Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Kedatangan Carissa (Part 3)


__ADS_3

Sebelum membaca ada baiknya kalian kontrol emosi 🤣 tarik napas dan hembuskan perlahan. siapkan tissue nak anak 🤣


Jangan marah2, jangan dibanting hapenya 🤣 Jangan di maki2 dikanya, kesiaaan 😂😁


Author ingetin lagi, jangan lupa Like & Vote yah 😍


❤️Happy Reading❤️


Kinara tidak peduli dengan suruan suaminya, dia tetap memacu langkahnya sampai Dika sudah berdiri tepat di belakangnya. “Kinara, apa kau tuli? Aku memanggilmu!” Dika memegang bahu Kinara untuk menghentikan langkahnya.


“Aku dengar, Dika. Tapi aku lelah sekali, aku ingin istirahat.” Kinara tetap membelakangi Dika, tubuhnya tidak bergeser sedikit pun.


“Kenapa kau pulang, Kinara?!” Salah satu tangan Dika sudah berpindah ke pergelangan tangan Kinara, dia menarik paksa lengan Kinara sampai tubuhnya berputar dan keduanya saling berhadapan.


“Lepaskan, Dika. Itu sakit! Apa selain menyakiti hatiku kau juga senang menyakiti tubuhku!" Kinara meringis menahan sakit.


Seruan Kinara tidak membuat hati Dika melunak, nyatanya cengkeram itu semakin kuat.


“Aku tidak peduli. Kenapa kau pulang, Kinara?!" Dika berteriak, menaikan beberapa oktaf volume suaranya sampai kedua alisnya terangkat.


“Ini rumah suamiku, ‘kan? Wajar jika aku pulang, memangnya kau mau aku bagaimana? Menggelandang?”


"Kau jangan melakukan kesalahan, Kinara. Seharusnya saat ini kau tidak pulang!"


"Apa seorang istri yang pulang ke rumah suaminya sendiri adalah sebuah kesalahan? Jika iya, katakan di mana letak kesalahanku, Dika?"


“Kinara jangan berlagak bodoh! Aku yakin kau mengerti ke mana arah pembicaraanku! Sekali lagi aku tanya kenapa kau pulang, Kinara?!” Dika membuka mata lebar, sampai manik hitam itu terlihat menakutkan seperti dasar lautan yang gelap.


Urat di lehernya timbul hilang karena menegang.


“Kau aneh, Dika. Jika aku tidak pulang lalu aku harus ke mana? Haruskah aku pulang ke rumah orang tuaku? Katakanlah, ke mana aku harus pulang? Ke rumahmu? Rumah orang tuaku? Rumah orang tuamu? Atau ke rumah Agra?” Kinara tersenyum getir diikuti tatapan nanar.


Mendengar nama Agra yang keluar dari mulut Kinara kontan membuat Dika naik pitam. “Berani sekali kau menyebut nama laki-laki lain di depanku, Kinara!”


Dika menekan pipi Kinara dengan tangan besarnya sampai dagu Kinara sedikit terangkat. "Jangan pernah menyebut nama laki-laki brengsek itu di depanku, paham!”


“Siapa yang kau bilang brengsek, Dika? Laki-laki yang tidak bisa mengakui istrinya sendiri dan ketakutan seperti siput yang kehilangan cangkang karena kekasihnya sudah datang?" Kinara menarik napas dengan susah payah. Kuatnya cengkraman tangan Dika sampai membuat kedua pipinya memerah.


"Ataukah laki-laki yang tetap mencintai wanitanya sekalipun wanita itu sudah bersuami? Kau paham betul siapa laki-laki yang aku maksud, aku tidak perlu menjelaskannya padamu, bukan?”


“Kinara!” Dika mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan membuka lebar telapak tangannya, bersiap mendaratkan sebuah tamparan di pipi Kinara.


Namun urung, Dika memilih menghempaskan kasar tangannya.


“Kenapa, Dika? kau tidak bisa menjawabnya? Atau keduanya sama-sama brengsek? Malang sekali nasibku karena harus terjebak dengan orang sepertimu.” Kinara menggigit ujung bibirnya.


“Jangan menguji kesabaranku, Kinara!" Dika menekan kedua bahu Kinara dan mendorong tubuh Kinara sampai terpojok di tembok ruang keluarga. “Kau selalu seperti itu, selalu memancing kesabaranku. Aku heran kenapa sebagai perempuan kau tidak ada manis-manisnya!"


“Hahaha ....” Kinara tertawa sampai kedua bahunya berguncang, tetapi air matanya bergulir begitu saja. Berbanding terbalik dengan tawanya.


Matanya selalu seperti itu, tidak bisa dikompromi, selalu menunjukan sisi lemah di depan Dika.


“Apa yang kau tertawakan, Kinara?” Dika menggeram.


“Kau! Aku sedang menertawakanmu!” Kinara mengusap kasar pipinya agar bekas air mata itu tidak terlihat.


“Sebagai laki-laki kau tidak memiliki tanggung jawab, kau tahu kelak di hadapan Tuhan kau akan dimintai pertanggung jawaban atas kejahatanmu terhadapku." Kinara memukul dadanya, menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.


