
Sore itu selepas dokter Amel meninggalkan mansion Dika, dia bergegas mencari keberadaan Asisten pribadinya.
Dan
setelah bertemu Ken, dimulailah kuliah panjang kali lebar hanya demi satu tujuan yaitu meminta Ken untuk memperbaiki lantai yang rusak, yang membuat jari kelingking Kinara terluka.
Dika bahkan mengancam agar Ken sendiri yang mengerjakannya, sepanjang perjalanannya sebagai seorang asisten pribadi,
Ini pertama kalinya Dika memberikan tugas yang tidak masuk akal. Jauh sekali dari profesinya.
Besok-besok jika ada genteng bocor, cat tembok memudar, atau bahkan kaca jendela pecah.
Aku yang akan membetulkannya, setelah itu aku akan berhenti menjadi Asisten pribadi dan beralaih profesi menjadi kuli bangunan.
Seperti itu kurang lebih Ken menggerutu ketika menerima tugas dari Dika, tapi nyatanya tugas itu tetap dia terima dan dia laksanakan dengan baik.
Setelah sesi ceramah dengan Ken selesai, dia kembali ke ruang keluarga. Kinara masih duduk di sana, mengoles salep pereda nyeri di sudut bibirnya, salep pemberian dokter Amel.
Sebelum pergi meninggalkan Kinara, Dika sudah mewanti-wanti agar Kinara tidak masuk ke dalam kamar dan tetap menunggunya di ruang keluarga.
Kinara tidak ingin berdebat dia hanya menganggukan kepala, pertanda dia setuju.
***
Dika melirik jam raksasa yang berdiri di samping guci. Waktu menunjukkan pukul enam sore, Dika meminta Kinara bersiap-siap untuk pergi ke pusat perbelajaan. Membeli beberapa pakaian yang bisa menutupi bagian lehernya,
berkali-kali Kinara menolak. Tetapi Dika memaksa, hingga cara terakhir yang dia gunakan adalah menawarkan itu sebagai hutang dan Kinara bisa mencicil membayarnya.
Dika tidak butuh uang dari Kinara. Uangnya sendiri sudah cukup banyak dan berkecukupan, tetapi dia tahu jelas sikap Kinara.
Akhirnya hanya cara itu yang terpikirkan olehnya, dan memang cukup efektif. Buktinya berhasil.
“Jika tidak memiliki pakaian yang tertutup kenapa tidak meminta Ken membelinya? Sudah dua hari kau bolos kuliah.” matanya tetap fokus ke depan memperhatikan jalan, sementara Kinara yang duduk di samping Dika tidak peduli.
Dia lebih memilih mengedarkan pandangan mata melalui jendela mobil, melihat jalanan ibu kota yang padat dan ramai, mungkin ini adalah jam pulang kerja.
Beberapa motor menyalip mobil Dika, motor adalah kendaraan yang paling tepat digunakan ketika jalanan macet, bisa salip sana salip sini.
Lampu-lampu penerang jalan sudah hidup, beberapa pedagang kaki lima nampak berjejer di sepanjang jalan.
Ah, betapa bahagianya jika aku bisa naik motor dan menikmati udara malam dengan orang yang mencintaiku.
Tidak terjebak di dalam mobil mewah, tetapi membuatku sesak napas setiap kali mengingat siapa yang sedang duduk di sebelahku.
Setelah cukup lama terjebak kemacetan, akhirnya mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota.
****
“Mahal sekali.” Kinara menggerutu ketika melihat harga baju yang di pegangnya. “Di pasar malam bisa dapat sepuluh pasang.”
__ADS_1
“Kau suka yang itu.” Dika datang dari belakang, tangannya meraih kaus panjang yang di pegang Kinara, meraba tekstur bahan dan melihat harganya. “Kau mau?” menyodorkan kembali baju itu.
“Tidak.” menggelengkan kepala secepat kilat. “Kita beli baju di pasar malam saja.” Kinara berbisik-bisik.
Nampak seorang SPG memperhatikan, mungkin dalam benaknya sedang mencemooh Kinara.
Tidak memiliki cukup uang tetapi berani berbelanja di mall yang besar dan mewah. Terserah, Kinara tidak peduli.
“Tadi kan kita melewati pasar malam, masih ada waktu jika kita ke sana sekarang.” Berbisik-bisik, mata SPG itu seperti singa yang sedang memburu mangsa.
Kinara tidak nyaman berbelanja di Mall, setiap kali
dia memegang pakaian selalu ada SPG yang menghampiri dan menawarkan bantuan.
Itu membuat Kinara tidak enak hati ketika tidak jadi membeli.
“Tidak!” Dika mengernyitkan dahi sampai kedua alisnya bertaut. “Aku tidak mau! terlalu banyak kerumunan orang.” Dengan angkuh menolak,
alasan yang tidak masuk akal.
