Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Melebur Semua Kesalahan


__ADS_3

Kinara menggeliat dalam pelukan Dika. Mengerjap beberapa kali, belum ada cahaya yang masuk melalui jendela kamarnya. Sepertinya diluar masih gelap. Kinara menggeser kepalanya, sepanjang malam dia tidur bersandar di lengan Dika. Setiap kali Kinara mau pindah posisi Dika selalu menarik tubuh Kinara semakin rapat ke tubuhnya. Kinara lelah. Akhirnya dia menyerah, memilih untuk tidur dalam pelukan suaminya.


Seharusnya punggungnya terasa sakit, tetapi ternyata tidak. Mungkin karena perasaan bahagia Kinara menjadi salah satu penyebabnya.


Ini kali pertama Kinara membuka kedua matanya dan disambut oleh wajah suaminya. Tangannya bergerak, dirabanya permukaan pipi Dika. Disusurinya semua permukaan wajah Dika dengan mata tertutup. Sebait do’a meluncur bebas dari bibirnya. Tanpa Kinara sadari ternyata Dika sudah bangun dan sedang memperhatikan wajah Kinara yang berbaring di sampingnya, mulutnya masih komat-kamit.


Dika tersenyum tipis melihat bibir mungil istrinya bergerak. Meski tidak tahu apa yang sedang dibaca istrinya, tetapi dia yakin itu bukanlah hal yang buruk. Kinara pasti mendo'akan yang baik-baik untuk dirinya.


Setelah selesai berdoa’a Kinara membuka matanya. “Aamiin,” lirihnya sembari mengusap kedua telapak tangannya ke wajah. Dia terkejut ketika membuka matanya dan mendapati Dika sudah bangun. Sekarang malah sedang asyik menatap wajahnya dengan ekspresi menyebalkan.


“Aamiin.” Menarik kepala Kinara. “Kuaamiinkan semua do’amu, Sayang,” ucapnya sembari mendaratkan ciuman mesra di kening Kinara. “Selamat pagi, Cantik.”


Kinara masih terkejut menerima perlakuan manis dari suaminya. Terlebih ini kali pertama. Matanya sampai melotot dengan mulut sedikit terbuka.


“Tutup mulutmu. Apa kau mau aku menciummu di sini?" Meletakan Ibu jari dan menyapu lembut bibir Kinara. “Jika kau tidak menutupnya aku akan menggunakan bibirku untuk menutupnya.”


Seketika Kinara langsung mengatupkan bibirnya. “Se-sejak kapan kau bangun?”


“Cukup lama. Sampai aku bisa melihat bibir mungilmu komat-kamit. Lucu dan menggemaskan." Mencubit hidung Kinara.


“Kenapa kau di-diam saja? Seharusnya kau memberitahu aku."


“Hey, pemandangan indah di depan mata jangan disia-siakan dong. Dan berhenti gugup seperti itu, setiap pagi kau akan melihat wajah tampanku. Kau harus terbiasa. Apa aku harus mendengar suaramu yang tergagap begitu?”


“Bu-bukan beg ....”


Kinara belum sempat menyelesaikan kalimatnya sampai Dika mendaratkan ciuman di bibir tipis istrinya. Ciuman ringan, hanya sebatas kedua bibir yang saling menempel.


“Apa yang kau ....” Kinara menutup mulutnya dengan telapak tangan.


“Sekali lagi," ucap Dika sembari mendekatkan wajahnya, Kinara mundur.


“Berani mundur lagi! Aku akan ....”


“Melepaskan semua pakaianku? Begitu? apa kau tidak punya ancaman lain?” Kinara sampai hafal kalimat ancaman yang selalu diucapkan suaminya.


“Terserah!” Dika meraih punggung Kinara, merapatkan tubuh mereka. Dengan cepat dia mendaratkan bibirnya di bibir Kinara lagi, untuk yang kedua kalinya. “Selamat pagi, Cantik."


Tidak bisa begini terus, aku harus bangun dan pergi dari pelukan Dika. "A-aku lapar!"


