Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Mie Instans Pengobat Rindu


__ADS_3

Kinara memegang teguh kata-katanya, dia tetap berniat mengajukan gugatan perceraian kepada Dika. Keinginannya tidak tergoyahkan sedikitpun, meski Marta dan Ken berkali-kali membujuk Kinara.


Carissa tidak jadi pulang ke Inggris, dia memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia. Namun selepas dokter Amel mengumumkan hasil tes DNA anak Kinara dan Dika, dia segera membereskan semua barang-barangnya dan pergi dari mansion Dika. Carissa sangat kecewa dengan kebohongan yang dilakukan Dika, mungkin meninggalkan mansion itu adalah pilihan terbaik.


Saat ini Carissa tinggal bersama Paman dan Bibinya di Jakarta, karena Ayah dan Ibu Carissa harus kembali ke Inggris. Beberapa bisnis yang digeluti keluarga Kaylee memang berpusat di Inggris, lagipula,


sewaktu-waktu Carissa harus tetap kembali ke Inggris untuk melakukan pengobatan. Meski tidak serutin dulu, tetapi pengobatan itu tidak boleh dihentikan.


Marta yang sudah kembali dari Jerman pun memutuskan untuk menetap di Indonesia, bisnisnya di Jerman dia serahkan kepada sekertarisnya. Marta memilih fokus mengurus bisnis kesehatan di Indonesia.


Sebenarnya hal yang mendasari semua keputusan Marta hanya untuk mengawasi keadaan menantu dan calon cucunya. Marta sering datang mengunjungi Kinara, bertanya tentang perkembangan cucunya, bahkan sesekali tidur di rumah Kinara untuk melepaskan kerinduan kepada menantunya itu.


Iya ... saat ini, rumah yang ditempati Kinara sudah menjadi miliknya. Resmi atas namanya, tertulis di atas kertas, termasuk mobil yang selalu terparkir di halaman rumahnya juga atas namanya. Marta


memberikan semua itu sebagai hadiah, meskipun berkali-kali Kinara menolak, tetapi Marta terus memaksa dan akhirnya Marta yang menang. Gaji Pak Budi dan Bibi Ane pun dibayar oleh Marta.


Lalu bagaimana dengan Dika? Dika tetap tinggal di mansion besarnya, tetapi kali ini tanpa Kinara dan Carissa.


Dua hari sejak tes DNA itu keluar, Kinara yang ditemani Agra dan Alisa datang ke pengadilan untuk mengajukan perceraian, beberapa berkas yang disiapkan Kinara sebagai bukti untuk


menuntut cerai dari Dika diperoleh dari Agra.


Termasuk menyiapkan pengacara untuk memudahkan Kinara mempelajari soal hukum perceraian. Semua berkas itu sudah dikirim ke Pengadilan Agama, Kinara dan Dika tinggal menunggu proses selanjutnya.


Beberapa kali Kinara menghubungi Dika untuk memintanya menanda tangani surat perceraian tanpa harus berperang di pengadilan. Namun Dika menolak dan bersikeras untuk mempertahankan Kinara di sisinya.


Akhirnya, dengan berat hati Kinara mengambil langkah hukum. Kinara terpaksa melibatkan Carissa dan Agra dalam proses perceraiannya, menarik dua orang yang tidak bersalah itu rasanya seperti menyakiti mereka perlahan-lahan. Namun tidak ada jalan lain lagi, Kinara tidak bisa mundur lagi.


Tiga hari belakangan ini Agra sering berkunjung ke rumah Kinara. Seperti pesan Marta, Agra tidak pernah datang sendiri, dia selalu datang bersama Alisa.


Saat ini Alisa sudah mengetahui semuanya, rahasia yang berusaha Kinara tutup-tutupi itu harus dia bagi dengan Alisa.


Kisah tentang pernikahan Kinara yang memilukan, yang harus berakhir dengan gugatan perceraian di pengadilan. Dan kisah cintanya dengan Agra yang baru saja dimulai.


Agra Grissham, laki-laki dengan sejuta pesona itu dengan tangan terbuka bersedia menerima Kinara. Menerima statusnya sebagai seorang janda dari Dika Mahendra, bahkan berulang kali meyakinkan Kinara jika dirinya siap menjadi ayah sambung yang baik bagi anak Kinara.


