
"Hey, Man. Santai...." Salah seorang teman berusaha melerai.
"Gio, jika mulutmu tidak bisa dikendalikan. Aku tidak hanya akan menghajarmu, aku bisa membuatmu keluar dari kampus ini. Kau tentu tidak ingin hal itu terjadi, bukan?" Agra melepaskan cengkraman tangannya, mendorong kasar tubuh laki-laki yang dipanggil Gio sampai hampir tersungkur membentur kursi, untung keseimbangan tubuhnya cukup baik. Cekatan tangannya meraih ujung meja dan menjadikannya tumpuan.
"Sorry, Gra..." Gio terduduk lemas, menundukkan kepalanya dengan ekspresi penyesalan yang dalam.
Siapa yang berani berurusan dengan Agra Grissham, tidak ada. Begitu pun dengan Gio, namun kali ini Gio merasa heran. Laki-laki dengan track record playboy kelas kakap itu pada dasarnya tidak pernah peduli dengan wanita yang dikencaninya. Terkadang teman-teman Agra bersikap kekanakan dengan membandingkan kecantikan, kekuasaan, bahkan profesi. Tapi wanita ini siapa? Hanya perempuan biasa dengan pakaian murahan dan wajah yang jauh dari polesan make up. Mengapa Agra harus mati-matian membela wanita itu. Seperti itu sekelumat pikiran yang berkecamuk di kepala Gio.
Agra berjalan mendekati salah satu kursi yang sudah ditempati. "Allen, pindah." Agra melemparkan senyum ke arah wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Allen. Allen adalah salah satu anak orang kaya yang juga ikut andil mendanai kampus milik keluarga Agra.
Allen menggigit bibirnya, meremas gauh mahal yang dikenakannya. Meski tidak terima dengan perlakuan Agra, Allen tidak bisa berbuat apa apa. Allen bangkit dari tempat duduknya, belum sempat Allen melangkah untuk mengosongkan bangku itu. Kinar sudah menahannya.
"Tidak perlu, siapa tadi namamu? Allen?" Kinar melemparkan senyum ke arah Allen, namun niat baik Kinar dibalas cibiran oleh Allen.
"Kau tidak perlu pindah, Allen. Dari awal ini tempatmu, bukan? Seorang pendatang tidak berhak mengambil tempat orang lain." Kinar memutar kepalanya, menyapu bersih seisi ruangan. Kinar tersenyum karena menemukan tempat duduk yang masih kosong. Kinar berjalan mendekati bangku itu.
"Apa bangku ini kosong?" Tanya Kinar. Wanita itu hanya mengangguk, menggeser tubuhnya dan membetulkan posisi kacamata yang terduduk rapi di atas hidungnya. Kinar tersenyum, meletakkan tasnya di atas meja dan mengulurkan tangan. "Hay, aku, Kinar. Kau?"
"A..aku... Alisa. Senang ber...temu deng...anmu.." Wanita yang menyebut dirinya Alisa hanya menunduk, memperkenalkan dirinya dengan suara terbata, lalu menjabat uluran tangan Kinar dengan tangan bergetar.
Melihat tangan Alisa yang bergetar tentu membuat Kinar penasaran. "Kau sakit, Alisa? Wajahmu terlihat pucat." Kata Kinar.
"Aku baik-baik saja, Ki..nar.." Kata Alisa.
Samar suara sumbang mulai bersautan.
"Dia duduk di samping, Alisa. Cocok sih."
"Tidak tahu di untung, padahal Agra sudah berniat baik."
"Allen masih beruntung, sih."
"Apanya yang beruntung, Allen sudah lama menjatuhkan hatinya kepada Agra. Tapi Agra tidak pernah melirik Allen sedikit pun."
"Kenapa dia harus duduk di samping si cupu yah?"
"Cocok, kan? Jangan-jangan mereka berdua sama-sama mahasiswa yang dapat belas kasihan keluarga Agra?"
"Beasiswa, maksudmu?"
__ADS_1
"Ya, semacamnya."
"Ciiih, sudah cukup dengan satu mahasiswi miskin. Ini malah bertambah satu lagi."
Dari suara-suara itu Kinar bisa menarik kesimpulan jika Alisa adalah mahasiswi yang mendapatkan beasiswa sehingga bisa menempuh pendidikan di kampus bergengsi.
Braaak.....
Lagi Agra menggebrak meja. Seketika suasana menjadi hening, tidak terdengar sepatah kata pun.
"Ki..nar, sebaiknya kau tidak duduk di sebelahku. Aku takut kau akan ikut mengalami kesulitan di kampus ini jika berdekatan denganku." Alisa kembali membetulkan kacamatanya.
"Tidak apa-apa, Alisa. Kau tidak perlu khawatir." Kinar tersenyum sembari menggenggam tangan Alisa.
Di sudut lain Agra sedang duduk sembari mengepalkan tangannya, sesekali memukulkan tangannya ke atas tumpukkan buku. Agra kesal bukan main, tidak ada satu pun dari niat baiknya yang dianggap oleh Kinar. Kinar bukan hanya tidak mengucaka terima kasih. Tetapi menolak semua niat baiknya.
Agra tidak tahan lagi, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati meja Kinar.
“Alisa, bisa minggir sebentar? Aku ada perlu dengan Kinar.” Kata Agra.
“Ah, baiklah.” Alisa bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari Agra.
“Sabar, Kinar. Belum juga duduk.” Agra menarik kursi milik Alisa dan duduk di samping Kinar. Seisi ruangan hanya menatap tajam, begitu banyak pasang mata yang heran dengan sikap Agra. Terlebih Allen, ia menggigit bibirnya dan meremas kuat gaun yang dikenakannya. Allen terus menggerutu di dalam hati tanpa bisa menyuarakannya.
