
“Ok.” Dika bangun. “Sekarang beri tahu Ayah, Nak. Mana susu yang biasa kau minum? Ayolah, bekerja samalah dengan Ayah, yah?”
“Apa katanya?” Kinara meledek.
“Dia tidak menjawab, mungkin karena masih di dalam perut. Setidaknya kau gantikan anak kita untuk menjawab pertanyaanku.” Tertawa tanpa dosa.
“Bagaimana dong, akukan lupa.” Kinara melipat tangannya di dada.
Cih, aku yakin kau tidak lupa, batin Dika.
Dika menarik napas panjang. Mengeratkan kedua tangannya dan menarik ke depan seperti sedang bersenam. Cukup lama dia melakukan gerakan peregangan tubuh sampai tatapan matanya tertuju pada Kinara.
“A ... apa yang sedang kau lakukan? Apa berlutut saja belum cukup? Kau sampai harus bersenam di sini?” Kinara menutupi wajahnya dengan salah satu telapak tangan. Pasalnya beberapa pengunjung mulai memperhatikan tingkah konyol Dika, sangat tidak sesuai dengan tampangnya yang garang.
“Aku sedang bersiap,” ucap Dika yang tidak berhenti melakukan pemanasan.
“Bersiap? Untuk apa?”
“Untuk menghadapi tingkah anak dan istriku yang sepertinya sedang mengerjai aku.” Dika tersenyum.
“Aku tidak mengerjaimu, kalau tidak tahu susu yang mana ya tidak usah beli.”
“Aku tidak akan menyerah semudah itu.” Dika menggoyangkan jari telunjuknya di depan Kinara.
Baguslah. Kita lihat sampai di mana kau bisa bersabar menghadapi aku, batin Kinara.
“Baiklah, sekarang kita mulai. Apa yang ini?” Dika menunjuk salah satu susu ibu hamil yang berderet di rak.
“Bukan.” Kinara menggeleng.
“Yang itu?”
“Bukan juga.”
“Yang samping?”
“Bukan.”
“Yang sebelah kiri?”
“Bukan?”
“Yang paling atas itu bagaimana?” Dika nampak mulai kesal. Dari sekian banyak susu ibu hamil yang dia tunjukan tak ada satu pun yang cocok. Dika sampa menarik napas dan mengembuskan kasar.
“Heem ....” Kinara berpikir sejenak.
Dika tersenyum, sepertinya kali ini jawabannya adalah ‘Iya’.
Akhirnya selesai juga, Dika membatin sembari mengurut dadanya.
“Aku rasa bukan juga.”
Dika menatap nanar wajah Kinara yang dihiasi senyuman lebar.
“Kau yakin bukan?” Dika meyakinkan sembari menunjuk salah satu merk susu ibu hamil. “Aku sudah menunjukan semua yang ada di rak, memangnya kau minum yang mana?”
“Bukan. Aku bilang bukan ya bukan.” Kinara memalingkan wajahnya untuk menutupi senyum dari Dika.
Bersabarlah wahai Dika, ini demi anakmu, batin Dika menyemangati dirinya sendiri.
“Pasti yang itu, ‘kan? Itu yang terakhir.”
“Bukan, bukan yang itu*” jawab Kinara ngotot.
Dika memijat kasar keningnya.
__ADS_1
“Keeen!” serunya. Dika yakin Ken sedang berada di dekatnya.
Benar saja, dalam hitungan detik Ken sudah berdiri di depan Dika. “Ada apa, Tuan Muda.” Ken membungkuk sopan.
Astaga dari mana datangnya si Asisten ini? Apa dia punya pintu ke mana saja? gerutu Kinara di dalam hati.
“Ken, beli semua susu ibu hamil yang ada di rak itu!” tutah Dika sembari menunjuk rak susu di depannya.
“Baik, Tuan Muda.”
Ken menggerakan kepalanya. Dua orang karyawan sudah bersiap dengan dua troli besar di tangan masing-masing.
“Tunggu ... tunggu.” Kinara merentangkan tangannya di depan rak susu ibu hamil.
Cih, kita yang ingin mengerjainya kenapa sekarang kita yang dikerjai, Nak? batin Kinara.
“Kenapa, Kinara?” Dika berjalan mendekati Kinara. “Aku tidak bisa menebak susu mana yang biasa kau minum, wajar jika aku memutuskan untuk membeli semua yang ada di rak ini?”
Itu tidak wajar, itu pemborosan! batin Kinara.
“Tidak, itu tidak perlu.”
“Kenapa?” Dika semakin mendekat, jarak keduanya hanya beberapa centi lagi. Ujung kaki mereka saja hampir bertemu. “Apa aku perlu membeli yang ada di gudang juga? Atau membeli pabrik susunya?”
Kinara panik. “Jangan. Aku rasa itu tidak perlu.” Kinara tersenyum kesal.
Menilik sikap suaminya yang tidak pernah main-main mungkin saja hal itu akan terjadi, membeli susu ibu hamil dengan jumlah banyak bukan ide yang bagus.
“Jadi?” Dika menyentuh ujung jemari Kinara yang membuat Kinara beringsut mundur.
“Aku minum yang ini.” Sudah memegang satu kotak susu ibu hamil rasa coklat.
Dika memijat pangkal hidungnya dan bergerak maju.
“Bukankah itu susu pertama yang aku tunjukan padamu, Kinara?”
