Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Serabi Manis


__ADS_3

Dika benar-benar melakukan yang terbaik untuk Kinara. Hampir semua bagian di mansion itu ditata ulang, dicat, dan beberapa barang sudah beralih tempat. Bahkan kamar yang pernah Kinara tempati sudah berubah menjadi ruang baca. Dika menyusun banyak sekali buku dongeng di dalamnya.


“Kinara sedang suka membaca buku dongeng, kau harus membeli sebanyak mungkin!” titahnya pada Ken kala itu. Hari itu Ken sampai berulang kali menghubungi orang rumah agar menyiapkan semuanya tanpa cacat.


Ruang musik milik Carissa sudah beralih fungsi menjadi kamar tidur. Semua usaha itu Dika lakukan agar Kinara tidak mengingat kembali masa-masa kelam selama dia tinggal di mansionnya. sebenarnya Dika sempat menawarkan pindah rumah, tidak masalah bagi Dika untuk membeli mansion lain, tetapi Kinara justru menolak setelah melihat semua usaha Dika. Dia hanya ingin menghargai kerja keras suaminya.


Seperti biasanya, pagi ini Kinara bangun dalam pelukan Dika. Dia menggeliat, menyingkirkan tangan Dika dari pinggangnya, mengerjap beberapa kali sebelum menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


“Selamat pagi, Sayang? Tidurmu nyenyak?” tanya Dika. Setiap kali membuka mata, Kinara selalu mendengar Dika bertanya hal yang sama.


Kinara mengangguk sembari sesekali menggaruk lehernya dan menutup mulutnya yang menguap. Dika menarik kembali selimut tebal yang berada di kakinya sampai ke lehernya. “Dingin sekali, apa di luar sedang hujan? Kebetulan sekali, di saat libur hujan pun turun.” Sudah meringkuk seperti udang.


Kinara memejamkan mata, mencoba mendengar tetes hujan di luar sana. “Sepertinya memang hujan,” katanya, “Apa aku harus bangun untuk melihat dari jendela?”


“Tidak usah. Kemarilah.” Melebarkan kedua tangannya. “Peluk Masmu,” katanya dengan suara manja sampai membuat Kinara bergidik.


Bukannya mendekat, Kinara malah menggeser tubuhnya sampai berada di tepi ranjang.


“Kenapa? Kemarilah!” Kali ini bahkan menepuk ruang kosong di sampingnya.


“Tidak mau!”


“Kenapa lagi, sih, Sayang?” tanya Dika dengan alis bertaut.


“Aku lapar.” Memegang perutnya.


“Baiklah, sebentar lagi kita turun ke bawah. Setidaknya berikan aku pelukan selamat pagi dulu.”


Kinara diam untuk beberapa saat. Tiba-tiba Kinara mendekati Dika sembari tersenyum tipis, Dika sampai merinding. Kedua alisnya bertaut. Nyaris bersatu.


Ada apa dengannya, aku merasa akan melewati hari minggu yang melelahkan. “Kenapa kau tersenyum seperti itu, Sayang?” Sudah memeluk Kinara. “Kau mau sesuatu?” Kinara langsung mengangguk dalam pelukan Dika. “Apa? Mobil? Rumah? Apartemen? Tas dan baju?” ledeknya, Dika mencoba memancing tingkah manja yang akan ditunjukan Kinara ketika meminta sesuatu. Dika suka melihatnya bertingkah seperti anak kecil.


Mencubit perut Dika. “Mas pikir aku wanita matre?! Selalu saja bawa-bawa uang, seperti dulu Mas juga bilang kalau aku menikahi Mas karena harta! Ih, aku benci setiap kali mengingatnya!” Kinara mengerucutkan bibirnya. Cubitan di perut Dika semakin keras.


Dika meringis kesakitan. “Ahhh ... sakit! Sakit! Ok, ok! Maaf.” Meraih dagu Kinara. “Aku tidak setuju dengan kalimat matre yang kau ucapkan, Sayang.”


“Kenapa?”


“Sebagai seorang lelaki yang bertanggung jawab, tanpa diminta sekalipun seharusnya aku memberikan segalanya untukmu. Kau bukan matre, tapi kewajibanku sebagai seorang suami memang harus memenuhi segala keinginanmu.”


Kinara mendongakan kepalanya. Meletakan telapak tangan di kening Dika.

__ADS_1


“Aku tidak sakit, Sayang.” Meraih tangan Kinara dan mencium punggung tangannya. “Jadi apa yang permata hatiku inginkan?”


“Emmm ....”


Kenapa lama sekali, apa permintaanmu kali ini akan menyusahkan aku? Semakin lama kau berpikir maka akan semakin susah permintaanmu, batin Dika.


“Aku ingin makan serabi manis,” desis Kinara di telinga Dika.


“Se ... apa?”


“Serabi. Masa tidak tahu!”


Dika memutar bola matanya dengan mulut sedikit terbuka. “Aku sungguh tidak tahu makanan jenis apa itu. Apa kita pernah makan itu sebelumnya?”


Selama 26 ini tahun apa saja yang kau makan? Bagaimana mungkin kau tidak tahu serabi? Batin Kinara.


Kinara memutar tubuhnya. Membelakangi Dika.


