
Kinara menatap nanar pantulan tubuhnya di depan cermin. Tidak banyak polesan di wajahnya, hanya sentuhan bedak tipis dan lipstik yang warnanya tidak ngejreng. Rambut panjangnya diikat ekor kuda, seperti biasanya. Dia mengenakan baju terusan yang panjangnya di bawah lutut, berlangan panjang. Nyaris sama seperti penampilan Allen kemarin.
Pagi ini adalah waktu pertemuan Kinara dengan Agra. Hari yang sudah ditentukan Dika untuk keduanya membahas masa depan. Tangannya sudah bergetar. Belum juga sampai di tempat tujuan, tetapi perasaannya sudah campur aduk.
Semalam, selepas membaca surat dari mantan suaminya, Kinara memilih untuk melakukan shalat istikharah. Apa pun pilihannya tetap saja ada yang akan tersakiti, baik Agra, Dika, Allen, ataupun dirinya sendiri. Namun, setidaknya Kinara sudah melibatkan Tuhan dalam keputusannya. Dia hanya berharap keputusannya akan berbuah manis, untuk semua orang yang terjebak dalam situasi ini.
Terdengar suara ketukan di pintu, dan bibi Ane pun sudah memanggil namanya. Jadwal sarapannya mungkin sudah siap, tetapi rasanya kaki Kinara terlalu berat untuk meninggalkan kamar. Setelah menarik napas dan mengembuskan perlahan, melakukan gerakan itu berulang-ulang akhirnya Kinara membuka pintu.
🍃Ruang makan🍃
“Nyonya mau pergi ke mana?” tanya bibi Ane begitu melihat penampilan Kinara. Biasanya Kinara lebih sering mengenakan daster, tetapi pagi ini tampilannya sedikit berbeda.
“Aku harus menyelesaikan sesuatu, Bi.” Tersenyum getir.
“Perlu bibi temani?”
Bibi Ane tidak bermaksud ikut campur urusan Kinara. Hanya saja sejak kepulangan Allen hari itu wajah Kinara nampak murung. Bahkan ketika makan malam pun Kinara lebih banyak melamun. Tentu saja bibi Ane khawatir.
Menggelengkan kepala. “Tidak perlu, Bi. Semakin sepi suasana di sekitarku, maka akan semakin baik. Dengan begitu keputusanku tidak akan terpengaruh siapa pun.”
Bibi Ane nampak menggaruk kepalanya. keningnya berkerut manakala mencoba mengartikan kelimat yang diucapkan Kinara.
Setelah ritual mengisi perutnya selesai, Kinara segera keluar.
Pak Budi sudah berdiri di depan mobil, begitu Kinara keluar beliau sigap membuka pintu mobil.
“Silakan, Nyonya.”
Kinara mengangguk sembari tersenyum.
Bibi Ane yang sedari tadi mengamati tingkah Kinara merasa semakin cemas. Dia sampai mengantar Kinara keluar.
“Nyah, benar tidak perlu bibi temani?” tanya bibi Ane meyakinkan.
Wajah Kinara terlihat pucat meskipun sudah dibalut riasan. Belum lagi tatapan mata Kinara yang mengambang dan tidak fokus.
“Tidak usah, Bi.” Mengelus lengan bibi Ane. “Do’akan aku yah, Bi. Semoga keputusanku tidak salah.”
Bibi Ane hanya mengangguk. Dia sama sekali tidak mengerti ke mana muaranya kalimat Kinara.
***
Mobil sudah dihidupkan. Kinara fokus menatap jalanan yang belum terlalu ramai. Saat ini memang masih terlalu pagi, baru pukul enam. Mungkin beberapa jam ke depan jalanan akan dipenuhi macam-macam kendaraan dan lalu lalang pejalan kaki.
Kinara menatap layar handphonenya. Ada foto Ibu dan adiknya. Jari jemarinya saling merem*s, dia tidak bisa bersembunyi dari perasaan takut yang mulai menjalari hatinya.
Semoga ini yang terbaik, Tuhan. Aku mohon, aku mohon ... restuilah keputusanku, batin Kinara.
Hotel milik keluarga Mahendra.
Mobil berhenti tepat di bagian depan hotel yang sangat mewah. Kinara tidak tahu seberapa kaya mantan suaminya. Namun, dilihat dari hotel miliknya saja sudah bisa dipastikan kekayaan Dika tidak bisa dihitung dengan sepuluh jarinya.
Begitu Kinara turun dari mobil, dia sudah disambut salah seorang karyawan. Karyawan lainnya sudah berdiri di depan puntu masuk yang terbuat dari kaca. Berulang kali Kinara menyeka air matanya yang nyaris keluar. “Bismillah,” gumamnya.
“Selamat datang, apakah Anda Nyonya Kinara?” sapa karyawan itu. Dia sangat sopan, bahkan sampai membungkuk setengah badan.
Kinara mengangguk.
Entah kenapa bibirnya terlalu berat untuk digerakan. Bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun susah.
“Syukurlah. Mari ikuti saya.” Membuka pintu dan mempersilakan dengan sopan.
