Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Maaf Yang Tak Terucap


__ADS_3

“Ah, maafkan aku.” Dika tersadar dari lamunannya, ruangan kecil berisi ranjang, lemari, dan meja belajar itu menyita pikirannya. Bagaimana dirinya bisa begitu kejam memperlakukan seorang wanita yang dinikahinya baik-baik.


Menempatkan dia di dalam ruangan kecil, yang terasa sesak bahkan untuk bernapas.


“Haaah....” Dika menarik napas berat dia berjalan mendekati ranjang dan menurunkan tubuh Kinara. “Besok pagi kau bisa pindah kamar, jangan tidur di sini lagi.” Ucapnya sembari menundukkan kepala.


Kenapa? Apa aku diusir? Batin Kinara.


“Kamar ini terlalu kecil, kau bisa pindah kamar. Besok pagi Ken akan mempersiapkan semuanya.” Dika berjalan mendekati meja belajar.


“Tetapi bukan di kamar utama, aku minta maaf, Kinara. Kamar utama hanya milik Carissa.”


Sepertinya benar, Dika adalah laki-laki yang tidak punya hati. pikir Kinara.


Deg...!!


Kinara hanya bisa mencengkram kuat telapak tangannya. Tidak peduli sesakit apa ketika kuku-kukunya mulai menancap. Saat ini bagian tubuh yang paling merasakan sakit adalah hatinya.


Kau manusia yang tidak punya hati, Dika. Hikss...


Setelah kau puas menumpahkan semua kecemburuanmu dengan cara yang tidak baik.


kau memintaku untuk tidak menempati kamar utama?


Dan dengan congkaknya kau menyebut nama wanita lain di depanku. Kau sungguh kejam, Dika. hiks..


Batin Kinara.


ketika tangan Dika memegang punggung kursi ada pemandangan yang cukup mencuri perhatiannya.


Dua buah kardus dalam kondisi terbuka, di salah satu kardus itu berisi beberapa mie instans kuah dan goreng dari berbagai jenis rasa.


Di kardus yang lainnya lagi, ada beberapa makanan ringan, tersusun rapi seperti tampilan warung ketika menjajakan jualan. Dika mengernyitkan dahi sampai kedua alisnya bertaut.


Memangnya untuk apa semua makanan ini? di dapur ada banyak makanan, apa ini dari dapur?

__ADS_1


Tidak, seingatku aku selalu melarang siapa pun mengonsumsi mie instans, ini jelas dia beli sendiri. Pikirnya.


“Eheeem...” Kinara berdehem, sebenarnya dia ingin bangun.


Berdiri dan bertanya ‘sedang apa’ kepada Dika. Tetapi kondisi tubuhnya benar-benar tidak bisa untuk diajak bekerja sama, saat ini berbaring di atas ranjang satu atau dua jam setidaknya bisa mengembalikan kekuatan tubuhnya.


Mendengar suara Kinara lamunannya kembali pecah, Dika mengangkat kursi berbahan dasar palstik itu. Lalu meletakan di samping ranjang dan duduk di kursi itu.


“Terima kasih, kau bisa pergi.” Kinara menarik selimut berwarna merah muda bercorak bunga mawar itu sampai bagian leher.


Pergilah, Dika. Keluar dari kamarku, aku tidak ingin mendengarmu menyebut namanya lagi. Hikss... aku yang hanya figura ini berhak apa atas dirimu? Hikss... batin Kinara.


“Aku.” Dika menunduk, kalimat itu menggantung. Hanya sampai di situ, tidak tahu apa kalimat berikutnya.


“Jika kau ingin meminta maaf, aku rasa tidak perlu, Dika.” Kinara menggigit bibirnya. “Ini sudah kewajibanku sebagai seorang istri, memberimu naf...kah ba...tin.” Suaranya tersengal,


sebenarnya Kinara sudah berusaha sekuat tenaga untuk terlihat kuat, tidak ingin menangis di depan Dika. Tetapi semua usaha itu terasa si-sia, Kinara tetap melelehkan air mata yang berusaha dia simpan serapat mungkin. Nyatanya cela itu tetap saja ada.


Kinara menarik napas panjang. “Jika aku boleh meminta, lain kali jangan kasar seperti itu padaku.


Dika hanya menunduk, belum berani mengeluarkan sepatah katapun. Biarlah dia menjadi pendengar yang baik untuk istrinya. Anggap saja sebagai permintaan maaf yang tak terucap.


Kinara melirik Dika, mendapati suaminya hanya terpaku di atas kursi, Kinara merasa bisa mengeluarkan kekecewaan di hatinya. “Kau nikahi aku dengan cara baik-baik, bukan? Aku mohon perlakukan aku dengan cara yang baik pula, Dika. Hikss...” kali ini Kinara terisak, punggungnya naik turun seirama tarikan napasnya yang berat.


