Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
S2. Kisah Pilu


__ADS_3

Allen terbangun dengan rasa nyeri yang menjalar di sekitar punggung tangannya. Dia mengangkat tangannya dan mendapati jarum infus yang sudah tertancap di sana. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya lalu menatap langit-langit. Plafon putih dengan lampu di empat sisinya sudah bisa menjelaskan sedang ada di mana dirinya. Ranjang yang dia tiduri jelas sekali bukan ranjang miliknya. Dia harus tahu bagaimana dirinya berakhir di sebuah kamar di rumah sakit.


Allen memutar kepalanya. Dia melihat seseorang sedang mengupas apel dengan wajah lelah. Rambut panjangnya yang tergerai dengan kacamata bulat yang duduk manis di pangkal hidungnya memperlihatkan kecantikan alami dari seorang Alisa. Sahabat baiknya.


“A-lisa,” ucap Allen. Masih dengan suara lemah.


“Allen ... astaga! Akhirnya kau bangun.” Alisa bergegas meletakan apel yang baru dipotonng setengah. Rona bahagia terlihat jelas di wajahnya.


“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?”


“Sekitar tiga jam. Kamu itu pingsan atau mati suri, sih?!”


Allen menarik napas panjang. Tubuhnya bergeser naik. “Bisa tolong tinggikan ranjangnyanya. Setelah itu kamu boleh mengualihiku. Sesuka hatimu.”


Alisa bergerak. Mencari tuas di bawah ranjang dan memutarnya. “Sudah cukup?”


“Iya. Cukup.”

__ADS_1


Alisa melakukan itu bukan untuk menguliahi apalagi memaki Allen. Dia memang peduli dengan sahabatnya.


“Jadi bagaimana ceritanya aku bisa berada di rumah sakit?!” tanya Allen. Alisa sudah duduk di sampingnya.


“Aku juga tidak tahu. Kamu yang tahu ceritanya. Aku masih di tempat kerja ketika dihubungi oleh pihak bandara, katanya kamu pingsan dan langsung di bawa ke rumah sakit. Kamu ini!” seru Alisa sembari menyentil pelan kening Allen. “Untung saja pihak bandara menghubungiku. Bagaimana jika mereka menghubungi Nenekmu?! Beliau bisa kena serangan jantung!”


"Jika terjadi sesuatu padaku, maka orang pertama yang akan dihubungi adalah kamu." Allen tersenyum. Wajah tanpa dosanya membuat Alisa menarik napas panjang.


Tentu saja itu benar. Kontak nama Alisa di handphone Allen ada di urutan pertama. Dan selalu menjadi nomor yang terakhir dihubungi. Jadi jika terjadi sesuatu pada Allen. Sudah bisa dipastikan Alisa adalah orang pertama yang tahu.


Allen malah tertawa mendengar ancaman Alisa. Dia tahu, hal itu tidak akan pernah terjadi.


“Baiklah. Aku akan memberimu pesangon yang besar. Bagaimana jika aku memberimu ini." Allen memasukan tangannya ke kantung baju dan keluar menunjukkan simbol hati pada Alisa.


Alisa bergidik. "Sebentar aku panggilkan dokter. Sepertinya kepalamu sedikit bermasalah."


Keduanya tertawa.

__ADS_1


"Baiklah. Aku sangat bersyukur untuk itu, tapi aku baru bangun dan aku harus mendengar ocehanmu. Bukankah setelah mendengar ceramahmu kondisiku akan memburuk?” Kali ini giliran Allen yang mengerucutkan bibir.


Alisa manggut-manggut. Dia mulai menyetel wajahnya dengan mode serius. "Jadi gimana ceritanya kamu sampai pingsan di bandara? Memangnya siapa yang kamu jemput? Seingatku kamu tidak punya teman atau keluarga di luar negeri ....” Alisa menghentikan kalimatnya. Bola matanya mulai berputar lalu menatap intens wajah Allen. “Kecuali manusia yang satu itu!” tebaknya dengan alis bertaut.


Allen memejamkan matanya. Menarik napas dalam lalu mengusap wajahnya dengan sisa tenaga. Sulit untuk bercerita semua kejadian di bandara pada Alisa. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Dia juga tidak ingin membuat Alisa khawatir, tapi sepertinya Alisa sudah bisa menebak alasannya berada di bandara.


“Aku ke bandara untuk bertemu Agra. Akhirnya aku bisa melihat wajahnya setelah lima tahun dia tinggal di Prancis, tetapi dengan bodohnya aku mengambil jarak terlalu dekat dengan tempatnya berdiri. Dan dengan tidak tahu malu aku memotret wajahnya ...,” ucap Allen terputus. Membuat gadis yang duduk di sampingnya tidak sabar untuk mendengar cerita lebih lengkapnya.


“Lalu?”


“Lalu aku pingsan. Mungkin aku kurang darah. Seperti biasanya.” Allen menoleh ke arah Alisa dan tersenyum tipis. Berusaha meyakinkan Alisa jika itulah akhir ceritanya di bandara.


Tentu saja Alisa tidak percaya. Kedua alisnya bertaut disertai tatapan mata tajam. Allen menghela napas panjang, dia tahu tidak akan bisa berbohong pada sahabatnya. Dan Allen memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Alisa. Tanpa terkecuali.


Setelah mendengar semua cerita Allen di bandara. Alisa hanya bisa menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Sudah terlalu sering dia memperingatkan Allen agar berhenti mengharapkan Agra, laki-laki yang jelas tidak mencintainya, tetapi sampai berbusa pun Allen tidak akan pernah menanggapi peringatan Alisa.


“Apa kau melupakan kejadian lima tahun lalu?” Alisa berdecak kesal. Kenapa sahabatnya tidak pernah mendengar nasihatnya.

__ADS_1


__ADS_2