
“Ah, akhirnya selesai.” Kinar menghela napas lega. Lagkahnya secepat kilat meninggalkan kamar Dika. Tergopoh-gopoh ingin segera keluar dari neraka di dalam neraka itu. Kinar sudah kembali ke dalam kamarnya. Bersiap untuk masuk ke dalam kamar mandi, tubuhnya benar-benar lelah. Ingin rasanya berlama-lama tenggelam di dalam guyuran air. Handuk berwarna biru muda sudah melingkar di lehernya, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketukkan di balik pintu kamarnya.
tok tok tok....
“Sebentar.” Kinar berlari kecil mendekati pintu kamar, menekan handle pintu dan mendapati Ken sudah berdiri di sana dengan senyum mengembang di sudut bibirnya.
“Selamat malam, Nyonya.” Ken membungkukkan setengah badannya. “Ini adalah handphone milik Anda, di dalamnya sudah terpasang kartu lama Anda. Sudah terisi pulsa dan siap untuk digunakan.” Ken menyodorkan handphone milik Kinar.
Kinar melirik, tidak ada goresan sedikit pun di sana, tidak ada retakkan, badan handphone itu benar-benar mulus. Jauh berbeda dari keadaan terakhir ketika Dika melempar handphone itu ke lantai.
Tanpa ada sedikit pun perasaan curiga Kinar menerima handphone itu. “Terima kasih, Ken.”
“Tidak perlu sungkan, Nyonya.” Ken pamit undur diri. Sementara Kinar kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti karena Ken.
Cukup lama Kinar berada di dalam kamar mandi, menumpahkan segala peluh yang menggelayuti tubuhnya seharian ini. Dia keluar dengan handuk yang melingkar di bagian dada dan handuk kecil yang digunakannya sebagai penutup kepala guna mengeringkan rambut panjangnya yang basah.
Kinar tersenyum bahagia manakala membuka lemari dan mendapati baju-baju kesayangannya tergantung rapi di sana. Tidak ada lagi gaun dengan warna terang yang membuat matanya sakit, atau gaun dengan harga selangit tetapi seperti kekurangan bahan dan belum selesai dijahit.
Kinar memilih baju tidur berkancing depan, berlengan panjang, berwarna coklat muda dengan corak bunga-bunga kecil berwarna pink, celananya memiliki warna senada tetapi tidak bercorak. Di bagian depan baju tidur itu ada dua kantung berukuran sedang.
Nampak seperti baju tidur anak SMA. Setelah selesai dengan pakaian, kali ini saatnya Kinar mengeringkan rambutnya. Tidak ada hair dryer, dia hanya menggosok rambutnya dengan handuk kecil, menyisir dan memberi kesempatan kepada angin untuk mengeringkan rambut panjangnya.
“Segarnya, memang benar kata orang bahwa mandi adalah cara yang cukup efektif untuk mengembalikan kondisi tubuh.”
Seketika pandangan mata Kinar tertuju pada handphone yang dilemparkannya di atas kasur. Ia berhambur ke atas kasur, duduk di sana sembari melipat kedua kakinya dan menekan lama tombol kecil pada bagian samping handphone. Nampak layar depan masih hitam hanya menampakkan logo handphone di bagian tengah layarnya.
“Aku tidak sabar, Manda pasti mengirimkan banyak pesan padaku.” Kinar tersenyum sumringah, membayangkannya saja sudah membuat dadanya berdebar bahagia.
Setelah handphone menyala sempurna, nampak beberapa notif dari sosial media mulai bermunculan pada bagian atas layar handphone. Namun tidak ada satu pun pesan dari Manda. Baik SMS maupun pesan chat di sosial media Kinara. Kinar menggigit ujung jari tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang handphone dan menatap penuh harap layarnya kalau-kalau ada sebuah pesan masuk dari adiknya atau panggilan telepon dari ibunya.
