
"Di rumah ada Dika, di kampus ada Agra. Oh Tuhan, aku harus apa?" Kinar menggerutu, berlari cepat meninggalkan Agra yang masih tersenyum puas. Melepaskan diri dari kesulitan yang dibuat Dika saja sudah membuat hatinya tertekan, apa lagi sekarang dia harus terjerat dalam kubangan dunia Agra.
Mau jadi apa aku di antara mereka berdua. Hiiiss.. Batin Kinar.
Kinar berlari menuju tempat parkir, sesekali kepalanya bergerak menengok ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekitar. Ken yang melihat kelakuan Kinar tentu merasa heran.
Saat ini Kinar sudah berada di samping mobil, menyapukan pandangan mencari sosok Ken yang belum terlihat sedari tadi. Kinar melongo ketika mendapati Ken sedang duduk sembari menyeruput segelas kopi di tangannya.
Aduh, Ken. Aku sedang dalam keadaan gawat darurat, kau tahu nyawaku sedang berada di tenggorokkan tetapi kau malah asik dengan kopi di tanganmu. Batin Kinar.
“Ken... Psst.. Psst.. Ken..” Kinar berbisik memanggil Ken, ia mengayun tangannya memberi isyarat agar Ken segera menghampirinya. Setelah memastikan Ken berjalan mendekat, Kinar menenggelamkan dirinya di samping mobil. Mengangkat tas nya tinggi-tinggi untuk menutupi wajahnya.
Ken mengernyitkan alis melihat kelakuan aneh Kinar. “Nyonya, apa yang sedang kau lakukan?”
Kinar tidak menjawab pertanyaan Ken, ia hanya menggerakkan telunjuknya ke arah pintu mobil. Ken mengerti maksud dari bahasa tubuh yang dilakukan Kinar. “Oh...”
Ceklak..
Begitu Ken membuka pintu mobil, Kinar beringsut ke dalam mobil. Masih dengan tas yang menutupi wajahnya. Setelah memastikan Kinar sudah masuk ke dalam mobil, Ken segera memacu mobil meninggalkan area kampus. Kinar mengintip dari kaca mobil. Ia mengelus dadanya.
“Haaaah...” lenguhan napas Kinar terdengar sangat panjang dan berat.
Ken melirik kaca depan, sesekali mendapati Kinar yang sedang menengok ke kiri dan kanan, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Melihat Kinar yang masih gelisah di atas jok mobil. Ken akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Anu, sebenarnya ada apa, Nyonya? Anda mengendap-endap masuk ke dalam mobil. Apa telah terjadi sesuatu di kampus?”
__ADS_1
“Ini semua gara-gara, tuanmu. Ku peringatkan kau jangan membelanya, Ken. Apa yang di lakukan Dika kali ini benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia memiliki pikiran sempit seperti itu.” Kinar bersungut.
“Memangnya apa yang telah tuan lakukan, nyonya?” Ken menggaruk kepalanya semakin penasaran.
“Meskipun aku menceritakannya padamu, kau tidak akan memiliki jawaban dari pertanyaan yang akan aku ajukan, Ken.” Kinar melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, nampak jarum pendek berada di angka dua dan jarum panjang di angka enam.
Baru setengah tiga, apa Dika sudah ada di rumah yah? Batin Kinar.
“Ken, biasanya pukul berapa tuanmu ada di rumah?” tanya Kinar.
Ken tersenyum, nampak melirik arloji yang melingkar di tangannya. “Seharusnya saat ini tuan sudah ada di rumah, nyonya. Karena ini hari jum’at, biasanya tuan sengaja tidak mengambil pekerjaan terlalu banyak di hari jum’at dan sabtu.”
“Baguslah.” Kinar tersenyum puas.
Apa lagi yang ingin dilakukan, Nyonya? Setiap kali membayangkan pertengkaran tadi pagi rasanya tubuhku hampir mati rasa, tapi Nyonya terlihat baik-baik saja. Haruskah aku menganggap ini luar biasa? Atau luar binasa? Batin Ken.
“Baik, Nyonya.” Ken mengangguk diiringi senyuman.
Sekalian cek uang deh, mudah-mudahan cukup. Batin Kinar.