Kenapa? Dia marah hanya karena aku tidak tahu apa itu serabi? “Sayang.” Melingkarkan tangan di perut Kinara. Memasukan ke dalam bajunya dan mengelus perut Kinara. “Tunjukan padaku makanan seperti apa itu. Aku akan membelinya untukmu.”


Kinara meraih handphonenya. Memasukan kata kunci serabi manis lalu menunjukan gambarnya pada Dika. “Yang ini.”


Mengambil handphone. “Oh. Ini ada alamatnya. Penjualnya tidak jauh dari sini. Setelah hujan reda aku akan membelinya untukmu.”


Kenapa dia tersenyum begitu terus? Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi, “Ke-kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau ....” Dika menghentikan kalimatnya. Jangan bilang kau ingin aku yang membuatnya untukmu?


Kinara mendekati dada Dika yang terbuka. Terekspos di depan matanya lalu menulis kata tidak jelas sampai membuat Dika geli sendiri. “Cukup. Jangan merayuku terus.” Menangkap tangan Kinara. “Katakan apa yang kau inginkan?”


“Aku ingin makan serabi manis buatan tangan suamiku.” Membelai punggung tangan Dika. “Pasti lebih enak.” Kinara tersenyum lebar.


Jedeeer! Dika menelan kasar salivanya. Ternyata apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Dika pernah mendengar dari relasi kerjanya jika wanita ngidam sering meminta makanan yang aneh-aneh, dan sekarang hal itu terjadi padanya.


“Anu, Sayang. Tidak bisakah aku membelinya saja? Aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya membuat serabi.”


Tiba-tiba Kinara mengerucutkan bibirnya, menurunkan selimut sampai pinggang dan hampir bergeser.


“Ada banyak video tentang cara membuat serabi. Apa susahnya?” Menatap penuh harap.


“Tapi ....”


“Apa Mas tidak mau? Aku sungguh ingin makan serabi buatanmu.” Matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


“Ok. Ok! Jangan menangis, Sayang. Aku akan membuatnya.”


Kinara tersenyum. “Aku ingin melihat langsung kau membuatnya. Kita buat serabi di taman belakang bagaimana?”


“Kau tahu sekarang sedang hujan, ‘kan?”


“Mas pernah bilang padaku bahwa hujan itu tidak selamanya, setelah hujan pasti ada mentari dan pelangi.”


Dika melongo mendengar Kinara membalikan kata-kata yang pernah dia tulis di suratnya. Ya Tuhan, aku harap hujan ini tidak akan reda sampai besok pagi.


“Jangan macam-macam.” Mencubit perut Dika. “Jangan berdoa yang tidak-tidak, jika sampai siang ini hujan tidak juga reda maka aku akan memberikan daftar permintaan yang begitu banyak.” Kinar membuka selimut dan keluar dari dalam kamar.


Dika ikut bangun untuk mengejar Kinara. berbahaya jika Kinara ngambek, bisa-bisa dia harus tidur di sofa. Satu malam saja melewatkan tanpa memeluk tubuh Kinara rasanya dunia akan hancur. Dia sempat membenturkan kepalanya di pintu sebelum keluar. “Ah, aku benar-benar pusing dibuatnya,” dengkus Dika.


***


Dika berdiri dengan tatapan mata kosong, dia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Dia menarik tangan Ken agar lebih mendekat. “Kau sudah menyiapkan semuanya, ‘kan?” tanya Dika.


Ken mengangguk mantap. “Sudah, Tuan Muda.”


“Tidak ada yang tertinggal, ‘kan?”


“Tidak ada, Tuan Muda.”


“Baik, ayo kita mulai.” Dika menggulung lengan kausnya sampai siku. Begitupun dengan Ken. “Kau harus mencatatnya dengan benar. Ok!” Memperingatkan.


“Siap, Tuan Muda.” Ken menunjukan buku catatan yang masih kosong legkap dengan pulpen.


“Ayo, Ken.”


Ken mengangguk lagi.


Dika dan Ken mendekati penjual serabi yang cukup banyak pembeli. Mereka datang bukan untuk membeli serabi, tetapi bertanya soal bahan dan proses pembuatan serabi itu sendiri. Beruntung penjualnya ramah dan tidak pelit untuk mengajarkan Dika bagaimana caranya membuat serabi manis. Mungkin juga karena kasihan dengan cerita Dika, dia bilang ini adalah permintaan istrinya yang sedang hamil. Dia bercerita dengan ekspresi yang menyedihkan.


Setelah menulis semua resep dengan jelas, dari bahan yang dibutuhkan sampai langkah membuatnya akhirnya Dika dan Ken memutuskan untuk membeli alat dan bahan yang dibutuhkan sebelum kembali ke mansion.


Ken kerepotan karena haruu membawa dua kantung penuh berisi serabi. Dika tidak enak jika dia hanya bertanya, tetapi tidak membeli. Akhirnya dia memutuskan untuk memborong semuanya dan akan dibagikan kepada para pelayan di mansionnya.


Bersambung...


.

__ADS_1


.


Ayolah, mana VOTE nya. Kalau kalian rajin VOTE emak juga rajin up. Kalian bayar emak tuh cuma pake LIKE, KOMEN, DAN VOTE Aja kok.


__ADS_2