Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Singkong Sialan!


__ADS_3

Dika sedang fokus dengan laptop di depannya. Sudah hampir dua jam dia memeriksa beberapa berkas penting, termasuk pembatalan penerbangannya ke Jerman. Seharusnya ini dikerjakan oleh Ken, tetapi karena perasaannya sedang bahagia dia memilih mengerjakan sendiri.


“Sudah hampir dua jam kau di depan laptop, sebaiknya istirahat dulu.” Meletakan secangkit kopi di atas meja. Kinara sudah duduk di samping Dika. Kali ini benar-benar di sampingnya. Sangat dekat.


“Jam berapa sekarang?” tanya Dika sembari menyeruput kopi buatan istrinya.


Kinara memutar kepala, mencari keberadaan benda bulat yang menempel di tembok ruang keluarga. “Jam setengah tiga sore, sebentar lagi ashar. Mandilah, lalu ke masjid.”


"Baiklah. Di mana Ken dan yang lainnya?”


“Ken sedang berkebun bersama Ibu. Kalau Amanda sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya."


“Cih, setiap hari memegang berkas dan laptop memangnya dia bisa apa?” Dika tersenyum sarkas membayangkan Ken akan berbuat kerusakan. “Aku takut dia menghancurkan kebun Ibu.”


“Apa kau tidak salah bicara?”


“Kenapa?”


“Ayolah, kau ingat ‘kan, kau adalah satu-satunya orang yang pernah menghancurkan kebun ibu.”


Seketika Dika menoleh, di tatapnya dalam wanita yang sedang duduk di sampingnya. Kerudung instans berwarna merah tua yang dipadukan dengan daster berwarna hitam itu kontan membuat Kinara terlihat cantik.


Niat hati untuk marah karena dirinya yang dibandingkan dengan Ken hilang sudah begitu melihat kecantikan di wajah Kinara. “Apa kau benar-benar istriku?” Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Dika yang langsung disambut kernyitan di kening Kinara.


“Kenapa? Apa kau menyesal aku menjadi istrimu?” Bibir Kinara sedikit mengerucut mendengar pertanyaan Dika yang terkesan memiliki arti buruk.


“Bukan begitu, Sayang.”


Mendengar kata sayang yang diucapkan Dika berhasil membuat pipi Kinara merona. Dia belum terbiasa dengan panggilan mesra itu.


“Aku masih belum percaya jika aku bisa menikahi seorang bidadari yang cantik jelita sepertimu. Ah, aku takut jika suatu hari nanti kau akan menggunakan sayapmu lalu terbang meninggalkan aku sendirian dalam kesedihan.” memegang dadanya sendiri dengan ekspresi menyebalkan.


Kinara mengedipkan mata beberapa kali lalu meletakan tangan di kening Dika. “Sebaiknya kau segera periksakan kondisi mentalmu. Aku takut jika dibiarkan terlalu lama kau akan semakin gila. Aku tahu klinik yang bagus di sekitar sini, aku takut kau mengalami gangguan yang lebih parah dari ini.”


“Aku baik-baik saja, aku mengatakan yang sebenarnya. Bagiku kau seperti bidadari yang dikirimkan Tuhan untuk menuntuntku kembali pulang, ke jalan yang benar. Terima kasih, Sayang.”


Sebaris kata yang terdengar merdu di telinga Kinara. Kinara segera memalingkan wajahnya, bukan karena Kinara tidak suka dirayu oleh suaminya. Hanya saja sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk saling mengungkapkan perasaan rindu yang mereka rasakan.


“Sudahlah, aku tidak ingin mengganggumu kerja.” Kinara bangkit dari kursi, tetapi Dika dengan sigap meraih pergelangan tangan Kinara dan menariknya, sampai tubuh Kinara terjerembab ke dalam pelukan Dika.

__ADS_1


“Lepaskan aku! Bagaimana jika ada yang melihatnya?!” Kinara berusaha melepaskan diri, menggeliat sekuat tenaga, tetapi tidak berhasil. Karena tidak berhasil akhirnya Kinara memukulkan tangan ke dada bidang suaminya. Berharap cara ini bisa membuat Dika melepaskannya.


“Berhenti memukulku. Ini bukan roti bantal yang empuk, ini roti sobek. Tidak ada gunanya kau memukulku, aku tidak akan merasakan sakit hanya karena pukulanmu.” Dika justru mempererat pelukannya, memangku Kinara di kedua pahanya


dalam posisi menyamping. Melingkarkan tangan kananya di pinggang Kinara, sementara tangan kirinya dia gunakan untuk meraih dagu Kinara. Keduanya saling tatap, saling menelan saliva msing-masing. Degup jantung mereka seperti saling bersautan.