Tunggu, kenapa alasanku sereceh itu? Dia tidak akan percaya. "Tidak! Aku tidak lapar, aku ha ... haus."


Matilah, dia akan semakin tidak percaya. Arrhh ... apa yang harus aku lakukan? Aku bisa gila jika terus berada dalam pelukannya, batin Kinara.


Dika yang menyadari Kinara sedang mencari-cari alasan untuk lari darinya, akhirnya mengangkat sudut alisnya dengan seringai licik di wajahnya.


“Ah! Ah ... tanganku ...," rintihnya diikuti ekspresi kesakitan.


Kinara panik. Dia memegang lengan Dika dan bertanya, "Kenapa dengan tanganmu? Kau terluka?"


"Tanganku keram."


"Kok bisa?" Pertanyaan polos itu lolos dari mulut Kinara.


"Semalaman kau menjadikan lenganku sebagai bantal. Kepalamu keras sekali, tentu saja lenganku sakit. Lalu setelah bangun tidur, kau pergi begitu saja. Apa kau tidak peduli denganku?" Ekspresi memelas.


"Bukan begitu, aku tentu saja peduli denganmu." Kinara menyesal.


"Kalau begitu pijat tanganku." Menggoyangkan tangannya. "Siapa tahu rasa sakitnya akan berkurang setelah kau memijatnya."


Aku mana bisa memijat, sudahlah lakukan sebisaku saja. "Baiklah." Kinara bangun, duduk di samping Dika yang masih berbaring. "Berikan tanganmu." Dia langsung memijat lengan suaminya.


Dika memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum kemenangan dari Kinara.


"Di mana yang sakit?" tanya Kinara.


"Iya di situ," jawab Dika tanpa menoleh.


Kinara sudah memijat, asal-asalan karena dia tidak bisa memijat.


"Kau memijat atau mencengkeram? Bekas kukumu sampai menempel di lenganku."


"Aku mana bisa memijat! Terserah! Aku tidak mau memijat lagi."

__ADS_1


"Eh, jangan! Baiklah, terserah kau saja. Kau boleh memijat atau menggigit sekalipun. Tetap pegang lenganku." Terus menggoyang lengannya.


Pagi buta begini sudah bikin ribut, batin Kinara.


"Iya di situ. Pindah ke kiri sedikit. Bukan, itu di atasnya lagi, nah iya di situ," oceh Dika dengan mata tertutup. Menikmati setiap sentuhan ruas jari istrinya.


Kinara menatap penuh selidik sembari membatin. Sepertinya ada yang aneh, aku rasa lengannya tidak sakit.


"Tadi di sebelah mana yang sakit?" Pertanyaan pancingan pun dilayangkan oleh Kinara.


"Eh? Oh, di sebelah situ." Dika asal menunjuk.


"Ini?"


"Iya. Eh bukan, di sampingnya."


"Yang ini?"


"Iya yang itu."


"Dasar jahat, kau mengerjai aku 'kan? Sebelumnya kau bilang di sini yang sakit. Lalu kenapa sudah berpindah di sini?" Terus menunjuk lengan Dika. "Terserah aku tidak mau memijat lagi!"


Tubuh Kinara berangsur-angsur turun, dia membaringkan tubuhnya membelakangi Dika.


"Sayang ... apa kau marah?" Menekan-nekan punggung Kinara.


“Tidak!"


“Kau ngantuk?”


“Tidak!"


“Kenapa dari tadi jawabanmu tidak terus?!" Dika bangun dan duduk di tepi ranjang. "Kau marah padaku?"


"Tidaaak! Kan aku sudah bilang tidak, kenapa bertanya terus." Menarik selimut sampai menutupi seluruh wajahnya.


“Aku salah. Aku minta maaf, Sayang. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu." Memainkan jarinya di punggung Kinara. Menulis kata maaf berulang kali dengan jarinya.


Membuka selimut dan berbalik badan. "Sudahlah. Berhenti menulis di punggungku, geli."


"Iya," jawab Kinara sembari tersenyum. Kontan senyumnya membut Dika membuang napas lega.


"Jam berapa sekarang? Apa sudah masuk waktu subuh?" tanya Dika.


