
“Apa tujuan laki-laki itu memasukkan aku di kampus semewah ini? Bukankah dia cukup tahu bagaimana kehidupanku sebelumnya, Ken? Aku tidak meminta rembulan dalam genggaman tanganku, hanya berharap cahayanya bisa menyinari malamku.” Kata Kinar.
“Itu, sepertinya hanya Tuan Muda yang tahu jawaban dari pertanyaan anda, Nonya.” Ken menjawab sopan, masih menundukkan kepalanya.
Jika kau ingin mengalahkan aku dari berbagai sisi, kau salah Dika. Kekuatanmu masih belum cukup untuk mengalahkan aku. Aku tidak akan menyerah. Batin Kinar.
“Baiklah, Ken.” Kata Kinar.
Ken keluar dari dalam mobil. Membuka pintu mobil dan mempersilakan Kinar dengan sopan.
“Kau pulang saja, Ken.” Kata Kinar.
“Tida bisa, Nyonya. Saya harus menunggu anda di sini.”
Kinar hanya mengangguk, mengiyakan permintaan Ken untuk tetap menunggunya di Kampus.
Ia tidak ingin berdebat dengan Ken. Kinar tahu pasti, jika dia bertanya mengapa? jawaban Ken pasti karena hal itu adalah perintah tuannya.
Area Kampus.
Kinar melangkah, menyapu pandangan matanya ke seluruhuh penjuru, matanya terus berputar mencari papan pengumuman. Ia terkejut ketika ada yang menepuk bahunya dari belakang.
“Hay, kau mahasiswi baru?” Tanya laki-laki itu sembari menepuk pundak Kinar. Kinar memutar tubuhnya. Ia mendapati sosok laki-laki dengan tubuh tinggi dan wajah tampan dengan senyum manis terpasang di wajahnya.
Kinar hanya mengangguk, dia teringat akan point peraturan yang diterapkan Dika. Dia tidak boleh terlibat kedekatan dengan laki-laki lain selain dirinya, terdengar sangat egois bukan. laki-laki arogan itu bisa dekat dengan siapa saja, tapi tidak dengan Kinar. Namun, seperti itulah adanya.
Laki-laki itu menatap tajam, memandangi Kinar dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tidak ada yang mahal dari pakaian yang di kenakannya, dari atas sampai bawah sepertinya hanya barang-barang murah. Apa pakaiannya di desain khusus? Tidak mungkin, melihat jenis kain dan jahitan yang tidak terlalu rapi, ini jelas bukan jahitan khusus seorang desainer. Tapi dia kuliah di sini? Beasiswa? Atau peliharaan om-om? Tidak... Tidak... Peliharaan om-om pakaiannya pasti mahal, dan pula riasan wajahnya hanya dipoles make up tipis dan sederhana. Tapi dia cantik sekali. Batin laki-laki itu.
Laki-laki itu terlihat sangat aneh di mata Kinar, ia terus menggelengkan kepala, sesekali menganggukkan kepala, terkadang memiringkan kepala seraya berpikir. Kinar tidak ingin berurusan dengan laki-laki itu, ia memutar tubuhnya, bersiap untuk meninggalkan laki-laki itu sampai kakinya kembali berhenti karena laki-laki itu memegang pergelangan tangannya.
Kinar mendelik, menatap tajam laki-laki itu. tatapan matanya mempertegas jika Kinar tidak suka dengan sikap laki-laki yang sembarangan menyentuhnya. Refleks laki-laki itu mengangkat kedua tangannya sembari berucap. “Maaf....”
__ADS_1
“Boleh ku lihat?” Tangan laki-laki itu menunjuk berkas-berkas yang ada di tangan Kinar. Kinar masih menatap waspada. Kinar mengangguk, menyodorkan berkas itu.
Laki-laki itu menyapu kata demi kata di kertas yang di genggamnya. Ia menarik sudut bibirnya. “Well, kita satu kelas.” Katanya, sembari diiringi senyum puas.
Kinar masih diam. Ekspresi wajahnya datar.
“Kenalkan, namaku Agra Grissham. Panggil Agra saja." Laki-laki yang menyebut dirinya Agra Grissham itu mengulurkan tangan.
Ragu, Ancaman Dika kembali berkelebat di kepalanya. Kinar tidak ingin menyusahkan orang lain, ia tidak mau membuat laki-laki yang tidak bersalah itu menjadi sasaran kemarahan Dika.
“Ayolah, karena kita satu kelas. Kita juga harus berteman, kan?” Agra masih mengulurkan tangannya.
Sepersekian menit, meski ragu namun pada akhirnya Kinara mengulurkan tangannya menjabat uluran tangan Agra. “Kinara Amalia.”
Kinara Amalia? Bukan nama keluarga besar, berarti hanya orang biasa. Batin Agra.
