
"Apa aku terlihat memaksa? Kenapa kesannya hanya aku yang ingin menikah?" Menundukkan kepala dalam. "Apa kau tidak ingin menikah denganku, Dika?"
"Bukan begitu, Carissa. Hanya saja waktunya belum tepat."
"Tapi ...."
"Sudah, kau tidak perlu banyak berpikir, sayang."
"Yasudah." Carissa menerima dengan berat hati. “Omong-omong, Kinara, apa kau tidak ingin menikah?” tanya Carissa.
Pertanyaan bodoh macam apa itu? Aku sudah menikah, Carissa. Apa aku harus menikah lagi? Yang duduk di sampingmu itu suamiku, batin Kinara.
Kinara hanya tersenyum masam.
“Kenapa? Karena Ken?” Carissa menebak.
“Bukan.” Kinara meraih tali rambut miliknya yang tergeletak di samping komputer kasir lalu menguncir rambut panjangnya ala ekor kuda.
“Memangnya ada wanita yang tidak ingin menikah? Memiliki keluarga yang bahagia, saling melengkapi, dan mencintai satu sama lain.” Kinara memutar tubuhnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Dia mendongakan kepalanya ke atas berharap air mata itu tidak jatuh. Beruntung Alisa sedang tidak ada di meja kasir, dia masih sibuk masak mie instans di belakang.
"Lalu apa masalahmu, Kinara?"
Masalahku adalah, suamiku itu tidak pernah menganggap diriku ada, batin Kinara.
"Aku hanya kurang beruntung kerena bertemu dengan orang yang salah, Carissa.” Kinara tersenyum lebar.
“Siapa? Maksudmu, Ken? Kau menganggap Ken adalah orang yang salah?”
Bukan, bukan Ken, tapi kakasihmu. Aku terlalu sial sampai harus terjebak dengan kekasihmu, Carissa, batin Kinara.
“Yah, seperti itu.” Kinara tertawa kecil, dia tidak mengerti kenapa harus berbohong sampai sejauh itu dan apa yang dia tertawakan? Nasib buruknya? Akting kelas duninya? Atau sakit hatinya? Entahlah.
“Kau bilang Tuhan tidak pernah tidur, bukan? Itu artinya di suatu tempat Tuhan sedang menyiapkan laki-laki terbaik untukmu, lebih baik dari Ken.” Carissa menaikan sudut alisnya ketika menyebut nama Ken. "Benar 'kan, sayang?" menyikut lengan Dika.
“Yah, aku berharap begitu.” Dika menatap tidak suka ke arah Kinara keduanya bersitatap untuk waktu yang cukup lama.
“Mungkin Tuhan sedang mempertemukan aku dengan orang yang salah sebelum aku bertemu dengan orang yang tepat.” Kinara tersenyum getir sembari menundukan kepalanya.
Ketika ketiga orang di dalam mini market itu sedang terlibat percakapan yang cukup berat, terlebih Dika dan kinara yang sedang berakting. Di saat bersamaan pintu mini market terbuka.
Klak ....
“Selamat siang, selamat datang di toko.” Kepala Kinara langsung terangkat begitu mendengar bunyi pintu toko yang terbuka.
Agra?
“Kinara aku membelikanmu bu—bur.” Agra menatap tajam ketika menyadari Dika sedang duduk di kursi pelanggan tepat di samping carissa.
Cih, benar-benar laki-laki kurang ajar, bisa-bisanya kau bersama dengan kekasihmu di depan istrimu, batin Agra.
Agra tersenyum sinis sembari memainkan lidahnya, jelas sekali dia sedang merendahkan Dika, tatapan mata Agra tak ubahnya srigala yang menemukan mangsa.
Agra tidak perlu bertanya siapa wanita di samping Dika karena Nathan sudah memperlihatkan foto Carissa lengkap dengan latar belakangnya.
Bahkan kepulangan Carissa pun sudah terendus oleh Agra. Selama satu minggu terakhir Agra bekerja keras untuk mengumpulkan bukti sebanyak yang dia bisa, termasuk mempelajari dunia bisnis ketika nanti Dika mengusik perusahaan miliknya. Agra lah yang akan turun tangan melawannya.