Kinara hanya menurut, dia tidak tahu akan di bawa ke mana.
Sekitar 10 menit Kinara mengikuti langkah pelayan itu dan kini dia sampai di sebuah ruangan besar yang bagian depannya bukan terbuat dari tembok, melainkan dari kaca, sehingga tembus pandang. Orang dari luar bisa melihat ke dalam ruangan.
Pintu ruangan terbuka, ada banyak meja bulat dengan empat kursi yang saling mengitari. Namun, kondisinya cukup sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan.
Ada banyak bunga mawar segar di beberapa sudut. Ruangan itu sengaja didesain sedemikian rupa. Tujuannya hanya agar Kinara merasa nyaman.
Kinara berjalan semakin ke dalam. Dia memutar kepalanya, menyapu setiap pemandangan di depannya.
__ADS_1
Deg ...!
Seseorang dengan perawakan yang Kinara kenal sedang berdiri membelakanginya. Tubuhnya dibalut setelan formal berwarna merah tua. Kinara berjalan mendekati laki-laki itu dengan degup jantung yang tak beraturan, langkahnya terseret. Berat sekali. Sebenarnya Kinara ingin lari saja, pergi jauh tanpa peduli siapa pun.
“Agra ...,"
Iya laki-laki itu adalah Agra, sepertinya dia sudah menunggu cukup lama. Terlihat dari gerak tubuhnya yang tidak tenang.
Agra menoleh. Memutar tubuhnya begitu suara lembut Kinara menyapu gendang telinganya.
“Emm ... apa kabar Kinara?” Agra mencoba tersenyum. Sebisa mungkin menutupi ketakutan di dalam hatinya.
“Kabarku baik.” Ada gumpalan air mata yang menggenangi kedua mata Kinara. Cepat-cepat Kinara memalingkan wajahnya dan menyeka sebelum Agra melihat. "Kau sendiri bagaimana?"
"Yah, seperti yang kau lihat." Berjalan mendekati kursi. “Duduklah.” Menarik salah satu kursi.
Keduanya sudah duduk, saling berhadapan.
Kinara menatap lekat laki-laki yang sedang duduk di depannya. Ada luka yang sudah mengering di bagian bibirnya, walaupun sudah susah payah ditutupi tetap saja luka itu terlihat. Kinara tidak berani bertanya dari mana Agra mendapatkan luka itu.
Agra terlihat berbeda dari biasanya. Pakaiannya benar-benar rapi, jika biasanya dia mengenakan kaus dan celana jeans. Kali ini berbeda. Setelan tiga potong dengan sepatu mengkilat nampak serasi di tubuhnya yang tinggi. Rambutnya juga lebih klimis dengan sentuhan pomade, biasanya rambut itu selalu berantakan. Terlebih lagi ketika Agra baru turun dari motor dan melepaskan helm besarnya. Namun, di situlah letak pesonanya. Seorang Tuan Muda yang tidak terlihat seperti Tuan Muda pada umumnya.
“Bagaimana kesehatan kandunganmu?”
“Bagus.” Kinara tersenyum canggung.
Bagus, apakah itu jawaban yang tepat? Entahlah, mereka berdua seperti sedang menahan beban berat di pundak masing-masing. Beban itu tidak bisa di bagi.
“Syukurlah.” Menatap Kinara. “Kau sudah makan?”
Kinara mengangguk. “Sudah, jadwal makanku teratur. Dokter Amel dan bibi Ane sangat cerewet. Apa aku terlihat gendut?” Memegang pipinya sendiri. "Beberapa pakaianku mulai tidak muat."
Agra tersenyum. Syukurlah, suasana jadi lebih baik. Tidak setegang tadi.
"Naik berapa kilo?"
Kinara membenamkan wajahnya di meja. Tangannya bergerak ke atas menunjuk angka 5.
Mengangguk. "Iya. Apa benar-benar terlihat gendutan?"
“Gendut pun kau tetap saja cantik.”
“Apa aku harus percaya dengan ucapan playboy kelas kakap sepertimu?” Kinara meledek.
Tawa keduanya pecah.
“Kau harus percaya, karena aku sudah taubat.” Mengedipkan mata.
Kinara manggut-manggut.
“Bagaimana? Apa penampilan seperti ini cocok untukku? Sebenarnya aku tidak suka dengan gaya formal seperti ini.” Mengendurkan dasi.
“Eh, jangan. Pakaian itu membuatmu terlihat sedikit ...,” Kinara sengaja menggantungkan kalimatnya.
Agra nampak menunggu.
“Sedikit apa? Ah, kenapa bicaramu terpotong-potong begitu.”
“Sedikit terlihat tampan.” Kinara mengacungkan jempolnya.
“Hanya sedikit? Bukankah aku memang tampan?”
Kinara mengangguk lagi. “Iya, kau tampan. Senang?”
Agra tertawa kecil.
