tersenyum? Di saat seperti ini bisa-bisanya kau tersenyum, apa aku seperti wanita bodoh yang bisa kalian permainkan? Sesuka hati kalian! batin Kinara.
“Lalu apa? Kesempatan apa yang harus aku berikan untuknya?” tanya Kinara dengan nada tidak suka.
“Kesempatan untuk memberi seorang Ayah waktu agar bisa bersama dengan anaknya, darah dagingnya. Kesempatan itu berhak dia dapatkan, Kinara. Sekeras apa pun kau mengingkari, dia tetap Ayah dari anakmu.”
Cih, kau bahkan mulai terdengar seperti Alisa. Aku sampai tidak bisa membedakan kau itu Alisa atau Agra, batin Kinara.
“Tapi dia pernah tidak mengakui ini sebagai anaknya.” Kinara mengelus perutnya dengan mata berkaca-kaca, sikap kejam Dika tiba-tiba datang menghantuinya. “Dia bahkan memintaku meminum pil penunda kehamilan, dan setelah aku hamil dia menuduhku berselingkuh denganmu!” Kinara terisak. “Lalu kenapa aku harus memberinya waktu untuk dekat dengan anak yang pernah dia tolak, Agra? Katakan kenapa? Kenapa?” Suara Kinara sedikit bergetar, tetapi kebencian di dalamnya tetap terlihat jelas.
Dika mengendurkan genggaman tangannya. “Aku minta maaf, Kinara.”
Andai aku bisa menghapus air mata di wajahmu dan menggantinya dengan senyuman, batin Dika.
“Maaf? Apa hanya kata maaf yang bisa kau ucapkan? Hanya itu? Setelah kau sakiti aku sedalam ini dan hanya maaf yang bisa kau ucapkan?”
“Aku ...,” ucap Dika terputus. Dika tidak tahu harus berkata apa lagi selain maaf, karena memang semua yang terjadi adalah salahnya. Seandainya saja Kinara memebrinya kesempatan, apa pun akan dia lakukan untuk menebus semua dosanya.
Dika mengacak-acak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya. Tampilan formal khas Tuan Muda itu berubah seketika. Alisa nampak mundur beberapa langkah dan berlindung di belakang Agra. Kinara melakukan hal yang sama, dia ketakutan karena biasanya setelah melakukan gerakan itu Dika akan menyakitinya secara fisik.
Karena terlalu takut Kinara terus berjalan mundur tanpa melihat rak di belakangnya, dorongan tubuh Kinara yang beradu dengan rak membuat beberapa barang berjatuhan. Sontak Dika dan Agra berlari mendekati Kinara untuk melindunginya, jika Dika merengkuh tubuh Kinara di bawah pelukannya maka Agra menahan beberapa barang yang jatuh dan menimpa tubuhnya. Ketiganya terduduk di lantai.
“Kau baik-baik saja, Kinara?” tanya Dika dan Agra bersamaan.
“Emmm, iya ...,” ucap Kinara pelan.
“Ah, syukurlah ....” ucap keduanya bersamaan lagi, bahkan diikuti gerakan mengurut dada yang membuat Alisa tertawa.
Dia bersyukur karena dua orang yang mencintai Kinara sama-sama orang yang baik. Jika yang satu adalah playboy kelas kakap yang sudah taubat, maka yang satu lagi si ringan tangan yang penuh penyesalan dan memperlihatkan perasaan cintanya dengan terang-terangan.
“Awas, aku mau bangun,” ucap Kinara.
Agra dan Dika bangun, keduanya mengulurkan tangan untuk membantu Kinara berdiri. Kinara nampak berpikir, tidak terlalu lama karena uluran tangan Agra lah yang di sambut oleh Kinara. Namun diluar dugaan, Agra menghindar sebelum tangan keduanya bersentuhan dan tersenyum ke arah Dika. “Dia masih istrimu, kau yang lebih berhak membantunya.”
Agra, kau ini ... memang hatimu terbuat dari apa sih? Aku benci padamu, batin Kinara.
“Ayo aku bantu.” Dika tersenyum.
“Tidak, aku bisa sendiri,” ucap Kinara.
Dika tidak peduli jika setelah ini Kinara akan memakinya habis-habisan, mungkin otaknya mulai tidak bisa diajak kerja sama. Dia merengkuh tubuh Kinara, dan membantunya berdiri. Suka tidak suka Kinara tetap harus menerima bantuan dari suaminya.
Agra hanya tersenyum getir, batasan inilah yang tidak akan pernah bisa dia masuki. Ikatan suci yang masih menjerat di antara keduanya. Sampai ikatan itu putus, dia tetaplah orang asing dihidup Kinara.
Semoga kali ini takdir Tuhan berpihak pada kita berdua, Kinara, aamiin, batin Agra.
Sesaat setelah insiden itu ketiganya sudah berdiri, tiba-tiba Kinara kembali bereaksi. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menutup mulut sementara tangan kirinya memegang bagian perut.
“Hoeek ....”
