
“Aku ...,” Sebenarnya siapa yang aku cintai? Apa perasaanku pada Agra hanya sesaat?
Dika menatap Kinara yang bergeming di kursinya, hanya kedua bola matanya yang berputar seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Jangan terlalu dipikirkan, Kinara. Soal perasaanmu biarkan hatimu yang menjawabnya, kau tidak perlu memikirkan kenapa dan untuk siapa cintamu yang sesungguhnya. Karena hatimu tahu segalanya.” Dika mencoba mengalihkan pembicaraan. Suasana hati Kinara tidak boleh tertekan. Kinara sedikit terkejut. Biasanya Dika akan memaksa dan membuat Kinara merasa tertekan. “Omong-omong, apa di pasar malam ada yang jual daster?”
“Banyak.” Kening Kinar berkerut. “Kau mau beli untuk Mamah? Bahannya tidak akan cocok, Mamah tidak akan suka.”
Dika tersenyum tipis. “Untukmu. Aku ingin membelikan daster untukmu. Apa sekarang kau lebih nyaman pakai daster?”
Kinara mengangguk. “Kenapa? Apa aku sudah terlihat seperti ibu-ibu?”
“Kau kan memang akan jadi Ibu.” Dika menjawab pertanyaan sensitif itu dengan diikuti senyuman, yang akhirnya membuat Kinara mengerucutkan bibirnya. “Ibu dari anakku,” gumamnya yang membuat Kinara tersipu malu.
“Semakin hari berat badanku semakin bertambah. Beberapa pakaian bahkan sudah tidak muat. Ah, aku pusing kenapa napsu makanku berubah begini. Padahal dulu satu bungkus mie instans saja sudah bisa membuatku kenyang dari pagi sampai sore.” Kinara mengelus perut buncitnya.
Dika tersenyum, sedikit demi sedikit Kinara mulai terbuka dengannya. Tangannya bergerak maju, lalu berhenti tepat di samping bahu Kinara. Rasanya ingin sekali mencubit kedua pipi gembulmu, kau sungguh menggemaskan, Kinara.
“Nanti setelah melahirkan, tubuhmu juga akan kembali seperti semula.”
“Kata siapa?”
“Kata Mamah, dulu Mamah naik 15 kilo ketika mengandungku.”
“Lima ... belas ... kilo?” Kinara mengangkat kesepuluh jemarinya. Mengatakan itu dengan dramatis.
“Lima belas, Kinara. Itu hanya sepuluh.”
“Jari jemariku memang hanya ada sepuluh.”
Dika mendekatkan kelima jemarinya berderet di samping jari Kinara. “Sekarang baru betul. Lima belas.”
Keduanya tertawa.
Diam-diam dari dalam rumah Ken mengabadikan momen manis itu, mengambil beberapa foto dan merekan video. Kalian telah melewati masa sulit, semoga setelah semua ini ada jalan untuk kebahagiaan kalian berdua, batin Ken.
“Bagaimana jika kita pergi ke pusat perbelanjaan saja? Aku rasa pasar malam pasti berdesakan, aku takut kau kenapa-kenapa.”
“Pusat perbelanjaan kan jauh.” Lagi-lagi Kinara mengerucutkan bibirnya.
“Apa jika ditempuh dengan mobil bisa sampai dalam dua jam?”
“Aku rasa bisa.”
“Yasudah, kita ke pusat perbelanjaan saja, yah? Sekalian beli peralatan babyboy.”
Deg ...!
Degup jantung Kinara berpacu lebih cepat. Perhatian yang Dika berikan sudah seperti seorang Ayah dan suami yang baik. Kenapa baru sekarang kau mengatakan kalimat itu?
“Tidak usah. Baru juga lima bulan.”
“Kinara, jika aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Setidaknya berikan aku kesematan untuk menjadi Ayah yang baik untuk anak kita.”
__ADS_1
“A-ku ... aku ‘kan bukan melarangmu. Nanti jika usia kehamilanku sudah masuk 8 bulan, kau boleh membelikan apa pun untuk putramu.” Kinara memalingkan wajahnya, dia tidak ingin melihat ekspresi Dika. Saat ini Dika pasti sedang tersenyum senang.
“Amanda pulang jam berapa?”
“Jam satu, paling telat jam dua atau tigaan. Kenapa?”
“Kita langsung jemput saja. Kita jalan-jalan ke kota. Sekalian bawa Ibu, yah. Aku belum pernah memberikan apa pun untuk Ibu. Mungkin ada beberapa barang yang Ibu butuhkan.”
Kenapa tingkahmu aneh begini? Seperti seseorang yang akan pergi jauh saja, memangnya kau mau pergi ke mana, sih? batin Kinara.
“Ibu tidak suka jalan-jalan. Kalau mau membelikan sesuatu, belikan saja. Lagi pula kasihan kalau diajak ke tempat jauh, Ibu mudah lelah. Kecuali diajak ke pasar malam. Ibu mungkin butuh beberapa barang untuk jualan seperti panci dan sejenisnya. Kau ingin Ibu, aku, dan Amanda bahagia ‘kan?”
Spontan Dika langsung menganggukkan kepala. Tentu saja. Ini kan salah satu tujuannya menyusul Kinara sampai ke kampung. Membuat mereka bahagia.
Kinara tersenyum, tapi Dika merasa dibalik senyumnya tersimpan rencana jahat yang tidak dia ketahui. “Kami lebih suka pergi ke pasar malam daripada ke pusat perbelanjaan.”
“Se-serius?” Yah, aku tahu kau dan Amanda bukan wanita mata duitan, tetapi alasan itu terkesan mengada-ada.
