Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Kenangan Pahit


__ADS_3

🍃 Kenangan pahit memang sulit untuk dilupakan. Seseorang yang hanya melihat dan mendengar bisa memaafkan, tetapi tidak dengan orang yang mengalami kenangan itu sendiri 🍃 (Emak Boss)


Ken baru keluar dari kamar setelah seharian penuh bergulat dengan banyaknya pekerjaan. Ada banyak hal yang harus dia urus, mengenai perusahaan dan juga kelengkapan berkas-berkas dan jadwal keberangkatan mereka ke Jerman. Karena kamar yang di tempatinya langsung menghadap ruang tamu, begitu pintu terbuka maka barisan meja dan kursi bisa langsung dilihatnya.


Di ujung kursi, tepat di pojokkan Amanda sedang menghentak-hentakan kakinya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan, sesekali menunduk. Ken menaikan sudut alisnya ketika melihat tingkah aneh Amanda.


“Ada apa lagi dengan bocah itu?” gumamnya sembari berjalan mendekati Amanda. Selama beberapa kali bertemu dengan Amanda, ini kali pertama gadis pujaan hatinya uring-uringan seperti anak kecil.


“Ehem, kau sakit, Amanda?”


Amanda terkesiap ketika mendengar suara Ken. Dia langsung mendongakan kepalanya dan mendapati Ken sedang berdiri dan tersenyum lebar tak jauh dari tempatnya duduk.


“Ah, aku baik-baik saja, Mas. Aku hanya sedang malu.” Amanda menutupi wajahnya dengan telapak tangan, mengusap kasar di sana.


“Malu kenapa?” Ken sudah duduk di depan Amanda di kursi berbeda.


“Mataku sudah ternoda,” ucap Amanda diikuti senyum sedih.


“Ter-ternoda?” Ken memperhatikan wajah Amanda, tidak ada yang salah dengan matanya. Semuanya baik-baik saja.


“Begini loh, Mas, tadi Ibu menyuruhku mengantarkan singkong goreng ke kebun belakang rumah,” ucap Amanda terputus.


Seketika Ken langsung meraba perutnya begitu mendengar kata ‘singkong goreng’. Rasa lapar pun mulai datang.


“Lalu masalahnya di mana?”


“Di kebun kan ada Mas Dika sama Kak Kinara.”


“Iya, lalu?” Kenapa ceritamu sepotong-potog begitu?


“Nah, pas aku masuk mereka sedang ... mereka sedang.” Amanda meremas ujung kerudungnya.


Kening Ken berkerut. “Mereka sedang apa?” Tidak mungkin kan mereka sedang ehem ehem di kebun? Itu jelas tidak sopan, seperti tidak ada tempat lain saja.


“Mereka sedang ....” Lagi-lagi Amanda menggantung kalimatnya.


“Sedang apa Amanada? Aih, kenapa kau membuatku penasaran.”


Amanda langsung menoleh dan menatap Ken.


Apa, kenapa? Kenapa tatapan matamu seperti itu? Kau 'kan yang bercerita, dan aku hanya bertanya, batin Ken.


Haruskah aku bilang kalau Mas Dika dan Kak Kinara nyaris berciuman? Mas Ken juga 'kan laki-laki. Tidak, tidak, jika dia belajar dari ceritaku bagaimana? Sama saja aku menjerumuskan laki-laki polos sepertinya, batin Amanda.


“Aku tidak tahu!" Amanda berdiri dari kursi sembari mengerucutkan bibirnya. “Tanya langsung saja pada Mas Dika atau Kak Kinara.” Berlalu pergi sembari membatin, lagi pula aku juga malu kalau harus bercerita soal ehem ehem begitu.


