Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Akhirnya Bertemu Juga


__ADS_3

Ken sedang berdiri, menggulung lengan kaus panjangnya sampai siku. Beberapa kali dia menatap pantulan wajahnya di kaca. Biasanya Ken akan tampil formal dengan kemeja dan jas, tetapi pagi ini Ken berpakaian lebih santai. Ken melirik jam tangannya, dia bergegas. Keluar dari kamar setelah melihat waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi.


“Selamat pagi, Nyonya,” sapa Ken sembari membungkukkan badan.


Kinara melipat kedua tangannya di dada. Menatap Ken dari atas sampai bawah. “Ehem ... hari ini kau terlihat lebih tampan dari biasanya." Mengacungkan jempol.


“Kau bilang apa tadi?!” Dika yang berdiri di ujung tangga langsung berlari menuruni anak tangga. “Katakan sekali lagi.” Sudah berdiri di depan Kinara dengan dasi yang masih menggantung.


“Aku tidak mengatakan apa pun.” Berusaha pergi, tetapi gagal karena Dika sudah memeluknya dari belakang. Seketika Ken menundukan kepalanya.


“Katakan padaku, Sayang. Kenapa kau bilang Ken tampan?”


Dia memang tampan. Aku harus bilang apa? Lagi pula aku hanya menggodanya saja, batin Kinara.


“Kau bahkan mengacungkan jempolmu padanya. Aku tidak suka!" Dika menekankan kalimatnya.


“Aku bukan mengacungkan jempol tapi melakakan ini.” Ibu jarinya menghadap ke bawah.


“Eiiih, kau pikir mataku buta? Aku jelas melihatnya!" Mulai kesal.


“Sudahlah. Memangnya kenapa kalau aku melakukannya?” Kinara mengerucutkan bibirnya.


“Bibirmu hanya boleh kau gunakan untuk memujiku, tidak ada laki-laki lain. Hanya aku!"


Dih, posesifnya kelewatan. “Bagaimana dengan anak kita?”


“Yah, anak kita adalah pengecualian.”


“Mas posesif sekali.” Kinara kesal.


“Hanya padamu. Hanya karena dirimu. Jika bukan kau, Mas mungkin tidak akan posesif seperti ini. Mengertilah. Mas hanya tidak tahu caranya mencintai yang baik, tetapi Mas tidak suka kau memuji siapa pun selain Mas.” Mencium kepala Kinara.


Kinara kesal. Dika benar-benar tidak toleransi pada siapa pun, termasuk Ken. Dia tidak suka ketika Kinara memuji laki-laki lain, atau sekadar bertegur sapa. Dika akan bereaksi berlebihan.


Pernah suatu ketika Kinara belanja keperluan rumah tangga, seorang karyawan membantunya mendorong troli belanjaan. Dika berteriak "Lepaskan! Dia istriku!" di tengah keramaian memancing perhatian orang banyak. Begitu terus, Dika selalu menegaskan bahwa Kinara adalah istrinya. Meskipun tidak ada yang bertanya.


Seperti sekarang ini. Bertingkah berlebihan hanya karena Kinara memuji Ken. Kinara melempar sandal rumah yang dikenakannya. Kakinya naik ke atas kaki Dika yang sudah memakai sepatu.


“Ah, berat.” Dika meringis. “Turun, Sayang.”


Kinara menggeleng. “Aku ingin duduk, tapi aku malas jalan.” Kinara tersenyum licik. Biar saja, siapa suruh kau begitu cemburuan.


“Baiklah.” Mengangkat tubuh Kinara. Menggendong dalam pelukannya. “Kau mau ke mana? Kamar? Ruang keluarga? Atau taman?”


“Aku mau ke teras rumah.”

__ADS_1


Dika tersenyum dan langsung menggendong Kinara ke teras rumah.


Ken mengikuti dari belakang dengan perasaan berdebar. Derita bagi laki-laki lajang seperti Ken bukanlah ketika dirinya melihat kemesraan remaja yang sedang berpacaran. Melainkan melihat kemesraan Dika dan Kinara. Bagi Ken arti romantis yang sesungguhnya adalah ketika melihat kemesraan suami istri. Setiap rayuan menjadi ibadah, bukan dosa.


“Sudah sampai.” Menurunkan Kinara di kursi dengan sangat hati-hati. “Mas berangkat kerja dulu, yah.”


Kinara mengangguk. Dika berjongkok, mengelus perut Kinara yang semakin membesar. “Ayah kerja dulu, yah, Sayang. Jangan rewel, kasihan Bundanya.” Mencium perut Kinara. “Jangan banyak bergerak. Ingat, susu dan buah jangan lupa dimakan.” Mengulurkan tangan.


“Iya.” Kinara meraih tangan Dika dan mencium punggung tangannya.


“Hati-hati di rumahnya. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Mas.” Mencium kening Kinara.