“Aku rasa belum. Sebentar." Meraih handphone di atas nakas. "Baru jam setengah empat," katanya setelah melihat jam pada layar handphone.


“Wudhu-lah.” Dika menggeser tubuhnya, meraih gelas air mineral yang diletakan Kinara semalam, lalu meneguknya perlahan. “Kita sholat tahajud berjama'ah. Setelah itu dilanjut sholat subuh." Turun dari ranjang.


Tubuh Kinara seperti terguyur semen cair, membeku di atas ranjang dengan degup jantung yang nyaris terdengar keluar. Ajakan sholat berjama’ah itu terdengar lebih merdu dari kata cinta yang belum lama diucapkan Dika.


“Cepat, Sayang. Sebentar lagi subuh, ‘kan?” kalimat Dika memecah lamunannya. Kinara segera menengadahkan kepalanya agar genangan air mata di kedua pelupuk matanya tidak tumpah. Akan sangat merepotkan jika Dika melihatnya. Laki-laki itu tidak akan bisa membedakan mana tangis bahagia dan sebaliknya. “Baiklah.” Berbalik badan lalu tersenyum.


***


“Allahu Akbar.” Takbiratul ihram sudah dikumandangkan oleh Dika sebagai imam.


“Allahu Akbar.” Kinara mengikuti dengan tangan gemetar suara lemah.


Sajadah panjang yang terbentang di antara mereka menjadi saksi bahwa hidup memang tidak selalu manis, terkadang pahit berkepanjangan. Namun, percayalah jika suatu hari nanti segala sesuatu akan berakhir bahagia. Seperti yang terjadi pada mereka berdua.


Begitu salam terakhir terucap. Dika langsung berdzikir, lalu menengadahkan kedua tangannya seraya memohon do’a. Di belakang, Kinara meng-aamiinkan semua do'a yang keluar dari mulut suaminya dengan bahu berguncang dan lelehan air mata yang tak terhitung jumlahnya.


Selepas menutup do'a, Dika memutar tubuhnya menghadap Kinara. Dia mengulurkan tangan pada Kinara yang disambut dengan mata berkaca-kaca. Segera meraih tangan suaminya lalu mencium dengan bahu berguncang lagi.


“Loh, kok nangis. Kenapa, Sayang? Perutmu sakit?” Dika meraih kedua bahu Kinara, menaikan wajahnya dan membuat keduanya saling beradu tatap. Kedua pipi Kinara sudah dibanjiri oleh air mata, Kinara terisak.


“Sayang, kenapa? Aku ada salah? Katakan?” memegang kedua pipi Kinara dan mengusap lembut di sana. “Jangan membuatku takut, kau kontraksi lagi?”


Kinara menggelengkan kepala.


“Lalu kenapa? Kau lapar?”


Sekali lagi Kinara menggelengkan kepala. Tiba-tiba Kinara bergerak maju dan menangis di pangkuan Dika. Membenamkan kepalanya di sana. “Maafkan aku, maafkan semua kesalahanku padamu," katanya dengan suara lemah.

__ADS_1


“Ya Allah, aku pikir ada apa.” Dika mengelus puncak kepala Kinara yang masih mengenakan mukenah. “Aku sudah memaafkan semuanya. Sungguh. Jauh sebelum kau minta maaf padaku.”


Ucapan Dika justru membuat Kinara semakin menangis, air matanya sampai membasahi sarung Dika.


"Kau keluar ingus? Pahaku terasa basah. Padahal aku belum mengaji.” Dika tersenyum membayangkan wajah istrinya ketika menegakan kepala. “Biar aku lihat wajah cantik bidadariku.” Perlahan-lahan Dika menaikan bahu Kinara. “Astaga, ingusmu ke mana-mana.” Meraih tissu di atas nakas. “Sini aku bersihkan.”


“Aku saja.” mencoba merebut tissu dari tangan Dika, tetapi gagal.


“Ssstt ... biar aku saja.” Dika mengelap kedua pipi sampai hidung Kinara dengan telaten. Tanpa ada perasaan jijik atau apa pun.


