Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Ikhlas (End)


__ADS_3

Sudah tiga jam berlalu sejak Kinara keluar dari rumahnya, tetapi sampai sekarang Kinara belum tiba di kampungnya. Jalanan sangat padat, mungkin karena malam minggu jadi banyak pemuda pemudi yang keluar rumah. Beruntung mobil sudah melewati kota. Jika tidak ada kendala, dua jam lagi Kinara sampai di tempat tujuan.


Biasanya jarak dari rumah Kinara ke kampungnya bisa ditempuh dalam waktu tiga jam. Namun, karena terjebak macet dan pak Budi membawa mobil dengan kecepatan standar, mereka baru keluar dari kota setelah tiga jam bergelut dengan kemacetan.


“Nyonya, apa kita perlu istirahat.” Pak Budi mulai cemas. Wajah Kinara terlihat sangat pucat, Kinara juga sering menangis selama perjalanan. Pak Budi tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan Kinara, dia juga tidak ingin bertanya terlalu dalam. Takut membuat hati Kinara semakin sedih.


“Tidak perlu, Pak. Kita lanjutkan saja perjalanannya. Aku sudah lelah dengan semuanya, aku ingin segera sampai di rumah.”


“Baiklah, Nyonya.”


Malam ini langit terasa sangat gelap dan sepi. Meskipun perjalanan Kinara ditemani cahaya bulan dan bintang. Terdengar suara kendaraan yang saling bersautan, tetapi hatinya merasa kosong. Kinara menyandarkan kepalanya sembari menatap jalanan yang ramai.


Bulir kristal mengalir bebas dari sudut matanya, manakala Kinara mengingat pertemuannya dengan Agra pagi tadi.


🍃 Flasback on 🍃


Pagi itu di hotel keluarga Mahendra, ketika Kinara dan Agra bertemu.


“Bisa, kan?” Ini kedua kalinya Agra bertanya. “Ayo kita bertindak egois, Kinara. Sekali saja kita tidak usah peduli dengan orang lain, kita juga perlu bahagia.”


Kinara menggeleng pelan. “Aku tidak bisa, Agra.”


“Kenapa? Karena Dika?” Agra menebak.


Apakah mungkin hati Kinara sudah berpaling? Apakah dia tidak memiliki arti lagi? Setelah beberapa minggu ini keduanya tidak saling bertemu, mungkinkah hati Kinara sudah berubah? Tidak! Apakah hati manusia selemah itu? Berubah hanya karena waktu pertemuan yang tidak sesering dulu.


Ada banyak pertanyaan yang tidak bisa Agra sampaikan. Dia masih menunggu Kinara menjawab satu-satunya pertanyaannya. Kenapa? Kenapa Kinara memilih mundur? Ketika genderang perang sudah ditabuh.


“Katakan, Kinara. Apa hatimu sudah berubah?”


Kinara menggeleng. “Tidak.”


Perasaanku padamu belum berubah, Agra. Namun, kita berdua sepertinya tidak bisa bersama. Kenapa di saat jalan kita terbuka, di saat itu pula jalan lain tertutup? batin Kinara.


“Lalu kenapa?”


“Keputusan yang aku ambil ini tidak ada hubungannya dengan Dika.” Kinara menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku ... aku tidak ingin menyakiti Allen.”


Agra tersenyum getir. “Maksudmu kau menyerah hanya karena Allen?”


Kinara mengangguk.


Agra memijat pelipisnya. “Kau menyerah dengan hubungan kita yang sudah kita perjuangkan sekian lama? Dan itu hanya karena Allen? Wanita yang pernah menyakitimu? Apa kau tidak ingat bagaimana sikap Allen padamu?”


“Aku tidak ingin mengingatnya. Aku sudah memaafkannya. Lagi pula dia sudah berubah, Agra. Sebenarnya Allen bukan wanita yang jahat, dia hanya kesepian.”


Agra tertawa kecil. Dia nampak memejamkan mata, membenamkan wajahnya di meja lalu bangun dari kursi. Begitu terus sampai dua menit berlalu.


Mungkin Agra ingin meluapkan kemarahannya, tetapi tidak bisa karena tidak ingin menyakiti Kinara. Dia lebih memilih menanggungnya sendiri.


“Dia wanita yang baik. Awalnya aku memang membenci Allen karena tingkahnya yang seperti anak kecil, tetapi setelah pertemuan terakhir ... aku baru tahu alasan di balik semua sikap tidak dewasanya. Percayalah, dia wanita yang baik.”


"Apa sekarang kau sedang berusaha membujukku?"


Kinara diam, menggigit bibir bawahnya.