“Agra kenapa kau ada di sini?” tanya Kinara.
“Loh memangnya kenapa, Kinara? Aku membawakanmu bubur, tadi aku telepon Alisa katanya kau belum makan siang.” Agra beralasan mendekati Kinara dan menyodorkan bubur ayam kesukaan Kinara.
“Bubur ayam di pengkolan sana?" Kinara menerima bubur itu dengan senyum mengembang, itu adalah bubur ayam kesukaan Kinara. Agra mengangguk sembari tersenyum.
“Pasti antre, yah? Maaf kau sampai repot-repot membelikan aku bubur.” Kinara mengangkat bubur itu dan mencium aromanya, perutnya sudah berbunyi begitu aroma bubur menyeruak keluar. Agra tertawa ketika mendengar suara perut Kinara.
“Apa kau selapar itu sampai suara perutmu tidak bisa dikompromi? Kau itu ‘kan wanita. Jaga image sedikit lah,” Agra meledek sembari menepuk lengan Kinara.
“Hahaha ... apa terdengar jelas?” tanya Kinara polos, "Apa aku tetap perlu jaga image di depanmu?"
"Tidak perlu, kau bisa menjadi dirimu sendiri ketika bersamaku.“ Agra tersenyum. "Haiss ... bunyi perutmu benar-benar mengganggu."
"Apa sejelas itu? Aku sendiri bahkan tidak mendengarnya." Kinara memajukan bibirnya.
__ADS_1
"Cukup jelas jika di telingaku.” Agra tertawa kecil.
Karena terlalu asik berbincang dengan Agra, Kinara sampai melupakan keberadaan Dika dan Carissa.
“Kinara ... ini?” Carissa menunjuk Agra, dahinya berkerut sampai kedua alisnya bertaut. “Apa ini pacar barumu?”
Agra memutar bola matanya berharap Kinara memberi isyarat, apa maksud dari ucapan Carissa. Kinara lupa memberi tahu Agra tentang dirinya yang pura-pura menjadi mantan kekasih Ken, ini juga demi misinya untuk mengumpulkan bukti agar dia bisa lepas dari Dika. Itulah satu-satunya alasan Kinara bertahan di mansion terkutuk itu.
Agra membulatkan matanya, bukannya menjawab isyarat yang diberikan Agra, Kinara justru hanyut dalam lamunannya. Agra meraih ujung jari Kinara dan sedikit menggoyangkannya untuk menyadarkan Kinara.
“Ah,” lirihnya. Kinara segera mengangguk pelan diikuti mata yang terpejam untuk memastikan Agra mengerti isyarat yang dia lakukan.
“Benar, aku adalah pacar baru Kinara.” Agra tersenyum sopan.
“Astaga, jadi ini alasan Ken mengakhiri hubungan kalian? Karena laki-laki tampan ini?” tanya Carissa.
Agra memutar kepalanya melihat Kinara, bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara. Gerak bibir itu mengucapkan satu nama. “Ken?”.
Kinara tersenyum lebar, Agra mengerti senyum bodoh yang diperlihatkan Kinara itu berarti apa.
“Hahaha ... yah, aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Ken,” ucap Agra yang sesekali diselingi tawa.
“Jadi siapa namamu? Aku penasaran orang seperti apa dirimu sampai membuat Kinara begitu cepat move on dari Ken.”
“Hanya laki-laki biasa yang mencintai Kinara dengan tulus dan apa adanya.” Agra menatap tajam ke arah Dika, yang ditatap hanya sibuk dengan handphone di tanganya. “Agra Grissham.” Agra mengulurkan tangan pada Carissa.
“Tunggu.” Carissa memutar bola matanya. “Rasanya nama Grissham tidak asing di telingaku.”
Agra hanya tersenyum.
“Grissham ... Grissham ....” Carissa menunduk, mengetuk-ngetuk meja di depannya sembari mengulang nama ‘Grissham’.
"Sayang, kau ingat nama Grissham?" tanya Carissa kepada Dika yang dijawab gerakan mengangkat bahu.