“A...ku sampai tidak bisa membedakan ap..apakah aku ini istrimu atau hanya wanita yang memuaskanmu di atas ranjang? Hiks... perlu kau ketahui, aku bukan hanya wanita yang bisa memuaskan hasratmu, Dika. Aku juga


wanita yang bisa memberimu keberkahan hidup, jangan menghancurkan keberkahan hidupmu demi sesuatu yang tidak pasti. Hiks....” Kinara mengangkat tangannya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Mata Dika membulat ketika mendengar ucapan Kinara, sepertinya Dika mengetahui ke mana arah pembicaraan Kinara.


“Jika kau mencintai wanita lain, aku bahkan tidak melarang. Tetapi kenapa kau harus semarah itu ketika mengetahui kedekatanku dengan Agra, padahal kami hanya berteman. Tidakkah kau terlalu egois?” Nampak tubuhnya ikut bergetar.


“Aku, tidak..” mengulurkan tangannya, ingin sekali Dika mengatakan, 'maaf aku tidak akan melakukannya lagi'. Tetapi kalimat itu seperti enggan keluar. Hanya tertahan di tenggorokannya, lalu kembali menghilang bersamaan dengan tarikan napasnya.


“Aku mengerti, Dika. Kau tidak perlu mengucapkan kata maaf yang terlalu berat keluar dari mulutmu. Demi Tuhan, Aku juga tidak butuh itu. hikss..." Kinara semakin terisak, Dika tahu apa yang diinginkan Kinara.

__ADS_1


Tetapi dia tidak bisa mengabulkannya.


“Aku tidak bisa melupakannya Kinara, Carissa adalah cinta pertamaku. Wanita yang selalu ada di hatiku.” Dika menyesal, sebenarnya dia ingin menegaskan jika Kinara tidak bisa mengambil tempatnya.


“Cu...kup, Dika. Setelah puas melukai aku, perlukah kau menyiram air garam di atasnya?” Kinara memutar tubuhnya membelakangi tubuh Dika.


"Aku sudah paham ke mana arah pembicaraanmu, aku tidak akan mengambil tempat Carissa di ha...timu. Suatu saat nanti, sampai kau merasa aku sudah ada di hatimu, dan aku memilih menutup hatiku untukmu. Kau akan tahu bagaimana rasa sakitnya. Kau akan mengetahui, di mana tempatku yang sesungguhnya. Setelah kau kehilangan aku.” Kinara


kembali terisak, lebih kencang dari sebelumnya. Air mata seperti sahabat karib untuk Kinara, seteleh menikah dengan Dika, dia lupa bagaimana caranya tersenyum. “Keluarlah, Dika.” Ucapnya.


“Aku tidak bisa mengatakan hal ini langsung padamu, tetapi tolong terima ini. Aku harap kau mau mengerti posisiku.” Dika meletakan benda berbentuk kotak kecil itu di atas ranjang, lalu


bangkit dari kursi dan berjalan mendekati pintu kamar. Sekali lagi pandangannya tertuju pada gundukkan selimut di atas ranjang berukuran kecil itu.


Setelah mendengar suara pintu kamar ditutup Kinara memutar tubuhnya, membuka selimut dan meraba sekitar ranjang. Dia penasaran, sebenarnya apa yang diberikan Dika.


“Apa ini?” lirihnya di antara tarikan napas yang belum stabil. Perlahan Kinar membawa benda itu dan melihatnya.


“Pil penunda kehamilan. Hahaha...” Kinara menertawakan dirinya sendiri. Melempar pil itu sembarang.


Dia kembali meringkuk di balik selimut, meratapi takdir yang begitu kejam mengikatnya dengan laki-laki seperti Dika.


"Tuhan, aku tahu perceraian adalah hal yang paling Kau benci. Tetapi bolehkan Kau memberiku maklum? Memberiku keringanan? Bagaimana aku harus bertahan dengan laki-laki sepertinya, mencintai wanita lain, tidak menganggapku sebagai seorang istri aku masih bisa terima, tetapi sampai hati dia memberikan pil ini kepadaku.


Apa setelah semua ini aku tetap tidak boleh menyerah, Tuhan? Hiks...."


Ucapnya lirih.


\=\=\=\=> Bersambung......


Jangan lupa Mampir di novel Romance Fantasi..


REINKARNASI DUA BINTANG... karya AGUS PRIATNA.. DIJAMIN SERU.... 🙏❤️


Selamat berakhir pekan, semoga hari kalian menyenangkan. Salam sayang Author A.L

__ADS_1


__ADS_2