Agra segera mengeluarkan plastik yang sudah dia siapkan, sementara Dika memilih untuk melepas jas berwarna coklat yang dikenakannya. Keduanya menyodorkan media untuk menampung muntahan di depan Kinara.
“Apa itu kantung kresek?” tanya Dika sembari melirik kantung kresek yang sudah digulung.
Agra mengangguk. “Iya, dulu ketika aku kecil dan mabuk perjalanan aku selalu menggunakan kantung kresek untuk tempat muntahan.”
Alisa terbahak mendengar ucapan Agra.
“Lalu untuk apa jas itu?” tanya Alisa yang cukup penasaran dengan tidakan Dika.
__ADS_1
“Itu karena dia pernah muntah di jasku, aku pikir dia ingin mengulanginya,” jawab Dika polos.
“Apa itu mahal?” tanya Agra.
“Iya, ini di desain khusus. Aku rasa anakku suka muntah di tempat mahal, waktu itu juga dia muntah di jas edisi terbatas.”
Agra diam lalu berucap, “Apa aku harus melepas jaketku?”
“Apa itu mahal?” tanya Dika menyangsikan.
“Tentu saja, ini juga edisi terbatas,” jawab Agra sombong.
“Kalau begitu buka saja.” Dika melirik jaket yang dikenakan Agra.
Alisa tertawa lagi, seketika Dika dan Agra menoleh ke arahnya. Alisa sampai harus melakukan gerakan menyayat leher ketika mendapati dirinya ditatap oleh dua Tuan Muda yang sedang dimabuk asmara.
“Jadi kau mau muntah di mana?” tanya Agra.
Kinara menggeleng. “Tidak jadi.”
Agra dan Dika saling beradu tatap melihat tingkah absurd Kinara.
Ketika kedua laki-laki itu tidak dalam kedaan siap, tiba-tiba saja. “Hoeek ....” Kinara memuntahkan semuanya di lantai, muntahan itu mengenai sandal Agra dan sepatu Dika. Beruntung muntahan itu hanya tidak terlalu banyak seperti ketika Kinara muntah di jas Dika.
Alisa tertawa lagi, kali ini lebih kencang. Bahunya berguncang sampai kacamatanya hampir terlepas. “Itu baru adil, ternyata anakmu tidak ingin muntah di jas dan jaket mereka,” ucap Alisa sembari melihat Kinar.
“Biar aku bersihkan,” kata Kinara.
“Jangan!" ucap Dika dan Agra bersamaan.
“Kau duduk saja, biar kami yang membersihkannya,” ucap Dika, “Ayo kita bersihkan ini dengan cepat.”
Agra mengangguk.
Ken datang dengan dua orang karyawati yang sudah membawa ember dan alat pembersih lantai di tangan masing-masing. Ken bisa tahu karena dia melihat semuanya di ruang kendali cctv.
“Tuan Muda, mereka berdua yang akan melakukannya.” Ken memberi isyarat pada dua orang karyawati itu.
“Tidak perlu, Ken. Ini muntahan istriku, biarkan aku yang betanggung jawab.”
“Tidak masalah, kau siapkan saja baju santai untukku dan Agra. Sepertinya celana Agra juga kotor.” Melirik Agra, memang beberapa muntahan mengenai celana Agra dan Dika.
Ken mengangguk dan segera undur diri.
Ketika Agra dan Dika sibuk dengan tugas mereka, Kinara hanya duduk bergeming. Sesekali dia melakukan gerakan memukul keningnya sendiri karena frustrasi.
Kenapa? Kenapa kau lakukan ini pada Ibumu, Nak? Kenapa kau membuat Ibu malu? Kau selalu saja muntah ketika dekat dengan Ayahmu. Padahal sebelumnya kau tidak pernah begini, tidak bisakah kau melakukan hal lain saja untuk mengerjai mereka? batin Kinara.
“Nih, minum.” Alisa menyodorkan air mineral.
“Terima kasih, Lisa.” Menerima air itu dan meneguknya cepat.
“Sayang sekali.” Alisa menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Apa?” tanya Kinara.
“Sayang sekali di antara mereka akan ada yang terluka, padahal keduanya laki-laki yang baik.”
“Maksudmu mereka?” Kinara menunjuk Agra dan Dika yang sedang bekerja sama membersihkan bekas muntahannya.
“Heem ...,” ucap Alisa pelan. “Memangnya siapa lagi? Tidak mungkin Pak Budi, ‘kan?” ledeknya.
“Seandainya saja kau bisa dikloning, yah.”
Kinara menyikut lengan Alisa. “Kau pikir aku ini apa?”
“Kan supaya adil, kasihan jika salah satu di antara mereka harus patah hati dan merana. Aku yakin lukanya tidak akan sembuh dengan cepat, tidak peduli Agra ataupun Dika yang kau pilih. Yang tidak kau pilih tetap akan terluka.”
Kinara menunduk memainkan tutup botol air mineral. “Apa aku yang salah, Lisa?”
