Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Keteguhan Hati Dika (Part 2)


__ADS_3

Misi, tukang bawang mau lewat 🤣


“Jadi bisakah aku minta tolong padamu, Kinara?”


Kinara terperanjat, beberapa detik yang lalu pikirannya melayang jauh membayangkan sosok mantan suaminya. Sosok yang entah kenapa mulai mengusik hatinya.


“Aku takut kau kecewa, Allen.”


“Apa maksudmu?”


“Sepertinya tidak ada yang bisa aku bantu.” Kinara menggeleng.


“Aku ....” Mengigit bibir bawah. “Jika bukan padamu, aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa” Allen terlihat meremas gaunnya. Tanagnnya sedikit bergetar.


Di mana gadis arogan yang semena-mena? Ke mana perginya Allen yang selalu terlihat kuat, tak pernah sekalipun Kinara melihat sisi lemah Allen. Dan ini kali pertama Allen terlihat begitu menyedihkan.


“Aku tidak bisa berbuat banyak, Allen. Aku bukan adik ataupun kerabat Dika, kau salah jika mengira aku memiliki hubungan baik dengan Dika.”


Di ... Dika? Kenapa Kinara begitu berani menyebut Tuan Muda dengan sebutan nama begitu? Ayah dan ibuku saja tidak berani, sebenarnya hubungan macam apa yang mereka miliki? batin Allen.


Allen nampak tertawa kecil, lalu mengusap sudut matanya. “Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.”


Allen bersiap bangun ketika bibi Ane datang membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan.


“Oh, Nona sudah mau pulang? Wah, sayang sekali. Padahal Bibi sudah siapkan makanan ringan.” Bibi Ane meletakan nampan di meja.


“Maaf, yah, Bi. Aku harus pulang.” Allen tersenyum, dia sampai tidak enak hati. Dialah yang memohon pada bibi Ane agar dipertemukan dengan Kinara, tetapi dia bahkan tidak bisa menikmati minuman buatan bibi ane.


“Sebaiknya kau minum dulu, Allen. Bibi sudah repot-repot membuat minuman untukmu.” Kinara kembali mempersilakan Allen untuk duduk.


“Emm ... baiklah.” Allen duduk lagi. “Terima kasih, Bi,” ucapnya sembari tersenyum.


Bibi Ane mengangguk.


“Punyaku yang mana, Bi?” tanya Kinara bingung.


Di atas meja ada dua gelas susu coklat hangat, karena masih pagi mungkin bibi Ane berinisiatif menyajikan susu hangat untuk Allen. Alih-alih, teh atau kopi.


“Yang ini, Nyonya.” Mengambil satu gelas dan meletakan di dekat Kinara. “Setelah ini saya akan kupaskan buah-buahan,” imbuhnya.


Kinara mengangguk.


Bibi Ane segera pamit ke belakang. Masih banyak pekerjaan yang menunggunya.


“Kau sedang sakit?” Allen mengerutkan keningnya.


“Tidak.” Menggeleng. “Kenapa? Apa wajahku terlihat pucat?” Melakukan gerakan melingkar di wajahnya.


“Bukan, wajahmu terlihat cantik. Seperti biasanya, hanya saja sepertinya jadwal makanmu sangat teratur.”


Tentu saja. Aku tidak hanya memikirkan kesehatanku, tetapi kesehatan anakku juga, batin Kinara.


Bukannya menjawab, Kinara hanya tersenyum. Membuat kerutan di kening Allen terlihat semakin jelas.


“Emm ... Apa bedanya susu ini dengan susu yang kau minum?” Allen nampak memperhatikan dua gelas yang isinya terlihat sama, hanya jenis gelasnya saja yang berbeda.


“Haaah ....” Menghela napas panjang. “Ini jelas berbeda dengan yang kau minum, Allen. Sama-sama susu, tapi memiliki fungsi yang lain.” Kinara meneguk perlahan susu itu.


Fungsi yang lain? Apa maksud kalimatnya? batin Allen.


Allen mengikuti Kinara. Dia manggut-manggut ketika seteguk susu berhasil berpindah ke perutnya, mungkin susu hangat buatan bibi Ane sesuai seleranya.


“Jadi apa bedanya?” tanya Allen.


“Kau penasaran?” Kinara malah balik bertanya.


Allen menggangguk cepat.


“Ini susu untuk ibu hamil.”


Prank!

__ADS_1


Gelas itu terlepas dari genggaman tangan Allen. Meluncur begitu saja dan mengenai lantai. Bibi Ane yang mendengar suara pecahan gelas segera menghampiri dan membersihkan pecahannya. Kinara dan Allen hanya saling tatap, menunggu waktu yang tepat untuk saling mengadili satu sama lain. Sepertinya akan ada banyak pertanyaan yang akan diajukan Allen pada Kinara.


“Siapa?” tanya Allen begitu bibi Ane kembali ke belakang. “Apa i ... itu ...,” Allen nampak menarik napas dalam dengan mata berkaca-kaca, bibirnya sedikit bergetar. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan bahunya sedikit berguncang.