Sialan, kenapa Agra bisa mendekati wanita miskin ini. kalau sainganku seorang model, aku masih bisa terima. Tapi dia cuma gadis kampungan. Tentu tidak bisa dibandingkan denganku.
“Aku mencoba membantumu, Kinar. Duduk di sebelahku adalah sebuah kesempatan langka yang setiap gadis inginkan, dan kau bukan hanya menolak niat baikku. Tapi tidak memandangku sedikit pun.” Agra memutar tubuhnya, menatap tajam Kinar seolah memberi isyarat agar Kinar segera menjawab semua kegelisahan hatinya.
“Coba kau pikirkan, Agra. Seandainya aku masuk ke dalam kelas ini sendiri. Apakah temanmu yang bernama Gio akan berkata demikian? Menargetkan aku sebagai sasaran kalimat kasarnya? Atau seandainya kau tidak ikut campur dengan urusan tempat dudukku, apakah mungkin Allen akan menatapku penuh kebencian? Pada dasarnya, semua orang yang ada di sini hanya tidak suka dengan kedekatan kita berdua, Agra.” Kata Kinar.
Agra mencibir. “Jadi maksudmu dalam hal ini aku yang bersalah?”
Kinar memutar tubuhnya, kini keduanya saling beradu tatap. “50:50.” Kinar kembali memutar tubuhnya.
“Maksudmu?” Agra menarik tangan Kinar, memaksa Kinar untuk menatap matanya. “Jangan abaikan aku, Kinar. Aku sedang bicara denganmu.” Nada suara Agra terdengar lebih serius dari sebelumnya.
Kinar menghela napas panjang dan menghembusakan perlahan. “Dalam hal ini kau bersalah dan aku juga bersalah. Sudahlah, Agra. Ada berapa banyak wanita yang sudah kau dekati, atau mungkin sudah kau kencani? Maka sebanyak itu pula orang yang akan membenciku. Ada berapa banyak wanita yang mengharapkan cintamu? Maka sebanyak itu pula orang yang akan menganggapku sebagai saingan.”
“Kita hanya berteman, Kinar. Just friend.” Kata Agra.
__ADS_1
“Apakah mereka peduli? Tidak, Agra. Mereka tidak akan peduli, mereka hanya butuh pembenaran bukan kenyataan. Tidak peduli aku temanmu atau kekasihmu, di mata mereka akan terlihat sama saja. Aku adalah penghalang tujuan mereka, dan biasanya untuk mencapai tujuan. Apa yang akan mereka lakukan? Menghancurkan penghalang itu. Sampai di sini kau sudah cukup mengerti maksudku?” Kinar berusaha menjelaskan.
Agra terdiam, mencoba mencerna kalimat yang diucapkan Kinar. Meski sekeras apa pun Agra menolak, namun apa yang diucapkan Kinar adalah sebuah kebenaran. Agra bangkit dari tempat duduknya, menendang kasar kursi milik Alisa.
Dari balik pintu seorang wanita berusia empat puluh tahunan masuk ke dalam kelas.
“Selamat pagi semuanya.” Sapa wanita itu.
“Pagi, Bu Jessika.” Jawab seisi ruangan serentak, tak terkecuali Kinar.
“Oh, kita kedatangan mahasiswi baru. Silakan berdiri, dan perkenalkan dirimu.” Kata Jessika, dosen yang akan memberi materi pagi ini.
Kinar berdiri, berjalan ke depan. Ia tersenyum dan mengangguk sopan ke arah Jessika.
“Selamat pagi, semuanya. Perkenalkan namaku Kinara Amalia, aku pindahan dari kampus S. Senang bisa berkenalan dengan kalian, mohon kerja samanya. Terima kasih.” Kinar tersenyum, menyapu bersih pandangan mata yang tertuju padanya.
“Amalia? Bukan nama keluarga besar, ciiih...” Allen mencemooh.
“Beasiswa yah? Ah, apa belum cukup noda hitam yang dibawa Alisa. Sekarang kelas ini kembali di kotori olehnya.” Beberapa mahasiswi lain ikut menanggapi.
Agra terdiam, tidak ambil bagian. Tidak membela, tidak membenarkan. Hatinya masih kesal karena perlakuan Kinar.
“Hey kamu, masuk ke kampus mahal seperti ini karena apa? Beasiswa? Peliharaan om-om? Atau istri muda seorang pengusaha?” Pertanyaan yang datang bak petir disiang bolong yang menyambar tubuh Kinar. Bukan karena Kinar takut menjawab pertanyaan itu, melainkan Kinar tidak memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.
“Sebentar, ibu cek dulu berkas-berkas milikmu, Kinar.” Jessika menepuk bahu Kinar, berjalan mendekati meja dan meraih beberapa berkas.
Ya Tuhan, jika Bu Jessika melihat nama Dika Mahendra, bagaimana? Aku sudah berjanji untuk menutupi pernikahan ini.
Batin Kinar.
“Hmmm.... Kau cukup pintar, Kinara. Ternyata kau masuk ke kampus ini dari jalur beasiswa. Baiklah kau boleh kembali ke tempatmu.” Kata Jessika.
Deg... Beasiswa? Apa maksudnya ini? Batin Kinar.
\=\=\=>Bersambung 💕💕
Tolong jangan pelit2 yah readersss..
Please, Klik Like 🖒 Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah ☺☺🌹🌹 Dukungan kalian sangat berarti.. Jangan pelit2 dongss.. Jangan cuma minta up tapi kalian gak dukung author, kan aku jadi sedih 😭
__ADS_1