Untuk apu aku mengingat nama laki-laki itu, tidak penting sama sekali, batin Dika.
"Kau ini memang pelupa, sebal." Mencubit pinggang Dika.
"Hentikan, sayang. Itu sakit." Suara Dika dibuat semanja mungkin. "Coba kau ingat-ingat lagi."
Carissa bertopang dagu, bola matanya berputar.
“Ah, aku ingat.” Carissa mendongakan kepala sembari menatap Agra. “Apa kau putra tunggal keluarga Grissham?”
“Iya.” Agra mengangguk.
“Oh, astaga. Kau sungguh luar biasa, Kinara. Bagaimana kau bisa menjadi kekasihnya, Kinara? Selain tampan rupawan, bukankah dia adalah pewaris seluruh aset keluarga Grissham?” Carissa terlihat antusisas ketika menyebutkan kelebihan Agra.
“Aku yang beruntung karena bisa mengenal Kinara, dia seperti secercah cahaya yang menuntunku dari jalan yang gelap,” ucap Agra.
“Kau serius dengannya?” Carissa menunjuk Kinara. "Dengan Kinara?" imbuhnya.
Agra mengengguk mantap. “Tentu saja, apa ada yang salah dengan itu?"
"Tidak bukan begitu ... hanya saja, bagaimana aku mengatakannya." Menggosok tengkuk lehernya.
Apa Kinara tahu latar belakang laki-laki ini? Kebiasaan buruknya berganti kekasih, Kinara wanita yang baik. Aku harus memberi tahu Kinara, batin Carissa.
"Agra, sebaiknya kau jangan macam-macam dengan Kinara!" seruan Carissa terdengar lebih serius.
Agra dan Kinara saling beradu tatap, lalu mengangkat bahu secara bersamaan.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Carissa?" Agra tetap tersenyum.
"Maksudku itu ...." Carissa memijat pangkal hidungnya. "Begini, apa kau sudah tobat, Agra?” tanya Carissa.
“Tobat?” Agra balik bertanya. “Kali ini apalagi maksud pertanyaanmu?”
“Hey! Aku sedikit tahu kabar yang beredar tentang putra tunggal keluarga Grissham. Bukankah kau itu playboy kelas kakap, mantan kekasihmu bukan wanita sembarangan ‘kan? Model, aktris, anak pengusaha, bahkan anak walikota saja pernah kau kencani.” Carissa menghitung dengan jarinya.
"Sebaiknya kau hati-hati dengannya, Kinara. Ken memang tidak kaya harta, tapi dia kaya hati!" Carissa menunjuk wajah Agra dengan semangat.
Kinara tidak bisa menahan tawanya, dia memutar tubuh sampai membelakangi yang lainnya. Bahunya berguncang naik turun, tapi tidak mengeluarkan suara apa pun.
__ADS_1
Agra mendekat dan berbisik lembut di telinga Kinara. "Kau sudah puas?"
Kinara tidak peduli, dia tetap tertawa.
"Kinara! Aku sedang tidak berbohong padamu, dia ini benar-benar playboy!" Carissa berteriak.
“Dari mana kau tahu soal itu?”
“Kau ingat Monica?”
Agra diam, cukup lama, tetapi tidak ada jawaban. Bukankah artinya Agra benar-benar tidak ingat siapa itu Monica Mendengar nama wanita lain disebut, Kinara pun memutar tubuhnya.
“Haiss ....” Carissa merogoh tas dan meraih handphonenya. “Ini.” Carissa menunjukan foto seorang wanita, Kinara ikut melihat.
“Astaga, aku baru ingat. Kau kenal Monic?”
“Ya, aku sempat berkenalan dengannya ketika Monica liburan di Inggris, Monic bercerita banyak tentangmu. Sepertinya dia belum move on darimu, Agra.” Carissa meledek.
“Dia cantik sekali, memangnya kenapa kau putus dengan Monic?” Kinara yang juga melihat fofo Monic ikut berpendapat.