Meskipun kau memujiku, tetapi entah kenapa aku tetap merasa sedih, Kinara? Aku merasa pujian itu akan menjadi pujian terakhir untukku. Meskipun kita tertawa seperti ini, sepertinya kita akan sama-sama jatuh ke dasar jurang. Hatiku rasanya sangat sakit melihat tatapan matamu yang kosong, batin Agra.
“Emmm ... aku sudah dengar berita tentang pertunanaganmu dan Allen. Cih, apakah seperti itu para bangsawan menyebarkan berita bahagia?” Kinara memaju mundurkan bibirnya.
“Itu bukan berita bahagia untukku, Kinara.”
__ADS_1
Juga bukan berita bahagia untukku, Agra. Mendengar orang yang aku cintai akan bertunangan dengan wanita lain, apa kau pikir aku bahagia? Batin Kinara.
“Apa kau bahagia, Kinara? Apa berita pertunanganku membuatmu bahagia?”
“Tidak.” Kinara menggeleng, menundukan kepala dalam lalu menyeka air mata yang tumpah. Bahunya sedikit berguncang.
Sekitar satu menit Kinara menangis. Setelah memastikan kondisinya membaik, Kinara segera mendongakan kepala. Tatapan keduanya kembali beradu.
“Kinara ...,”
“Iya.” Kinara tersenyum.
“Bisakah kita berdua bertindak egois? Kali ini saja, jangan pedulikan siapa pun.”
Bukankah jalan untuk kita bersama sudah terbuka lebar? Aku tahu jalan ini dibuka oleh Dika, tetapi apa salahnya jika kita tidak melihat kiri dan kanan? Hanya fokus berjalan ke depan, batin Agra.
Kinara diam. Bola matanya sedikit berputar. Bibirnya bergetar. Seketika air mata meluncur bebas, jatuh melewati kedua pipinya dan berakhir di kedua tangannya yang saling mengepal.
Di sudut lain di hotel yang sama.
“Tuan Muda, kenapa Anda harus berbuat sejauh ini?” Ken terlihat menggeram kesal.
“Hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya, Ken. Selama ini aku tidak pernah berbuat baik padanya.”
“Apa harus dengan cara seperti ini? melepaskan wanita yang Tuan Muda cintai untuk laki-laki lain.” Ken mondar mandir di depan meja. “Bahkan Tuan Muda sendiri yang membuka jalan untuk mereka bersama.”
Apa kau waras, Tuan Muda? Seharusnya kau berjuang lebih keras lagi, kau benar-benar pengecut, batin Ken.
Sebenarnya Ken ingin mengucapkan kalimat itu tepat di depan wajah Dika. namun, dia tidak mungkin melampaui batasnya.
“Apa aku terlihat seperti pengecut, Ken?”
Iya, kau memang pengecut, batin Ken.
“Jangan mengumpati aku di dalam hatimu!” Melempar pulpen. “Katakan saja apa yang ingin kau katakan!”
Dia bahkan tahu aku sedang mengumpatinya, batin Ken.
“Baik. Saya akan betkata jujur. Anda itu memang pengecut, Tuan Muda. Seharusnya Anda berjuang lebih keras lagi!”
“Jika seseorang yang aku perjuangkan tidak bahagia denganku, apakah aku harus tetap berjuang? Bahagianya bukan denganku, Ken. jadi, inilah perjuanganku. Membuka jalan untuk mereka berdua bersatu, dan ikhlas menerima nasibku.”
Ken diam. Memang benar, sekeras apa pun Dika berjuang pada akhirnya Kinara tidak akan berpaling dari Agra. Sepertinya kebencian Kinara menutup seluruh jalan untuk Dika bisa menaklukan hatinya.
“Aku ingin melihatnya, Ken.” Bangun dari kursi.
“Tapi, Tuan.”
“Percayalah. Aku lebih kuat dari dugaanmu, Ken! Aku bukan laki-laki lemah.” Tersenyum.
Ken hanya mengngguk.
Keduanya keluar dari dalam ruangan. Berjalan pelan menuju ruangan Kinara dan Agra bertemu.
Dika sudah berdiri di depan ruangan itu. Dia menatap nanar dua orang yang sedang berbincang. Terkadang Kinara menganggukan kepala, terkadang menggeleng.
Dika tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan. Namun, melihat mereka berdua duduk dalam satu meja membuat hati Dika sakit.
Dika menundukan kepala. Tangannya meraba permukaan kaca, sama seperti terakhir kali dia mencuri pandang ketika di dalam mobil.
Kinara, inilah jalan yang ingin aku tunjukan padamu. Mulai sekarang, jalanmu akan terbuka lebar. Semoga kau selalu bahagia. Tuhan ... aku titipkan Kinara Pada-Mu. Tolong berikan kebahagiaan untuknya, batin Dika.
Dika memutar tubuhnya. Tangannya bersandar di pundak Ken. Dia menangis tersedu. Inilah akhir kisah cintanya. Menyedihkan.
Bersambung.....
.
.
Ayolah, bantu TCK masuk 10besar 🙄😍Jangan lupa likenya, komentar juga, dan vote yang kenceng. ok ❤️😍
__ADS_1