Akan selalu melindungi dan mencintai keduanya dengan segenap jiwa, dia tidak peduli status sosial atau pun status janda yang akan tersemat pada Kinara dalam waktu dekat.


Agra tidak peduli itu, baginya cinta tetaplah cinta, selama Kinara mengajarkan padanya tentang makna cinta yang saling melengkapi satu sama lain. Selama itu pula status dan yang lainnya tidak lagi berharga, seperti itulah seorang Agra mencintai Kinara dengan begitu dalamnya.


***


Mansion pagi hari.


“Keeen ...!” Dika berteriak dari ruang makan.


Beberapa pelayan berlarian menghampiri Dika termasuk Ken. Melihat raut wajah Tuannya yang rumit dengan tatapan marah seperti akan menelan manusia hidup-hidup Ken segera mengibaskan tangannya. Pelayan-pelayan itu mengerti, mereka membungkuk sopan dan segera undur diri dari hadapan Dika.


Ken menarik napas panjang, sejak gugatan perceraian itu sampai ke pengadilan dan Dika menerima surat dari pengadilan, emosi Dika memang sering berubah-ubah


dan tidak terkontrol.

__ADS_1


Beberapa kali Ken mendapati Dika menghabiskan waktu luangnya untuk melamun di taman belakang, tak jarang Dika juga membanting barang-barang pecah belah seperti piring, gelas, bahkan gucci mahal pun tak lepas dari amukan tangannya.


Ken sempat memberanikan diri berdikusi dengan Marta untuk membawa Dika ke psikiater karena takut kondisi Dika akan semakin memburuk. Namun Marta tidak setuju, Marta lebih memilih membiarkan Dika merasakan kesakitan agar anaknya itu bisa belajar untuk lebih menghargai wanita.


Marta yakin putranya tidak selemah itu, mungkin Dika akan frustrasi dan hancur karena kehilangan Kinara, tapi tidak sampai menjurus pada tahap kegilaan. Semoga saja keyakinan Marta itu benar.


Ken segera menuangkan segelas air putih dan meletakan hati-hati di depan Dika. “Minumlah, Tuan.”


Dika menatap gelas itu dengan tatapan nanar, tiba-tiba Dika ingat ketika dia menyiram Kinara dengan sebotol air. Tubuh kecil istrinya itu sampai menggigil kedinginan.


Apakah rasanya sangat dingin? Kau sampai mengigil, maafkan aku, Kinara, batin Dika.


Tidak mendapat respon dari Dika, Ken segera menyingkirkan gelas itu. “Apa ada yang anda butuhkan, Tuan?” tanya Ken dengan suara lembut, sangat hati-hati.


“Aku lapar, Ken,” ucap Dika pelan.


Lapar? Kalau begitu kau bisa segera makan, Tuan. Lihatlah, di depanmu sudah tersaji makanan mewah ala hotel bintang lima, memangnya kurang apa lagi? Batin Ken.


“Baik, akan saya ambilkan, Tuan.” Ken meraih piring dan bersiap mengambil nasi.


“Aku tidak ingin makan semua makanan ini, Ken,” ucap Dika.


“Baiklah, Tuan.” Ken meletakan kembali piring itu. “Kalau begitu apa yang ingin anda makan?”


“Aku ingin makan mie instans, Ken,” katanya masih dengan ekspresi tidak terbaca.


Ken mengernyitkan dahi sampai kedua alisnya bertaut, lalu menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal. Ken hanya tidak mengerti dengan permintaan Dika, selama dia bekerjadengan Dika ini kali pertama Dika ingin makan mie instans, padahal mie instans adalah makanan yang selalu dia bilang makanan tidak bergizi.


“Kenapa, Ken?”


“Di mansion tidak tersedia mie instans, Tuan Muda. Jika Tuan benar-benar ingin makan mie instans, saya akan pergi membelinya ke minimarket.”


“Pergilah.” Mengibaskan tangan. “Tunggu, Ken. Beli mie instans yang biasa di makan Kinara,” ucapnya lirih. Nama Kinara itu dia sebut dengan suara rendah, seandainya saja dulu Dika memanggil istrinya dengan nada seperti itu.


“Baik, Tuan.”


Ken segera meninggalkan Dika dan memacu mobilnya ke minimarket terdekat.


Minimarket dekat mansion.


Ken sudah berada di dalam minimarket di depan rak mie instans, ada begitu banyak jenis dan rasa mie instans di sana. Ken tidak tahu mie instans mana yang sering dimakan Kinara. Ken segera melakukan panggilan telepon dan menghubungi Kinara.


