Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Aku Menyerah


__ADS_3

Rumah sakit pribadi keluarga Mahendra.


"Amel!" Dika berteriak keras sembari menggendong tubuh Kinara melewati lorong rumah sakit.


Agra berlari di belakang Dika. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit tadi Kinara kehilangan kesadaran dan pingsan.


Darah mulai menetes dari tubuh Kinara. Merembas di lengan kemeja mahal Dika dan berakhir di lantai rumah sakit.


Dika semakin panik, matanya berkaca-kaca.


Agra pun demikian, beberapa kali Agra mengusap wajahnya dan menyeka sudut matanya yang basah.


"Ameeel! Di mana Amel!" Dika terus berlari. Tidak peduli semua mata menatap heran padanya.


Dokter Amel yang kebetulan sedang menerima pasien terpaksa keluar dari dalam ruangannya dengan berlari tergopoh. Dia mendengar suara Dika yang berteriak memanggil namanya.


"Bawa ke ruang VVIP!" perintah dokter Amel dan para perawat menganggukan kepala.


Tubuh Kinara sudah berpindah pada ranjang dorong menuju ruang VVIP. Ruangan itu tidak pernah di tempati pasien mana pun kecuali keluarga Mahendra. Ruangan khusus itu memang hanya diperuntukan bagi keluarga Mahendra.


Kinara segera mendapat pertongan pertama. Dokter yang lebih senior dipercaya untuk menangani Kinara. Sementara Dika dan Agra menunggu di depan ruangan.


Tak berapa lama Marta datang. Bibi Annr yang menghubunginya, selang satu menit ketika mobil yang dikendarai pak Budi berangkat menuju rumah sakit.


"Di mana menantu, Mamah?" tanya Marta begitu melihat Dika yang sedang mondar mandir di depan IGD.


"Sedang ditangani di dalam, Tante." Agra tersenyum sopan sembari menganggukan kepala.


Agra pun sama, dia terlihat panik. Wajahnya menunjukan itu, kakinya tak berhenti bergerak naik turun seperti orang yang sedang gelisah. Sesekali Agra mencengkeram kakinya sendiri. Tetapi Agra tetap terlihat lebih tenang jika dibandingkan dengan Dika.


Marta tidak percaya jika umur Dika dan Agra yang terpaut jauh tidak bisa membedakan kedewasaan keduanya.


Dika yang cenderung tertutup dan melalui banyak didikan keras dari Ayahnya terkadang membuatnya menjadi sosok yang temperamen dan egois. Namun di balik itu semua, Marta yakin sebenarnya Dika adalah pribadi yang humble dan baik. Dia hanya sering terlambat menyadari sesuatu, seperti terlambat menyadari perasaan cintany pada Kinara.


Sementar Agra yang lebih muda, justru terlihat jauh lebih tenang. Mungkin karena Agra lebih banyak bergaul diluar rumah dan memiliki banyak pengalaman sosial.


“Dika, duduklah. Biarkan dokter memeriksa Kinara dengan baik. Kau mondar-mandir seperti ini justru membuat Mamah ikut panik.” Marta duduk di samping Agra dan meletakan tas mahalnya di kursi kosong.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaiamana bisa seperti ini, Nak?” tanya Marta pada Agra. Melihat Dika yang tidak berhenti mondar-mandir meskipun sudah ditegur tentu saja Dika tidak akan bisa menjawab pertanyaan dari Marta.


“Aku juga tidak tahu pasti, Tante. Yang aku ingat, begitu aku datang Kinara sudah seperti ini. Mungkin Kinara kelelahan, Tante.” Agra tersenyum getir.


Bagi Agra berpura-pura tidak tahu adalah jalan terbaik, dia bisa saja mengatakan pada Marta jika semua kemalangan yang terjadi pada Kinara hari ini adalah karena cara pendekatan yang dilakukan Dika. Cara yang terlalu memaksa tentu bisa membuat Kinara tertekan. Padahal, dokter Amel selalu memberi peringatan agar Kinara tidak merasa tertekan, karena hal itu bisa membuat anak dalam kandungannya berada dalam bahaya.


“Hmmm ... Sepertinya tidak sesederhana itu. Tante yakin ada sesuatu yang membuat Kinara tertekan.”


30 menit berlalu.


Dokter Amel keluar dari dalam ruangan.


Dika dan Agra segera menghampiri dan memberondong pertanyaan pada dokter Amel.


“Ok, satu per satu. Tunggu dulu, aku akan merangkum semuanya dan menjelaskan pada kalian. Bisakah kalian berhenti bertanya padaku? Diam dan dengarkan aku baik-baik.” Dokter Amel nampak menggeser tubunya, mundur beberapa langkah dari Dika dan Agra yang terus mencecarnya.


“Sudahlah. Biar Mamah yang bertanya, kalian minggir saja.” Marta bangun dan berdiri di depan dokter Amel. “Bagaimana, Mel?”


“Begini Bu Boss. Nyonya mengalami pendarahan ....”


“Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?” Dika memukulkan tangannya di tembok.


“Apa kau mendorongnya?!” Agra mencengkram kuat kerah kemeja Dika. Memepet tubuhnya sampai berakhir di tembok.


“Kau pikir aku orang gila?! Aku tidak mungkin mendorongnya ... kecuali ....” Dika terdiam, dia nampak berpikir keras untuk mereka ulang semua kejadian yang mereka alami di kamar Kinara.