Setelah beberapa saat dan kondisi Allen kembali membaik Kinara angkat bicara, “Bukan! Jangan terlalu rendah menilaiku, Allen.”


“Maksudmu, itu bukan anak Agra?”


“Bukan!” Kinara menggeleng. “Ini bukan anaknya. Kami tidak pernah tidur bersama!”


Ada embusan napas lega yang datang dari bibir Allen. Dia sampai mengurut dadanya, melakukan gerakan itu berulang-ulang.


“Lalu, anak siapa?”


“Dika, ini anak Dika Mahendra. “


Mata Allen membulat. “Maksudmu, Tuan Muda?”


Kinara mengangguk.


“Tuan Muda Dika Mahendra?” Allen mencoba meyakinkan.


“Iya, ini anaknya. Aku bukan adik ataupun kerabatnya, tapi mantan istrinya.”


Allen memijat pelipisnya. Beberapa kali dia menggelengkan kepala seolah tidak percaya. Bagaimana mungkin Kinara adalah istri dari pemuda kaya raya? Orang paling berpengaruh dalam dunia bisnis. Sedangkan statusnya di kampus hanya mahasiswi beasiswa.


“Ada banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan padamu, Allen.”


Allen mengerti. Dia tidak banyak bertanya, meskipun dia ingin tahu lebih banyak lagi. Kenyataan jika Kinara adalah istri Dika benar-benar membuatnya terkejut.


“Dan kau tidak perlu tahu yang lainnya. Intinya, aku tidak bisa membantumu.” Dengan berat hati Kinara menyampaikan keadaan yang sebenarnya. Memang tidak ada yang bisa dia lakukan.


“Apa kau tidak bisa meminta Tuan Muda untuk memberikan kami kesempatan? Maksudku agar pertunanganku dan Agra bisa dilanjutkan.” Allen nampak mengiba.


Kinara menggeleng.


“Atau paling tidak kau bujuk Agra. Jika itu dirimu aku yakin Agra akan mendengarkannya. Membujuk Agra adalah hal yang sederhana bagimu Kinara.”


“Sederhana bagiku, belum tentu sederhana baginya.”


“Bagaimana caranya, Allen? Aku tidak tahu caranya.”


“Bicaralah pada Agra, atau pada Tuan Muda. Berikan aku kesempatan untuk bahagia dengan orang yang aku cintai.”


Kinara merem*s kedua jemarinya. “Apa aku juga tidak berhak bahagia, Allen? Aku juga ingin hidup bahagia dengan Agra. Apa masalahnya? Kami saling mencintai, kenapa kami tidak bisa bersama?”


Deg ...!


Kalimat yang baru saja Kinara ucapkan seperti bongkahan batu yang menidih tubuh Allen. Berat sekali untuk sekadar menerima kenyataan, jika pada akhirnya dialah yang kalah.


“Kau benar, Kinara. Mungkin aku terlalu egois.”


“Apa kau yakin bisa hidup dengan laki-laki yang tidak mencintaimu? Tinggal satu atap dengannya, sementara kalian tidak memiliki perasaan satu sama lain.”


Allen tertawa kecil. “Untuk itu, sepertinya aku tidak yakin.”


“Jika kau sendiri tidak yakin, kenapa kau terus melanjutkan perjodohan ini, Allen? Bukankah ini adalah kesempatan untukmu? Kau bisa melarikan diri dari semua ini, tanpa harus menjadi pihak yang disalahkan.”


“Keadaan ini, bukan aku yang mau, Kinara. Aku juga ingin merebut hati Agra terlebih dahulu, lalu hidup bahagia sebagai istri yang dicintainya. Namun, takdirku dan takdirmu jelas berbeda. Aku dan Agra, kami berdua hanya anak-anak yang dibesarkan untuk saling menguntungkan satu sama lain, tidak lebih.”


“Apa seorang anak harus berguna dulu baru bisa disebut anak?”


“Mungkin tidak dalam keluargamu, tetapi seperti itulah dalam keluarga kami. Teman, sekolah, gaya bicara, cara berpakaian, semuanya sudah diatur oleh orang tua kami. Kami harus mengikuti standar mereka, begitulah para pewaris melanjutkan hidup. Bahkan dengan siapa mereka menikah dan memiliki keturunan, juga harus sesuai standar orang tua.”


Kinara menelan salivanya. Menatap Allen dengan tatapan kasihan. Sepertinya, selama ini Allen hanya berusaha menutupi kelemahannya dengan menampakan duri yang tajam.


“Jangan menatapku seperti itu, Kinara. Aku tidak butuh dikasihani, aku ... aku hanya datang untuk meminta bantuanmu. Bukan belas kasihan darimu.” Allen meneguk air mineral yang disediakan bibi Ane. Pengganti susu hangat yang tumpah tadi. “Karena kau tidak bisa membantuku, aku pamit pulang, yah.”


“Tunggu, Allen. Jika aku tidak membantu, apa yang akan terjadi padamu?”