Hampir sepuluh menit Kinara menunggu, memandangi layar handphone dengan kedua bola matanya yang hitam pekat. Namun yang diharapkannya tidak jua terlihat. Kinara panik, rindu di hatinya sudah membuncah seperti lelehan lahar di dalam gunung berapi yang siap menyembur keluar, menghantam apa saja yang ada di sekitarnya.
Kinar meremas ujung baju tidurnya lalu melemparkan pandangan mata ke arah jam dinding yang tergantung rapi, waktu menunjukkan pukul delapan malam. Belum terlalu malam memang, namun dirinya tidak sampai hati untuk meneruskan egonya, menghubungi adiknya untuk sekadar mendengar kata halo dari dua orang yang paling berharga di hidupnya.
Kinar melempar handphone itu ke samping tubuhnya lalu merebahkan diri di atas ranjang, menutup wajah dengan kedua tangannya. Terdengar lenguhan panjang yang keluar dari mulut Kinara.
Drrt... drtttt..
__ADS_1
Sebuah panggilan telepon membuyarkan lamunan Kinara. Tergesa tangannya bergerak meraih handphone, menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinga. “Hallo.”
“Akhirnya, setelah beberapa jam aku mencoba menghubungi nomormu dan ternyata doaku terjawab.” Suara di seberang sana jelas bukan suara Manda apalagi Ibunya, suara laki-laki yang masih terdengar asing di telinga Kinara.
Kinara menjauhkan handphone itu dari telinganya, melihat layar handphone dan mendapati nomor telepon yang tidak terdaftar dalam kontak teleponnya pun tidak ia kenali milik siapa. Karena terburu-buru, Kinara sampai tidak melihat dari siapa panggilan telepon itu.
Kinara mencoba menerka-nerka, kepada siapa terakhir kali ia membagi nomor teleponnya. Dia bukan gadis ceroboh yang bisa membagikan nomor teleponnya kepada siapa saja, setelah sekian lama berpikir keras Kinara bisa menebak suara siapa yang menyapanya malam ini.
“Hallo?”
“Hallo?”
“Kinar?”
Suara laki-laki di seberang sana membuyarkan pikirannya. Perlahan Kinara mendekatkan kembali handphone itu dan menempelkan di telinganya.
Ragu, Kinara mencoba menebak suara laki-laki yang bergemuruh di seberang sana. “Agra Grissham?”
“Yes, right. it's me, Agra." Selama ini Agra selalu berbagga diri manakala nama keluarganya disebut oleh wanita-wanita yang mengejarnya, nama keluarga itulah yang menjadi salah satu alasan dirinya dikerumuni banyak wanita cantik. Namun ini kali pertama Agra tidak suka embel-embel kekuasaan keluarganya dibawa dalam percakapannya bersama Kinara. Nama keluarga itu seakan menjadi tembok pemisah yang tinggi, pembeda kasta yang beberapa hari ini membuat Agra merasa muak.
“Ada apa?” Kinara duduk sembari melipat kedua kakinya dan menempatkan bantal di bagian paha untuk bertopang dagu.
“Aku sibuk,” Kinara mendengus, entah mengapa laki-laki tampan yang hampir digilai seluruh wanita penghuni kampus itu selalu membuat hatinya jengkel.
“Aku heran, kau tidak punya kekasih, belum menikah, lalu kesibukkan macam apa yang begitu menyita waktumu, Kinar?” suara Agra terdengar seperti sedang menjebak mangsa.
“Setiap orang memiliki kesibukkan masing-masing Gra, aku dengan kesibukkan yang tidak bisa aku jelaskan satu-persatu padamu. Kau dengan kesibukkanmu yang tidak perlu kau ceritakan padaku.” Kinara kembali merebahkan tubuhnya, memiringkan, dan sudah meringkuk dengan bantal guling yang diapit di antara kedua kakinya. “Hari ini aku lelah sekali, Agra. Bisakah kita sambung pembicaraan ini besok pagi saja? Kita juga akan bertemu besok pagi, bukan? Tolonglah.” suara Kinara terdengar sedikit memohon.
Agra menghela napas panjang, terdengar jelas di telinga Kinara. “Baiklah, lagi pula tidak ada yang bisa menolak permintaanmu, Kinara. Good night, te amo.”