"Setelah semua kesulitan yang kita lalui berakhir. Kau malah melemparku ke dalam pelukan wanita lain? Aku sempat berpikir apakah kau masih memiliki perasaan? Sampai hati kau berikan aku keputusan yang begitu kejam!"

__ADS_1


"Maafkan aku, Agra." Kinara terisak, dia tidak berhak mengatakan pembelaan apa pun.


"Maaf? Jika saja alasanmu menyerah karena kau tidak mencintaiku lagi, aku masih bisa menerima dengan lapang dada. Tapi ...." Agra mengusap kasar wajahnya. Tatanan rambut yang semula rapi berubah berantakan, kembali seperti penampilan jenakanya. Namun, raut wajahnya lebih suram dari gelapnya malam.


"Jadi aku tetap tidak bisa memilikimu, Kinara? Apa memang kita tidak ditakdirkan berasama?" Agra berucap lirih, dia memalingkan wajahnya. Mengusap air mata yang mulai menetes.


Kinara menunduk semakin dalam.


Tuhan ... berat sekali cobaan yang kau berikan pada kami, batin Kinara.


“Jadi perjuanganku selama ini sia-sia?”


Saat ini Kinara hanya diam. Mengigit bibir bawahnya dengan tangan mengepal.


“Tidakkah kau kasihan padaku, Kinara? Apa seumur hidup kau akan selalu memikirkan nasib orang lain? Kapan kau memikirkan dirimu sendiri?” Agra berhenti untuk mengambil napas. “Atau paling tidak pikirkan aku, lihat aku. Bagaimana aku berjuang untukmu.”


Kinara menangis tersedu, dia terisak sampai suara tangisnya terdengar. Mungkin karena Kinata tidak bisa menahan gejolak di dalam hatinya. Ini juga bukan pilihan yang mudah untuknya. Dia juga tersiksa.


“Sekali ini saja, Kinara. Ayo kita kuatkan hati kita, dan melangkah tanpa perlu melihat orang lain.”


“Aku tidak bisa, Agra. Maafkan aku.” Kinara menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia tersedu. Bahunya berguncang hebat.


Tuhan, kenapa nasib cintaku harus seperti ini? batin Kinara.


"Lihat aku, Kinara. Naikan kepalamu dan tatap mataku."


Kinara mencoba mendongakan kepalanya. Mata Kinara yang basah beradu dengan manik milik Agra. Ada ketulusan dari tatapan matanya, cinta Agra pada Kinara sebening tetes embun di pagi hari.


"Kau tidak sendirian. Ada aku. Kita hadapi semuanya bersama. Ada kalanya kita tidak perlu peduli dengan keadaan di sekitar kita, cukup menutup mata dan telinga. Lalu tetap melangkah ke depan." Agra mengangguk pelan. Mencoba meyakinkan Kinara jika semuanya baik-baik saja.


Kinara nyaris menganggukan kepala dan menerima uluran tangan Agra, sampai seseorang datang dengan suara bergetar.


Allen datang dengan berderai air mata, wajahnya terlihat buruk. Bibirnya kering, kantung mata menghitam, dan jalan pun sempoyongan.


"Allen." Memapah tubuh Allen. "Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?"


Allen sudah duduk di meja yang sama, diapit antara Kinara dan Agra.


Agra menyodorkan segelas air mineral pada Allen. Setelah tarikan napasnya membaik, Allen segera membuka mulutnya. "Setelah jumpa pers ini, aku akan dikirim ke luar negri."


Kening Kinara berkerut.


"Orang tuaku tidak ingin keluargaku menanggung malu. Mereka memutuskan untuk mengirimku ke luar negeri agar berita yang akan timbul karena gagal bertunangan tidak terlalu liar."


Allen mengatakan semuanya, menceritakan bagaimana keadaannya selama ini. Berkali-kali Allen meminta maaf pada Kinara atas semua sikapnya selama ini.


"Tidak. Aku tidak bisa melanjutkan pertunangan kita, Allen." Agra bangun dari duduknya. Memotong kalimat yang belum selesai Allen ucapkan. "Kau tahu aku tidak mencintaimu."


"Aku tahu itu. Aku sangat mengetahuinya. Mungkin kau sangat membenciku. Kau jijik melihat aku yang seolah bahagia dengan pertunangan ini. Kau salah Agra, kau salah!"


Allen terisak.


"Aku juga tidak bahagia dengan pertunangan paksa ini, tetapi saat ini aku sungguh butuh uluran tanganmu. Tolong aku, hanya kau yang bisa menolongku." Allen menyatukan kedua telapak tangannya sembari memohon dengan air mata berderai. "Aku tidak ingin pergi ke luar negri, terus bersembunyi selama hidupku."