“T-tu-tunggu, Manda. Ah, tamat sudah. Seharusnya aku tidak memaksanya untuk menjawab, padahal 'kan dia sendiri yang mulai cerita.” Ken memijat pelipisnya. “Sedewasa apa pun Amanda dia tetap gadis 16 tahun. Yah, mungkin ini salah satu sikap anak-anaknya.” Sebenarnya apa yang dilakukan dua orang itu? Ken membatin kesal.


***

__ADS_1


Dika sedang menatap pantulan wajahnya di cermin. Senyum lebar menghiasi wajahnya, sesekali dia memukul pelan badan lemari, kakinya bergoyang-goyang di atas lantai, menggigit kuku ibu jarinya. Kelakuan aneh itu berhasil membuat Ken menggelengkan kepala. Nyaris tidak percaya, seorang Tuan Muda yang dalam kacamata Ken sangat sempurna bisa melakukan hal seperti itu.


Sebenarnya orang ini kenapa, sih? “Tu-Tuan Muda, apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Ken.


Dika menoleh sambil tersenyum dia menganggukan kepala.


Bisakah kau berhenti tersenyum seperti itu, Tuan? Tolong. “Jadi sebenarnya apa yang terjadi padamu dan Nyonya?” tanya Ken lagi.


“Kau.” Dika langsung menghampiri Ken yang sedang duduk di atas ranjang. “Dari mana kau tahu terjadi sesuatu di antara kami? Apa Kinara yang menceritakannya padamu? Ah, seharusnya itu menjadi rahasia kami berdua.”


Rahasia kepalamu, Amanda bahkan melihatnya. “Amanda bilang matanya sudah ternoda ketika melihat kalian berdua. Sebenarnya apa yang sudah Tuan dan Nyonya lakukan?”


“Oh, itu tidak seperti yang kau bayangkan.” Dika tersenyum, bola matanya berputar. Entah apa yang sedang dia bayangkan.


“Lalu?”


“Aku dan Kinara hampir ...,” kali ini Dika yang bertingkah seperti Amanda. Dika sampai mengelus-elus pintu lemari.


“Sudahlah jika tidak ingin bercerita.” Ken kesal, dia bangun dari ranjang dan bersiap untuk keluar.


“Kau tidak penasaran?” tanya Dika.


“Tidak. Aku justru penasaran kenapa Amanda terlihat marah padaku,” Ken bergumam, “Tuan nikmati saja perasaan bahagia itu, tidak usah pedulikan aku.”


Ken keluar untuk mengambil minum, sepertinya otak Ken sedikit panas melihat tingkah Amanda dan Dika.


***


Ken sedang memanaskan mobil. Amanda keluar dari dalam rumah sembari melambaikan tangan. Ken terpukau ketika melihat Amanda mengenakan gamis berwarna merah muda dan kerudung instans yang memiliki warna senada, sepertinya satu setel.


“Mas ken, tidak usah pakai mobil.”


“Eh, gimana?”


Amanda sudah berdiri di depan Ken. “Mau ke pasar malam ‘kan?”


Ken mengangguk.


“Kita jalan kaki saja.”


“Jalan kaki?”


“Iya, tidak terlalu jauh kok, lagi pula kalau pakai mobil sepertinya akan kesulitan untuk nyari tempat parkir. Wong kalau Manda sama Kak Kinar naik motor saja susah keluar dari tempat parkirnya, karena kan ketumpuk sama motor pengunjung lain.”


Fantasi Ken sudah mengembara jauh. Ini pasar malam kan? Seharusnya pasar malam ya seperti yang sering dia lihat di jalan-jalan, apa sampai sepadat itu?


“Ini tuh pasar malam yang kayak di jalan-jalan itu kan?”


Amanda menggeleng. “Bukan, ini lebih besar. Ini hanya terjadi satu tahun sekali, Mas.”

__ADS_1


“Satu tahun sekali?” Ken menggaruk kepalanya.


“Iya, yah pokoknya ramai lah.”


Yasudahlah Ken, jangan bertanya apa pun lagi, jika tidak dia akan kembali menghentakan kaki dan memaju mundurkan bibirnya lalu pergi begitu saja, batin Ken.