“Oh ... benarkah? Iya, itu karena aku baru ingat kalau aku minum susu yang ini.” Kinara tertawa. Niat hati mengerjai suaminya gagal total.
“Kau tidak lupa. Kau hanya ingin mengerjai aku, ‘kan?”
“Mana mungkin. Aku memang lupa.” Kinara menundukan kepala karena takut kebohongannya ketahuan oleh Dika.
Cih, saat berbohong saja dia tetap terlihat sangat manis. Menggemaskan, batin Dika.
***
Akhirnya drama susu ibu hamil itu berakhir. Dika membeli beberapa kotak susu ibu hamil untuk stok selama beberapa bulan ke depan.
Keduanya sempat berdebat ketika memutuskan siapa yang akan membayar belanjaan yang begitu banyak. Namun perdebatan itu berhasil dimenangkan oleh Dika. Dia beralasan ingin bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya, Kinara sulit untuk menolak jika selalu menyangkut anaknya. Biar bagaimanapun Dika adalah Ayah dari anaknya.
🍃Pintu keluar pusat perbelanjaan🍃
“Tunggu di sini, aku ambil mobil dulu,” ucap Dika.
“Aku minta Pak Budi jemput saja deh.” Kinara menolak halus, dia tidak ingin waktunya semakin lama dihabiskan dengan Dika.
Mungkin hal itu tidak masalah bagi Kinara, tetapi bagi Dika sepertinya itu akan menjadi masalah besar. Semakin lama kebersamaan mereka akan semakin sulit untuk Dika melepaskan Kinara.
“Aku masih suamimu, Kinara. Biarkan aku yang bertanggung jawab sampai akhir dan menjamin keselamatanmu, yah?” Dika menatap penuh harap.
Akhirnya Kinara mengangguk. Dia tidak setega itu menyiksa perasaan suaminya, lagi pula sebentar lagi mereka juga akan berpisah. Pikir Kinara.
Dika meminta Ken untuk pulang lebih dulu, sementara dia memilih menyetir sendiri untuk mengantar Kinara pulang.
“Tunggu.” Kinara mendekati Dika dan menarik ujung kausnya.
__ADS_1
“Kenapa? Ada yang belum terbeli?” tanya Dika.
“Bukan ....” Kinara menggelengkan kepala sembari menggerakan ujung lidahnya menyapu bibir tipisnya. Tangan yang satu laginya bergerak memutar di perut dan tatapan matanya tertuju pada salah satu pengunjung yang sedang duduk di kursi tunggu.
“Kau mau itu?” tanya Dika sembari tersenyum.
Kinara mengangguk.
“Itu mudah, toko roti itu ada di dalam. Kau tunggu di sini, biar aku yang masuk.”
“Bukan roti, tapi itu.” Tangan Kinara menunjuk salah satu pengunjung yang sedang melahap sempol ayam. Ada dua gadis yang masih mengenakan seragam SMA sedang menikmati roti dan sempol ayam. Dika pikir yang Kinara maksud adalah roti, ternyata itu sempol ayam.
“Itu, makanan apa?” Dika menggaruk kepalanya.
“Sempol ayam. Pokoknya aku mau itu.”
“Baiklah.” Dika memutar kepalanya.
“Siapa yang sedang kau cari?”
“Ken. Di mana dia, aku bisa memintanya membeli makanan itu untukmu.”
Seketika raut wajah Kinara berubah tidak suka.
“Siapa suamiku? Ken atau kau? Kenapa harus Ken yang beli, aku maunya kau yang beli,” desis Kinara tepat di telinga Dika.
Apa ini ngidam? batin Dika.
“Baik, baik. Ayo kita beli.”
“Harus yang sama.” Kinara menekankan nada suaranya.
“Maksudmu?”
“Harus yang sama dengan yang dimakan gadis itu.”
“Bukankah semua sempol ayam sama saja?” dika tersenyum lebar.
“Tidak mau! Aku mau yang sama dengan yang dia makan, kau tanya di mana dia beli sempol ayam itu.”
Oh, Tuhan ... apa ini benar-benar ngidam? Atau hanya alasan istriku saja untuk menyiksaku, batin Dika.
“Ok, sekarang kau duduk dulu. Ingat jangan ke mana-mana, aku akan tanya di mana dia beli sempol ayam itu.”
Kinara menganggukkan kepala diikuti senyuman licik.
“Permisi, Dek.” Dika sudah berdiri di depan gadis yang sedang asik makan sempol ayam.
“Ah, iya. Ada apa, Kak?” Gadis itu segera berdiri, merapikan rambutnya, dan memainkan matanya seperti sedang menggoda Dika.
Dika sampai bergidik ketika melihat kelakuan gadis itu, jika bukan demi istrinya mana mungkin dia yang super kaya dan angkuh itu rela menurunkan harga dirinya di depan seorang gadis SMA hanya untuk bertanya tentang sempol ayam.
Bersambung....
.
.
Mau emak rajin up? Kalian harus rajin Vote. Kalau Votenya rajin, besok pagi-pagi buta emak up kayak biasanya. Jangan kendor dong, anak emak nggak boleh males mulung point. Ok.
.
.
Cuuus komen yang banyak, kalian mau Kinara ngidam apa lagi? Yang jelas harus nyusahin Dika ya 🤣
__ADS_1