"Apa masalahnya, Allen. Ada banyak petingi-petinggi negara yang anaknya gagal menikah, atau aktris. Toh pada akhirnya berita itu tetap berlalu seiring berjalannya waktu!" Agra melepas dasinya, membuka beberapa kancing bajunya. Seperti apa pun Allen memohon, Agra tetap menolaknya.


"Aku juga tidak akan memohon padamu dan Kinara, jika kondisinya tidak serumit ini. Mungkin, orang tua dari gadis lain akan tetap mendukung dan melindungi anaknya. Namun, tidak dengan orang tuaku yang justru membuangku seperti membuang sampah." Allen semaikin terisak.

__ADS_1


Kinara mencoba menengkan Allen, membelai punggung tangannya. Sepertinya itu sia-sia, karena tangis Allen semakin kencang.


"Kenapa orang tuamu sekejam itu?!" Agra menghempaskan dasi ke sembarang arah. "Apa mereka pikir anak adalah alat yang bisa dihitung untung ruginya."


"Agra, kasihanilah Allen." Kinara mulai ambil suara.


"Kau tidak ingin mengasihani dirimu sendiri? Atau mengasihani aku?" Menatap tajam ke arah Kinara.


"Aku ...," ucap Kinara terputus.


"Maaf, sepertinya aku tidak bisa membantumu, Allen."


Allen menarik napas dalam, membuangnya perlahan. Berapa kali pun Allen menyeka air matanya, bulir kristal itu tetap saja tumpah.


Allen bangun dari duduknya. Berdiri di depan Agra, tubuh Agra yang tinggi membuat Allen harus sedikit mendongakan kepala ketika berbicara.


"Baiklah. Ayo kita batalkan pertunangan kita." Allen tersenyum, dia berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tegar. Namun, air mata yang menetas menjawab semuanya. "Ah, maafkan aku." Menyeka kasar air matanya. "Beberapa hari ini mataku memang tidak bisa dikendalikan." Menundukan kepala dan tertawa kecil.


Kali ini Allen berjalan mendekati Kinara. Kinara segera bangun. Tinggi mereka sejajar, jadi kedua manik mereka langsung beradu.


"Terima kasih, Kinara." Merangkul Kinara.


"Untuk apa, Allen? Aku bahkan tidak bisa membantumu."


Keduanya terisak. Sejak kapan mereka sedekat itu? Apakah karena mereka bisa merasakan duka masing-masing?


Melepaskan pelukan. Allen kembali berdiri di depan Agra. "Ini." Menyodorkan secarik kertas. "Itu alamatku di luar negri, ketika kalian menikah." Allen terisak. "Jangan lupa ... un ... undang a-ku. Sering-seringlah berkunjung di tempatku, kalian bisa bulan madu di sana."


"Arrrggghhh ...!" Agra melepas jas dan melemparnya ke lantai begitu mendengar kalimat Allen. Ekspresi wajah Allen yang putus asa tidak bisa digambarkan.


"Daaah ...." Allen melambaikan tangan.


Kinara terduduk, tidak bisa berbuat apa pun lagi.


"Sering-sering menghubungi aku, yah. Mungkin aku akan kesepian di sana." Allen tersenyum pada Agra sembari melambaikan tangannya.


Bayangan Allen ketika kecil dulu tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Gadis periang yang sok kuat dengan menunjukan duri di seluruh tubuhnya sudah tumbuh dewasa.


"Allen." Menggenggam tangan Allen. "Ayo ... ayo kita bertunangan!"


"A ... apa maksudmu?"


"Kinara? Ini maumu, kan?" Agra menatap Kinara.


Kinara mengangguk pelan. Dadanya berdebar kencang. Bagaimana dengan hatinya? Hatinya jelas sakit sekali. Namun, inilah akhir yang dia inginkan.


Kinara menatap lekat wajah Agra, air matanya tumpah. Kau adalah takdir lain yang dipersiapkan Tuhan untukku. Namun, kenapa kita selalu berada di waktu yang salah? Selamat tinggal, semoga kau selalu diberkahi Tuhan. Selamat tinggal.


Bersambung...


.


.


Terkadang saya bingung sama yang nggak sabar dengan alur cerita ini. Padahal cerita ini sudah dikemas sedemikian apik, karena saya selaku author ingin membuka mata pembaca tentang hakikat jodoh. Dan bagaimana Tuhan yang Maha Membolak Balikan hati sedang bekerja dalam kisah Agra Kinara dan Dika.


.

__ADS_1


.


Likenya jangan lupa, komentar juga, Vote yang banyak. Bantu tck masuk 5 besar ok. Kalu masuk 5besar sore emak up lagi. Penasaran kan gimana pertemuan Dika dan Kinara di kampung 🤣 makanya kalian harus kerja keras. Mulung yang banyak 🤣


__ADS_2