Mobil masih melaju meninggalkan keramaian kota, Ken memutar mobilnya memasuki area pom bensin. Kinar turun dari dalam mobil, sedikit berlari agar segera sampai di toilet. Kali ini dia tidak perlu mencari letak toiletnya, karean pom bensin ini adalah pom bensin yang sama ketika Kinar mengganti pakaiannya pagi tadi.
Kinar sudah keluar dari dalam toilet dengan gaun mahal dan sepatu mahal, menyusuri area pom bensin dan menghilang di balik pintu atm. Ken sedikit memicingkan matanya untuk memastikan apakah perempuan yang dilihatnya barusan adalah Kinar. Ternyata itu memang benar Kinar, Ken berpikir keras mengira-ngira apa yang sedang di lakukan Kinar di dalam sana. Jika untuk tarik tunai rasanya tidak mungkin karena Dika sudah memberikan kartu tanpa limit padanya, kirim uang untuk ibunya juga tidak mungkin karena Dika juga memberikan ibu Kinar kartu tanpa limit, lalu untuk apa Kinar ada di dalam ruangan itu? pikir Ken.
__ADS_1
Belum selesai keterkejutan Ken, kali ini Ken kembali melongo dengan kelakuan Kinar. Selepas keluar dari gerai Atm, Kinar melangkah masuk ke dalam mini market yang lokasinya berdekatan dengan gerai atm. Menghilang di balik pintu mini market.
Entah apa lagi yang dilakukan Kinar di dalam sana? Bukankah di rumah sudah tersedia semua bahan makanan, termasuk makanan ringan dan minuman. Untuk apa Kinar terlihat berputar-putar di rak mini market? Lagi-lagi sekelebat peryanyaan menyeruak di kepala Ken.
Sepersekian menit Kinar keluar dari dalam mini market sembari menjinjing dua kantung kresek berwarna putih berlogo merah di bagian tengahnya di tangan kiri dan kanananya. Ken mengernyitkan alisnya, terlihat jelas rona penasaran terlukis di wajah Ken. Ken membuka pintu mobil dan mempersilakan Kinar dengan sopan. Mobil kembali melaju, tidak ada lagi percakapan antara Kinar dan Ken. Keduanya hanya membisu dengan kesibukan masing-masing, Ken yang fokus menyetir mobil sementara Kinar sedang asik membuka kantung kresek dengan tangan kananya, sementara tangan kirinya memegang struk dari daftar belanjaan, matanya sibuk menyapu deretan nama produk beserta harga yang tertera di sana. seperti sedang memastikan isi dan daftarnya sesuai.
Tak terasa mobil sudah memasuki area milik keluarga Mahendra. Menyusuri jalanan dengan pemandangan pohon menjulang di kiri dan kanan jalan. Ken membunyikan klakson, memasuki area mansion dan berhenti di pintu depan. Beberapa pelayan sudah berbaris rapi untuk menyambut kedatangan mereka. Para pelayan menyapa sopan. Kinar hanya mengangguk diiringi senyuman, dia benar-benar ingin segera bertemu dengan Dika, bukan karena perasaan rindu yang membuncah melainkan karena perasaan marah yang tak berkesudahan.
Pucuk dicinta ulam tiba, mungki seperti itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan perasaan Kinar saat ini. laki-laki yang ingin ditemuinya sedang duduk di ruang keluarga bersandar di punggung sofa sembari menyilangkan kaki, ekspresinya nampak serius menyapu kata demi kata yang berderet di koran yang sedang di pegangnya. Kinar mencibir, secepat kilat Kinar menghampiri Dika.
Meletakkan dua kantung kresek di samping sofa.
“Ehem...” Kinar berdehem untuk memancing awal percakapan. Namun laki-laki arogan itu tidak menoleh barang sedikit pun, dia masih asik dengan berita yang disuguhkan di sana.
“Ehem.... ehem...” Kinar mengulanginya.
Mungkin saja dia tuli. Batin Kinar. Lagi Dika tetap tidak merespon.
Haiiish.. ingin rasanya aku melemparkan tas ini ke wajahnya. Batin Kinar.
Ia meremas badan tas yang menggembung.
"Kau ada waktu, Dika? Aku ingin membahas hal penting denganmu." Akhirnya Kinar memberanikan diri memulai percakapan setelah beberapa kali memberi isyarat namun tidak direspon oleh Dika.
__ADS_1
Dika menurunkan koran itu, melipatnya dan meletakkan di atas meja. "Duduklah."
\=\=\=\=> Bersambung 💕💕