“Tidak.” Alisa merangkul bahu Kinara. “Tidak ada yang salah.” Menepuk pelan bahu Kinara. “Ini adalah bagian dari takdir kalian, yah kau juga tidak bisa menyalahkan takdir, bukan? Intinya tidak ada yang slah, biarkan waktu dan tangan Tuhan yang menjawab semuanya. Siapa yang akan Dia persatukan denganmu.”
“Aku mulai takut, Lisa.”
“Takut? Apa?”
“Aku takut jika aku menyakiti salah satunya. Apa aku tidak pilih keduanya saja?”
__ADS_1
“Huss ....” Menepuk bahu Kinara. “Kau sudah membuat mereka melangkah sejauh itu, tentu kau harus bertanggung jawab.”
Sementara itu di sisi lain.
“Kau pernah melakukan ini sebelumnya, Dika?” tanya Agra sembari menyemprot cairan pembersih lantai. “Kau terlihat sudah terbiasa.”
“Yang benar saja, siapa yang berani muntah di sepatu mahal Tuan Muda keluarga Mahendra,” jawab Dika dengan percaya diri.
“Cih, sombongnya.” Agra mencibir.
“Kau sendiri bagaimana? Kau punya banyak kekasih, kan? Apa mereka pernah muntah di sandal mahalmu?”
“Aku memang punya banyak kekasih, tapi tidak pernah meniduri mereka satu pun. Jadi belum ada yang hamil dan muntah di kakiku,” ucap Agra tak kalah percaya diri.
“Bukankah kau pernah menjalin kasih dengan seorang putri walikota yang terkenal cantik?”
“Heem, kenapa?”
“Kenapa akhirnya kau menjatuhkan pilihan pada seorang gadis biasa seperti Kinara?”
“Entahlah, aku juga tidak bisa menjawab pertanyaanmu, Dika. Namun yang pasti, Kinara tidak bisa dibandingkan dengan mereka semua.” Agra tersenyum ketika mengingat momen pertamanya bertemu dnegan Kinara. “Lalu kau sendiri bagaimana?”
“Apa?”
“Kau pernah memiliki Carissa, kenapa kau berubah haluan?”
“Carissa gadis yang baik, tapi hatiku tidak bergetar ketika bersamanya. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Selama ini ternyata aku salah mengartikan cinta dan perasaan kasihan,” ucap Dika.
Agra diam.
“Setelah ini aku akan pulang, kau bisa menemaninya berbelanja barang-barang yang dia butuhkan.” Agra menepuk bahu Dika yang dijawab anggukan kepala.
Terima kasih, Agra. Mari kita bertaruh dengan takdir Tuhan. Kapal siapa yang akan berlayar dan yang akan karam. Semoga Tuhan mencatat takdir terbaik untuk kita bertiga, batin Dika.
20 menit berlalu.
Lantai bekas muntahan Kinara itu sudah bersih dan wangi. Dika juga sudah berganti pakaian, terlihat lebih santai.
“Aku harus pulang, Kinara.” Agra sudah berdiri di depan Kinara.
“Kalau begitu kita pulang bersama.” Kinara bangun dari kursi dan memasang kembali tas slempangnya. “Ayo Alisa, kita pulang,” ajaknya sembari mengulurkan tangan pada Alisa.
“Tidak bisa, kau belum berbelanja. Ingat asupan gizi untuk anakmu harus terpenuhi.”
“Nanti saja, aku bisa minta Bibi Ane yang beli.” Kinara bersikeras. Karena dia tahu ke mana arah percakapan Agra.
“Kinara, berikan waktu untuk Ayah dan anak saling mengenal satu sama lain.”
“Tapi, Agra ... aku,” ucap Kinara.
“Sudahlah, percaya padaku. Dia sudah menunggumu.” Menunjuk Dika yang sedang memegang troli. “Demi anakmu.” Tersenyum.
Begitu Kinara menoleh, Dika segera melambaikan tangannya dan tersenyum pada Kinara.
“Kau sengaja melakukannya!” desis Kinara.
Aku memang sengaja melakukannya, tapi ini untuk kebaikanmu. Jika bukan demi dirimu, apakah kau pikir aku rela memberi Dika kesempatan? batin Agra.
Agra dan Alisa berjalan menjauh, semakin jauh sampai punggung keduanya menghilang terhalang rak besar. Kinara harus menerima keputusan Agra, meskipun dengan sangat terpaksa.
Dika berjalan mendekati Kinara. “Ayo, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu.” Dika tersenyum.
Lihat saja, aku akan mengerjaimu habis-habisan. Ayo, Nak, kita beri pelajaran untuk Ayahmu, batin Kinara
Bersambung....
.
.
Ini bonus buat kalian, tolong kerja samanya yah untuk memberi emak dukungan berupa like dan Vote. Ok. Berapa pun vote dari kalian emak sangat berterima kasih.
.
.
Jangan jadi orang pelit, cuma mau baca nggak mau like dan vote. Emak masih punya banyak stok sianida nih 😅😂
__ADS_1