
Di tengah asiknya melepas rindu dengan orang tua. Nathan, yang merupakan Asisten Pribadinya berjalan mendekati Agra dan berbisik. Seketika Agra memutar kepalanya dan pandangan matanya langsung tertuju pada Allen.
Allen menundukkan kepalanya. “Apa aku ketahuan?” tanyanya pada diri sendiri. Allen menggenggam erat handphonenya sambil bergumam, “Aku harus pergi dari sini.” Ketika dia memutar tubuhnya, bersiap untuk melarikan diri seperti biasanya tiba-tiba dari arah berlawanan seseorang menabrak tubuh Allen.
“Maaf, Mbak, maaf. Saya jalannya kurang hati-hati, saya sedang buru-buru. Sekali lagi saya minta maaf, Mbak,” ucap ibu itu minta maaf.
“Tidak apa-apa, Bu. Bukan sepenuhnya salah Ibu, kok, aku juga salah, tadi aku fokus dengan handphoneku,” ucap Allen sembari tersenyum.
Ibu itu bergegas bangun dan meninggalkan Allen yang masih terduduk di lantai, hal pertama yang harus dia lakukan adalah menemukan handphonenya. Ke mana handphoneku? Batinnya sembari memutar kepala mencari keberadaan benda tipis persegi panjang miliknya.
“Kau mencari ini?” seorang laki-laki menyodorkan handphone tepat di wajah Allen.
Allen tidak berani mendongakkan kepalanya. Susah payah dia menelan salivanya, kedua tangannya meremas ujung kaus yang dia kenakan.
Ya Tuhan, mati aku. Bukankah ini suara Agra? Suara bariton ini jelas miliknya. Bagaimana jika Agra melihat wajahnya ada di handphoneku? Aku harus bagaimana, Tuhan? batin Allen.
“Apa handphone ini bukan milikmu?!” ucap Agra. Kali ini suaranya penuh penekanan.
Allen semakin takut. Sekarang dia tidak lebih baik dari seekor siput yang melarikan diri. Bersembunyi di dalam cangkang yang rapuh.
“Iya, itu milikku.” Allen tetap menunduk, mengulurkan tangannya ke atas. Membuka telapak tangan agar Agra bersedia meletakan handphone di tangannya tanpa perlu keduanya bersitatap.
__ADS_1
“Bukankah tidak sopan jika kamu berbicara tanpa melihat wajahku? Terlebih lagi aku yang menolongmu menemukan benda sialan ini!” Agra menggoyangkan handphone tepat di wajah Allen.
“Maaf. A-aku sedang sakit mata. Jika a-aku melihatmu, aku takut kamu akan tertular.”
Alasan macam apa itu, Allen? Tentu saja dia tidak akan percaya. Kenapa kamu bodoh sekali, Allen mengumpati dirinya sendiri di dalam hati.
“Hahaha ... sakit mata!”
Tiba-tiba Agra berjongkok di depannya. Allen berusaha mundur, tetapi gerakan tubuhnya kalah cepat dengan tangan Agra. Tangan kekar laki-laki itu sudah berada di kedua bahu Allen, mencengkeram kuat di sana. “Bukankah mengambil gambarku secara diam-diam merupakan tindak kriminal?! Bagaimana kamu akan menjelaskannya padaku? Kenapa gambarku ada di handphonemu?”
Buntu! Buntu! Aku tidak tahu harus menjawab apa, tetapi mengaku pun akan membuat keadaan semakin buruk. Apa yang harus aku lakukan? Batin Allen.
“Tidak sengaja?! Kamu pikir aku bodoh? Hah?!” Agra menaikan volume suaranya. Membuat bulu halus di leher Allen berdiri.
“A-aku minta ma-maf,” ucap Allen masih dengan kepala menunduk. “Biar aku hapus saja.”
“Maaf?! Hanya itu yang bisa kamu katakan? Jelaskan padaku kenapa kamu mengambil gambarku?!” Tangannya sudah berada di topi yang dikenakan Allen. “Jika tidak, aku akan membuatmu malu ... Allen!”
Deg! Degup jantung Allen berpacu lebih cepat, berkali lipat dari biasanya. Allen mengigit bibir bawahnya, menutup kedua matanya dengan pasrah. Bersamaan dengan itu, bulir bening meluncur bebas, jatuh, dan berakhir di punggung tangannya yang gemetar.
“Kenapa kamu datang?!” Membuka topi Allen dan melempar begitu saja. Agra belum puas hanya bermain dengan topi. Kali ini tangannya sudah berada di ujung kacamata yang dikenakan Allen. “Bukankah kamu tahu jika aku tidak ingin melihat wajahmu?!”
__ADS_1
Tamat sudah. Tanpa topi dan kacamata, wajah Allen terlihat jelas.
“Buka maskermu! Jelaskan padaku kenapa kamu selalu menghantui hidupku?! Kenapa?!” seruan Agra berhasil membuat beberapa orang menghentikan langkah dan memerhatikan mereka. Melayangkan tatapan mencemooh seolah Allen adalah orang yang terhina.
Allen mangusap lemah kedua matanya. Dengan sangat terpaksa dia melepaskan masker yang menjadi pertahanan terakhirnya. Dia tersenyum getir, perlahan dia mendongakkan kepalanya. Bertautlah kedua manik mereka.
Jika tatapan mata Allen dipenuhi perasaan takut dan menyesal, kenapa dia harus datang ketika Neneknya sudah memberi peringatan. Maka, berbeda dengan Agra yang kedua sorot matanya dipenuhi amarah dan kebencian. Sorot itu tertuju pada Allen. Agra bahkan menaikan sudut bibirnya sembari tersenyum sarkas.
“Jadi ini benar-benar dirimu, Allen?!” Agra mendekatkan bibirnya ke telinga Allen dan berbisik, “Bukankah sudah kubilang, jangan datang dihidupku lagi! Jangan menampakan wajahmu di depan mataku?! Aku muak melihatnya!”
Allen terisak. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya, tangan kirinya bertumpu di lantai untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Sementara tangan kanannya memegang dada yang terasa sakit. Tarikan napasnya mulai tidak teratur. Sungguh, niatnya hanya ingin melihat wajah Agra, setelah itu dia akan pergi dan tidak akan pernah datang lagi.
Agra bangun. Allen bisa melihat ujung pantofel hitam itu bergerak mundur. Klatak! Agra melempar handphone Allen ke lantai sampai mengenai ujung tangan Allen yang mengepal. “Jangan bermimpi untuk memilikiku! Kamu tahu siapa yang ada di hatiku, selalu dia dan tidak akan pernah terganti. Apalagi oleh wanita sepertimu!”
Allen meraih handphonenya dengan tangan gemetar. Tidak ada lagi gambar Agra yang dia ambil diam-diam. Semuanya sudah dihapus oleh pemilik wajah itu sendiri. Allen menegakkan kepalanya, melihat punggung laki-laki yang berjalan menjauh. Tiba-tiba pandangannya mulai kabur. Sepatu pantofel berwarna hitam itu menjadi pemandangan terakhir yang bisa dia lihat dari sosok Agra Grissham. Tubuhnya ambruk di atas lantai.
Bersambung ...
Jangan lupa dukungan kalian yah, Vote, like dan komentar.
follow IG @roseeLily16
__ADS_1