“Ah ... tidak banyak, saat ini semua berita pertunangan antara aku dan Agra sudah dihapus. Baik dalam forum kampus, media televisi, bahkan beberapa media cetak akan membatalkan peluncuran berita itu. Lalu ...,” Allen nampak sesenggukan. Matanya yang bengkak dan sembab itu semakin mempermudah bulir kristal untuk turun dan membasahi wajahnya. “Maaf.” Tertawa ringan.

__ADS_1


Kinara menyodorkan sapu tangan. “Gunakan ini, jika kau terus menggunakan punggung tanganmu untuk menyeka air mata. Matamu akan semakin bengkak.”


Allen mengangguk sembari menerima sapu tangan itu.


“Lalu apa?” Kinara terlihat tidak sabar untuk mendengar kalimat Allen yang terputus.


“Lalu ... besok keluarga Grissham akan mengadakan jumpa pers, untuk mengumumkan perihal batalnya pertunangan kami. Dan mulai saat itu, dunia akan mengenalku sebagai gadis yang gagal dalam urusan perasaan. Anak gadis dari keluarga Caitlin yang batal bertunangan. Mungkin ada sedikit bumbu-bumbu fitnah di dalamnya, aku tidak peduli.” Allen terisak. Nampaknya semua pertahanannya sudah runtuh.


Kinara menggenggam erat tangan Allen.


“Aku ... selama ini aku belum menjadi anak yang berguna, aku menghamburkan uang orang tuaku. Menggunakan kekuasaan mereka untuk menyakiti teman-temanku. Dan aku sangat menyesali itu, tetapi kali ini aku akan mencoreng nama baik keluargaku. Akan membuat mereka malu seumur hidup, noda yang aku dapat tidak akan hilang begitu saja. Harga diriku sebagai seorang wanita, tidak ada lagi.”


Kinara bangun dari kursi. Dia memegang bahu Allen. Menarik tubuh Allen ke dalam pelukannya. “Menangislah, Allen. Menangis sampai hatimu merasa puas, kau pun boleh berteriak.” Menepuk-nepuk punggung Allen. “Aku tahu bagaimana rasanya ketika harga diri kita terhempas ke dasar. Itu sangat menyakitkan. Karena aku pun pernah mengalaminya.”


Dan aku tidak akan membiarkanmu mengalami hal yang sama sepertiku, Allen, batin kinara.


Allen menangis semakin keras. Kali ini dia tidak bisa menahannya, suaranya bahkan terdengar sangat jelas.


Sepersekian menit kemudian.


“Ah, ini sangat memalukan.” Allen tertawa disela-sela tarikan napasnya yang masih belum stabil. “Jangan ceritakan hal ini pada siapa pun, yah.”


Kinara mengangguk diikuti senyum tipis.


“Masuklah, kau tidak perlu mengantarku. Ibu hamil harus banyak istirahat, daaaah ....” Allen melambaikan tangannya dan segera masuk ke dalam mobil.


Begitu mobil Allen menghilang, Kinara segera menghabiskan susu ibu hamil dan berjalan cepat menuju kamar. Dia mencari ke semua sudut ruangan, beberapa barang bahkan berpindah tempat. Kinara tidak ingat di mana terakhir kali meletakan amplop pemberian Dika.


Dia duduk sejenak, nampak memejamkan mata.


“Aku ingat.” Bangun dan mendekati lemari. Dibukanya laci lemari, dan ternyata benar. Di sanalah amplop itu berada, tepat di atas surat gugatan cerai dari Dika yang belum dia tanda tangani sampai detik ini.


Kinara membawa amplop itu ke dekat jendela, dia membuka jendela dan membiarkan udara masuk. Menyentuh wajahnya, sampai rambut panjangnya sedikit bergoyang. Tempat itu merupakan tempat yang sama ketika Kinara membaca surat dari Dika.


Dengan hati berdebar Kinara membuka amplop itu. Ada secarik kertas yang menunjukan alamat dan waktu untuknya bertemu dengan Agra.


“Kinara, apa kau tahu?


Kau adalah takdir Tuhan yang paling indah yang pernah aku miliki.


Mungkin, waktuku untuk memilikimu sudah habis.


Aku ikhlas, kau juga berhak bahagia.


Dan aku rasa, bahagiamu bukan denganku.


Kinara, meski terlalu berat untuk melepasmu, tapi aku tetap mencoba.


Aku memberimu kesempatan untuk pergi dari hidupku, sejauh yang kau bisa.


Aku yang akan membuka jalannya, kau hanya perlu berjalan lurus dan tetap tersenyum.


Aku yang akan menjamin keselamatanmu.


Pergilah Kinara, mungkin Agra satu-satunya yang terbaik untukmu.


Jangan lupakan satu hal, aku adalah orang yang mencintaimu lebih dari apa yang kau tahu.


Lebih dari aku mencintai diriku sendiri.


Berbahagialah ... Kinaraku. Selamat tinggal."


Bersambung...


.


.


Gimana? Habis berapa lembar tissu? Sisain tissunya, karena next bab emak masih jualan bawang.


.

__ADS_1


.


Vote, like dan komentarnya jangan lupa. Bantu masuk rank 10 besar dong.


__ADS_2