Di mana ada pasar malam yang sepi? Yang sepi ya di kuburan, kau kan yang memaksa pergi.
“Sudah ini saja.” menyodorkan paksa baju itu. “Yang ini yah mba. Ada berapa warna? saya ambil semua.” melempar baju itu, sang spg tersenyum lebar,
tentu saja dia senang karena ada yang memborong. Memangnya apa lagi jika bukan karena itu.
Tunggu, tunggu. Tidakkah seharusnya kau bertanya padaku, Dika? Kau tidak bisa memutuskannya begitu saja.
“Aku tidak mau menghabiskan seumur hidupku untuk membayar hutang padamu hanya kerena baju-baju itu.” Kinara bersikeras menolak.
“Aku tidak setuju.” dia menegaskan jika dirinya benar-benar tidak butuh baju itu, mungkin lebih tepatnya bukan tidak butuh. Tetapi
tidak ingin membuang uang dari kerja kerasnya hanya demi beberapa potong baju yang harganya tidak manusiawi. Apa bedanya, hanya brand saja.
Di pasar malam baju seperti itu banyak dia jumpai.
“Aku setuju! Apa yang aku setujui itu yang harus kau beli!” Dika mengubah intonasi suaranya, ada nada ancaman di sana.
Ya, lakukanlah. Kau tidak perlu meminta persetujuanku.
“Sudahlah, terserah apa maumu.” Kinara lelah mendebat laki-laki itu.
Setelah menang, Dika kembali berjaan melihat sekeliling.
Meninggalkan Kinara yang memilih diam di tempat.
Pergi saja yang jauh, kau selalu berbuat sesuka hatimu, memangnya aku ini boneka bagimu?
“Kinara?”
__ADS_1
Suara yang tidak asing itu memecah lamunannya, bak disambar petir disiang bolong.
Begitu Kinara memutar tubuhnya dia mendapati seseorang yang dia kenal sudah berdiri di depannya.
Kinara tidak tahu harus bagaimana.
Lirih nama orang itu terucap. “A...Agra?” bibirnya kembali terkatup, tidak sanggup lagi mengeluarkan kalimat lain.
“Sedang apa kau di sini?” Agra berjalan mendekat. “Tumben ke Mall, bukan ke pasar malam?” Agra tersenyum.
Kinara mundur, ingin rasanya dia melarikan diri. Ke mana pun, sejauh yang dia bisa agar dirinya bisa bersembunyi dari Agra.
Melihat reaksi Kinara yang ketakutan, Agra memilih berhenti, menatap penuh selidik. Tatapannya sejurus melihat luka di bibir Kinara dan bekas memar di leher Kinara.
“Apa yang terjadi, Kinar?” Agra mendekat cepat, tentu saja dia panik melihat kondisi Kinara.
Kinara mundur, memutar tubuhnya dan berlari kesembarang arah.
Jangan kejar! jangan kejar aku Agra.
Aku tidak punya alasan untuk menjelaskannya padamu, aku mohon pergilah Agra.
Kinara berlari, air mata mulai menggenang di sudut matanya, cepat-cepat Kinara menyeka dengan punggung tangannya.
“Kinara, jangan lari. Aku mohon.” Agra masih mengejar.
Kenapa Kinara? Ada apa denganmu? Kenapa kau lari dariku?
Bruggg...
kesialan itu datang, nampaknya Tuhan mulai jengah melihat keadaan Kinara dan Agra. Mungkin saja ini keputusan terbaik, saat dia bisa berlari menghindar nyatanya tubuh Kinara justru menabrak punggung suaminya.
“Apa sih lari-lari.” memutar tubuhnya. “Kan aku sudah bilang aku...”
“Kinara.”
Cih, Agra Grissham.
“Kinara, untuk apa kau lari dariku? Kinar, lihat aku.” Agra mencoba mendekat.
Kinara masih membelakanginya, menampakkan punggung yang naik turun karena dia mulai terisak.
“Bawa aku pergi, Dika.” Kinara berbisik. “Aku mohon. Ayo kita pergi” suaranya mulai parau, tidak tahu kenapa tetapi dia merasa lehernya seperti tercekat.
Sangat sulit untuk bersuara.
Hahaha... kau malu bertemu dengannya? Kau tidak ingin Agra tahu kebenarannya? Tahu tentang statusmu? Bagus Kinara, sekalian aku buat kau semakin malu. Kita lihat sebaik apa laki-laki ini jika dia melihat keadaanmu.
\=\=\=\=> Bersambung......
__ADS_1
Klik Like, Rate bintang5, Favorit, Dan Vote yang banyak 😘
Jangan lupa mampir di Novel \=\=> REINKARNASI DUA BINTANG by AGUS PRIATNA