“Baiklah, Kinara. Ayo kita ke kelas.” Agra tersenyum sopan.
“Panggil Kinar saja.” Kata Kinar. Agra hanya mengangguk.
“Biarkan saja, Kinar. Jangan menundukkan kepalamu, cukup berjalan lurus dan jangan pedulikan mereka.” Kata Agra.
“Mainan baru, ciiih...”
“Selera tuan muda hanya seperti ini saja.”
“Lihat deh pakaiannya, dari atas sampai bawah tidak ada yang branded. Barang murahan semua, memang pantas sih untuknya.”
Tidak hanya pandangan sinis, kalimat makian, hinaan terdengar cukup jelas di telinga Kinar.
“Waaaah... Luar biasa tajamnya mulut mereka, menempuh pendidikan di tempat mahal dan berkelas ternyata tidak menjamin etika dan sopan santun dalam bertutur kata.” Kinar berdecak kagum, bagaimana mungkin kampus yang sangat mewah dan berkelas hanya diisi oleh orang-orang yang memiliki pikiran sempit.
Agra tersenyum, baru beberapa jam bertemu dengan Kinara, Agra dibuat kagum dengan sikap dan pola pikir Kinara.
__ADS_1
Agra melemparkan pandangan tajam, akhirnya suara-suara sumbang itu menghilang tertelan ketakutan.
Iya, di kampus ini tidak ada yang berani mengusik Agra Grissham, putra tunggal keluarga Grissham yang memiliki aset di mana-mana termasuk kampus yang sedang dipijak oleh Kinar adalah Kampus yang di danai oleh keluarga Agra Grissham. Siapa yang berani mengusik pemuda tampan ini.
Bukan tanpa alasan gadis-gadis itu memandang Kinar dengan tatapan merendahkan, selama ini Agra dikenal sebagai palyboy kelas kakap. Agra sering menghamburkan pesonanya kepada siapa pun yang menurutnya pantas untuk menjadi kekasih sementaranya, setiap satu bulan sekali Agra akan berganti pasangan. Anak pejabat, model, selebriti, semuanya bisa ia takhlukan olehnya. Ada banyak gadis yang tergila-gila padanya, namun Agra tidak pernah menjatuhkan hatinya kepada siapa pun. Dan saat ini dia tertarik dengan gadis desa yang bahkan wajahnya tidak tersentuh make up.
“Apa kau tidak terganggu dengan kata-kata mereka?” Tanya Agra penasaran.
Kinar tersenyum sinis. Nampaknya kalimat-kalimat pedas yang meluncur ke arahnya bak angin yang berhembus kemudian berlalu pergi. Tidak mendapat jawaban dari Kinar membuat Agra semakin penasaran, Agra berpindah posisi memutar tubuhnya, kini Agra sudah berdiri di depan Kinar menghentikan langkahnya. Agra menaikkan alisnya memberi isyarat jika dirinya masih menunggu jawaban dari Kinar. Kinar melenguh panjang.
“Setiap orang bisa bebas menilai diriku seperti apa. Itu hak mereka dalam berpendapat, tetapi yang pasti aku juga memiliki satu hak, yaitu hak untuk tidak mendengarkan. Di dunia ini, tidak semua orang akan menyukaiku, tetapi tidak semua orang juga akan membenciku. Setiap orang punya jalan terjal yang berbeda-beda, kerikil disetiap jalan pun tidak akan sama. Jadi untuk apa aku membuang waktu mendengarkan ocehan mereka yang hanya ingin menjatuhkanku.” Kata Kinar.
Agra melongo, tertegun dengan kalimat menakjubkan yang baru di ucapkan Kinar. Senyum mengembang di sudut bibir Agra.
“Apa jawaban dariku belum cukup?” Tanya Kinar.
“Cukup... cukup...” Jawab Agra terbata.
“Kalau sudah cukup pergi dari hadapanku, kau menghalangi jalanku.” Kata Kinar.
Astaga, apa ini karma? Sekian lama tidak ada yang bisa menolak pesonaku, dan sekarang aku yang terpesona olehnya. Batin Agra.
Kinar berjalan menjauh, Agra mengejar.
“Mulai sekarang kita adalah teman.” Kata Agra.
“Siapa bilang?” tanya Kinar.
“Aku, barusan.” Kata Agra sembari memasang senyum lebar menampakkan gigi putihnya yang berbaris rapi.
Kinar mengelengkan kepala, tidak percaya di hari pertamanya sudah bertemu dengan laki-laki yang terlalu percaya diri.
\=\=\=>Bersambung 💕💕
__ADS_1
Tolong jangan pelit2 yah readersss..
Please, Klik Like 🖒 Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah ☺☺🌹🌹 Dukungan kalian sangat berarti.. Jangan pelit2 dongss.. Jangan cuma minta up tapi kalian gak dukung author, kan aku jadi sedih 😭😭