“Hallo, Ken ...,” sapa Kinara di ujung sana.


Suara Nyonya tidak pernah berubah, selalu terdengar lembut dan menenangkan, batin Ken.


“Ken? Hallo?”


“Eh, maaf, Nyonya. Begini Nyonya saya mau tanya, biasanya Nyonya makan mie instas rebus atau goreng?”


“Rebus, kenapa, Ken?”

__ADS_1


“Tidak aku hanya ingin mencobanya, kebetulan aku sedang di minimarket. Tapi pilihan rasanya sangat banyak, aku bingung kira-kira mana yang paling enak.”


“Hmm ... semuanya enak sih, Ken. Apalagi jika dimakan ketika tanggal tua,” ucap Kinara diikuti tawa kecil.


“Jadi haruskah aku membeli semuanya?” tanya Ken sembari meledek.


“Ya, jangan! Mubadzir itu namanya, kalau aku sih sering makan yang rasa ayam bawang, Ken.”


Ayam bawang, ayam bawang, batin Ken sembari matanya berkeliling di rak Mie.


“Ketemu!” seru Ken bahagia begitu menemukan mie instans rasa ayam bawang.


“Apanya yang ketemu?” tanya Kinara heran.


“Ayam bawangnya,” jawab Ken polos.


“Oh.” Kinara tertawa.


Selepas mie instants rebus rasa ayam bawang itu di dapat, Ken segera kembali ke mansion.


Mansion.


“Tuan.” Berjalan menghampiri Dika yang masih duduk di ruang makan.


“Kau dapat mie instansnya, Ken?”


“Iya, Tuan. Ini mie rebus rasa ayam bawang, sama seperti yang sering Nyonya makan.” Ken meletakan sekantung mie instans rebus itu di atas meja.


“Tanya Kinara bagaimana cara memasaknya,” titah Dika yang dijawab anggukan kepala oleh Ken.


Ken segera melangkah ke dapur dengan sekantung penuh mie instans untuk persedian jika Dika tidak napsu makan. Dia segera menyusun itu di rak dapur.


“Sebenarnya ada tata cara memasaknya di belakan bungkus mie, tapi ... sudahlah, jika itu permintaan Tuan aku harus melakukannya.” Ken bergumam membolak-balik bungkus mie instan itu.


Untuk kedua kalinya dia melakukan panggilan telepon dengan Kinara hanya untuk bertanya tentang cara memasak mie instans ala Kinara. Sebenarnya Kinara sedikit curiga dan selalu bertanya, tetapi Ken menutup rapat mulutnya.


Tidak mungkin bagi Ken menceritakan kondisi Tuannya. Ken mengikuti instruksi Kinara dalam memasak mie instans, Ken juga menambahkan telur di dalam mie instans itu sesuai permintaan Kinara.


Sepuluh menit berlalu, Ken sudah kembali ke ruang makan dengan semangkuk mie instan di tangannya. Ken meletakan mie instan itu di depan Dika, menuangkan air dan meletakan di samping mangkuk.


Sekali lagi tatapan sedih itu terlihat. Dika mengibaskan tangannya. Ken mengerti, dia segera undur diri meninggalkan Dika dengan semangkuk mie instan ala Kinara itu.


Dika mengaduk mie instan itu, cukup lama dia melakukannya. Sampai sesuap mie instans mendarat di mulutnya, tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Mie instans itu seperti duri yang tertancap dimulutnya, tidak bisa dikeluarkan pun tidak bisa dia telan.


Dengan susah payah Dika berusaha menelannya, dia mendekatkan mangkuk mie ke mulutnya dan mulai menyendok lagi. Dia menghabiskan mie instan itu dengan tangan gemetar dan mata yang basah karena air mata yang menggenang dikedua pelupuk matanya.


Seperti inikah setiap harinya kau makan, Kinara? Kau habiskan waktumu selama lima bulan untuk memakan mie instan ini? Bahkan ketika kau sedang hamil anakku kau tetap memakan ini? Kinara, pulanglah ... aku sangat meridukanmu, batin Dika.


Bersambung...


.

__ADS_1


.


Nakanak bantu promosiin novel emak dong, di IG, Fb, trus ajak temen keliaaan buat ikut baca novel emak... ❤️😍


__ADS_2