“Kecuali apa?!” Agra menekan tubuh Dika semakin kuat. “Jangannya jatuh dan lain sebagainya, perasaan tertekan saja sudah bisa membuat anakmu berada dalam bahaya. Sebagai Ayah, seharusnya kau tahu itu*”


“Lepas!” Dika melepaskan diri dari cengkeraman tangan Agra dan berjalan mendekati dokter Amel. “Mel, aku tidak mendorongnya. Aku hanya memepet tubuh Kinara sampai ke teralis jendela, memang saat itu Kinara bergerak cukup kasar untuk menghindar dariku. Apa itu bisa menjadi salah satu sebabnya?”


Dokter Amel menarik napas dalam. “Aku akan bicara sejelas mungkin. Tolong kalian jangan ada yang menyelaku.”


“Baik,” jawab Agra. Sementara Dika hanya menganggukan kepala.


“Begini, Nyonya memang mengalami pendarahan. Namun, beruntung kalian membawa Nyonya tepat waktu sehingga kondisi anak dalam kandungan Nyonya masih bisa diselamatkan. Dari awal saya sudah mengatakan dengan sangat tegas jika kandungan Nyonya Muda sangat lemah. Jangankan terbentur, jatuh, terdorong atau hal berbahaya lainnya. Tekanan pada perasaannya saja sudah bisa mengancam keselamatan Nyonya dan anaknya.”


“Apa kondisinya seserius itu?” tanya Dika dengan bibir bergetar.

__ADS_1


“Tentu saja, Tuan Muda. Anda sebagai suami seharusnya lebih mengerti kondisi Nyonya, beban pikiran yang terlalu berat saja bisa membuat Nyonya kehilangan putranya. Itulah kenapa kondisi perasaan Nyonya harus selalu stabil.”


“Kenapa bisa seperti itu, Mel? Kenapa kondisinya harus seburuk itu?” Dika berjalan mendekati kursi tunggu. Duduk sembari membenamkan wajahnya di telapak tangan.


“Nyonya kekurangan asupan gizi di awal kehamilan, Tuan. Nyonya hanya makan dua kali dalam satu hari, itu pun bukan makanan yang sehat. Lebih seringnya Nyonya mengonsumsi mie instans yang jelas-jelas tidak baik untuk kesehatan tubuhnya. Tidak ada asupan susu ibu hamil, buah, dan sayur juga menjadi salah satu faktor lemahnya kandungan Nyonya. Sehingga ketika memasuki bulan ke empat kehamilannya, kondisi semakin memburuk. Saya tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam hal ini karena kehamilan Nyonya saja baru diketahui setelah usia kandungan Nyonya tiga bulan.”


Dika tercengang. Pada dasarnya semua kejadian buruk yang dialami Kinara bermula dari sikap bodohnya. Semuanya. Seberapa pun Dika menyesal dan mencoba memperbaiki, nyatanya semua sudah terlambat dan Kinara menutup rapat pintu maaf untuk Dika. Ternyata memang tidak ada yang bisa Dika lakukan selain pasrah kepada Tuhan.


Dika tertawa kecil, bahunya berguncang ringan. Telapak tangannya mulai basah karena lelehan air matanya.


Marta berjalan mendekati Dika dan memeluk anak semata wayangnya itu lalu berbisik lirih, “Tidak apa-apa, tidak ada salahnya bagi seorang laki-laki untuk menangis. Kau perlu menangis untuk mengetahui seberapa dala rasa sakit yang kau rasakan.” Marta menepuk lembut bahu putranya.


Mendengar kalimat yang diucapkan Ibunya, tangis Dika semakin menjadi. Tarikan napasnya semakin berat di dalam pelukan Marta. Lengan baju yang berdarah menjadi saksi betapa dalam luka yang ditorehkannya pada Kinara.


Dasar anak nakal, kau masih tidak bisa membedakan perasaan cinta dan kasihan. Beginilah akhirnya, kau menyesal sudah membuang cintamu hanya karena rasa kasihan pada Carissa. Semoga Tuhan masih bisa memberimu kesempatan, batin Marta.


Dokter Amel dan Agra masih berdiri di tempat. Memberikan waktu untuk Ibu dan Anak untuk saling berbagi.


Sepersekian menit tangis Dika mulai mereda. Dika melepaskan diri dari pelukan Marta dan berjalan mendekati Dokter Amel dan Agra.


“Yo ... man!" Dika tersenyum getir. “Sepertinya ... aku sudah kalah.” Dika memukul pelan lengan Agra. Dia berjalan mendekati kaca dan meraba pada permukaannya. Dia menatap nanar tubuh Kinara yang sedang berbaring tidak berdaya dengan jarum infus yang terpasang di tangan Kinara. Tiba-tiba air mata menetes lagi. Dika tertegun, hanya bisa menangis sembari melihat tubuh istrinya dari balik kaca.


Kinara, aku menyerah. Semakin dekat denganmu, aku semakin ingin memilikimu. Namun, keinginanku nampaknya tidak sejalan dengan keingananmu dan Tuhan. Aku justru membuat kau dan anak kita semakin terluka dan berada dalam bahaya. Aku menyerah, sayang. Kau bisa hidup dengan bebas setelah ini. Bangunlah, setelah hari ini kau tidak akan melihat wajah menyebalkanku lagi. Bangunlah, sayang ... aku hanya butuh kau hidup dan bahagia meskipun bukan dengan diriku yanh berdosa ini, batin Dika.


Bersambung....


.


.


Sumpah, maafkan emak babang Dika. Tapi, hukum tabur tuai sedang berlaku padamu. Perkataan Kinara satu per satu terjadi padamu 😭


.


.


Yooo ah kerja samanya, Vote yang banyak. Kasih tips juga nggak papa 🤣 Kalau masuk 10 besar maleman emak up lagi.

__ADS_1


__ADS_2