“Baiklah.” Ken manggut-manggut lalu mematikan mesin mobil.


“Di mana Kak Kinar dan Mas Dika?” tanya Amanda.


Kan situ yang baru keluar dari dalam rumah, masa situ nanyain orang yang sedari tadi di luar. Aku cubit juga nih, batin Ken gemas.


“Mungkin masih di dalam.”


Tak berapa lama Kinara keluar dari dalam rumah disusul Dika yang mengekor dari belakang. Sementara Mirna nampak berdiri di depan pintu sembari memperingatkan anak-anaknya agar tidak pulang terlalu malam. Perhatian khas seorang Ibu.


Malam itu jalanan sangat ramai, beberapa anak kecil saling berkejaran. Mereka bahkan masih mengenakan baju koko dan sarung. Tak ketinggalan peci yang menempel di kepala, di tangan mereka masing-masing membawa Juz ‘Amma. Sepertinya baru pulang mengaji.


Jalan desa itu di apit oleh rumah warga. Beberapa pemuda sedang berdendang memainkan gitar di saung pinggir jalan. Ketika melewati tanah lapang telinga mereka langsung di sambut dengan suara jangkrik. Namun, ketika melewati pesawahan suara jangkrik itu dikalahkan oleh suara katak yang slaing bersautan.


Beberapa tetangga menyapa Kinara, sekadar untuk bertanya kabar atau usia kehamilan Kinara. Tak jarang dari ibu-ibu yang dijumpainya memuji ketampanan Dika, sembari bertanya jenis kelamin anaknya. Ketika Kinara menyebutkan jenis kelamin calon anaknya adalah laki-laki ibu-ibu itu berteriak.


“Aduh pasti nanti pas brojol anaknya ganteng kayak Bapaknya.”


“Aduh, suaminya ganteng banget, Nak Kinar. Ini nemu di mana? Cariin Ibu mantu yang kayak gini dong.”


“Nanti kalau anaknya sudah lahir kita besanan, yah.”


“Punya suami tampan harus hati-hati, Nak Kinar. Jaman sekarang pelakor lebih licin daripada belut.”


“Kalau lakinya model begini mah di rumah seharian penuh juga tidak akan bosan, ganteng gitu.”


Kinara hanya tersenyum menanggapi ucapan tetangga rumahnya. Pujian untuk ketampanan suaminya datang beruntun. Padahal saat ini Dika hanya mengenakan kaus oblong berlengan panjang dan kolor panjang yang sempat dibelikan Mirna di pasar tradisional pagi tadi.


“Apa kau juga tidak merasa aku ini tampan, Kinara?” Tiba-tiba Dika berdiri di depan Kinara, menghalangi langkahnya.


Kinara tertawa kecil. “Kau ingat tidak, waktu pertama kali aku datang ke mansionmu?”


Dika mengangguk.


“Saat pertama kau turun dari tangga, saat itu aku terpesona sampai jantungku berdebar kencang." Kinara tersenyum, sepersekian detik senyum itu hilang berganti dengan tatapan sedih. “Tapi setelah itu kau ....” Kinara tersenyum getir. Dia memilih untuk diam dan tidak melanjutkan kalimatnya. Kata Manda dan Mirna tidak ada gunanya mengingat masa lalu. Itu karena mereka hanya mendengar dan tidak ikut merasakan.


*S*etelah itu aku menamparmu. Dika menundukan kepalanya, menggeser tubuhnya dan keduanya kembali berjalan. Beriringan, tanpa sepatah kata pun. Saling diam, saling membungkam.


Bersambung....


.


.

__ADS_1


Jangan lupa LIKE. KOMENTAR, DAN VOTE YAH. Jangan cuma minta up thor up thor, tapi like males, vote juga enggak. Dih, jangan gitu ya.


__ADS_2