Tidak, aku tidak boleh terbawa suasana. Bagaimana jika Ibu melihatnya? Kinara segera mengumpulkan kesadarannya dan memalingkan wajahnya, “Li-lihat laptopmu masih menyala. Ka-kau sebaiknya menyelesaikan semua pekerjaanmu.”


Bukannya melepaskan, Dika justru tersenyum licik dan menarik tubuh Kinara agar lebih dekat lagi dengannya. “Aku tidak peduli dengan laptop sialan itu!” Dika langsung menutup laptop yang layarnya masih menyala.


“Ta-tapi.”


Tapi aku peduli, bagaimana jika ada yang melihat kita? batin Kinara.


“Ssst ... diamlah, jangan banyak bergerak.” Meraih dagu Kinara lagi. “Bibirmu ...,” ucap Dika terputus. Dia meletakan ibu jarinya di bibir tipis Kinara lalu mengusap lembut.


Bibirku? Ada apa dengan bibirku? batin Kinara.


“Kenapa dengan bibirku?”


"Sejak kapan bibirmu begitu menggoda?”


“Aku ingin mencoba rasanya.”


“Me-mencoba bagaimana? Jika kau ingin sesuatu aku akan membuatnya untukmu, jangan bicara yang tidak-tidak. bibirku bukan makanan.”


“Biarkan aku mencobanya. Lagi pula dari ujung kepala sampai ujung kaki kau 'kan milikku. Aku berhak mencoba semuanya.”


Tunggu, apa otakmu benar-benar utuh? Aku rasa otakmu itu miring, kau tidak lihat kita sedang ada di mana? batin Kinara.


Dika mendekatkan wajahnya, jarak keduanya semakin dekat, tiba-tiba suara menggelegar membuyarkan konsentrasi mereka berdua. “Tuan Muda.”


Dika menurunkan tubuh Kinara pelan-pelan dan membuka laptopnya kembali. Dika hapal betul suara siapa yang sudah mengusik kesenangannya.


“Tuan Muda, saya berhasil memanen singkong. Nanti saya akan bawa ke kota.” Ken menunjukan beberapa singkong yang berhasil dicabutnya dari kebun belakang. Pakaian Ken masih kotor, tetapi wajahnya dipenuhi senyum.


“Ha ... ha ... ha ... kerja bagus, Ken!” Dika tersenyum dramatis sembari mengacungkan jempolnya. “Kau bawa saja apa pun yang bisa kau bawa, bila perlu sekalian akar-akarnya kau cabut dan kau bawa ke kota.” Dasar singkong sialan!


“Apa Anda ingin menanam singkong di rumah, Tuan?”

__ADS_1


“Iya, bila perlu tanamlah pisang, cabai, tomat, lakukan apa pun yang kau mau.” Jadi sekarang pergilah dari sini!


Ken tersenyum bahagia mendengar ucapan Dika. Dia tidak pernah tahu jauh di dalam hati Boss-nya ada dendam kesumat yang harus terbalaskan.


“Baiklah, aku ke kebun lagi.”


“Tunggu, Ken, aku ikut.” Kinara bangun dari kursi. Dika langsung meraih pergelangan tangan Kinara dan menggelengkan kepala diikuti ekspresi menggemaskan. Memelas ala Tuan Muda. 'Jangan tinggalkan aku' kurang lebih begitu artinya.


“Aku harus bantu Ibu.” Meletakan tangan di pipi Dika. “Kau juga harus mandi dan pergi ke masjid.” Membelai lembut pipi Dika.


“Tapi aku.”


Drama macam apa ini, Tuhan? Kenapa aku terlihat seperti petani miskin yang sedang melihat keromantisan raja dan ratu? Seharusnya aku pergi, batin Ken. Dia langsung memalingkan wajahnya.


“Ayolah, Suamiku. Aku harus membantu ibu.”


“Baiklah.” Begitu mendengar kata 'suamiku' Dika langsung melepaskan tangan Kinara.


“Sebelum ke kebun aku akan siapakan handuk dan pakaian di atas kasur, yah."


Dika menganggukan kepala sembari tersenyum.


Bersambung.....


.


.


Nakanak maaf yah kemaren emak nggak up. Ada urusan di dunia nyata yang nggak bisa emak tinggalkan.


.


.


Semoga up di hari minggu ini bisa mengobati kerinduan klian dengan keuwuuuan DiKi (DikaKinara) 😅


.


.

__ADS_1


Ayo sekarang bayar emak dengan jempol kalian, LIKE, KOMENTAR, DAN VOTENYA DI TUNGGU.


__ADS_2