“Cantik saja tidak cukup, Kinara. Tampilan luar seseorang tidak bisa menutupi sifat dan keburukannya. Tampilannya mungkin sempurna, tapi tidak dengan hatinya.” Agra menoleh melihat Kinara dan tersenyum simpul.
“Ehem ....” Carissa berdehem.
“Hahaha ... sorry, jadi siapa namamu?” Agra mengulurkan tangannya.
Carissa menyambut uluran tangan Agra. “Carissa Kaylee.”
“Oh, kau putri tunggal keluarga Kaylee?” Agra basa-basi, pura-pura terkejut. Padahal jelas-jelas Agra tahu tentang Carissa, bahkan sampai latar belakang Carissa dan jaringan bisnis keluarganya.
“Iya. Ah kenalkan ini calon suamiku, Dika.” Carissa menunjuk Dika. "Seharusnya kalian sudah saling mengenal, perusahaan kalian terlibat beberapa kerja sama, 'kan?"
“Entahlah ... jadi dia adalah calon suamimu, Carissa?” Agra berjalan mendekati Dika dan mengulurkan tangannya. “Agra Grissham.”
Cih, kau sedang berpura-pura tidak tahu? batin Dika.
"Dika Mahendra.” Dika menyambut uluran tangan Agra dan menekan kuat tangan Agra, keduanya saling menunjukan kekuasaan. Baik nama keluarga besar sampai kekuatan fisik.
“Kapan kalian menikah?” tanya Agra.
“Entahlah, kami belum membicarakan hal itu dengan pihak keluarga.” Carissa menimpali.
“Ketika kalian menikah seharusnya semua hal sudah terselesaikan, yah?” Agra berjalan semakin dekat, jaraknya dan Dika hanya terpaut beberapa centi saja. Agra melatakan tangannya di pundak Dika dan berbisik tepat di telinganya. “Termasuk melepaskan Kinara!"
Jangan mimpi, Agra. Aku tidak akan melepaskannya sampai kau menderita karena tidak bisa memiliki Kinara. Dia adalah milikku, tak ada seorang pun yang berhak atas dirinya, termasuk dirimu, hanya milikku, batin Dika.
"Kau jangan serakah, Dika. Terkadang terlalu serakah juga bisa membuatmu jatuh dalam jurang kehancuran." Agra tersenyum sinis, berjalan mundur dan kembali berdiri di samping Kinara.
“Oho, Kinara. Apa Agra adalah orang yang kau maksud? Laki-laki selain Ken yang Tuhan siapkan untukmu?” tanya Crissa tiba-tiba.
“Itu ... iya, semoga saja.” Kinara tersenyum sembari meletakan bubur pemberian Agra di atas meja kasir.
Agra menoleh dan melihat rambut Kinara yang terikat. Agra tidak suka itu, dia segera melepaskan ikatan rambut Kinara sampai rambut panjangnya tergerai.
“Agra, apa yang kau lakukan?” Kinara mencoba meraih kembali ikat rambutnya, tetapi gagal karena Agra terlalu tinggi.
“Jangan banyak bergerak, Kinara. Aku tidak suka melihatnya, kau ‘kan tahu aku lebih suka melihat rambut panjangmu tergerai. Kau cantik."
“Apa, sih, jangan merayu terus. Dasar playboy,” Kinara menggeram.
“Aku sudah pensiun, Kinara. Seorang laki-laki akan berhenti mencari wanita lain ketika sudah menemukan pilihan yang tepat, aku berhenti karena kau adalah pilihan itu.”
Melihat keakraban Kinara dan Agra kontan membuat Dika bereaksi.
Braaak ...! Dika mendorong salah satu kursi kosong di sampingnya sampai terjatuh dan menimbulkan suara cukup nyaring.
“Ah, maaf kakiku licin,” ucap Dika diikuti senyum sinis.
Cih, masih punya rasa cemburu juga rupanya, terlambat Dika. Tekadku sudah bulat untuk merebut Kinara dari sisimu, batin Agra.
\=\=\=> Bersambung....
.
__ADS_1
.
Jangan lupa klik like, vote, dan follow emak, baik di akun ini, ig, maupun fb 😂 😍