"Aku ini tanggung jawabmu." Memukul dada Dika. "Sejak kau nikahi aku, hilang sudah tanggung jawab orang tuaku terhadap diriku.”


"Jangan mengungkit pernikahan kita di sini, bagaimana jika Carissa mendengarnya?!" seruan Dika masih saja dipenuhi amarah.


"Aku justru ingin mengatakan itu padanya!" Kinara menggeram.


“Kinara! Cukup!” dika memukulkan tangannya di tembok tepat di samping wajah Kinara yang membuat Kinara terkejut.

__ADS_1


Kinara bergerak mundur, tetapi naas karena dia benar-benar terhimpit tembok.


“Itu fakta, Dika. kau tidak bisa memiliki keduanya, lepaskan aku dan kau bisa bebas dengan kekasihmu. Atau tetap bersamaku, tapi lepaskan Carissa. Kau tidak bisa melakukan itu, bukan?”


“Cih ...!” cemoohnya, “Agar kau bisa bersama laki-laki itu?”


“Memangnya kenapa jika iya? Kau juga tidak ingin aku ada di sini, bukan?”


“Mimpi! Aku tidak akan melepaskanmu, Kinara. Aku tidak akan memberi kesempatan untukmu dan Agra bersama, mimpi saja sepuas hati kalian! Sampai kapan pun kalian berdua tidak akan bisa bersama.”


"Lepaskan aku, Dika. Ceraikan a ... aku." Kinara terisak, napasnya semakin berat. Sesekali Kinara sampai harus menarik napas dari mulutnya.


"Tidak akan! Aku tidak akan melepasmu!"


"Aku bisa melakukannya sendiri, bukti kekerasan yang kau lakukan padaku sudah lebih dari cukup untuk menyeretmu ke pengadilan!"


Mendengar kalimat Kinara bukannya takut, Dika justru tertawa terbahak. "Lakukan saja, jika kau ingin ibumu mengetahui perselingkuhanmu dan Agra!"


"Aku tidak pernah berselingkuh!" Kinara mendongakkan wajahnya dan kedua tangannya mencengkeram kuat kemeja Dika.


"Kau pikir aku tidak bisa memutar balikan fakta? Apa menurutmu kekuasaanku belum cukup?!" Dika tertawa terbahak.


"Lakukanlah, jika kau ingin ibumu ikut menderita karena aib yang kau buat!"


"Kau bukan manusia, Dika! Kau monster!" Kinara terus memukul dada Dika.


"Jika aku monster, maka Ayahmu juga monster, Kinara. Karena dialah yang telah menyerahkanmu padaku!"


Deg ...!


Brugg ...!!


Kinara terduduk, satu-satunya harapan untuk lepas dari jerat Dika sudah musnah. Pergi menjauh, kini yang ada hanya ketakutan.


Tubuhnya bergetar hebat dengan kepala yang menunduk dalam, Kinara mengepalkan tangan lalu memukulkan ke bagian dada. Melakukan berulang agar kesedihan itu bisa sedikit berkurang.


Sampai bayangan ibunya datang, senyum itu, tatapan hangat itu akan hilang jika Dika melakukan apa yang diucapkannya.


Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Hanya ibu yang aku miliki, batin Kinara.


Kinara bangkit, memusatkan kekuatan pada telapak kakinya. Perlahan dia angkat tubuhnya agar berdiri sejajar dengan manusia batu itu.


“Baiklah. Ayo kita sama-sama menderita, kau juga tidak akan bisa bersama, Carissa.”


“Apa yang akan kau lakukan? Mengakui jika kau itu istriku? Kau tega? Kau yakin bisa menyakiti wanita lain demi ambisimu?” Dika mencengkram kuat pundak Kinara.


Kinara diam.


Dika tersenyum licik, seringai itu jelas terlihat di wajahnya. Dika sudah hafal sifat Kinara yang lemah lembut dan tidak suka mencari masalah, dia tidak akan tega menyakiti wanita lain. Terlebih lagi jika dia tahu Carissa adalah wanita baik-baik.


“Kau bukan manusia, Dika. Tidak ada manusia yang kejam seperti dirimu, kau lebih seperti iblis!”


Kalimat yang diucapkan Kinara kontan membuat tangan Dika berpindah tempat dari pundak Kinara ke Lehernya.


"Belum lama kau sebut aku monster, lalu kau bilang aku iblis. Apa kau suka memaki suamimu sendiri, hah?!" Cengkraman tangan Dika di leher Kinara semakin kuat.


“Lakukan. Bu ... nuh saja aku jika itu bi ... sa memuaskan has ... ratmu.” Kinara memejamkan matanya.


“Kau tahu Carissa sudah pulang, bukan?” tanya Dika.


“Iya, memangnya kenapa? Ini juga rumah suamiku, ‘kan?”


Dika mengendurkan cengkraman tangannya pada leher Kinara. “Jika kau sudah tahu seharusnya kau tidak pulang, Kinara. Tolong jangan menyusahkan aku.”