“Aku malu, aku saja.” Berusaha menghindar.


“Ingat, aku menikahimu bukan hanya untuk menerima yang bagus-bagusnya saja, aku juga harus menerima yang buruknya. Yah, termasuk istriku yang ingusan ini.”


“Apa sih.” Kinara mengerucutkan bibirnya.


“Kemari.” Dika menarik tubuh Kinara agar lebih dekat dengannya lalu memegang kepala Kinara dan mencium kening istrinya sembari berucap lirih, "Rabbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrata a’yunin, waj’alna lil muttaqiina imaama."


Kepalanya bergerak turun mencium perut Kinara dan berdo'a lagi. "Rabbi habli minash shalihin." Dika mengulang do'a sampai tiga kali.


Do'a yang Dika panjatkan berhasil membuat tangis Kinara semakin pecah. “Aa ... miin, Aa ... miin," katanya dengan suara terbata karena deru napasnya yang masih memburu.


Dika menatap lekat wajah Kinara. Dia mendaratkan ciuman mesra lagi di kening Kinara. Kinara pikir ciuman Dika akan berakhir sampai di keningnya. Ternyata tidak. Dika menggeser bibirnya, mendaratkan ciuman di kedua mata Kinara yang kontan tertutup, lalu di hidung Kinara. Dia berhenti sejenak lalu melihat bibir Kinara yang nampak menggoda.


Ya Tuhan, aku tidak kuat, kenapa bibirnya begitu menggoda, batin Dika.


"Kenapa berhenti?” ucap Kinara masih dengan mata tertutup.


“Ma-maksdumu?”


“Bukankah masih ada satu bagian lagi yang ... yang belum kau ....” Kinara tidak kuasa melanjutkan kalimatnya.


“Yang belum apa?”


Membuka mata. “Kau sungguh tidak mengerti? Bahkan sudah kuberi kode!"


“Aku tidak tahu, apa maksudmu?”


“Sudahlah, lupakan saja.”


Dika tersenyum manis. Lalu menarik pergelangan tangan Kinara. “Bidadariku," lirihnya sembari mendekatkan bibirnya dan terjadilah ciuman mesra di antara keduanya. "Sekarang panggil aku Mas. Aku benci mendengarmu memanggil namaku."


"Mas?"


"Iya. Mulai sekarang kau harus memanggilku Mas."


"Emmm ...." Menganggukan kepala. Tanda setuju.


Dika gemas dan menangkap kedua pipi Kinara. Lalu keduanya berciuman lagi.


Selepas ciuman yang sesungguhnya itu, Dika mengusap wajahnya lalu tersenyum, mengusap dan tersenyum lagi, begitu terus seolah tidak percaya dengan yang baru saja terjadi. “Itu ciuman pertama kita.”


Kinara menggigit bibir bawahnya dengan kedua pipi bersemu merah.


Meskipun itu bukan ciuman pertama, karena keduanya bahkan pernah melakukan lebih dari itu, tetapi karena sekarang dilakukan dengan perasaan saling memiliki dan mencintai maka terasa sangat berbeda.


“Kita harus wudhu lagi. Aku mau mengaji," ucap Dika.


Kinara menganggukan kepala. Setelah melaksanakan sholat tahajud dan sholat subuh berjama'ah. Dika membacakan surah Al-Fatihah, Surah Maryam, dan Surah Lukman. Dika mengelus perut Kinara. “Sayang, sekarang Ayah akan selalu ada di dekatmu. Ayah tidak akan pergi darimu dan Bunda, semoga kelak kau menjadi anak yang soleh.” Mencium perut Kinara.


“Aamiin," ucap keduanya.


Bersambung....


.


.


Eciiie yang senyum2 sendiri, ayo yang jomblo buruan cari pasangan. Biar bisa niruin keuwuuuan DiKi 🤣


Yang udah nikah, buruan peluk paksunya 🤣


.

__ADS_1


.


Ayo bayar Emak, LIKE, KOMENTAR, VOTE. BANTU TCK MASUK 10 BESAR.


__ADS_2