“Mas tunggu.” Meraih tangan Dika.


“Kenapa? Kau masih kangen sama Mas?”


“Bukan begitu. tapi itu.” Menunjuk leher. “Dasimu belum terpasang sempurna.”


“Astaga Mas sampai lupa.”


Kinara bangun, mengikat dasi Dika. “Nah, sudah rapi.”


“Tuan. Apa benar tidak perlu saya antar?” tanya Ken.


“Baiklah.” Ken tidak enak hati. Hari ini dia harus menjemput Ibu dan Amanda di kampung. Beruntung Dika mengerti. Dia meminta pak Budi mengantarnya ke kantor dan menunda beberapa pekerjaan Ken.


***


Ken berangkat pagi-pagi sekali. Begitu Dika berangkat ke kantor, Ken lengsung memacu mobilnya menuju kampung Kinara. hari ini adalah hari pertama Amanda libur sekolah. Kemarin sore dia menghubungi Ken jika dia dan ibunya ingin mengunjungi Kinara.


Dalam hal ini, selain Kinara tentu saja ada satu orang lagi yang bahagia. Siapa lagi jika bukan Ken. Sia begitu antusias sampai melompat setelah menutup panggilan telepon dari Amanda.


Ruang tamu.


“Alhamdulillah, semuanya sudah siap.” Amanda duduk di kursi sembari menyeka keringat di dahinya. “Lelah sekali. Padahal sudah disiapkan sejak semalam.” Melenguh panjang.


Ken tersenyum sembari membatin, Akhirnya aku bertemu denganmu lagi, Amanda.


Menyodorkan botol air mineral yang dia beli di jalan, belum sempat dia buka. “Minumlah. Memangnya apa saja yang kau bawa? Sepertinya banyak sekali.” Ken melirik. Ada satu tas gemblok, satu tas jinjing, dan kantung plastik besar berwarna hitam.


“Tas gemblok itu isinya perlengkapanku, Mas. Nah kalau tas jinjing milik ibu.”


Kening Ken masih berkerut. Lalu isi plastik itu apa? Begitu arti kerutan di kening Ken.


“Mas bingung isi plastiknya apa?”

__ADS_1


Ken mengangguk.


“Itu singkong sama pisang dari kebun belakang. Ibu ngotot ingin membawa ke kota. Katanya buat bikin singkong dan pisang goreng. Padahal Manda sudah bilang kalau di kota juga banyak yang jual pisang dan singkong goreng.”


Ken tersenyum. “Ibu benar. Singkong goreng buatanmu ‘kan berbeda.”


Amanda hanya tersenyum.


“Nah, semuanya sudah beres. Ayo berangkat,” ucap Mirna sembari menenteng satu kantung plastik lagi.


“Itu apa lagi, Bu?”


“Ini sayuran. Ada tomat dan lain-lain.”


“Aduh, Bu. Sampai di rumah Mas Dika semuanya sudah layu.”


“Tidak apa-apa, Manda. Biar saja.” Ken bangun. Mencoba menengahi. “Mari saya bawakan, Bu.”


“Owalah. Calon mantu idaman ini. Pengertian sekali.” Menyerahkan kantung plastik. Ken tersipu malu mendengar ucapan Mirna.


Mobil yang dikendarai Ken sudah berhenti di depan bangunan besar dan mewah.


🍃Mansion🍃


“Uwooow, wow.” Amanda menepuk-nepuk kedua pipinya. Matanya membulat sempurna dengan mulut terbuka. “Apa ini sungguh rumah Mas Dika?”


Ken mengangguk. “Benar. Ini Mansion milik Tuan Muda.”


“Kita tidak salah rumah, ‘kan, Nak?” Kali ini Mirna ikut bertanya. Mirna tahu menantunya kaya raya, tetapi tidak pernah tahu sekaya apa. Takaran kaya bagi Mirna dan Amanda memang berbeda. Tetangga yang memiliki sepuluh kambing saja sudah dianggap kaya oleh Mirna dan Amanda. Lalu ini apa?


“Ayo masuk, Bu,” pinta Ken. kedua tangannya penuh dengan barang bawaan.


Beberapa pelayan sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan Ken dan yang lainnya. “Selamat datang,” ucap mereka serentak sembari membungkukan badan.


Mirna dan Amanda terkejut. Berkali-kali meminta agar mereka tidak melakukan itu, membungkuk seperti itu membuat Mirna tidak enak hati. Namun, ini adalah standar yang diterapkan oleh Bibi Ane selaku kepala pelayan dan merupakan perintah langsung dari Dika.


"Ternyata kehidupan mentereng yang kita lihat di televisi itu benar-benar ada, yah, Bu. Ini contohnya." Tak henti-hentinya Amanda berucap syukur. Kakaknya memiliki kehidupan yang layak.


Bersambung.....


.


.


Like, Komentar, dan Votenya di tunggu.

__ADS_1


__ADS_2