Kinara membuka matanya lebar. “Menyusahkanmu? Kau tidak sedang bermimpi? Siapa yang menyusahkan siapa, Dika?”

__ADS_1


“Sudahlah, Kinara. Aku bisa menyediakan tempat lain, kau tidak perlu pulang ke sini.”


Kinara menundukan kepalanya, kedua tangannya saling mencengkram. Dadanya terasa sesak sampai napasnya mulai tersengal, tarikan napasnya pun mulai berat. Matanya sedikit kabur, Kinara memundurkan tubuhnya beberapa langkah sampai untuk memberi jarak dari Dika. Dia memutar tubuhnya membelakangi Dika dan menyandarkan kepalanya di tembok.


Kinara menangis sesenggukan, ada interval waktu sekitar satu menit sampai kondisi Kinara berangsur-angsur membaik. Kinara menarik napas panjang, memutar tumpuan kakinya dan kembali berhadapan dengan Dika.


“Baik, aku tidak akan pulang.” Kinara menatap lekat wajah Dika, tidak ada tatapan teduh atau kebahagiaan di sana. Sorot mata Kinara dipenuhi amarah dan kebencian yang mendalam. “Tapi aku butuh pakaianku, bukan? Setidaknya aku pulang untuk itu.” Kinara memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Dika.


“Kinara.” Dika mengejar Kinara.


Menyadari Dika yang mengejarnya Kinara mempercepat langkahnya, sedikit berlari agar segera sampai ke dalam kamar.


“Kinara, aku bilang berhenti!" teriaknya, “Aku yang akan membereskan semua barang-barangmu, kau cukup pergi dari sini.”


Kinara tidak peduli, dia terus mengayun langkahnya. Sampai ...


Brugg .... tubuhnya menabrak orang lain karena Kinara hilang fokus.


“Ah, maafkan aku.” Kinara mendongakan kepalanya dan mendapati Carissa sudah terduduk di depannya karena keduanya bertabrakan cukup keras. Kinara segera menunduk, menutupi wajah dengan rambut panjangnya.


“Tidak apa-apa aku yang salah.” Carissa bangun dan mengulurkan tangannya. “Mari aku bantu berdiri.”


“Tidak, aku tidak apa-apa.” Kinara bergeser, berusaha menutupi wajahnya.


“Loh, kenapa?” Carissa berjongkok. Meraih tangan Kinara dan berbisik lembut. “Tidak apa-apa, aku yang salah karena berjalan sambil bermain hp.”


Kinara menggeleng, air mata menetes jatuh pada lantai berwarna coklat muda bercorak burung terbang itu.


“Tunggu.” Carissa meraih kedua bahu Kinara dan mendongakan paksa sampai wajah Kinara terlihat.


“Kinara, kau Kinara, ‘kan? Pelayan mini market itu?” Carissa mengernyitkan dahinya sampai kedua alisnya bertaut lalu menoleh menatap Dika.


“Ada apa ini, sayang? Kenapa Kinara menangis?”


“Aku ....” Dika menelan salivanya memutar kepalanya untuk menghindari tatapan mata Carissa.


"Kenapa kau mengejarnya? Ada hubungan apa antara kau dan Kinara?" Carissa terus mencecar pertanyaan. "Apa yang salah? Kenapa kau diam? Katakan sesuatu, sayang."


Dika tidak tahu harus mengatakan apa pada Carissa, harus memulai kalimat dari mana. Sekuat tenaga Dika memutar otak untuk mencari solusi yang tepat dan cepat.


Carissa gadis yang pintar, Dika tidak bisa membuat Carissa menunggu terlalu lama. Dika harus segera menjawab pertanyaan Carissa.


Dari belakang Ken berjalan mendekat, matanya terbelelak ketika mendapati ketiga tersangka berada dalam satu tempat.


Ken menyadari situasi ini. Ken berhenti, dia tidak yakin bisa membantu. Dia menundukan kepala dan memutar haluan untuk segera menjauh sampai suara Dika memanggil namanya.


“Ken.” Dika melambaikan tangan agar Ken mendekatinya.


Ken tidak punya pilihan lain, dengan berat hati Ken mendekati mereka. Jika memang nasib buruk sedang menimpanya, maka sudah bisa dipastikan Ken akan terlibat dalam kebohongan besar yang dilakukan Dika. Dia akan ikut terjerat dalam kubangan lumpur hidup yang dibuat Dika.


“Ken, kenapa kau melakukannya?” sambarnya begitu Ken berdiri di samping Carissa.


Apa maksud anda tuan? Memangnya aku melakukan apa? batin Ken.


Ken menaikan sudut alisnya tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan Dika.


“Apa maksudmu, sayang?” Carissa membimbing Kinara untuk bangun. “Kenapa kau berteriak seperti itu? Memangnya Ken salah apa?”


“Itu karena wanita ini adalah kekasih Ken.” Dika menunjuk Kinara.


\=\=\=> Bersambung ....


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa VOTE dan LIKE, ok 😍❤️


__ADS_2