Tut...
Bersamaan dengan terputusnya sambungan telepon, bersama itu pula mata Kinara membulat sempurna, bukan karena Agra yang mengabulkan keinginannya dengan mudah. Laki-laki dengan tekad yang kuat seperti baja itu selalu memaksakan kehendaknya pada Kinara. Seperti usaha yang dilakukannya ketika meminta nomor handphone, Kinara.
Lebih dari itu, Kinara terkejut dengan kalimat terakhir yang diucapkan Agra yang membuat Kinara terkesiap. Kinara bangun, mendorong bantal guling itu dan mencoba mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Agra, kata te amo yang berasal dari bahasa Spanyol itu jelas memiliki arti aku cinta padamu.
Meski Dirinya kuliah di jurusan bisnis, namun Kinar sedikit mengerti dengan beberapa kata dalam bahasa asing. Termasuk kalimst te amo yang diucapkan Agra yang kini mengusik htinya.
__ADS_1
Kinara tidak memungkiri jika Agra menaruh hati padanya, namun dirinya tidak menyangka secepat itu kata cinta terucap dari mulut Agra.
Pertemuan keduanya bahkan belum lebih dari 1x24 jam.
Bagaimana mungkin Tuan Muda dari keluarga Grissham itu bisa begitu tidak bertanggung jawab menebar rayuan pada Kinara.
Kinara melempar handphone itu di atas kasur dan menjatuhkan tubuhnya, berharap kalimat yang diucapkan Agra adalah kalimat kekanak-kanakan dari seorang putera tunggal pewaris kekayaan keluarga Grissham. Perlahan Kinar memejamkan kedua metanya, ia mulai hanyut di alam mimpi. Meringkuk dengan selimut yang menutupi tubuhnya, hanya menyisakan bagian kepala saja.
Sementara itu di tempat lain.
Dika mengepalkan tangannya. Memukul bagian depan kursi mobil. Pak Budi hanya membeku, tetap fokus menyetir. Tidak bertanya atau memberi komentar, pak Budi tidak ingin memperburuk suasana hati majikannya.
Berani sekali perempuan itu, apa kau sedang bermain-main di belakangku, Kinara?
Dika membatin. Marah bukan main ketika mencuri dengar percakapan antara Kinara dan Agra melalui handphone miliknya yang juga terhubung dengan handphone milik Kinara.
Grissham? Apa mungkin putra tunggal keluarga Grissham? Ah, tidak mungkin Kinara masuk dalam kriteria wanita yang bisa menggoda putra keluarga besar itu. Aku tetap harus memastikannya. Batin Dika.
Tergesa Dika mencari kontak nama Ken di handphone nya lalu secepat kilat menghubunginya.
“Selamat malam, Tuan.” Suara Ken dari seberang sana.
“Selidiki siapa pemilik nomor telepon +6289876543210 dan laporkan secepat mungkin padaku. Mengerti?” Dika mendengus, tidak ingin basa-basi dia pun langsung ke inti persoalan.
\=\=\=>Bersambung 💕💕
Pengumuman : Yang mau promosi di lapak author dan author kunjungi novelnya. kalian harus kasih vote minimal 50. Ok.
Cara kasih vote, buka detil pada bagian kiri. Klik Vote.. lalu bagi vote. ok
Buat yang promo di grup chat kalian harus kasih vote minimal 100.
Kalau kalian promo dan kasih vote.. nnti aku komen dan like back novelmu.
Aplagi buat yang nuntut update tapi gak kasih vote. 😒😒 kalian gak mengapresiasi kerja keras author banget deh 😩😩
Ingat VOTE yah.. jangan cuma minta up tapi gak kasih VOTE, ok.
__ADS_1
Please, Klik Like.. Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah dan follow author ☺
Author sangat berterim kasih jika kalian bersedia membantu Author untuk mempromosikan novel Author, baik di Fb, wa, ig atau di novel2 lainnya, mari dukung author yah 🤗🤗