Tentu saja tidak, aku kan hanya ingin mengerjaimu. Sampai di mana kau dan Ken bisa sabar menghadapi tingkah Amanda. Lihat saja, bocah itu pasti akan membuat kepala kalian pusing tujuh keliling. “Tentu saja, kami suukaaa pasar malam.” Kinara tersenyum ngeri sembari menekankan kata suka. “Sekalian ajak Ken,” katanya.
“Ba-baiklah kalau begitu.” Kenapa aku merasa akan dikerjai, yah? Apa Amanda dan Kinara punya rencana jahat?
Keduanya beradu senyum. Sementara Ken yang masih berdiri di belakang pintu bahagia bukan main. Padahal dia sudah memikirkan beberapa kalimat agar bisa ikut dengan Amanda ke pasar malam. Ken tidak pernah tahu hal apa yang akan terjadi padanya.
***
🍃Ruang keluarga🍃
“Nak Ken rajin sekali, yah.” Mirna meletakan secangkir es teh manis untuk Ken.
“Aduh, Bu. Seharusnya tidak usah repot-repot begitu, aku bisa membuatnya sendiri.” Ken merasa tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, Nak Ken. Minumlah. Kebetulan Ibu lagi di dapur, jadi sekalian bikin untuk kamu.”
Ken hanya tersenyum canggung. Dia meraih gelas es teh manis dan baru juga dua tegukan kalimat Mirna sudah membuat tenggorokannya tercekat.
“Seharusnya Amanda yang buatkan, yah. Walaupun masih kecil, Amanda itu pintar membuat makanan. Dia juga memiliki pola pikir yang dewasa. Tidak sesuai dengan umurnya, terkadang Ibu berpikir apakah ada jiwa orang dewasa yang terjebak di dalam tubuh Amanda?”
Ken tersipu malu. Dia sampai tidak fokus mengerjakan perkerjaannya. Apa maksudnya? Apa Ibu sedang mempromosikan Amanda untukku? Hahahaha kau terlalu percaya diri Ken, batin Ken.
“Sebenarnya ada banyak laki-laki yang jatuh hati pada Amanda, tak terhitung berapa kali teman sekelasnya datang untuk mengajak pergi. Yah, sekadar jalan-jalan malam mingguan, tapi Amanda selalu menolak.”
Tuh kan, setelah diterbangkan begitu tinggi akhirnya aku dijatuhkan juga. Sakit, Bu ... sakit, batin Ken.
“Yah, Ibu hanya berharap Amanda bisa menemukan laki-laki soleh yang bisa membimbingnya.”
Aku laki-laki soleh, Bu. Aku, sungguh.
“Yang bisa menghargai Amanda sebagai seorang wanita, bukan hanya menjadikan Amanda pajangan di dalam rumah.”
Aku akan selalu menghargai Amanda, Bu. Tidak akan pernah menjadikannya pajangan.
“Laki-laki yang bisa memberikan cinta yang tulus untuk Amanda.”
__ADS_1
Kurang tulus apa lagi diriku ini, Bu? Selama hidupku aku bahkan belum pernah jatuh cinta, dan sekalinya jatuh cinta justru pada Amanda.
“Aamiin.” Ken tersenyum tipis. Semua kata-kata itu hanya bisa diucapkan di dalam hati. “Emmm, Bu. Kira-kira Amanda mau menikah dengan laki-laki yang lebih tua atau lebih muda , yah?”
Mirna terkesiap menerima pertanyaan dari Ken, lalu tawanya pecah sampai gelas es teh manis di tangannya bergoyang.
“Apa yang kau pikirkan, Nak? Amanda baru berusia 16 tahun, bahkan negara pun belum membolehkannya untuk menikah.” Sekali lagi tawa Mirna pecah.
Aku tidak bertanya untuk sekarang, Bu. Aku hanya bertanya saja, mengantisipasi sebelum ada laki-laki lain yang mendahului aku, batin Ken.
“Yang jelas, Amanda itu pernah bilang tidak mau pacaran. Maunya langsung nikah katanya.”
Nikah? Ah,tentu saja. Itu lebih baik, aku juga bukan berada diusia yang masih bisa memikirkan pacaran. Aku siap menikah ... Hahaha ... batin Ken sungguh bergelora.
“Itu ... maksudku, barangkali Ibu pernah mendengar Amanda ingin menikah dengan laki-laki yang lebih tua atau muda begitu.” Ken tersenyum malu-malu. Ah, lama-lama malu-maluin lu Ken (Author 🤣)
“Oh, Amanda sih ....”
Mirna belum sempat menjawab pertanyaan Ken sampai suara dari balik pintu membuat Ken gugup setengah mati.
“Assalamu'alikum.”
Bersambung....
.
.
Uwuuu ... Ken, emak kantongin juga kamu ah. Sweet banget sih ❤️ Ngebet pengen nikah gitu 🤣
.
.
Jangan lupa LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE yah. Bantu TCK masuk 5besar yah ❤️
.
.
Selamat hari kemerdekaan. Dirgahayu Indonesiaku yang ke 75 tahun. Merdeka! Merdeka itu tidak hanya bebas dari penjajah, tetapi juga bebas berekspresi tanpa melanggar norma-norma yang berlaku, bebas berbicara secara cerdas, tanpa menyakiti hati orang lain, bebas meninggikan harga diri bangsa tanpa menjatuhkan bangsa lain. Bebas bukan berarti lepas.
.
.
Semoga bangsa kita semakin jaya, bersatu dalam banyaknya keragaman suku, adat, ras, dan agama ❤️
.
.
Berbeda bukan berarti tak sama. Karena berbeda-beda, tetap satu jua. Darah yang mengalir di tubuh kita, darah INDONESIA 😊
__ADS_1